
BAB 39
Kediaman Keluarga Bradley
“Dayana kamu yakin membawa semua pakaian ini?”
“Yakin bunda, mungkin kedepannya Dayana ingin tinggal selamanya di sana. Tidak mau pulang ke Jakarta”, tegas Dayana.
Kenangan buruk yang didapatkan dari Kevin, kembali membuat wanita ini harus pergi menjauh dan menenangkan diri. Untuk kedua kalinya Dayana terluka karena seorang pria, lebih parahnya lagi kali ini ia begitu direndahkan seakan tidak memiliki harga diri.
“Daniel akan mengantar kita ke bandara?”, tanya Bunda Nayra.
“Iya, katanya jam 10 siang ini datang, Daniel juga mengantar kita sampai ke Singapore, bun”
“Heh, anak itu semakin agresif mengejar setelah resmi bercerai dari Kevin”, Bunda Nayra menggelengkan kepala.
Sebelum Dayana dan Kevin resmi berpisah, Daniel Matthew selalu menahan dirinya untuk mendekati wanita yang akan ia perjuangkan.
Namun setelah sidang putusan keluar, Daniel akan benar-benar merebut perhatian dan hatinya, ia ingin menjadi yang terbaik untuk Dayana dan anaknya kelak.
Ya, keluarga besar Matthew awalnya menolak keinginan besar Daniel untuk menjalin hubungan dengan Dayana, karena dalam rahim wanita itu tumbuh anak dari pria lain.
Keluarga Matthew tidak pernah bersedia menerima keturunan orang lain masuk rumahnya dan menjadi anggota keluarga mereka.
Tapi berbeda, Tuan dan Nyonya Matthew mengizinkan salah satu keturunan mereka menikahi wanita berstatus janda memilik anak satu.
“Apa yang kamu pikirkan Dayana?”
“Dayana merasa banyak berhutang sama semua orang, termasuk Daniel. Padahal aku selalu menolaknya tapi Daniel terus saja datang dan bersikap baik”.
“Ya, mungkin pria yang ditakdirkan untuk mu itu Daniel bukan yang lain. Bunda harap kamu melupakan pria tidak tahu diri itu, dan jangan sampai dia tahu keberadaan anaknya. Sampai kapanpun dia tidak boleh mendekat apalagi bertemu”, kesal Bunda Nayra.
Memang salah besar menutupi kenyataan kandungan Dayana baik-baik saja, tapi dengan sikap Kevin yang tidak bisa berubah dan layaknya anak kecil. Pihak keluarga Dayana, tidak bisa mempercayakan kehidupan Dayana dan anaknya pada seorang pria tempramen dan tanpa tanggung jawab.
.
__ADS_1
.
Pukul 10 Daniel masuk pelataran kediaman Bradley, ia sendiri memohon izin pada Paman Dayana untuk mengantar langsung Dayana ke Singapore dan memastikan keamanannya.
Peran Daniel juga sangat banyak, seringkali ada beberapa makanan yang Dayana inginkan dengan sigap Daniel mencari dan membelinya untuk wanita itu.
Iya awalnya dan memang Daniel lakukan demi wanitanya bukan anak dalam kandungan Dayana. Berat untuk menerima keberadaan bayi tapi lambat laun Daniel bisa menerimanya.
“Ayo Dayana kamu sudah siap?”, ajak Daniel mengulurkan tangan pada wanita yang duduk mengelus perut ratanya.
“Aku pikir kamu akan terlambat Daniel”, kelakar Dayana.
“Mana mungkin Dayana, kamu tahu aku sangat mengutamakan waktu. Tidak ada bagiku kata terlambat”, tutur Kevin.
Dayana dan Bunda Nayra pamit pada seluruh anggota Keluarga Bradley yang telah membantu mereka, sangat sedih sebenarnya harus meninggalkan rumah dan kota dimana banyak kenangan, tapi semua demi kebaikan.
“Nayla, kakak titip bunda ya, tolong jaga bunda sampai kakak pulang”, peluk Bunda Nayra pada adiknya.
“Kakak tenang, bunda aman disini. Ada Dariel yang siap menghibur omanya”, Mama Nayla menunjuk putranya yang berdiri di ambang pintu.
“Tenang tante, semua beres, mungkin sesekali aku berkunjung kesana”, imbuh Dariel.
“Wow santai little bro, aku bukan pria seperti itu”, Daniel menepuk bahu Dariel.
Akhirnya Dayana meninggalkan Kota Jakarta untuk waktu yang tidak bisa ditentukan sampai kapan. Mungkin satu, dua tahun atau 10 tahun, tidak ada yang tahu.
Di Singapore, rumah tinggal untuk Dayana telah disiapkan oleh pamannya berikut semua fasilitas. Setelah melahirkan pun Dayana berencana akan melanjutkan pendidikannya sebagai dokter spesialis dan bekerja kembali dengan kemampuannya itu.
Hidupnya harus bisa mandiri, apa iya selamanya akan di topang oleh orang lain? Tidak kan. Dia pun harus kuat untuk menjadi orangtua tunggal, Bunda Nayra pun bisa membesarkannya tanpa kehadiran seorang ayah.
“Kita akan baik-baik saja”, Dayana mengelus perut ratanya.
.
.
__ADS_1
Tiba di Singapore, Dayana yang sempat mengalami mual dan muntah dalam pesawat. Hamil muda benar-benar menyiksa, padahal tidak biasanya muntah begitu parah tapi kali ini perutnya selalu bergejolak mengeluarkan sesuatu dari dalam hingga benar-benar kosong.
Bahkan snack yang disediakan dalam pesawat pribadi, turut Dayana keluarkan. Tubuhnya begitu lemas, kehilangan banyak cairan melalui muntah , sampai Daniel menghubungi dokter kenalannya untuk memberi penanganan pada Dayana.
“Bagaimana Dayana?”, cemas Bunda Nayra.
“Dokter Dayana kekurangan cairan, mungkin juga ini efek penerbangan dan hormon kehamilan. Berikan sup hangat dan buah-buahan untuk pereda mualnya, makan sedikit tapi sering akan sangat membantu”
“Terima kasih sudah datang”, ramah Daniel.
“Tentu saja Daniel, tugas ku sebagai dokter, kalau begitu aku permisi karena harus kembali ke rumah sakit”, pamit Dokter Spesialis Kandungan.
Daniel setia menemani Dayana di kamar, pria ini bahkan bersikap bagai suami yang siaga. Daniel duduk di sofa sembari menyelesaikan pekerjaannya, beberapa dokumen penting ia bawa agar sidang para kliennya dapat segera selesai.
Bunda Nayra beberapa kali melewati pintu kamar yang terbuka luas itu dan cukup menyukai Daniel, sikapnya benar-benar dewasa. “Mungkin kamu akan bahagia bila menerima Daniel di sisimu Dayana”, gumam wanita paruh baya ini.
Membesarkan anak seorang diri bukan perkara muda, banyak ujian dan gunjingan bagi mereka yang tidak menyukai. Tuduhan dan cap perempuan nakal pun kerapkali diterima, karena status janda yang sering disalah artikan.
Bunda Nayra tidak mau putrinya hidup sampai tua seperti dirinya, Dayana harus bahagia bersama seseorang yang tepat.
“Bunda yakin Daniel orangnya, semoga kamu juga menerima Daniel, nak”, batin Bunda Nayra berlalu dari depan kamar Dayana.
Dayana yang telah kenyang tidur, menggerakkan kedua kelopak mata dan membuka perlahan mata sipitnya, mengedarkan pandangan ke seluruh kamar betapa ia terkejut melihat wajah Daniel tepat di sisinya.
“Hah Daniel apa yang kamu lakukan?”
“Menurutmu apa? Aku hanya menemani ibu hamil yang tidur seperti kerbau ini, tuh lihat”, menunjuk pada jam tangan, selama 3 Dayana terlelap dan kini hari pun berubah senja.
“Lama juga ya”, gumamnya.
“Tentu lama, kamu ini tidur sampai lupa waktu. Apa dia juga ikut istirahat bersama ibunya?”, tunjuk Daniel pada perut Dayana.
“Tentu saja Daniel, oh ya kenapa kamu belum pulang?”
“Kamu mengusirku Dayana?”, memasang wajah sedih dan terpukul.
__ADS_1
“Kalau aku tidak mau pulang bagaimana? Mungkin aku akan tinggal disini dan mulai membuka kantor pengacara di Singapore........agar kita tidak akan terpisah jarak dan waktu, aku khawatir Kevin datang dan merusak semuanya”, lanjutnya dalam hati.
...TBC...