Tante, I Love You

Tante, I Love You
Bab 59 - Selalu Ingin Dekat


__ADS_3

BAB 59


Bruk


Suara benda jatuh dari atas tempat tidur, Dayana berusaha menggapai air minum. Ibu muda ini merasa kering pada kerongkongan, terlalu banyak bercengkrama bersama para sepupu cukup menguras suara.


“Aduh.” Keluh Dayana menjatuhkan tempat tissue.


“Kenapa Dayana? Kamu memerlukan sesuatu? Apa? Kamu lapar? Mau makan? Kamu kebelet? Atau haus, mau minum?.” Todong Kevin, mendengar suara benda terjatuh sigap Kevin terjaga dari tidurnya dan menyingkap tirai penghalangan antara ranjang pasien dengan sofa. Kevin benar-benar takut calon istrinya terluka atau jatuh.


“Ish kamu bawel banget Kevin, aku mau minum bisa minta tolong?.”


“Dengan senang hati my queen eh wife maksudnya.” Goda pria muda ini, Kevin tidak sabar menunggu hari itu datang. Rasanya kalau menilik jam terlalu lama berputar , seandainya bisa, ingin ia ganti hari ini dan pergi ke masa depan lebih dulu.


Semua yang ada pada Dayana, semua yang Dayana lakukan selalu dalam pantauan Kevin, masa bodoh orang lain mau bilang apa, dia tidak peduli apapun, dijauhkan oleh keluarga agar tidak terlalu dekat pun Kevin menolak karena hanya Dayana dan Aurora hidupnya sekarang, dua perempuan cantik yang akan menemani hari Kevin sampai menua.


Mulanya wanita ini begitu mengesalkan dan sama sekali bukan tipe Kevin, apalagi memiliki hasrat untuk tidur dengannya, tidak pernah terpikir. Tapi lagi-lagi karena suatu kesalahan dilakukan Kevin hingga membawa Dayana pada kubangan penderitaan yang dibuatnya. Bukan hanya Dayana, tapi Kevin jauh lebih menderita.  


Kevin melirik pada kantung darah yang tergantung bersama selang infus, ia bergidik ngeri, masih terngiang bagaimana bayi itu lahir dan mobilnya penuh cairan amnion serta darah.


Kalau orang lain pasti Kevin akan mengomel karena mobil kesayangannya kotor dan bau amis darah, tapi tidak kali ini.


Jasa pencucian mobil banyak, tidak pusing memikirkannya.


“Kamu kenapa bengong? Mikir apa?.” Dayana menepuk tangan di depan mata Kevin.


“Ah ya kenapa? Kamu mau apa?.”


“Kevin kamu aneh, mikir apa? Mungkin bisa berbagi.”


“Aku ingin kita menikah besok Dayana. Pulang dari rumah sakit, kamu ke rumah bunda dan aku ke rumah mama, tidak adil. Kapan kita bisa satu rumah? Aku tidak sanggup jauh dari kalian.” Gerutu Kevin.

__ADS_1


Mendengar suara bayi menangis Kevin tidak tinggal diam, walaupun dia masih takut mengendong anaknya sendiri dan merasa payah dalam mengurus bayi. Tapi Kevin membantu Dayana, membawa mahkluk mungil itu di tangannya untuk di serahkan dalam gendongan Dayana.


“Hati-hati Kevin, rea masih terlalu kecil.”


“Iya Dayana aku tahu, aku juga bisa, jangan rusak fokusku.” Kevin benar-benar konsentrasi menggendong putrinya takut tergores atau goyang sedikit saja.


.


.


.


Dua minggu sudah Dayana menjadi ibu baru, ia tak henti selalu memandangi wajah cantik putrinya, meskipun masih dihinggapi rasa kantuk harus tetap semangat mengawali hari dan tidak bermalas-malasan.


Pintu kamar Dayana sengaja dibiarkan terbuka, tujuannya tidak lain supaya Kevin mudah masuk untuk memeriksa putrinya dan membantu Dayana mengganti popok bayi merah itu.


Kevin tidur di sofa depan kamar Dayana, aktor itu tidak pulang ke rumah Nyonya Nugraha melainkan memboyong hampir seluruh barangnya ke kamar Dayana. Dengan dalih sebentar lagi akan menjadi sepasang suami istri, jadi tidak salah membawa barangnya pindah.


“Serahkan semua sama bunda, lebih baik kamu mandi, atau temani Kevin. Bunda lihat semalaman kalian tidak tidur. Apa Aurora rewel?.”


“Ya bunda anak itu mau tidur di gendong sama Kevin, aneh ya bunda padahal Dayana yang hamil dan melahirkan tapi dia lebih nempel sama ayahnya.”


“Setiap anak itu berbeda nak, mungkin Aurora tahu kalau ayah dan ibunya berpisah.”


“Dayana bisa bantu aku.” Suara teriakan Kevin, pasti pria ini meminta bantuan dari calon istri untuk mengganti popok bayi yang sudah penuh.


Dayana menghampiri Kevin dengan satu gelas air hangat di tangannya, kebiasaan Kevin yang baru ia tahu.


Dayana tertawa lagi-lagi piyama Kevin basah terkena air seni, kebiasaan  buruk Kevin ketika mengganti popok selalu tanpa alas di bawahnya. Jadi Aurora yang belum bisa mengontrol keinginan buang kecil selalu membasahi celana atau lengan Kevin, gerakan ayah satu anak ini juga sangat lambat dan cenderung hati-hati.


“Kamu tolong ambil baju aku di koper ya, sekalian mau mandi di bawah. Kenapa anak ini hobby sekali membuat baju ayahnya kotor?.” Cium Kevin di kepala bayinya.

__ADS_1


“Siap ayah.”


Kevin terpana mendengar  suara manja wanitanya, darah di sekujur tubuh pun berdesir hebat. “Eh Kevin lepas, jangan seperti ini nanti ketahuan bunda.” Tersentak tubuhnya dalam dekapan hangat Kevin.


“Sebentar Dayana jangan bergerak.” Menghidu aroma manis buah yang menguar dari tengkuk calon istrinya. “Aku rindu bergerak bebas bersama wanitaku ini.”


“Eh, ma-maksud kamu apa Kevin?.” Tersipu malu , gugup seketika, tubuhnya menegang bersamaan dengan gigitan manis di tengkuknya. “Kevin kamu jangan nekat dan gila, kita belum, akh umph.....”


Cekatan Kevin merotasi tubuh Dayana hingga saling berhadapan dan menyesap lembut bibir pink yang kerap kali menggoda nalurinya sebagai pria dewasa.


“KALIAN. Kevin Dayana lepas.” Bunda Nayra tidak sabar menunggu hari pernikahan putrinya tiba, kedua oang itu tidak bisa lagi dipisahkan dan semakin lama menempel erat. Dayana yang diam saja dan Kevin yang tidak mengontrol keinginannya untuk bersama Dayana.


“Eh bu-bunda, maaf.” Gugup Dayana malu setengah mati, lagi-lagi harus ketangkap basah seperti ini rasanya bagai buronan.


“Kevin kamu harus menahan diri dan kamu Dayana sebaiknya menjauh sedikit dari pria mesum ini.” Tegas bunda Nayra melirik tajam ke arah calon menantunya.


“Maaf bunda kelepasan, Kevin permisi mau mandi.”


“Kevin hari ini bisa izin pulang lebih cepat? Sore nanti keluarga Matthew mau menjenguk Dayana, dan bunda pikir akan lebih baik kamu hadir nanti sore.”


Kevin menghela napas kasar, disaat hidupnya sudah tentram dan damai harus menghadapi kembali keluarga pengacara terpandang itu, untung Dayana sudah menerima lamarannya jadi tidak ada celah bagi Daniel merebut kekasihnya ini, eh tapi ruang tetap ada karena bagaimana pun Dayana dan Kevin belum terikat pernikahan.


“Mau apa lagi pengacara itu mendekati Dayana?.” Geram Kevin dalma hati.


“Apa Daniel ikut bunda?.”


Pertanyaan Dayana ditambah suara manja dan terkesan sangat senang dengan kedatangan pria itu membakar dada Kevin, bisa-bisanya Dayana lancar sekali mengucapkan nama ‘Daniel’ tanpa canggung sedikitpun.


“DAYANA JANGAN SEBUT NAMA ITU.” Teriak Kevin dalam hati yang benar-benar panas.


...TBC...

__ADS_1


 


__ADS_2