Tante, I Love You

Tante, I Love You
Bab 27 - Kucing Besar


__ADS_3

BAB 27


“Aw”, pekik Dayana.


“Eh, kenapa?”


“Menjauh lah Kevin”


Keduanya terlibat saling dorong dan tarik. Dayana mendorong Kevin, sedangkan pria itu menarik rapat sang istri.


“Panas”, keluh Dayana, sikut dan lengannya terkena kebab yang masih panas. “Kamu itu mau mengerjai ku ya?”, ketus dokter cantik ini, bukan tanpa alasan karena Kevin menyimpan bungkus kebab tepat di sisi tangan Dayana.


“Tidak sengaja, jangan berlebihan”, sengitnya membalas.


Pasangan ini berdiri saling menjauhi satu sama lain, menunggu pintu besi terbuka dan sampai tujuan. Kepalanya saling menoleh pada sisi berlawanan, tapi mata sipit Kevin melirik Dayana memperhatikan dari cermin yang memantulkan pergerakan istrinya.


“Hah, apa-apaan ini? Kenapa begitu aneh”


Detak jantung Kevin tidak beraturan, suatu hal yang baru ia rasakan selama hidup 21 tahun. Meskipun memiliki dan menjalin hubungan spesial dengan Selena, tidak pernah sekali pun Kevin merasakan getaran aneh pada bagian dada.


Ting


Dayana keluar lebih dulu, tidak menghiraukan Kevin yang menghela nafas berat, “Ck, malah pergi lebih dulu, apa harus ku ikat dia”, gumamnya dalam hati.


“Eh, k-kenapa tidak bisa”, menunduk dan menggigit kuku ibu jari kanan, rambut panjang Dayana pun terjatuh pada kedua sisi wajahnya.


Padahal gerakan ini sangat cepat tapi menurut Kevin seperti adegan slow motion, wanita yang berdiri di sampingnya begitu manis dan cantik.


“Berapa sandi masuknya? Apa kamu yang merubahnya? Ck, seingat ku tadi sewaktu meninggalkan apartemen masih sama, tapi kenapa sekarang tidak bisa”, oceh Dayana langsung menoleh ke samping, memperhatikan penampilan Kevin dari atas ke bawah.


“Ah itu, Mario yang merubahnya. Nanti dia kasih tahu. Sekarang lebih baik, kita telepon Mario”


Kevin dan Dayana menunggu selama 5 menit karena Mario baru menyelesaikan kegiatan mandinya.


“Masuk, sorry ya password gue ganti, ya tahu dong alasannya apa”, melirik kemudian bertingkah sangat senang, ada kebab dan orange juice.


“Ah, Mario ini untuk kamu satu. Ini enak, ya walaupun aku belum mencobanya karena tadi ada kucing yang tiba-tiba menghabiskan makananku”, sarkas Dayana tidak melirik sama sekali pada Kevin.

__ADS_1


Mario mengerti apa yang dimaksud istri Kevin, dan ia pun memiliki ide untuk menjahili rekannya ini. Sengaja mengerling pada Dayana, lalu tersenyum menyeringai.


“Memang kucing sebesar apa yang begitu berani makan kebab besar sampai habis? Sebutkan ciri-cirinya, aku cari di google”


“Apa kamu yakin bisa menemukan kucing itu? Kalau sudah ketemu tolong pukul dia pakai itu”, menunjuk pada alat pembersih lantai elektrik yang menempel di dinding dapur, seketika Kevin menoleh tidak percaya apa yang dikatakan istrinya.


“Siap Dayana, kasihan sekali keponakan ku kelaparan”, ledek Mario.


“Badannya besar, rambutnya hitam, kepalanya seperti ini dan matanya sipit”, Dayana menggambarkan bentuk kepala di udara.


“Wah besar sekali Dayana? Apa kamu yakin dia kucing?”, tanya Mario seolah terkejut dan serius menanggapi dokter cantik ini. Dayana mengangguk cepat menanggapi Mario.


“Nah, Dayana apa wujudnya seperti ini? Kalau iya, aku akan memukulnya sekarang juga”, menunjukan foto Kevin di layar ponsel.


“IYA, MARIO kamu benar sekali”, girang Dayana. Mengulum senyum karena Mario benar-benar melakukanya, mengambil alat itu dan mendekati Kevin, memukul pelan bahu kiri aktornya.


“Apa-apaan kau ini Mario? Apa kalian tidak bisa makan dengan tenang, hah?”, ketus Kevin melirik tajam pada istrinya yang menahan tawa.


“Berani sekali Lo Kevin makan milik Dayana, Lo tahu pasti dia kelaparan dan anak Lo di dalam sana juga lapar, sungguh keterlaluan”, memukul bahu Kevin tapi sigap dan sangat cepat keadaan berbalik, kini Mario lah yang dikejar oleh Kevin.


“AWAS LO, berani menyentuh otot bahu gue”


“Ish kamu apa-apaan sih Kevin?”, mendorong dada bidang pria itu dan menjauhkan tubuh.


“Kena kalian”, senyum jahat Kevin tertuju pada Dayana kemudian Mario.


“LARI DAYANA !!!!”, seru Mario yang lebih dulu melarikan diri, masuk kamar dan mengunci pintu.


“Eh aku...... aku, lepas Kevin”, menginjak kaki suami brondongnya lalu berjalan cepat menuju kamar, ya naas nasib Dayana berbeda dari Mario.


Kevin lebih dulu menangkap dan memeluk wanita ini dari belakang, dada keduanya saling berdetak tidak beraturan, untuk kesekian kali saling menempel. Satu harapan keduanya, jangan sampai suara berisik jantung mereka terdengar pada pasangan.


“Kenapa seperti ini?”, pikir Dayana dan Kevin.


“Kamu jangan melewatkan makan malam, bukankah itu tidak baik bagi ibu hamil?”, bisik Kevin, mengurai pelukan dan membawa istrinya duduk kembali menikmati kebab berukuran besar itu.


**

__ADS_1


Apartemen XX


“Om mau kemana?”, suara serak wanita yang baru saja terbangun karena kelelahan.


“Bukan urusanmu, uang jajan untukmu sudah di kirim, periksalah”, memakai pakaian dan keluar kamar, meninggalkan perempuan muda yang selalu datang bila mendengar perintahnya.


Selena mengambil ponsel dalam tas dan membuka aplikasi salah satu perbankan, matanya berbinar menemukan riwayat uang masuk beberapa menit yang lalu. Tidak besar, tapi setidaknya cukup untuk biaya jajan dan nongkrong di cafe ternama, sisanya akan ia minta pada Kevin.


“Mana cukup untuk beli tas baru”, gumam Selena.


Hari yang semakin gelap dan ia memiliki suatu rencana yang harus dijalankan, segera mandi, merapikan penampilan lalu pergi mengendarai mobil.


Jemari Selena sibuk menghubungi ibu dari kekasihnya.


“Halo tante, apa tante ada di rumah? Aku merindukan tante”


“Ck yang benar saja aku merindukan nenek sihir itu, tidak apalah sekarang gunakan dulu kuasanya untuk mengusir tante sialan itu. Setelah aku menikah dengan Kevin, aku singkirkan secara perlahan ah jangan tapi harus cepat”, gerutu Selena.


Rumah orang tua Kevin berada di pinggir ibu kota, Selena pun memerlukan waktu lebih banyak untuk mencapai tempat itu. Melajukan mobil sangat cepat dan menyalip kendaraan yang menghalangi.


.


.


Mobil kecil milik Selena terparkir di sebrang jalan rumah orang tua Kevin, rumah minimalis peninggalan mendiang Tuan Nugraha ini direnovasi oleh Kevin menjadi hunian nyaman bagi ibu dan adiknya. Memiliki 2 lantai dan di bagian atas begitu indah kelap kelip lampu menghiasi rooftop.


“Hah, rumah ini juga akan jadi milikku, lihat saja nanti”


KLEK


“Selena?”, wajah wanita paruh baya yang cantik, tentu biaya perawatannya saja mahal, suntikan dana Kevin tersedot untuk ibunya.


Netra wanita ini melirik pada tangan kekasih putranya, lalu tersenyum malas dan sedikit membuang muka. “Gadis tidak sopan santun, tidak membawa apapun”


“Pasti nenek sihir ini mengharapkan sesuatu, selalu begitu, apa dia tidak bisa membeli sendiri?”


Perang kalimat dalam pikiran masing-masing.

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2