
BAB 30
“Mama?”
“K-kenapa datang mendadak?”
“Mama sendirian atau diantar sopir?”, tanya Kevin sangat terkejut, benar-benar olahraga jantung di pagi hari. Belum selesai ketegangannya, Mario datang menghampiri, suaranya begitu keras mengatakan sesuatu.
“Vin, siapa yang datang? Apa Day........Tante Martha? Untuk apa datang ke apartemen pagi ini?”, Mario menghela nafas, nyaris saja ia dibenci oleh sahabatnya karena mengatakan sesuatu.
Nyonya Nugraha langsung masuk ke dalam apartemen yang tampak lebih rapi, matanya melirik kesana kemari mencari sesuatu yang sangat ingin ditemukannya. Tidak ada tanda keberadaan istri Kevin seperti kata Selena.
Kalaupun wanita itu ada di sini pasti keluar untuk memeriksa siapa tamu yang datang.
“Mama diantar Selena. Mama kangen sama anak mama, kamu jarang menghubungi mama”. Ucap Nyonya Martha tanpa menoleh ke arah putranya.
“Jadwal syuting sangat padat mah, ada waktu senggang Kevin pasti pulang. Ketemu dimana mama dan Selena?”, tanya Kevin yang sangat penasaran, tidak biasanya mamanya berkunjung tanpa mengabari sepatah katapun.
Semakin masuk ke dalam, mencari sesuatu saja sebagai bukti tidak ditemukan, bagaimana mungkin Kevin menyembunyikan istrinya sangat rapi.
“Apa Selena berbohong? Keterlaluan gadis itu”, geram Martha.
Mario mendekati Kevin dan berbisik sesuatu, pikiran mereka seolah sama antara satu dan lainnya, Kevin pun mengakui apa yang dicari ibunya sejak tadi. Mereka sedikit bernapas lega karena Dayana pergi sangat pagi , mungkin berselang 15 menit.
“Tante, mau tetap di sini atau ikut kita syuting? Pagi ini Kevin ada adegan luar biasa, kalau tante mau ikut, silahkan”, tawar Mario yang mengharapkan jawaban ‘Iya’ diberikan oleh Marta Nugraha.
Bukan tanpa alasan, kalau sampai Nyonya Martha masuk kamar Kevin dan menemukan barang pribadi Dayana serta harum parfum wanita. Detik ini juga kan berlangsung peperangan, Mario dan Kevin tidak ingin terjadi hal yang menakutkan dalam apartemen ini.
“Boleh, aku ingin lihat seberapa hebat putraku ini dalam ilmu bela diri”, ucap Nyonya Martha tahu adegan apa yang diambil Kevin, karena saat menadatangani kontrak ia turut menemani dan membaca naskah putranya.
“Huuh”, Kevin dan Mario sama-sama menghela napas dengan kasar.
“Mario”, bisik Kevin karena mamanya, membuka pintu kamar.
Situasi semakin sulit, jika awal telah berbohong maka kedepannya pun akan muncul kebohongan lain yang baru.
__ADS_1
“Tante, mau bawa cemilan apa?. Mario baru beli kebutuhan apartemen. Silahkan tante pilih”. Sementara satu tangan memberi kode agar Kevin masuk kamar dan merapikan semua jejak Dayana.
Dalam kamar Kevin menyembunyikan pakaian kotor milik istrinya dan seketika ia terkesiap dengan jatuhnya suatu benda dari gulungan piyama. “Jadi dia suka warna ungu”, gumam Kevin.
“Ah SIAL, bisa-bisanya di saat seperti ini memikirkan hal aneh”, bergerak cepat menyembunyikan peralatan milik istrinya, semua Kevin masukan dalam lemari dan menguncinya rapat.
“Aman”, menghela nafas pelan, benar-benar kegiatan olahraga pagi, selain menguras tenaga juga menguras pikiran.
“Maafkan aku Dayana, aku masih mencari waktu yang pas”, ucap Kevin pada dirinya sendiri.
Sesuai dugaan, Nyonya Martha masuk ke kamar putranya tanpa izin, duduk di tepi ranjang, menunggu Kevin yang sedang mandi. “Sepi”, masih menyusuri kamar mencari sesuatu yang mencurigakan.
“Hah, lelucon macam apa yang dibuat Selena sampai aku percaya kalau Kevin menikah dengan wanita dewasa?”, geramnya.
Tidak ada satu pun barang pribadi perempuan di kamar tidur, bahkan jejak rambut rontok pun tidak ada sama sekali. Harum parfum wanita tidak terhirup sama sekali, tangannya yang jahil pun gatal ingin membuka lemari pakaian milik putranya.
“Mama?”, pekik Kevin mendapati mamanya berada dalam kamar pribadi. Sungguh Kevin kesal, walaupun ibu kandungnya sendiri tapi tidak sepatutnya mencurigai bahkan masuk ke area pribadi miliknya.
“Oke Kevin , mama keluar, menunggu bersama Mario. Cepatlah jangan sampai membuat produser dan sutradara kecewa”
“Huh, nyaris saja”, keluh Kevin, ia sendiri tidak tahu kapan permainan ini akan usai.
**
GB Hospital
Sehari libur kerja, tidak biasanya membuat Dayana kebingungan. Ia termasuk salah satu dokter paling gesit di rumah sakit ini, dan sangat ceria. Tapi berbeda, semua berputar 180°.
Dayana lebih pendiam dan jarang menyapa rekan sesama dokter atau perawat yang biasa mendampinginya di IGD serta ruang praktik.
“Dokter, apa tidak enak badan?”, tanya seorang perawat yang tengah memegang botol infus.
“Ya sedikit, tapi bukan masalah besar. Sudah kembali bertugas, masih banyak pasien yang memerlukan bantuan”, Dayana menahan denyut di bagian kepala belakang.
“Oh ya ampun kenapa sangat mengganggu”, gumamnya, ia sangat ingin merebahkan tubuh dan menikmati udara segar tapi tuntutan profesi tidak membebaskannya.
__ADS_1
Dayana kembali melaporkan rekam medis pasien yang ditanganinya mulai dari pagi hingga siang ini. Penglihatannya sedikit tidak jelas karena rasa pusing, dan tentu ia melupakan jam makan siang yang terlewat 30 menit.
“Dokter, silahkan istirahat. Saya perhatikan dokter kurang fit", tutur rekan sesama dokter, mereka pun bergantian menikmati waktu istirahat yang sangat singkat.
Bersama rekan perawat dan dokter lain, Dayana memasuki kantin. Ia hanya menatap bingung pada semua makanan, tidak ada satu pun yang menjadi seleranya, “Boleh tidak ya makannya nanti malam?”, lemahnya dalam hati.
“Dokter ayo pesan, jangan diam saja”
Dayana memilih duduk dari pada terlalu lama berdiri khawatir akan pingsan dan membuat orang-orang panik. Sampai pada satu rekan perawat yang datang membawa satu mangkuk bakso, uap panasnya melewati hidung dokter cantik ini, sontak Dayana menutup mulut dengan kedua tangan berlari menuju toilet.
Hoek.....hoek
Memuntahkan hampir seluruh isi perutnya, dan terkulai lemas di wastafel, rambut sedikit berantakan dan wajahnya pucat.
Beberapa orang di toilet saling berbisik menggunjing Dayana, kalau ciri-cirinya sangat mirip dengan wanita hamil. Setahu mereka Dayana adalah gadis single yang belum memiliki pasangan, pacar saja tidak punya. Tapi belakangan santer terdengar jika Dayana dijodohkan dengan pengacara terkenal yang sangat tampan.
“Dayana, kamu hamil ya?”, tanya seseorang dengan polosnya berniat menjatuhkan dokter cantik ini.
“Apa? Hamil? Mana mungkin, aku hanya kelelahan dan melewatkan jam makan siang. Permisi”, telak Dayana meninggalkan toilet, namun baru saja sampai ambang pintu tubuhnya tidak sanggup berdiri, dan ia lekas menahan bobot tubuh pada dinding.
“Eh Dayana”, pekik mereka yang membicarakan hal buruk tentang keponakan Rayden Bradley ini.
“Sebaiknya kamu istirahat Dayana, jangan memaksakan diri seperti ini. Nanti kamu tidak fokus dan malah membahayakan pasien”, entah perhatian atau niat menyindir yang jelas kalimatnya sangat menyakitkan bagi Dayana.
Baru saja ia ingin membalas ucapan rekannya, Dayana lebih dulu dilanda mual sampai ia berlari masuk ke dalam.
“Benar dia hamil, sudah pasti”
“Tapi anak siapa? Apa pengacara itu”
Bisik-bisik yang terdengar jelas pada daun telinga Dayana. Seketika kristal bening mengaliri wajah cantik Dayana.
...TBC...
__ADS_1