
BAB 8
Lidah Kevin terasa kelu untuk mengucap maaf pada Dayana yang menangis di atas ranjang. Kevin pun semakin terjerat dalam pernikahan yang tak diinginkannya. Setelah melakukan apa yang tidak seharusnya ia lakukan, dirinya mengurungkan niat untuk menceraikan Dayana. Setidaknya sampai wanita yang usia lebih tua ini mendapat pria tulus yang mencintainya, begitulah pikir Kevin.
Tapi bagaimana dengan Selena, kekasihnya? Kevin harus membujuk dan memberi pengertian agar Selena memahami situasi yang terjadi.
“Pergi kau”, bentak Dayana menatap tajam suami mudanya. Ia tidak peduli dengan petuah yang pernah didengar bahwa harus menghormati suami dan bersikap baik, ya tapi suami yang bagaimana? Apa seperti Kevin yang menelantarkan istri selama berminggu-minggu, sungguh Dayana membenci tubuhnya yang tidak suci lagi.
“Hey, kau. Ini apartemenku, aku yang berhak disini”, sergah Kevin merasa terinjak, pertama kali dirinya diperlakukan seperti ini, mendapat penolakan, padahal di luar sana banyak gadis dan wanita tergila-gila padanya.
“Ck, dasar pria arogan. Aku akan pergi dari hadapanmu, mengerti”, bentak Dayana mencoba turun tapi tubuh polos yang tertutup selimut nyaris terjatuh dari atas ranjang. “Ah”, pekik Dayana tak sadar dirinya berpegangan pada bahu Kevin yang sigap menahan tubuh sang istri agar tidak mencium lantai.
“LEPAS”, sentak Dayana.
“Kau jangan percaya diri, aku tidak mau lantaiku kesakitan karena kamu jatuh di atasnya”, omong kosong Kevin yang juga merasa gugup, apalagi ia melihat betapa mulus punggung Dayana.
“Kenapa sakit?, apa tidak bisa hilang rasa sakitnya”, keluh Dayana dalam hati merasa tak nyaman pada bagian inti.
“Apa kau tidak jadi pergi?”, tanya Kevin yang sedikit meledek Dayana, sebenarnya ia tahu bahwa seorang wanita usai melakukan pertama kali pasti merasa tak nyaman, berbeda ketika ia dengan Selena melakukanya, wanita itu begitu mudah dan tak merasa kesakitan sedikitpun.
“DIAM”, Dayana membulatkan tekad, turun dari ranjang perlahan, tapi melihat pakaiannya yang tak berbentuk luruh sudah tubuhnya di atas lantai, bagaimana caranya pulang jika seperti ini.
“Aku....aku akan memberikan yang baru untukmu, beritahu saja ukurannya”, sebut Kevin.
.
.
__ADS_1
Sampai sore hari Dayana hanya bisa tergulung bersama selimut, Kevin baru saja pulang membeli pakaian wanita dan makanan, bagaimana pun ini terjadi karena ulahnya dimulai dari villa hingga berujung pada kesalahan beberapa jam lalu.
“Ini untukmu”, menyerahkan satu goodie bag kecil. “Ehem, apa perlu aku membantu?”.
“Ya, dan sebaiknya kau keluar dari kamar ini”, usir Dayana.
“Baiklah”, Kevin keluar dari kamar, menyiapkan makanan , menyimpannya satu persatu ke piring, sungguh ia ingat masa-masa sulit meniti karir, dimana harus membeli makanan seorang diri. Ini pertama kali baginya melayani orang lain setelah mendapat puncak kesuksesan sebagai aktor.
Tidak lama Dayana keluar, berjalan tertatih mengambil tas yang terlempar ke atas meja hingga pas bunga kecil terjatuh miring. “Ya ampun, ini sudah sore”, pekik Dayana memeriksa ponselnya dan terdapat banyak panggilan serta pesan dari adik sepupunya. Benda itupun berdering, Dariel kembali menghubungi kakak sepupunya.
“Ya, Dariel, maafkan aku. Aku ada keperluan mendadak, maaf aku tidak sempat mengabari. Ya aku juga menyayangimu”, Dayana menutup sambungan telepon, hendak berjalan menuju pintu keluar sebelum benar-benar memastikan dimana pintu itu.
Sedangkan Kevin mendelik tidak percaya pria yang baru saja menghubungi istrinya, “Hah apa dia menjadi simpanan dari Tuan Dariel? Apa benar yang dimaksud adalah Tuan Dariel Bradley? Benar-benar licik wanita ini”, gumam Kevin.
Ketika Dayana membuka pintu, Kevin mencegahnya pergi, menahan tangan Dayana sekuat mungkin. “Lepas, aku mau pulang”
“Jangan mengaturku, dasar anak kecil”, tangan Dayana berusaha melepaskan diri namun gagal.
“Tinggallah disini”
“Tidak mau”, Dayana membuang muka dan cemberut.
“Kau itu bisa menurut tidak, aku itu suamimu”, Kevin mulai menggunakan kata ‘suami’ untuk menjerat dan membuat Dayana patuh padanya. “Bagaimana jika kamu hamil?”, Kevin yang ragu mengatakannya sedikit melotot menyadari kalimat yang keluar.
“Ah sial aku tidak menggunakan pengaman apapun”, ia semakin merutuki beberapa kebodohan yang dibuatnya belakangan ini, dapat dipastikan karirnya hancur jika media sampai mengendus perbuatan Kevin.
“Itu tidak akan terjadi, aku tidak sudi mengandung anakmu”, teriak Dayana, masih sakit hati dan fisik atas perbuatan Kevin. Dayana yang cerdas dan tegas menginjak kuat kaki Kevin, ujung heels menancap di punggung kaki suaminya.
__ADS_1
“Aarghh, hei.... hei kau mau kemana?”, panggil Kevin tanpa bisa menyusul Dayana keluar pintu, pria ini harus lebih dulu melakukan penyamaran sebelum keluar apartemen. “Sial, dia pergi sangat cepat. Hah bagaimana kalau wanita itu memberi tahu semua orang?”, Kevin mulai resah akan nasibnya.
**
Di sisi lain Dayana menahan tangis di dalam taksi online, kedua tangannya mengepal kuat, ingatan Kevin mengungkung tubuhnya terekam jelas, meski pria muda itu suami sahnya tapi Dayana tidak sudi disentuh dengan kasar dan mendapat hinaan dari Kevin.
Kalimat yang diucapkan Kevin pun terbayang dan melekat erat mengganggu Dayana, iya bagaimana jika dirinya hamil anak dari pria asing yang baru ia kenal, bagaimana dengan keluarganya, terutama Bunda Nayra.
“Argh”, teriak Dayana tanpa suara, hanya mengepal kedua tangannya saja.
“Non, sudah sampai di tujuan”, suara supir taksi online membuyarkan lamunan Dayana yang tidak karuan, semua bercampur jadi satu.
“Ya terima kasih pak”.
Ia masuk ke dalam tanpa memeluk Bunda Nayra yang memasak di dapur, Dayana menangis dalam diam merasa telah menghancurkan harapan semua orang. Ia meremat dada yang terasa sakit ya sangat sakit mendapati jalan hidup penuh liku seperti ini.
“Maafkan Dayana, Bunda”, naik perlahan memasuki kamar, tanpa Dayana tahu Oma Nilla mengamatinya dari balik sofa.
“Ada apa lagi dengan cucuku?”, gumam wanita sepuh ini.
Dayana mengunci pintu, membuka kasar pintu kamar mandi dan menyalakan air shower membiarkan tubuhnya berada dalam guyuran dingin air yang semakin menusuk sampai hati. Menggosok kasar tangan, lengan, wajah serta kaki. Menghilangkan jejak sentuhan Kevin, meski sebelum pulang dirinya telah membasuh diri tapi baginya ini masih sangat kotor dan menjijikan.
Tubuhnya pun bergetar hebat, gigi bergemeretak rapat, mata sipitnya menatap tajam lurus, ia benar-benar membenci Kevin. “Kesalahan apa yang aku buat sampai harus mengenal pria sepertinya?”, Dayana memukul bagian perut, alam bawah sadarnya takut jika hamil anak pria asing dan arogan itu.
“Tidak, kau jangan hadir. Aku tidak menginginkanmu”, tangis Dayana terus memukuli perutnya sampai nyeri ulu hati. “Akan ku gunakan pengetahuanku untuk mencegah dia ada, ya aku tidak rela. Aku membencimu Kevin, dasar pria brengsek, bocah ingusan tidak tahu diri aku sangat membencimu”, umpat Dayana berapi-api walau dalam guyuran air tak memadamkan amarah dalam diri.
...TBC...
__ADS_1