Tante, I Love You

Tante, I Love You
Bab 51 - Martha Nugraha


__ADS_3

BAB 51


Mengabaikan niatnya untuk bersantai dan istirahat, Kevin kembali memacu kendaraan menuju lokasi yang dimaksud, kali ini menggunakan satu mobil yang tersisa di garasi rumah.


Walaupun benci pada Nyonya Martha, dan tidak mendapat perlakuan baik dari ibunya, Kevin tetaplah seorang anak yang harus menjaga dan menyayangi orangtuanya terutama ibu.


Wanita yang telah berjuang banyak sejak ia dalam kandungan dan membesarkannya lalu menjadi orangtua tunggal bagi adik Kevin sangatlah tidak mudah.


Kevin menerima telepon dari petugas medis, Martha Nugraha menabrak mobil orang lain sampai rusak parah dan masuk rumah sakit.


“Semoga mama baik-baik saja”, harap Kevin sangat tulus.


Ia takut mamanya pergi menyusul papanya, sedikit menyesal bagi Kevin kenapa ia tidak segera mentransfer uang untuk mama, kenapa harus menunggu wanita paruh baya itu menunggu dan kesal.


“Maafkan Kevin ma”, gumam Kevin.


Civic turbo melesat membelah jalanan ramai ibu kota, mengambil jalan sedikit jauh untuk menghindari kemacetan. Kevin yang memang fokus pada jalanan di depannya, mengabaikan panggilan suara dari Dayana dan Mario, tujuannya sekarang menemui Nyonya Marta, kondisinya entah seperti apa, mendengar penuturan pihak rumah sakit saja tidak jelas sebelum melihat langsung.


Parkir dengan sangat lihai, Kevin berlari masuk, bertanya pada bagian informasi dimana keberadaan mamanya. Seribu langkah Kevin menuju instalasi gawat darurat harus menelan kekecewaan, tim dokter telah membawa ibunya masuk ke ruang operasi karena kondisinya yang tidak bisa menunggu lagi.


Kevin duduk di ruang tunggu, menempelkan kedua tangan untuk menopang dagu yang menahan pada kedua pahanya. Pikirannya melayang kemana-mana, takut, terjadi hal yang tidak inginkan menimpa mamanya, Kevin ingin semua baik-baik saja.


Mata sipit Kevin selalu melirik pada pintu keluarnya pasien tapi lagi-lagi bukan Marta Nugraha yang keluar dari ruangan itu, selalu saja orang lain. Sampai Kevin berjalan mondar mandir di depan pintu ruang tindakan, menggosok kedua telapak tangan yang mendadak dingin dan berkeringat.


“Selamatkan mama”, harapannya.  


“Mama Bertahanlah”


“Kevin yakin mama kuat dan akan kembali pulang dengan sehat”


Hari pun berubah menjadi senja, perasaan Kevin menjadi tidak karuan, mamanya masih dalam ruang operasi dan dia sendiri menunggu di luar. Keluarga pasien yang lain satu persatu telah meninggalkan ruang tunggu , hanya tersisa dirinya sendiri.


Mata Kevin membola melihat pintu keluar, seketika ia menghambur pada ibunya yang terbaring tak sadarkan diri di atas brankar.

__ADS_1


“Mas, silahkan ikut ke ruangan saya sekarang, ada kondisi yang perlu di jelaskan”, Kevin merelakan ibunya melewati lorong rumah sakit dan masuk ruang pemulihan hanya bersama perawat.


Aktor muda ini menyimak semua penjelasan dokter, Nyonya Martha mengalami luka parah di bagian kaki dan wajahnya, untuk itu tim dokter bedah segera melakukan tindakan, dan setelah pasien sadar baru bisa diketahui bagaimana kondisi selanjutnya.


Jika tidak dilakukan operasi khawatir Nyonya Martha mengalami lumpuh permanen.


Kevin manggut-manggut mendengar kondisi menyedihkan ibunya, “Terima kasih dokter telah melakukan yang terbaik untuk mama saya”, senyum Kevin.


Tidak sampai disini, ketika dirinya baru saja sampai di depan ruang pemulihan, kembali mendapat telepon dari Mario, terdengar suara Mario yang panik.


“Vin, Lo engga apa-apa kan?”


“Polisi mau ketemu sama Lo, aduh Vin ada masalah apa lagi?”


Kevin yang mengerti segera memutus sambungan telepon, mungkin setelah mamanya siuman ia akan menemui pihak kepolisian yang pasti meminta keterangan darinya terkait kecelakaan, ya tidak Kevin pungkiri dari pengamatan sepintas ia lihat memang Nyonya Nugraha lebih dulu menubruk bagian belakang mobil orang lain.


Hidupnya ditimpa masalah, belum usai satu hal datang lagi yang baru, dan Kevin terpaksa menunda menyelesaikan masalahnya dengan Dayana. Karena saat ini kesembuhan Nyonya Martha nomor satu.


“Tapi aku janji, sebelum anak kita lahir aku menjemputmu pulang”, yakin Kevin dalam hatinya.


Kevin harap kelak Dayana bisa menerima dirinya kembali, dan masalahnya tinggal satu meyakinkan Nyonya Nugraha, setelah keadaan membaik ia pastikan akan menjelaskan secara perlahan.


Ia melangkah lebar menuju ruang ICU, mesipun tidak dapat melihat secara langsung dan lebih dekat setidaknya dari luar dan terhalang pun Kevin bernapas lega karena mamanya tidak pergi menyusul Tuan Nugraha yang telah lebih dulu istirahat beberapa tahun yang lalu.


Entah apa reaksinya nanti menerima kenyataan ini, dan semoga dengan adanya kejadian ini Martha Nugraha membuka sedikit saja mata hatinya, merubah segala perilaku buruk.


.


.


Hari berganti dan Kevin masih setia menemani mamanya di rumah sakit, Nyonya Martha Nugraha baru saja siuman satu jam lalu.


Kevin masuk ruang ICU untuk memberi semangat pada mamanya. Hasil pemeriksaan lebih lanjut, menyatakan kondisi Martha saat ini mengalami kelumpuhan tapi masih bisa ditangani dan disembuhkan selama ada semangat dalam diri dan patuh menjalani terapi.

__ADS_1


"Senang kamu mama engga bisa jalan lagi? Tepuk tangan kamu ya, ini semua karena kamu. Kenapa engga langsung transfer uang untuk mama?”


Kevin hanya menghela napas kasar tidak menjawab atau menyangkal kata-kata ibunya, percuma berdebat dalam keadaan mood yang buruk. Nyonya Martha tidak terima apapun alasan Kevin dan selalu ingin menang sendiri.


Kini dirinya tidak berdaya dan hanya terbaring di atas kasur, kalau pun bepergian harus menggunakan kursi roda, benar-benar tidak mencerminkan seorang Martha Nugraha sama sekali.


“Mama engga mau ikut terapi, mama mau sembuh sekarang juga, cari dokter terbaik Kevin. Bayar berapapun!!”, napas wanita paruh baya ini terengah-engah, bahkan nekat menarik selang infus hingga terlepas dari tabungnya.


“MAMAH”


Gegas Kevin memanggil dokter serta perawat, bagaimanapun ibunya ini baru saja siuman dan kondisinya belum pulih 100% pasca operasi.


Mario yang melihatnya pun hanya bisa memberi kata-kata penyemangat, untuk sekarang Kevin kembali mengatur jadwal, fokusnya ada dua antara pekerjaan dan kesehatan Nyoya Martha.


“Mario tolong jadwal pemotretan di diperbaharui, gue mau 3 hari dalam seminggu free, jadwal mama terapi engga boleh bolos”


“Iya Gue ngerti, Vin. Lo jangan pusing pikir jadwal sekarang kesehatan tante yang utama. Lo udah kasih kabar Dayana?”


“Oh ya, gue belum hubungi dia:


“Sesibuk apapun Lo harus bisa Vin, bagi waktu antara tante, pekerjaan dan Dayana, gemana juga dia lagi hamil anak Lo, hubungan kalian mulai membaik, jangan sampai Lo ditikung sama Daniel. Pengacara itu belum pulang ke Jakarta”


Mario juga mencari tahu keberadaan Daniel sampai mendatangi kantor pengacara itu, menurut asisten pribadi, Daniel mengambil cuti satu minggu. Itu artinya Putra Tuan Matthew masih di Singapore.


“Makasih Mario, Lo memang sahabat terbaik gue, maaf selalu gue kasih beban”, kelakar Kevin tidak menambah suasana tegang di ruang tunggu ini.


...TBC...


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2