
BAB 40
Dayana dan Daniel menghabiskan cukup banyak waktu dan bersama sore hingga malam hari, pria blasteran Eropa Asia itu menikmati momen bersama Dayana.
Meski bukan status sepasang kekasih tapi Daniel sangat senang. Apalagi melihat tawa Dayana begitu lepas dan banyak membeli aneka cemilan sampai Daniel menggeleng kepala melihat tingkah pola ibu hamil satu ini.
“Apa semua wanita hamil akan seperti itu?”, heran Daniel yang lagi-lagi berhenti di pusat street food terkenal Singapore.
“Daniel, kesini. Cepat Daniel !!!!!!”, panggil Dayana.
Mengira terjadi sesuatu pada wanita pujaannya, gegas Daniel melangkah cepat dan meluncurkan jutaan tanya. “Kamu kenapa? Apa merasakan sesuatu? Kamu kelelahan Dayana?”, menatap tubuh Dayana dari ujung kepala hingga kaki, dan memutar tubuhnya 360° , memperhatikan dengan seksama.
“Ayo kita ke dokter”, Daniel menggenggam tangan Dayana dan mulai melangkah cepat.
“Hey Daniel ada apa? Kenapa panik begini?”, Dayana menahan pergerakan kakinya dan menahan Daniel.
“Kamu kenapa berhenti?”, serius Daniel .
“Itu, aku memesan itu Daniel”, tunjuk Dayana pada salah satu penjual makanan. “Aku tadi panggil kamu, maksudnya kamu mau pesan juga atau tidak. Aku cicip rasanya sangat enak”
“Oh, aku pikir ada apa. Ya pesan saja Dayana”, Daniel melepaskan genggaman tangannya dari Dayana dan kembali pada penjual makanan.
“Ini untukku kan? Terima kasih Dayana. Kamu memang teman yang pengertian sekali”, girang Daniel, hanya mendapat perhatian ringan saja berbunga-bunga apalagi mendapat hal lebih.
Dunia terasa indah ketika jatuh cinta bagi Daniel, dan sangat menyesakan saat seseorang yang kita cintai tak akan dimiliki.
Pernyataan jika cinta tidak harus memiliki, itu adalah hal menyakitkan. Bukankah mencintai untuk bahagia dan memiliki? Daniel bukan pria yang merelakan wanitanya pergi bersama orang lain. Daniel bahagia saat ini Dayana mulai terbuka padanya, sikapnya pun tidak canggung lagi.
“Ish, Daniel itu dua-duanya punyaku, huh. Kamu pesan saja sendiri”, Dayana mengambil box makanan dari tangan Daniel, duduk di kursi yang telah disediakan oleh pedagang.
Daniel berkacak pinggang, menunjukan sikap marah dan kesal tapi wajahnya sangat lucu menurut Dayana. “Kamu marah Daniel? Ah Daniel lucu sekali”, goda Dayana sengaja.
Lagipula dia tahu Daniel tidak benar-benar marah.
“Aku pikir kamu perhatian ternyata tidak, baiklah Dayana, melihatmu makan sangat banyak saja membuat perutku kenyang. Kamu tunggu disini”, Daniel pergi ke tempat lain dan memesan sesuatu, sementara Dayana hanya memperhatikan dari jarak jauh.
__ADS_1
“Dia beli apa? Katanya kenyang? Daniel memang lucu, mungkin seperti ini rasanya memiliki kakak laki-laki”, tawa Dayana lepas.
Rupanya pengacara terkenal itu membeli minuman untuk ibu hamil, jus buah dan salad wrap.
Pikir Daniel, khawatir Dayana terkena sembelit karena sedari tadi hanya makan makanan berprotein hewani dan tepung-tepungan.
“Untukmu, habiskan !!!!, setelah ini kita pulang, kasihan Tante Nayra”
“Siap Pak Pengacara”, senyum Dayana begitu manis pada Daniel dan pria ini untuk sementara hanya bisa memandangi saja.
Malam ini Daniel akan kembali berpisah dari Dayana, mungkin satu bulan lagi dirinya akan menjenguk dan membawa oleh-oleh.
Pekerjaan Daniel sebagai kuasa hukum beberapa klien memaksanya pulang ke Jakarta. Selain itu ia juga memberi ruang dan waktu bagi Dayana untuk memulihkan serta mengosongkan hatinya.
Dirinya pun tidak lengah, menempatkan beberapa mata-mata di sekitar Dayana, selain untuk menjaga juga memberi informasi jika suatu hari Kevin datang.
Daniel tidak pernah menganggap sepele pada siapapun lawannya, dan dia tidak mau mengulang masa lalu, dimana Dayana kembali pada pelukan pria yang salah.
“Dayana jaga dirimu baik-baik, dan anak dalam kandunganmu jaga dengan baik, meskipun aku orang lain tapi aku akan berusaha membahagiakan mu juga anak itu”, batin Kevin sembari tetap menyetir mobil.
Merasa kasihan, tidak ingin mengganggu istirahat, Daniel menggendong Dayana masuk ke rumah.
“Daniel, kenapa kamu........”, Bunda Nayra mengerti setelah melihat isyarat Daniel.
“Baringkan saja Dayana disini, bunda sudah merapikan kamarnya”, mendahului Daniel dan membukakan pintu kamar.
“Terima kasih Daniel bersedia menemani dan membantu Dayana, bunda berhutang banyak”.
“Jangan sungkan tante, oh ya Daniel pamit, Jaga Dayana tante, mungkin satu bulan lagi Daniel kesini”, tutur Daniel dan segera pulang ke Jakarta.
“Anak baik yang malang”, lirih Bunda Nayra dalam hati, sembari melihat Daniel mengeluarkan mobil dari dalam garasi.
.
.
__ADS_1
Pagi pertama di kota berbeda, negara berbeda, suasana yang lain dan status berbeda. Dayana akan mulai melupakan apa yang terjadi kemarin dan menjalani lembaran baru detik ini juga.
Setidaknya tabungan yang dimiliki masih cukup untuk biaya hidup 2 tahun ke depan, mencari pekerjaan saat hamil rasanya percuma karena kurang dari tujuh bulan harus mengambil cuti melahirkan. Hanya akan menjadikan dirinya bahan gunjingan rekan kerja, hamil tanpa suami.
Belum lagi berita di media, walau telah hilang jejak secara digital tapi apa hilang juga dari ingatan semua orang? Terutama penggemar berat Kevin yang mungkin masih mengamati gerak gerik Dayana.
Lalu Selena kekasih Kevin itu yang akan menggantikan posisi Dayana sebagai istri dari Kevin Nugraha.
“Dayana, apa kamu ada rencana hari ini?”, tanya Bunda Nayra sembari menyiapkan sarapan.
“Ummm, belum ada bunda, kenapa?”
“Kita keliling kota mau? Karena kita tinggal cukup lama disini, bunda ingin tahu dan mengenal lingkungan, bisa kan?”
“Boleh bunda, Dayana juga perlu penyesuaian sama lingkungan baru. Semalam Daniel memberi daftar tempat yang harus dikunjungi, gemana kalau kita ke sana bun?”
“Ayo, kita naik bus lebih nyaman sepertinya”
Setelah sarapan kedua wanita ibu dan anak itu pergi mengunjungi beberapa tempat, menggunakan bus kota yang sangat bersih dan ramah bagi ibu hamil. Dayana merasa akan betah di kota ini meskipun asing.
Masuk pasar tradisional pecinan, Dayana meminta bundanya memasak capcay seafood. Membeli banyak bahan makanan yang akan disimpan dalam grocery room di rumah. Menghemat waktu dan tenaga agar tidak ke pasar setiap hari.
Pulang dari pasar, Dayana membeli cemilan ringan di pinggir jalan, teriknya matahari siang ini tidak menyurutkan Dayana untuk jalan kaki, menikmati es krim yang baru saja dibelinya.
“Apa ini anakmu lagi yang menginginkannya Dayana?”, sindir Bunda Nayra, pasalnya Dayana sudah menghabiskan dua cup es.
“Iya gemana bun, rasanya enak”, jawabnya sembari tertawa ringan. Manik coklatnya pun menyisir jalan serta gedung bertingkat, sampai pada gedung pencakar langit dengan videotron menempel di badan gedung.
Dayana tertegun melihat sesuatu yang membuat es krim dalam genggamannya jatuh, terlepas dari tangan.
“Kevin”, lirihnya.
...TBC...
__ADS_1