
BAB 15
Tiga hari di Korea cukup melelahkan bagi Kevin, apalagi ia selama 2 hari tak tidur sampai pagi demi mencapai target menyelesaikan film terbarunya. Selena pun tidak terlihat batang hidungnya di lokasi shooting, memang Kevin hanya mesin penghasil uang. Terlihat buktinya usai menerima kiriman uang, Selena menghilang, hanya sekali atau dua kali menghubungi Kevin.
Kevin tidak merasa aneh lagi kala melihat Selena pulang membawa banyak barang, ya hanya untuk dirinya sendiri, sepotong kembang gula tidak ada Selena beri pada kekasihnya.
Pagi ini semua telah kembali ke Jakarta, mendapat liburan 2 minggu tak akan Kevin sia-siakan. Dirinya akan menggunakan sebaik mungkin, istirahat tentu nomer satu dan lainnya ia habiskan bersama keluarga, rindu pelukan ibu. Meskipun Kevin pria dewasa, tetap saja ia seorang anak kecil yang merindukan kehangatan kasih sayang ibunya.
“Kevin, sepertinya kita pulang ke apartemen jangan ke rumah”, tutur Mario yang menjemput Kevin juga Selena, namun kekasih tak tahu diri itu telah pulang dan kini hanya ada Kevin, supir serta manager gemulainya.
“Kenapa? Kangen mama nih”, Kevin memeluk bantal donatnya dengan erat.
“Ish, kita dapat undangan dari G&B Farmasi, pesta ulang tahun perusahaan nanti malam, yakin Lo mau nolak? Jangan Kevin, perusahaan ini bisa saja selamanya memakai jasa kita untuk iklan mereka”, hasut Mario dan memang benar adanya.
“Baiklah, jam berapa?”
“Jam 6 sore, gue jemput”, seru Mario mengacungkan satu jari tanda peringatan pada Kevin yang seringkali tertidur.
“Oke, tenang aja”.
**
DI sisi lain, Dariel sedang memohon pada kakak sepupunya yang baru saja mengirup napas dari bangun tidur. Terkejut melihat kedatangan adik sepupunya sepagi ini.
“Ayolah kak, sekali ini saja”, Dariel mengiba pada Dayana.
“Tapi aku tidak ada kaitannya di perusahaan, untuk apa datang?”, Dariel meminta Dayana datang mendampinginya, karena ia tidak mau pergi sendiri.
“Aku tidak punya gaun dan rambutku ini harus aku apakan? Aku tidak pernah pergi ke pesta”, terang Dayana, bukan tidak pernah, tapi sudah bertahun-tahun dirinya lebih senang berkutat dengan buku dari pada dunia luar.
“Gaun dan rambut itu bukan masalah, hanya perlu persetujuan mu saja, temani aku kak. Bebas minta apa pun sebagai bayaran, bagaimana?”, tawar Dariel yang tak menyerah dengan segala penolakan Dayana.
“Ok, kamu jemput aku di rumah sakit jam 4 sore nanti ya. Tapi pagi ini antar aku kerja, itu bayaran pertama yang aku mau”, Dayana menaikan kedua alisnya sambil tersenyum.
“Siap, itu mudah”
__ADS_1
.
.
Disinilah pukul 4 sore Dariel telah menjemput Dayana , menunggunya di ruang istirahat dokter. “Aku kira tepat waktu ternyata dia lama sekali belum selesai”, gumam Dariel menatap jam tangan mahalnya.
Dirinya menarik napas dan memejamkan mata, tak terbiasa menunggu membuat Dariel bosan juga lelah. Biasanya orang lain yang menunggunya tapi kali ini ya biarlah, lagipula Dayana adalah sepupunya sendiri dan Dariel membutuhkannya sebagai pendamping pesta.
Suara pintu bergeser diiringi tawa dua pria yang ternyata kakak iparnya bersama rekan dokter lain, “Dariel?”, panggil Dewa.
“Ah ya, aku menunggu Dayana”, jawab Dariel kecewa bukan kakak sepupunya yang masuk melainkan orang lain.
“Dariel maaf aku tadi ba.......”, kalimat Dayana tertahan di bibir, pandangannya tertuju pada Dokter Dewa, pria yang ia cintai namun bukan jodohnya.
“Ayo Dariel”, Dayana memutus kontak mata dengan Dewa. “Jangan lihat ke belakangan Dayana, semangat kamu pasti bisa melupakan Dokter Dewa, dia bukan untukku”, gumam Dayana berjalan cepat, susah payah ia menghindari Dewa selama ini akhirnya bertemu juga.
“Hey, tunggu”, Dariel pun mensejajarkan kaki dengan Dayana. “Aku yakin kamu bisa, jangan lukai dirimu sendiri kak”, Dariel menepuk pelan bahu Dayana.
Mereka berdua pergi menuju salon kenalan Dariel, ya tepatnya sahabat Dariel yang ia kenal cukup lama. Sementara untuk gaun, Dariel membelinya dari butik Mami Kezia.
“Terima kasih Clarissa”, senyum Dariel.
“Ka, ini akan semakin mempercantik”, goda Dariel.
Dayana menerima gaun dalam goodie bag dan membawanya masuk ruang ganti, betapa terkejutnya ia melihat gaun warna merah ini? Cukup mencolok ah salah tapi sangat mencolok.
Dayana enggan memakai gaun ini tapi apa yang harus ia gunakan untuk menemani Dariel? Apa kemeja dan celana bahannya?
Akhirnya memutuskan gaun merah ini melekat pada tubuhnya. Malu-malu keluar dari balik pintu, Dayana tersenyum kaku pada Dariel, kedua bola mata Dariel memandang takjub pada kakak sepupunya ini.
“Wah, kamu memang sangat cantik kak”, Dariel memutar tubuh itu hingga Dayana melihat pantulan diri pada cermin, gaun merah dengan potongan dada yang tidak rendah dan cukup tertutup, namun ada satu hal yang ingin dirinya tutupi.
“Ayo berangkat sekarang”
“Dariel, apa Dwyne dan Dewa datang?”, Dayana merasa malu jika keduanya sampai melihat.
__ADS_1
“Tidak, kakak ipar tidak mengizinkan Dwyne keluar, kamu tahu kan Zac dan Zoey masih membutuhkan ibunya? Untuk itu papa mengutusku hadir di pesta ulang tahun”, imbuh Dariel sebagai pengganti saudari kembarnya.
Mobil Centodienci putih mengkilat melesat membelah jalanan ibu kota yang mulai tampak gelap. Dayana duduk tidak nyaman karena bagian belakang tepatnya punggung begitu terbuka.
Tidak memakan waktu lama, keduanya tiba di salah satu hotel milik keluarga Bradley tempat terselenggaranya pesta outdoor ini.
“Tersenyumlah ka”, bisik Dariel, mengulurkan tangan agar kakak sepupunya berpegangan, dan tidak jatuh akibat stiletto yang membingkai kaki indah Dayana.
Dayana dan Dariel mencuri perhatian, walau hampi semua tahu bahwa wanita yang berjalan di sisi putra pebisnis terkenal itu adalah sepupu, tapi mereka tetap kagum.
Dayana tidak terbiasa menjadi pusat perhatian, memegang erat lengan Dariel, ingin sembunyi saja dan menjauh. Banyak sorot mata yang tidak nyaman baginya. Mengikuti kemana arah langkah kaki Dayana, mungkin detak jantungnya ini bisa terdengar sampai beberapa meter, pikirnya.
“Dariel?”, panggil seseorang dan itu adalah Daniel.
“Ya, kau sendiri?”, tanya Dariel.
“Tidak, aku bersama seseorang”, tatapan Daniel berubah pada Dayana, benar-benar ciptaan yang sempurna, Daniel tak berkedip melihat keindahan yang terpampang nyata di depannya.
“Hey, dia pasanganku saat ini, dan sayangnya aku tidak mau berbagi. Salahmu tidak mengajaknya lebih dulu”, ejek Dariel pada Daniel.
“Dayana, senang bisa bertemu denganmu malam ini”, senyum Daniel, tatapannya begitu tergoda pada wanita yang dijodohkan dengannya. Dirinya beruntung bisa mengenal dan mendapatkan Dayana sebagai calon istri, andai saja kemarin menolak pertemuan pasti akan menyesal.
“Eh Bro, tolong jaga kakak sepupu sebentar”
“Kamu mau kemana Dariel?”, cicit Dayana menarik tangan adik sepupunya.
“Dipanggil papa, kakak tunggulah di sini, dan kau Daniel jaga kakak ku”, Dariel mengancam Daniel.
“Tenang, mana mungkin aku membahayakan calon istriku sendiri”.
...TBC...
__ADS_1