
BAB 24
“Eung”, Dayana melenguh mulai mengerjapkan kedua mata, tidak perlu kaget lagi karena ini bukan mimpi buruk tapi kenyataan pahit yang harus dijalaninya.
Meraba ponsel di atas nakas, mengernyitkan mata “Huh, untung hari ini libur”, gumamnya, duduk dan menoleh ke samping, terpaku melihat makanan serta note yang menempel pada gelas.
“Oh anak itu berangkat”, Dayana mengambil lalu menikmati sarapan pagi yang disiapkan Kevin untuknya. “Lumayan”, gumamnya menelan sandwich.
Walaupun libur Dayana tidak biasa bermalas-malasan di atas ranjang atau menghabiskan waktu dengan bermain gawai seharian. Ia memilih berendam sejenak sebelum berkeliling unit apartemen Kevin atau pergi keluar.
Butuh waktu 30 menit bagi Dayana membersihkan tubuh, karena yakin tidak ada orang lain dalam apartemen, dirinya percaya diri menggunakan celana pendek, dengan rambut basah tersembunyi di balik handuk kecil.
Keluar menuju dapur, menemukan deretan aneka cookies. Mario dan Kevin ternyata lucu, mereka saling menandai milik masing-masing, memberi catatan pada jar kaca. “Mereka berdua seperti anak kecil".
Mengambil satu jar cookies bertabur kacang almond, tentu saja milik Kevin mana mungkin Dayana berani makan kue Mario.
“Kevin, aku makan cookies almond”
Kirim pesan Dayana, mengirim foto jar yang disini tinggal setengah.
Ia duduk sembari menonton acara televisi, ibu hamil ini berdecak
Niat dan muak sebar karena hampir seluruh stasiun TV berisi suaminya. Acara talkshow, drama, iklan, gosip dan banyak lagi. “Kalau dia terkenal seperti ini kenapa aku tidak tahu sebelumnya? Hah aneh”
Tanpa sadar cookies manis nan gurih itu tersisa sedikit sampai suara derap langkah kaki masuk ke telinga Dayana,
“HEY, siapa kamu?”, suara cempreng khas perempuan manja.
Sontak ibu hamil yang sedang asyik bersantai menoleh pada sumber suara. Tatapan dua wanita ini saling terkunci satu sama lain, Dayana menelan saliva begitu juga dengan Selena.
Selena memicingkan mata mengangkat jari telunjuk yang lemah ke udara, “Kamu?”, suara perempuan itu tercekat di udara.
Dayana menghela napas kasar, merotasi bola mata, suaminya ini memang sangat mencintai kekasihnya. Lihat saja perempuan berpakaian kurang bahan ini bisa masuk bebas ke apartemen, apa ini sering terjadi? Banyak pertanyaan dalam benak Dayana.
“Ya, kamu Selena kan?”, menghampiri kekasih suaminya.
__ADS_1
PLAK
Tidak ada kata apapun Selena menampar pipi kiri Dayana sangat keras, sampai tubuh itu terhuyung ke samping.
“HEY”, teriak ibu hamil cantik ini.
Tidak tinggal diam, menarik kuat rambut coklat Selena, mungkin beberapa helai terlepas dari kulit kepala. Menatap sengit pada wanita yang tidak sopan santun ini, “Apa maksudmu, hah? Kurang ajar sekali, seharusnya masuk apartemen orang lain menekan bel, bukan masuk sembarangan”, sergah Dayana.
“Ish lepas Tante Dokter. Aku ini pacarnya Kevin, aku biasa masuk dan keluar, bebas. Kenapa aku harus menekan bel? Tante kenapa ada di sini?”, teriak Selena merasa perih pada bagian kepalanya. Berusaha melepaskan tangan lancang yang berani menyentuh rambut indah model baru ini.
“Tante tidak tahu diri, kenapa ada di apartemen kekasih aku? Jawab tante”, nada suara yang tinggi untuk seorang remaja bicara pada seseorang yang lebih tua darinya.
“Aku disini karena......karena aku istri Kevin, kekasihmu itu suamiku, dengar itu baik-baik”, telak Dayana sukses membungkam bibir Selena yang hanya bisa melongo, lalu menggeleng tidak percaya.
“Tante pasti menggoda Kevin kan? Huh, tante pikir aku percaya? Tidak, Kevin tidak akan mengkhianati aku”, Selena yang kesal segera menghubungi kekasihnya. Ia menangis dan memaki Kevin dalam sambungan telepon.
Tatapan nyalang perempuan muda itu berikan pada Dayana, ia tidak percaya kekasihnya yang selama ini dipuja memiliki seorang istri, sungging mengejutkan seorang Selena.
.
.
“Kevin, duduk !!!! Jelaskan pada kekasihmu itu, siapa aku”, perintah Dayana sangat tegas. Melelahkan baginya menjadi istri tersembunyi, cukup sudah petak umpat yang dijalani selama belakangan ini.
“Dayana sebaiknya kamu masuk kamar dan istirahat”, perintah Kevin dengan intonasi yang snagat tegas.
“TIDAK”, mendelik tajam pada Kevin.
“Huh, baiklah”, menghela napas kasar, mulai menjelaskan apa yang terjadi dan hubungan apa yang mengikat antara dirinya dengan Dayana.
Seketika suara tamparan keras berdengung di telinga Dayana, ya Selena memukul keras pipi Kevin. Apa yang dilakukan Kevin begitu menyakitkan bagi dara berusia 19 tahun itu, walaupun dirinya sendiri mendua dibelakang Kevin, tetap saja Selena kecewa.
“Brengsek kamu Kevin, dan kamu tante PELAKOR”, sinis dara ini mengacungkan jari tengah pada Dayana.
“Lihat saja kamu Kevin”, teriak Selena.
__ADS_1
Dayana tidak terima sikap kurang ajar kekasih suaminya, ia berdiri dan kembali menarik rambut panjang Selena kemudian menghempas kasar sampai tersungkur ke atas sofa.
“Dayana apa yang kamu lakukan? Kamu melukai kekasihku?”, teriak Kevin. “Sekarang juga kamu masuk ke kamar, ini perintah, patuhi suamimu”, bentak Kevin menunjuk ke arah kamar.
“Ck, pasangan menjijikan”, cibir dokter cantik ini, terpaksa melangkah bukan menuruti suaminya melainkan tidak sudi melihat drama yang tersaji di depannya.
Memastikan istrinya telah masuk kamar, Kevin menenangkan Selena, memeluk erat wanita yang bercucuran air mata karena syok. “Tenanglah Selena”.
“Aku terikat perjanjian dengan keluarganya, aku akan bertanggung jawab sampai anak yang dikandungnya lahir”, papar Kevin.
“APA? JADI TANTE ITU HAMIL? KETERLALUAN KAMU KEVIN, kenapa ketika kita melakukannya kamu selalu menggunakan pengaman tapi dengannya tidak? Kenapa hah? Dasar pria tak berperasaan”, mendorong keras tubuh Kevin.
Tentu saja Dayana mendengar apa yang dikatakan suaminya, ia hanya tersenyum kecut. Ya keputusannya tidak menggunakan hati dalam menjalani pernikahan ini memang tepat, ia tidak sakit hati meski suaminya mengatakan akan bertanggung jawab sampai anaknya lahir.
“Kau lihat saja Kevin, aku pastikan kau tidak akan bisa bertemu anakmu nanti. Aku tidak rela anak ini bersama ayah sepertimu dan ibu sambung yang kekanak-kanakan, ck tidak akan”
Mengunci pintu rapat, biar saja Kevin tidur di luar kamar atau bersama Mario. Dayana tidak ingin diganggu saat ini, suara perdebatan antara sepasang kekasih itu masih terdengar jelas, menusuk gendang telinganya.
Mencari ear phone dalam tas kecil dan mendengarkan musik sampai suara bising pudar dari pendengaran.
Sampai setengah jam Dayana mendengar musik, dan beralih menonton film, urung melepas benda kecil di telinganya.
Sedangkan di luar kamar Kevin mengetuk pintu berulang kali, tidak ada jawaban apalagi pintu yang terbuka.
Tok...tok
“Dayana, buka pintunya. Ini kamarku, hey buka”, suara keras Kevin sama sekali tidak mengusik ibu hamil di dalam kamar.
“Sial, sedang apa tante menyebalkan itu. Bertingkah seenaknya saja di apartemen orang”, gerutu Kevin.
...TBC...
__ADS_1