Tante, I Love You

Tante, I Love You
Bab 45 - Penasaran


__ADS_3

BAB 45


Tubuhnya yang lemah dan kedinginan akibat terguyur hujan, Dayana pingsan di pelukan Kevin. Sigap pria tampan ini menggendong calon istrinya dan segera membawa Dayana ke rumah sakit terdekat.


Kevin bahagia dan sangat bersyukur, ternyata dengan kehadirannya ke Singapore dalam gala premiere membawa dirinya pada Dayana.


“Kenapa kamu pergi sejauh ini Dayana? Kenapa menghindar sangat jauh?”, tanya Kevin dalam hati, tangannya terus membelai lembut pipi calon istri.


“Terima kasih Pak”, Kevin membayar taksi dan meminta bantuan pada tenaga medis yang berjaga, “Tolong istri saya, cepat”, teriaknya.


Menunggu cemas dan gelisah di sekitar ruang pemeriksaan, Kevin berharap Dayana baik-baik saja. Dia heran padahal wanita itu memiliki daya tahan yang kuat tapi sekarang begitu lemah dan mudah pingsan, apa pindah negara juga butuh penyesuaian atau karena Dayana kelelahan.


Cukup lama Kevin menunggu di depan ruang periksa, dan ia minta tolong Mario untuk membeli pakaian baru. Tidak mungkin Dayana menggunakan pakaian basah, untungnya Kevin masih ingat semua ukuran yang gunakan oleh calon istrinya itu.


“Keluarga pasien Dokter Dayana”, panggil perawat, gegas Kevin menghampiri dan langsung berhadapan dengan Dokter.


“Sa-saya suaminya”, ragu Kevin, perubahan status yang tidak ia inginkan dilakukan sepihak oleh orang yang tidak bertanggung jawab, dan Kevin membenci itu semua.


“Dokter Dayana baru saja keluar dari rumah sakit, dan disarankan bedrest. Sekarang tubuhnya demam, kondisi janinnya baik-baik saja hanya kandungannya lemah, jadi anda harus selalu menjaganya”.


Lutut, dan semua anggota gerak pada tubuh Kevin seakan mematung, membeku.


Bibirnya pun sulit untuk bertanya sesuatu, apa maksud dari janin yang disebutkan. Apa anaknya masih hidup dan terus tumbuh di dalam sana?.


“Berapa usia kandungannya dokter?”


Dokter hanya menatap heran pada Kevin, mengaku suami tapi tidak mengetahui usia kandungan istrinya dengan tepat. Wajah dokter ini pun menunjukan kebingungan, lalu merujuk Dayana pada spesialis obgyn setelah siuman nanti.


Kevin duduk di tepi ranjang pasien, ditatap lekat-lekat wajah pucat Dayana, menggenggam erat tangan dingin itu agar menghangat.

__ADS_1


Kalau boleh jujur, hati Kevin berbunga-bunga mendengar dokter menyatakan jika janin yang ada dalam tubuh baik-baik saja. Tapi Kevin ingin memastikan apa bayi itu miliknya atau bukan, ia takut kecewa kalau ternyata Dayana telah melupakan masa lalu dan menjalani hidup dengan pria lain.


“Hanya kamu yang tahu anak siapa, bangunlah Dayana”, gumam Kevin.


Jika Dayana masih mengandung darah dagingnya, Kevin berjanji akan menjaga dan tidak pernah membiarkan orang lain menyakiti ibu dari anaknya termasuk Nyonya Martha.


Ponsel dalam tas Dayana berdering, Kevin ragu untuk menerima dan ia juga merasa tidak layak membuka tas itu. Namun suaranya tidak pernah sepi, sepertinya seseorang disana tengah mengkhawatirkan wanita yang tergolek lemah ini.


Kevin putuskan untuk menerima telepon tersebut, dan ia tidak kecewa karena mantan ibu mertuanya yang menghubungi. Tanpa ragu Kevin menyampaikan Dayana yang jatuh pingsan di pusat kota dan sat ini berada di rumah sakit.


“Jaga dia Kevin, aku akan membuat perhitungan denganmu kalau sampai terjadi sesuatu dengan putriku”


Ancam Bunda Nayra dari balik telepon, tentu saja Kevin menjaga Dayana, dia tidak sakit hati sama sekali dengan pernyataan ibu dari calon istrinya.


Buru-buru Kevin mengembalikan ponsel Dayana setelah wanita itu melenguh dan tersadar, tangannya memijat bagian pelipis yang begitu berat terasa pusing.


“Akh”, lirihnya.


“Dayana?”


“Kamu? Kevin? Bagaimana bisa?”, kedua mata sipit Dayana terbuka lebar melihat Kevin pertama kali setelah ia siuman. “Ternyata bukan halusinasi”, lanjutnya dalam hati.


“Tentu bisa, apa yang tidak mungkin di dunia ini Dayana. Untuk hari ini aku tidak akan banyak bertanya tapi menunggu kondisimu membaik lebih dulu”, membelai rambut Dayana yang masih setengah kering.


Mario datang di saat yang tepat membawa pakaian ganti untuk Dayana, dan wanita ini dibantu perawat menggunakan pakaian baru.


“Terima kasih Mario”, senyum Dayana pada bibirnya yang pucat.


“Ini ide Kevin bukan aku, Dayana. Aku senang bisa bertemu denganmu lagi”, tawa Mario, akhirnya Kevin tidak salah lihat dan semangatnya kembali, karena wanita yang dicintainya sudah ditemukan walau status mereka berbeda.

__ADS_1


Dirasa cukup memungkinkan, Kevin membawa istrinya pergi ke spesialis obgyn sesuai perintah dokter yang menangani sebelumnya.


“Vin, Lo engga salah? Apa Dayana masih hamil?”, tanya Mario yang kebingungan.


Sementara Dayana hanya bisa pasrah berada di atas kursi roda, telah menolak dan berkata dirinya baik-baik saja tidak cukup bagi pria bernama Kevin Nugraha.


Tapi sebelum sampai ke ruang dokter kandungan, Bunda Nayra lebih dulu datang mencegah ketiganya. Setelah apa yang dilakukan Kevin, Bunda Nayra masih belum rela keberadaan cucunya diketahui oleh sang ayah.


“Berhenti, sebaiknya kalian pulang. Aku ibunya, sudah datang. Terima kasih atas bantuannya”, Bunda Nayra mengambil alih posisi Kevin yang mendorong kursi roda.


Kevin mengunci pergerakan dua wanita yang ingin menghindar ini, ia harus membawa Dayana ke poli kandungan sekarang juga.


Merasa semakin ada yang tidak beres dan ditutupi oleh mantan istrinya. Meskipun tidak berhak lagi karena hubungan keduanya telah bercerai tetapi Kevin tetap berharap sebagian dari dirinya masih bertumbuh di dalam rahim Dayana.


“Kenapa tidak boleh USG, apa ada masalah? Bunda sebagai orangtua diharapkan bisa lebih bijak”, tutur Kevin menatap pada Dayana yang membuang muka ke sisi lain.


Sebenarnya wanita ini menahan tangis, hatinya menjadi sedih dan sakit padahal ia sendiri tidak ingin menangis, hormon kehamilan sungguh luar biasa mempengaruhi Dayana sampai bisa merubah kepribadiannya.


“Bunda, Kevin mohon katakan yang sejujurnya. Apa anak dalam kandungan Dayana itu anak Kevin? Kalau tidak kenapa kalian berdua menutupinya. Kevin mohon bunda, Kevin memiliki hak atas anak itu. Bagaimanapun aku adalah ayahnya, ayah biologisnya”, tutur Kevin yang juga menahan tangis.


“Vin, Lo engga bisa memaksa. Ingat status Lo”, bisik Mario mempertegas bahwa Kevin harus sadar diri posisinya, sekarang Kevin tidak lagi terikat bersama Dayana, di depan keduanya terbentang jarak yang dalam.


Kondisi Dayana yang masih lemah pun tidak memungkinkan untuk menerima perdebatan antara ibu dan mantan suaminya.


“Pergilah Kevin, jangan ganggu aku lagi, berbahagialah bersama Selena”, celetuk Dayana, sontak Kevin bergeming tidak menyangka mendengar kata-kata itu keluar dari bibir ranum mantan istrinya.


“Aku tidak akan pergi kemanapun Dayana, tempatku disisi mu, ayo kita periksa kandungan mu itu ke poli obgyn”, Kevin merendahkan posisi tubuhnya hingga wajah keduanya sangat dekat dan saling memandang.


“Dayana?”, panggil Bunda Nayra berusaha agar putrinya tidak goyah dengan kehadiran Kevin.

__ADS_1


...TBC...


 


__ADS_2