
BAB 48
Puas mendengar jawaban dari manager mantan suaminya, Dayana segera menutup sambungan telepon, tidurnya menjadi lebih nyaman dan tenang tidak dibayang-bayangi oleh rasa takut pada sesuatu. Meskipun begitu, Dayana tetap perlu melindungi diri serta anak dalam kandungannya.
Dayana yang tertidur lelap berbeda dengan Kevin yang masih memikirkan cara bagaimana meminta ibu hamil itu untuk kembali hidup dengannya.
Kali ini tidak bisa memaksa kehendak untuk mengikat wanita itu. Kevin tidak rela jika kelak anaknya harus hidup bersama pria lain dan memanggil orang lain dnegan sebutan ‘ayah’. Bila terjadi pasti ia sangat bersalah dan tidak ada artinya lagi hidup di dunia, karena darah dagingnya sendiri tidak menerimanya.
“Ah, tidak..... jangan sampai itu terjadi”, Kevin menggeleng cepat.
“Gue engga mau anak gue diasuh pria lain, gue engga mau itu. Ini anak gue”, gumam Kevin.
Drt.....drt
Kevin yang duduk di teras rumah merogoh saku celana mengambil ponselnya yang bergetar, tertera nama ‘Mario’ di layar.
“Ada apa Mario telepon malam? Apa ada hal mendesak terkait pekerjaan?”
Kevin menerima telepon itu, mulanya mereka saling bertanya kabar dan Mario ingin tahu kapan Kevin pulang ke Jakarta. Lalu Mario mulai menyampaikan maksud dari inti pembicaraan yang harus diketahui Kevin.
Kedua mata sipit aktor muda ini terbuka lebar karena mendengar penuturan Mario, bolehkah hatinya merasa senang? Bukankah itu artinya ibu dari anaknya memiliki perasaan spesial? Apa mungkin Dayana juga berharap bisa merajut kembali rumah tangga bersamanya? Jika Ya, Kevin berjanji akan merubah semua sifat buruknya.
Namun, mendadak bayangan Martha Nugraha melintas dalam otaknya. Dia tidak mau sampai kejadian di masa lalu berulang, dipaksa berpisah dan mantan istrinya mendapat perlakuan buruk.
“Satu per satu memang harus si selesaikan, harus. Dayana di sini hidupnya tenang, gue jangan paksa dia pulang sekarang, masalah mama dan Selena ini juga penting”, pikir Kevin.
“Mario, gemana perkembangan pencarian dari Selena?”
“Sial”, geram Kevin
Mario dan Kevin sama-sama mengakhiri panggilan suara itu, Kevin harus menemukan cara bahwa selama ini Selena tidak hanya terhubung dengannya. Sementara Nyonya Nugraha, belum terpikir, hal ini sulit, tidak mungkin Kevin menyakiti ibu kandungnya.
.
.
Pagi ini Kevin berkutat di dapur sibuk memasak dibantu mantan ibu mertuanya, karena besok ia harus pulang ke Jakarta.
Jadi ini adalah sarapan terakhirnya bersama Dayana sebelum meninggalkan Singapore, entah kapan ia menjenguk anak dan calon istrinya lagi.
“Bunda pikir, aktor terkenal seperti kamu tidak bisa masak atau mengupas bawang juga takut”, goda Bunda Nayra
__ADS_1
Siapa sangka mantan suami anaknya ini cukup gesit pergerakan dari satu titik ke titik lain, dan patut diacungi jempol cara memasaknya.
“Sebelum terkenal, Kevin dan Mario setiap hari masak untuk menghemat biaya hidup, Bunda. Setelah sibuk syuting, hanya Mario yang masak tapi untuk sarapan”, jelas Kevin.
Bunda Nayra menatap punggung anak laki-laki di depannya, ia juga iba pada Kevin, mendengar semua penuturan rasanya tidak tega. Kenapa ada seorang ibu yang bersikap memaksa pada anaknya sendiri.
“Ummm... Kevin, bagaimana kabar mama kamu? Sepertinya selama di sini bunda tidak pernah melihat kamu menghubungi Nyonya Nugraha, maaf”, penasaran Bunda Nayra.
“Hubungan kami renggang sejak akta cerai itu ada di kamar mama”, singkat Kevin tersenyum masam.
Tak perlu bertanya jauh Bunda Nayra juga bisa menangkap jika Kevin masih belum menyelesaikan masalah dengan keluarganya.
Untuk sementar, wanita paruh baya ini tidak merelakan Dayana menerima Kevin. Biarlah ayah dari cucunya ini menyelesaikan segala masalah yan mengelilingi dirinya.
Sarapan yang di masak oleh Kevin selesai dan tersaji di meja makan.
“Bunda, Kevin panggil Dayana dulu”
Seandainya ia bisa menolak waktu yang akan berganti esok hari, pasti dia akan tetap berada di sisi wanita yang dicintainya.
Tok.....tok
“Apa dia masih tidur?”
“Dayana aku masuk”
Benar sesuai dugaan, calon istrinya ini masih nyenyak dalam balutan selimut. Kevin hanya bisa melihat rambut dan kepala ibu dari anaknya yang menyembul.
Seketika rasa hangat menjalar naik sampai ke dada, Kevin tidak menyangka wanita yang terlelap ini sampai harus bertanya pada Mario mengenai hubungannya dengan Selena.
“Aku pastikan hanya kamu wanita yang aku punya, wanita yang ku sayang dan cintai, hanya kamu Dayana”
“Tunggu aku, jangan berpaling pada pria lain”, membelai rambut dan melabuhkan ciuman di pipi wanitanya.
Terusik dengan gerakan di atas kepala, sontak Dayana bangun dan memasang sikap waspada. “Hah, kamu mau apa kesini Kevin?”, ketus Dayana dengan wajah bantalnya yang sangat lucu menurut Kevin.
“Ayo bangun, sarapan. Bunda menunggu kita”, menarik pergelangan Dayana.
“Eh tapi aku mau mandi dulu Kevin, kamu keluarlah!!!!!”, mengibaskan satu tangan ke arah pintu.
“Kenapa harus keluar? Disini saja lebih baik, ya aku mau menunggu disini, bisa kan?” goda Kevin.
__ADS_1
“HEH KEVIN, KAMU JANGAN KURANG AJAR”, seru Dayana diiringi menekuk wajah, menurut Kevin suara tadi bukan luapan emosi melainkan nadanya begitu lembut menggoda.
“Seharusnya kamu tidak perlu malu, walau hanya sekali aku hapal tubuhmu”, bisik Kevin yang mendapat lemparan bantal dari Dayana.
“Awas kamu Kevin !!!!! ish benar-benar keterlaluan, pria macam apa dia itu, menyebalkan”.
Kevin, Dayana dan Bunda Nayra menyantap sarapan, saling bercengkrama, kalau orang asing yang melihat pasti ketiganya disangka satu keluarga. Ya memang kecuali Kevin, dia mungkin masih calon.
Bunda Nayra menggelengkan kepala karena tingkah pola sepasangan anak muda di depannya. Dayana memasang wajah ketus, Kevin selalu menggodanya dan mengambil lauk yang ada di piring Dayana.
“Ish, Kevin itu punyaku”, seru Dayana.
Bel rumah mendadak bunyi, sigap asisten rumah tangga membuka pintu dan terkejut dengan kehadiran seorang pria tampan yang membawa banyak oleh-oleh.
“Dayana ada di rumah?”, tanya Daniel.
“A-ada tuan silahkan, nona ada di ruang makan”, tunjuk asisten rumah tangga.
Berjalan mengendap perlahan dan pelan, Daniel menyembunyikan sebuket bunga mawar merah di balik punggung.
“Kejutan”, serunya masuk ruang makan.
Semua yang duduk merasa canggung sama halnya dengan Daniel, matanya langsung terarah pada pria yang duduk di samping wanita pujaannya.
Kedua mata dua lelaki ini menyiratkan arti mendalam, saling menatap tajam untuk memperebutkan wanita yang tengah berbadan dua.
“Kevin”
“Daniel”
“Daniel, ayo duduk disini, sarapan”, panggil Bunda Nayra.
“Daniel aku pik........”, belum tuntas Dayana bicara harus dibuat terkejut.
“Untukmu, perempuan cantik dan kuat yang aku kenal”, memberi bunga mawar dari balik punggung.
“Ahhh terima kasih Daniel”, senyum merekah Dayana.
“SIAL dia berani sekali”, geram Kevin.
...TBC...
__ADS_1