
BAB 47
Waktu Kevin tersisa beberapa hari lagi, memanfaatkan sebaik mungkin, menciptakan suasana hangat bersama Dayana juga calon anak mereka.
Dayana sangat senang dan suka sekali makan hasil masakan mantan suaminya, selalu kalap dan berakhir kekenyangan, Kevin beberapa kali tertawa menyaksikan langsung tingkah calon istrinya yang lucu.
“Jangan dipaksa, kamu makan terlalu banyak nanti perutnya sakit”, larang Kevin, menahan tangan yang hendak mengambil capcay seafood. “Jangan nangis, tapi kamu harus tahu batasan”, peringatkan Kevin lagi sambil mengulum senyum.
“Hem, kalau begitu jangan masak lagi”, ketus Dayana. Dirinya juga tidak mengerti entah kenapa dan bagaimana bisa berubah menjadi manja dan sedikit kekanakan seperti ini. Apa efek kehamilan yang menyebabkan ini semua?.
“Kenapa? Bukankah makananku enak, iya kan? Kamu bilang sendiri, kalau yang masak selama satu minggu ini aku jangan bunda, tapi sekarang berubah. Maunya apa Dayana?”.
“Dasar bodoh, tidak peka, tidak bisa membaca situasi, dasar bocah ingusan”, umpat Dayana dalam hati, sedangkan di wajah hanya menunjukkan rasa kekesalan.
Kevin menghela nafas, selalu seperti ini, terlibat pertengkaran karena hal kecil dan tidak perlu dibesar-besarkan, tapi Dayana selalu menganggap semua menjadi masalah besar.
Mungkin ia harus lebih sabar dalam menghadapi ibu hamil satu ini, apalagi ingin kembali mengambil perhatian Dayana, tentu tidak mudah. Ada harga yang harus dibayar untuk mendapatkan semua itu.
“Dia itu kenapa sebenarnya?”, tanya Kevin dalam hati.
“Dia itu sama sekali tidak mengerti, kenapa aku memintanya masak dan menikmati makanannya, itu semua..........semua karena kamu yang akan kembali pulang, aku tidak tahu kapan kita bertemu lagi Kevin, jadi biarkan beberapa hari ini aku manja, bukan untukku sendiri tapi anak ini”, kata hati Dayana, mengelus perutnya sendiri.
Melihat calon istrinya memegang perut, Kevin memasang sikap siaga satu, ia takut Dayana merasa kram atau tidak nyaman, sangat cemas pada keturunan yang sedang bertumbuh itu. “Apa kamu sakit? merasakan sesuatu”.
Ibu hamil yang kekenyangan hanya tersenyum tipis dan ditahannya, sangat sayang kah Kevin padanya? Ah bukan tapi pada anaknya?.
Sikapnya dulu acuh dan arogan ternyata memiliki sisi lembut juga perhatian. Tunggu, apa Kevin selalu seperti ini pada Selena, ya Dayana mengingat betapa menempelnya perempuan muda itu.
Ketika masih berstatus suami istri saja, Selena terang-terangan mendekati dan bersama Kevin tidak sungkan menunjukkan kemesraan, lalu sekarang setelah perceraian pasti tidak malu lagi.
“Aku mau tidur”, berdiri dan meninggalkan Kevin sendirian di meja makan. Aktor muda itu tercengang karena tiba-tiba calon istrinya marah, padahal mereka hanya membahas makanan.
__ADS_1
“Seharusnya aku yang marah karena selalu diuji kesabaranku, tapi kenapa jadinya terbalik, Dayana aku mohon jangan seperti ini”, keluh Kevin.
Sementara dalam kamar, Dayana duduk menyandar dan memeluk bantal, membenamkan wajah pada bantal. Dadanya menjadi sesak dan sakit karena membayangkan betapa mesranya Kevin bersama Selena.
“Ish, mereka juga bukan siapa-siapa lagi bagiku”, berusaha menyadarkan diri sendiri.
“Tapi benar selama disini Kevin tidak pernah cerita hubungannya dengan Selena, menelepon atau berbalas pesan juga tidak, dia lebih sering menghubungi Mario. Ummm.......apa aku tanyakan saja pada Mario?”, gumam Dayana.
“Mungkin ini efek bayi, apa kamu ingin selalu dekat dengan ayah? Ibu pasti menuruti keinginanmu, sampai kamu lahir ayah akan tetap berada di samping kita”, mengelus perut yang tampak buncit.
.
.
Makan malam hari ini bukan Kevin yang masak melainkan Bunda Nayra, melihat kesibukan Kevin pada ponselnya yang pasti menyangkut pekerjaan, wanita paruh baya ini tidak tega memaksa mantan menantunya menyiapkan makan malam.
Semua telah rapi dan siap barulah Dayana, Kevin duduk bersama Bunda Nayra. Kevin benar-benar merasakan memiliki keluarga sesungguhnya, penuh kehangatan dan tidak ada desakan apapun, Bunda Nayra perlahan mulai menerima kehadiran Kevin.
“Ini bukan kamu yang masak?”, tanya Dayana memberengut.
Dayana hanya makan sup tanpa nasi dan lauknya, ini memancing Kevin untuk menyimpan makanan di piring calon istrinya.
“Kamu harus banyak makan, ibu hamil membutuhkan kalori lebih banyak dari wanita biasa, perhatikan nutrisi yang masuk jangan sampai mengorbankan anak yang tidak bersalah”, imbuh Kevin, menghela napas kasar.
“Sebenarnya apa yang dia lakukan sore ini? Apa sibuk balas pesan dan video call dengan Selena? Aih benar-benar mengganggu, hubungan mereka sebenarnya bagaimana? Aku ingin tahu”, batin Dayana menatap sengit Kevin.
“Kalau ada yang mau ditanyakan, ya tanya jangan sungkan. Tapi setelah makan malam, sekarang kita fokus makan, jangan memikirkan hal lain”, tegas Kevin yang merasa aneh pada tatapan calon istrinya.
“Hem ya”, datar Dayana.
Namun setelah makan malam tidak ada satu kata yang keluar dari bibir Dayana. Wanita ini malah asyik bermain game puzzle di ponselnya, sedangkan Kevin berusaha sabar menghadapi mood Dayana yang selalu berubah.
__ADS_1
“Bukannya ada yang mau kamu tanyakan? Apa?”, Kevin mulai bersuara, sebagai pria ia harus mengambil inisiatif secepat mungkin.
“Oh, mungkin lain waktu. Ummm.......sekarang aku mengantuk. Aku tidur”, pamit Dayana berbeda dari biasanya. Sampai Kevin memijat pelipis yang begitu pusing, kenapa menghadapi wanita selalu kesulitan.
Di dalam kamar, Dayana mengatur irama jantungnya agar sesuai dan tidak melompat-lompat.
Sikap Kevin sangat manis tapi satu masalah besar mengganjal di dalam dada, bagaimana hubungannya dengan Selena? Apa Kevin akan membawa pergi anak ini setelah lahir dan membersihkannya bersama Selena?.
Tes
Dayana yang begitu perasa, berbaring miring memeluk bantal dan pikiran negatif memenuhi kepalanya, tapi tiba-tiba ia memiliki ide yang cemerlang.
“Ya Mario, kenapa aku bisa sebodoh itu tidak bertanya pada Mario”, gumam Dayana.
“Mario, kamu sibuk tidak? Ada yang ingin aku tanyakan”
Isi pesan Dayana, sebelum menelepon manager mantan suaminya. Tidak mau mengganggu Mario yang sudah pasti sibuk. Lama Dayana menunggu sampai hampir dua jam, akhirnya Mario membalas pesan darinya.
“Ada apa Dayana? Silahkan, mau telepon, boleh”
Sebelum Dayana menghubungi, Mario lah yang lebih dulu menelepon, apalagi pria gemulai itu cemas. Takut terjadi sesuatu dengan Kevin selema di Singapore, dan bertengkar dengan Dayana.
Ragu-ragu ibu hamil ini mulai bertanya dan memelankan suara, jangan sampai terdengar keluar kamar. Meskipun ruangan ini kedap suara, tetap saja Dayana takut.
“Ummmm..... Mario, sebelumnya aku mau tanya. Tapi bagaimana ya menyampaikannya. Aku bingung”
“Tidak bisa lewat pesan chat, nanti kamu tidur dan tidak membalasnya”
“Kamu janji ya ini rahasia diantara kita, kalau sampai bocor, ku buat kamu menyesal”
“Mario, apa hubungan Kevin dan Selena masih berjalan? Bagaimana pertunangan mereka? Kapan keduanya menikah? Aku perhatikan selama Kevin disini tidak pernah mengucapkan nama kekasihnya itu”
__ADS_1
Lama Dayana menunggu jawaban Mario, sampai ia merasa putus asa dan bersandar pada jalan takdir.
...TBC...