
BAB 55
Dayana menitikkan air mata, apa yang ia harapkan dalam hati kecilnya mulai tercapai satu per satu. Kevin bocah ingusan yang selalu bertengkar dengannya menyatakan perasaan dan meminta kembali menikah, melamar Dayana dengan satu cincin berlian sederhana yang sangat indah.
“Kamu mau kan? Setidaknya terimalah aku demi anak kita. Aku janji akan melakukan yang terbaik untuk kalian berdua”, iba Kevin. Dia sangat takut calon istrinya menolak mentah-mentah dan menjauhinya.
“Aku akan menjaga kamu dan anak kita, katakan ya Dayana, aku akan membawamu pulang besok, aku tidak bisa terpisah jarak yang jauh seperti ini”
Dayana ragu , ya ragu karena bayang-bayang Martha Nugraha selalu menghantui, jujur ia juga wanita biasa yang memiliki rasa takut dan tidak mungkin kembali bersama Kevin tetapi masih tidak bisa hidup tentram dengan penolakan ibu mertuanya sendiri.
“Kevin.......aku coba mengobati luka dalam hati. Tidak mudah memang tapi ada sesuatu hal yang aku yakini kamu pun tidak bisa, sebaiknya kita jalani hidup masing-masing, aku tidak memiliki perasaan apapun.........aku tidak ingin merusak hubungan ibu dan anak, apalagi Nyonya Martha sedang sakit pasti sangat membutuhkanmu Kevin”, dusta Dayana, ia mengingkari isi hatinya sendiri.
Tidak putus asa sampai disini, Kevin tidak menyerah, jika ia mundur sekarang pasti akan menyesal selamanya dan bayangan akan kehidupan menyakitkan di masa depan benar-benar hadir.
“Dayana, mama merestui kita, kamu lihat ini cincin milik mama dari nenek, dan sekarang aku memberikannya untukmu Dayana, aku mohon besok ikutlah pulang dengan ku. Kita jalani hidup baru bersama”.
“Maaf Kevin, aku perlu waktu memikirkan itu semua”, beranjak dari duduk dan masuk kamar, melewatkan makan malam yang ia siapkan secara khusus.
Lihatlah Kevin menerima jawaban ibu dari anaknya meski ia tidak terima, tapi masih ada hari esok yang akan Kevin gunakan untuk kembali merubah pikiran calon istrinya itu.
Sedangkan di dalam kamar, Dayana tertegun melihat mantan suaminya itu, dan cincin yang Kevin berikan untuknya. “Apa benar Nyonya Nugraha sudah menerima?”, tanya Dayana penasaran, ia tidak mau merelakan dirinya saat masalah belum usai.
Satu orang yang bisa Dayana percaya, Mario selalu membantu dan memberi apapun yang ingin diketahui Dayana tentang Kevin. Tidak menunggu esok hari, Dayana menghubungi Mario dan bertanya apapun, mencari kebenarannya sendiri.
Usai puas mendapat jawaban dari Mario, Dayana kembali berpikir keputusan apa yang harus ia berikan untuk Kevin. Ia sadar ternyata tak mampu melihat dalamnya cinta yang Kevin beri untuknya. Pria muda itu bersungguh-sungguh merubah dirinya sebaik mungkin dan memperoleh restu dari Nyonya Martha sangatlah tidak mudah.
.
__ADS_1
.
Bunda Nayra duduk di teras menemani Kevin yang sudah siap kembali ke Jakarta, meskipun sangat ingin menghabiskan waktu bersama calon anaknya, tetapi tuntutan pekerjaan tidak bisa Kevin abaikan, semua ia lakukan demi Dayana dan anak mereka kelak di masa depan.
“Sebentar ya Kevin, bunda panggil Dayana, tidak biasanya dia lama di kamar”
Tepat Bunda Nayra berdiri dan membalik badan, Dayana berdiri sembari menarik koper besar, tampil cantik dengan dress coklat susu dan flat shoes senada, rambut coklatnya yang lurus ia biarkan tergerai rapi, tertiup angin.
“Dayana?”, tanya Kevin yang terkejut melihat calon istrinya itu.
“Bunda kita pulang ke Jakarta, aku kangen Oma, Mama dan Papa juga semua sepupuku”, tutur Dayana belum menyatakan apapun pada Kevin.
“Kevin kamu bilang akan melakukan apapun untuk ku? Cincin yang semalam dimana, nih”, memberi tangannya untuk Kevin sematkan cincin.
Aktor muda bermata sipit itu menangis haru, sungguh ia yang semula patah hati dan ingin melampiaskan rasa sakitnya, kini berganti bahagia dengan Dayana yang mau pulang dengannya.
“Kevin, bawa mama kamu ke rumah bunda malam ini, keluarga Dayana yang lain ingin melihat kesungguhan hubungan kalian”, Bunda Nayra menyampaikan keinginannya, ia harus tahu apakah Martha tulus menerima putrinya sebagai menantu atau hanya pura-pura.
Setibanya di Jakarta Kevin mengantar Dayana pulang ke rumah lamanya, rumah yang lama tidak dihuni itu masih tampak asri dan bersih karena petugas keamanan yang di sewa Rayden Bradley merawat rumah mertuanya dengan baik.
“Dayana sampai ketemu nanti malam, dandan yang cantik bee. Malam ini aku bawa mama kesini”, bisik Kevin, seharusnya membuat wanita itu tersipu tapi Dayana malah membuang muka dan bersikap masam.
“Kenapa lagi? Ya bebas, mau dandan atau tampil apa adanya , perasaanku tidak berubah sedikitpun”
“Kamu pergi Kevin, dan jangan panggil aku ‘bee’, aku bukan lebah atau mantan kekasihmu itu”, sangar Dayana. Ibu hamil ini tidak suka mendapat panggilan yang sama dengan Selena. Apa-apaan Kevin memanggilnya seperti itu? Dayana bukan Selena, ia berbeda dari Selena.
Kevin tertawa menanggapi calon istrinya, baru pertama kali melihat Dayana cemburu dan sangat manis menurut Kevin. “Tante, kamu lucu banget. I Love You Tante, aku pulang dulu”
__ADS_1
.
.
Malam yang ditunggu dan dinanti tiba, Dayana yang telah rapi dan cantik terbalut kebaya modern peach aksen gold, rambut lurusnya di sanggul kecil, kesan muda melekat padanya ditambah senyum manis selalu menghias wajah Dayana.
Dibantu adik sepupunya, ia merias wajah, malam penting dan spesial bagi setiap wanita, kendati pernah menikah tapi acara lamaran ini adalah yang pertama bagi Dayana. Hatinya pun berdebar kuat, keringat dingin di tangannya membasahi.
“Kakak jangan gugup, calon suami kakak bukan orang asing”, telak Dwyne yang merapikan rambut Dayana.
“Aku bahagia kakak menemukan jodoh yang tepat, semoga ke depannya tidak ada lagi kerikil tajam diantara kalian. Aku sayang kakak”, peluk ibu dari tiga anak ini pada kakak sepupunya.
“Terima kasih Dwyne, dan maaf aku pernah menyakitimu”, Dayana terharu, adiknya ini masih bersikap baik padahal di masa lalu pernah ia torehkan luka.
“Ah itu masa lalu ka, sekarang dan selamanya kita akan selalu saling menyayangi”
Dwyne membantu Dayana menuruni anak tangga satu persatu, memegang erat tangan tubuh hamil ini. Pandangan keduanya tertuju pada pasangan masing-masing, Dayana menatap Kevin dan tersipu malu, sama halnya dengan Kevin yang kagum pada calon istrinya.
Sementara Dywne dan Dewa beradu pandang saling mencintai, sepasang orang tua itu selalu menggelora dan memperlihatkan kemesraan mereka dimana pun.
Dariel menunggu kakak sepupunya di ujung bawah tangga, siap menyambut tangan Dayana. Kakak perempuan yang selalu menjadi teman berbagi suka citanya malam ini dilamar oleh pria lain, dan bolehkan Dariel cemburu? Kedua saudarinya telah menemukan tambatan hati kini tersisa ia dan Denna yang sendiri menanti jodohnya datang.
“Ingat Kevin, jangan sakiti kakakku lagi, atau kau akan menyesal”, ancam Dariel berbisik di telinga aktor tampan itu.
“Tentu saja Tuan Muda Bradley, dan anda harus memanggilku dengan sebutan kakak”, balas Kevin tidak mau kalah.
...TBC...
__ADS_1