
BAB 14
Para orang tua sangat senang melihat Dayana dan Daniel cukup akrab pada pertemuan pertama, dan mereka yakin akan berbuah manis hanya tinggal menunggu waktu saja.
Keduanya saling bertukar nomor ponsel, apa Daniel memintanya atas dasar keinginan? Pria tampan ini mengingat betapa neneknya mengidolakan Dayana dan hampir setiap hari mengunjungi GB Hospital untuk bertemu Dayana.
“Tidak keberatan jika aku menghubungimu?”, Daniel tak ingin jika Dayana merasa risih dengan kedekatannya, bagaimana pun ia adalah pria maka dirinya akan lebih dulu membuat Dayana jatuh cinta padanya. Daniel merasa tertantang mendapatkan Dayana, wanita ini bukan yang pertama bagi Daniel.
Biasanya para wanita yang dikenalkan padanya akan mengiba dan lebih agresif tapi tidak pada Dayana yang cenderung menjaga jarak namun tetap ramah padanya. Usia Daniel yang lebih matang dan dewasa memang membuat Dayana sedikit nyaman, ia pun mengikuti kemana arus ini akan mengalir.
“Senang bertemu denganmu Dayana”, senyum tipis tersungging di bibir seksi Daniel. “Lain waktu aku pastikan kita akan bertemu lagi”.
“Hah, apa?”, Dayana tersentak mendengar penuturan Daniel.
Ketiga orang tua yang berdiri tidak jauh dari anak-anak mereka hanya mengulum senyum dan tertawa sedikit. “Dayana, rupanya kamu ini dokter yang merawat ibu mertua ku”, Nyonya Matthew memeluk erat Dayana.
Nenek Daniel selalu menceritakan ingin memiliki menantu seorang dokter ya seperti Dokter Dayana yang selalu merawatnya di rumah sakit, mendengar segala keluh kesah wanita senja itu.
“Kapan-kapan main ke rumah kami Dayana, nenek pasti senang”, benar-benar mertua idaman, Nyonya Matthew, ah tapi mungkin karena ia mengetahui Dayana seorang dokter yang juga keponakan dari pengusaha terkenal Rayden Bradley.
“Baik nyonya”
“Jangan panggil aku nyonya, mama saja”.
Daniel bersama kedua orang tuanya pergi meninggalkan kediaman Bradley yang megah ini. Mama Nayla dan Bunda Nayra langsung menarik tangan Dayana menuju ruang keluarga, bertanya kesannya pertama kali bertemu Daniel.
“Dia pria yang baik dan ramah, ini bukan pertama kali kami bertemu”, Dayana mengingat pagi ini menabrak dan bertemu Daniel di ruangan dokter.
“Ah yang benar kamu nak?”, antusias kedua ibu Dayana.
Dokter cantik ini pun memberitahu semua yang terjadi ketika berjalan santai bersama Daniel di taman belakang. Bertukar nomor ponsel, membicarakan minat yang digemari serta alasan menerima perjodohan.
__ADS_1
“Lalu?”
“Lalu apanya bunda?”, Dayana memicingkan mata sipitnya, tidak mengerti apa maksud ibu yang melahirkannya itu.
“Lalu apa kamu menyukai Daniel? Ya semacam jatuh cinta pada pandangan pertama?”
“Hah, tidak. Seperti yang aku katakan dia pria baik tapi untuk mencintai seseorang tidak semudah itu bunda, mama. Dayana memerlukan waktu mengenal Daniel lebih dalam..... lagi pula aku ini istri orang dan..... dan tidak suci lagi”, Dayana mencoba tersenyum walau terpaksa.
**
Di Bandara
Kevin selalu melihat ke arah luar, menunggu seseorang datang, yang jelas bukan Selena, karena wanita ini ikut dengannya ke Korea. Merengek dan memaksa Kevin membelikan tiket untuknya, tidak mau ditinggal walau beberapa hari. Selena akan meminta uang jajan pada Kevin selama di Korea, dari pada suntuk menemani pria itu shooting lebih baik belanja.
“Bee, kamu nunggu siapa?”, tanya Selena memegangi tangan Kevin. “Mario kan tidak mau ikut, bee. Tenanglah disini ada aku”, imbuh Selena sangat percaya diri.
“Kevin , kamu bodoh. Kenapa menunggu hal yang tidak pasti. Tahu jadwal keberangkatanmu saja tidak. Wanita itu tidak akan datang”, otak Kevin memberi pengertian pada hati yang sangat berharap Dayana datang padanya.
Cinta memang tak akan pernah salah, dan Kevin merasa cintanya hanya untuk Selena meski wanita ini memiliki banyak kekurangan. Tapi tetap baginya Selena perempuan sempurna, biarlah alam menantang, ia tidak peduli dan akan tetap membawa hubungannya ini ke jenjang serius.
Tentu Kevin harus menyelesaikan urusannya dengan Dayana, terpaksa ia mengulur waktu sampai memastikan Dayana tidak mengandung anaknya. Hanya itu yang membuat Kevin panik, ia takut, ya takut menjadi seorang ayah di usia mudanya dan kehilangan segalanya.
“Bee, ayo masuk”, Selena menarik tangan Kevin.
“Oh iya, bee”
Sebelum mematikan daya ponsel, Kevin memeriksa rekeningnya, ia ingin tahu saja apa Dayana sama sekali tak ingin menggunakan uang itu?.
“Masih sama tidak berubah satu angka pun”, gumam Kevin.
“Ada apa bee? Oh iya, tolong kirim uang ya untukku, nanti sampai di Korea aku takut kamu lupa, terus apa aku harus diam di hotel sepanjang hari?”, memasang wajah cemberut dan mengiba pada kekasihnya.
__ADS_1
“Iya, berapa yang kamu mau?”.
Kevin selalu saja menuruti keinginan Selena, dirinya hanya dijadikan mesin penghasil uang oleh kekasihnya ini. Selena tidak tulus menjalin hubungan dengan Kevin, keduanya sama-sama mendapat keuntungan, walau tidak seimbang.
.
.
Menempuh perjalanan hingga berjam-jam, Kevin beserta rombongan tiba di salah satu hotel bintang lima di kota Seoul. Mata sipit Kevin menangkap sesuatu yang tidak asing baginya, seorang pria tampan berdarah balsteran Asia Eropa yang belakangan menjalin kerja sama dengannya.
Pria itu adalah Dariel Bradley, hotel ini salah satu milik keluarganya yang ia kelola. Sesekali Dariel mengunjungi hanya untuk memeriksa semua aman terkendali.
“Tuan Dariel dan disini, apa itu artinya Dayana juga disini?”, ia sengat penasaran, haruskah bertanya langsung pada pria tampan yang menggunakan kacamata hitam di depan sana.
Penasaran dengan hal yang sangat ingin diketahui, Kevin sengaja menghampiri bos perhotelan. Dengan dalih tidak sengaja bertemu, “Tuan Dariel?”, panggil Kevin.
“Ah ya, anda Kevin Nugraha, benarkan? Wah dunia memang sempit. Selamat menjalani shooting disini, kita sebagai pria memang harus bekerja keras apalagi untuk masa depan wanita yang dicintai”, Dariel melirik pada Selena yang langsung salah tingkah mendapat tatapan dari putra pengusaha ternama.
“Oh ya tentu, anda juga”, Kevin tersenyum kaku.
“HAHAHA, aku bekerja demi ibu dan saudari perempuanku”, kelakar Dariel yang masih menjomblo.
“Bukankah anda memiliki kekasih? Aku pernah melihat anda mengantar wanita dan aku pernah melihatnya di gedung G&B”, bibir Kevin sungguh tidak bisa ditahan untuk memperlihatkan betapa penasarannya ia.
“Ummmm... apa dia seperti ini?”, Dariel menunjukan foto dimana pipinya mendapat ciuman dari Dayana dan saudari kembarnya. Sontak Kevin melotot, hatinya begitu panas ternyata hubungan keduanya sangat jauh dan dekat.
“Ya, wanita yang bermata sipit ini”, tunjuk Kevin.
Sebelum menjawab, Dariel tertawa terbahak-bahak pria ini merasa jika Kevin memiliki ketertarikan pada kakak sepupunya. “Namanya Dayana dan dia adalah....”, Dariel mendekat pada telinga Kevin, “Dia adalah kakak sepupuku, jadi jika kau ingin mendekatinya, boleh saja hanya kalian berbeda usia”, bisik Dariel sukses membuat Kevin terkejut, rupanya Dayana bukan wanita simpanan seperti apa yang ia pikir.
...TBC...
__ADS_1