
BAB 21
Dayana yang terbangun, terkesiap melihat Kevin duduk di sofa tengah memandanginya. “Apa ini mimpi? Ck menyebalkan sekali sampa pria arogan itu terbawa , huh”, geram Dayana.
“Kau tidak mimpi”, celetuk Kevin, berdiri dari tempatnya dan duduk di tepi ranjang. Memandang lurus pada Dayana. “Jadi benar kau hamil? Itu anakku?”, tanya Kevin yang tanpa sadar meragukan darah dagingnya dan ini menyayat hati Dayana.
Tanpa mau menjawab, Dayana duduk dan menghempas kasar selimut lalu berdiri. Jika ia tidak diajarkan sopan santun ingin sekali menendang bocah tengil di kamarnya ini.
“Benar kan kau hamil? Aku akan bertanggung jawab sampai dia lahir, kau tidak perlu takut aku akan menjalankan tugas sebagai ayah”, lantang Kevin, dirinya tidak menyangka di usia 21 tahun menikah dadakan, memiliki istri yang lebih tua usianya dan sekarang sedang hamil. Mimpi apa Kevin, seperti menjalani lakon saja di TV Drama.
“Sebaiknya kau pergi Kevin, aku muak melihatmu”, usir Dayana, ia tidak butuh tanggung jawab apapun dari suaminya.
Kevin berdiri dan mendekati Dayana, menempelkan telapak tangan di perut Dayana, “Dia hadir karena kesalahan ku, izinkan aku menebus kesalahanku. Dan kau harus tinggal denganku di apartemen, aku tidak mungkin hidup di rumah orang lain”, tutur Kevin yang harus menjaga privasi sekalipun dari keluarganya.
Dayana membuang wajah ke arah lain, namun Kevin masih memandangi wajah cantik istrinya. Semua yang terukir pada Dayana adalah impian wanita, memiliki kecantikan alami dan bentuk tubuh ideal. Hanya satu yang salah disini, usianya lebih tua dan lagi sikap Dayana selalu ketus padanya.
“Tante kau tidak sopan, mengabaikan suami”, ucap Kevin.
“Kau juga tidak sopan dasar bocah”, umpat Dayana, bisa-bisanya terjerat dalam kehidupan rumit seperti ini.
Semakin dipandang lekat, Kevin merasa hawa panas pada tubuhnya, iya bibir ranum serta leher jenjang Dayana yang menggoda ingin disentuh. Apalagi Kevin ingat dirinya yang pertama bagi wanita ini, rasanya menagih dan terngiang-ngiang, berbeda dengan Selena.
Lama keduanya saling diam dalam kamar, tidak ada sepatah kata apapun. Sampai waktu makan malam tiba, pelayan memanggil kedua orang dalam kamar.
“Kau harus makan, anak itu membutuhkan nutrisi”, Kevin menarik tangan Dayana keluar kamar, menuntun ke ruang makan. Ia akan menepati janji sebagai seorang ayah yang baik, kalau pun hingga akhirnya mencintai wanita ini akan ia terima, mungkin Dayana adalah cinta yang dikirim oleh Tuhan.
“Lepas”, seru Dayana, menarik tangan dari pegangan Kevin.
.
__ADS_1
.
PLAK
Suara tamparan nyaring terdengar di ruang keluarga, ya Bunda Nayra yang datang karena diberi penjelasan apa yang terjadi sangat murka pada Kevin.
“Kau bukan suami yang baik, kau mencampakkan putriku setelah menikah, suami macam apa seperti itu?”, emosi ibu mertua Kevin.
“Benar-benar memalukan, kenapa kau tidak menceraikan anakku dari awal? Apa tujuanmu sebenarnya, hah?”, pungkas Nayra, berada di dekat menantu dadakan ia bisa darah tinggi.
Kevin pun tidak menyangka jika respon kelurga Dayana akan seperti ini, terlebih Bunda Nayra, dikenal lembut pada pertemuan sebelumnya tapi kini menunjukan tanduk serta taring untuk putrinya yang telah Kevin permainkan.
“Aku akan bertanggung jawab”, tegas Kevin, cukup sudah ia di juluki bocah ingusan dan pria yang tidak memiliki rasa tanggung jawab. “Aku akan mengajak Dayana tinggal di apartemen”
“Berani sekali kau membawa putriku, hah? Aku ingin bertemu dengan ibumu Kevin”, sentak Bunda Nayra.
“Ayo pulang, aku ingin istirahat”, ajak Kevin mengulurkan tangan pada Dayana.
Mendapat penolakan dari sang istri, Kevin harus banyak bersabar dan mengusap dada berkali-kali, selain lebih tua Dayana pun sedang mengandung dan membuat hormonnya berubah, tidak akan menang melawan wanita karena mereka mengklaim dirinya selalu benar dan ya Kevin memang salah sedari awal.
“Ingat, aku adalah suamimu, nona”, menarik tangan Dayana dan merangkulnya membawa masuk dalam mobil.
Entah mengapa Dayana mudah sekali mengantuk apalagi dalam mobil seperti ini, aroma pengharum mobil memanjakan indra penciumannya, ia pun terlelap tanpa sadar.
Sementara Kevin tetap fokus melajukan kuda besi ini ke apartemennya. Ia menghubungi mario untuk menyiapkan pakaian dan kamar istrinya.
Tiba di pelataran apartemen, Kevin tidak langsung membangunkan wanita yang sangat polos, lugu dan manis ketika tidur. Ia membelai lembut kepala Dayana dan perut rata istrinya, “Jadi aku akan memiliki anak sebentar lagi?”, gumamnya. “Hah, semoga mama mau menerimanya”.
Kevin turun dan memakai alat penyamaran, ia menggendong tubuh Dayana masuk ke apartemennya, harum segar aroma khas buah-buahan mengingatkan Kevin pada betapa lembutnya kulit wanita ini.
__ADS_1
Tak menunggu pintu terbuka, Kevin masuk dan melangkah ke kamarnya, ia kasihan pada wanita hamil ini. Meski tidak berpengalaman tetap saja Kevin pernah menjadi seorang ayah di salah satu filmnya dan hanya itu bekal ia untuk memperhatikan Dayana.
“AMPUNNN KEVIN, LO CULIK ANAK SIAPA LAGI?”, pekik Mario yang baru selesai menggunakan masker.
“Sssst, bibir bisa diem engga? Ini istri gue, dia akan tinggal bareng kita. Jangan tanya yang lain, gue udah pusing banget hari ini”, potong Kevin melihat bibir Mario ingin mengatakan sesuatu.
Kevin membaringkan Dayana di atas ranjang miliknya, biasanya Selena yang terbaring di sini usai percintaan panas dengannya, sekarang ia tak akan memasukan kekasihnya itu ke apartemen karena harus melindungi kandungan Dayana.
“Tidurlah yang nyenyak, kau tidak perlu takut tidak akan hidup layak, aku akan membiayai seluruhnya”. Ia pun beranjak ke kamar mandi, rasanya nyaman jika berendam menggunakan aroma terapi, menghilangkan penat dalam jiwa.
Berselang 20 menit Dayana membuka mata dan terkesiap berada di tempat asing, tapi beberapa detik kemudian tersadar ada di apartemen suaminya.
“Apa ini kamar bocah ingusan itu atau kamar tamu?”, sama sekali tidak ada foto Kevin dalam ruangan bernuansa abu-abu ini.
Dayana pikir ia berada di kama tamu dan aman baginya melepas cardigan yang menutupi dress bertali tipis di bahu mulusnya ini.
“Apa aku harus menerima kehadiranmu saat ini?”, menyentuh permukaan kulit terhalang oleh serat kain.
“Dimana toiletnya ya? Apa itu?”, menunjuk pintu satu-satunya dalam ruangan. Dayana yang kebelet pipi segera membuka pintu dan sontak berteriak melihat Kevin di dalam sana tanpa penghalang apapun.
“AAHHHHH”
“HEY”, balas Kevin.
Naas Dayana yang ingin membalik tubuh tidak sengaja terpeleset, pergerakan refleks Kevin sangat baik, menopang pinggang dan punggung istrinya agar tidak menyentuh lantai.
Pandangan dua insan ini saling bersitatap dalam diam, rambut basah kevin semakin memberi efek seksi, sejenak Dayana terpesona akan suaminya yang menyebalkan ini.
...TBC...
__ADS_1