Tante, I Love You

Tante, I Love You
Bab 13 - Bukan Jawaban Yang Ingin Didengar


__ADS_3

BAB 13


Kevin yang tak pernah salah dan kalah enggan mengalah pada Dayana, ia masih menuduh istrinya menjadi simpanan pria kaya. Sementara Dayana yang tidak menerima tuduhan Kevin, menantang suaminya untuk membuktikan itu semua.


Jika tuduhan Kevin benar maka Dayana akan menurut dan patuh padanya, tapi apabila tuduhan itu tidak terbukti, maka Kevin harus menceraikannya saat itu  juga.


“Oke....Deal”


“Oke.....”


“Ingat satu hal lagi, aku tidak mau di luar sana orang-orang tahu status kita sebenarnya seperti apa”, imbuh Kevin.


“Kau pikir aku sudi orang lain tahu status ku, hah. Menjijikan sekali menjadi istri dari seorang bocah arogan seperti mu”, sinis Dayana, membuang wajah ke lain arah.  “Ada lagi yang ingin kau bicarakan? Aku harus kembali ke rumah sakit”, ketus Dayana, wanita yang terkenal lembut ini selalu menebar nada tak mengenakan hati ketika bersama suaminya.


“Tidak, dan silahkan keluar dari apartemenku”, usir Kevin, menunjuk pada pintu di ujung sana. Sungguh pria keterlaluan, bukannya mengantar kembali Dayana ke rumah sakit tapi malah memerintahkan istrinya pergi sendiri.


“Ish, sekali anak kecil memang anak kecil”, seru Dayana, tenaganya terbuang percuma akibat ulah Kevin.


Dayana keluar dari apartemen suaminya, tanpa sadar ada yang melihat dan merekam hal ini sembari tersenyum sinis karena berhasil mendapatkan sesuatu.


Beberapa kali memesan taksi online tidak kunjung ada serta jalanan terlihat ramai dan padat, tidak mungkin Dayana tiba tepat waktu. Akhirnya ia memutuskan naik ojek untuk mempersingkat waktu, kredibilitasnya benar-benar di rusak oleh Kevin.


“Dasar pria tidak bertanggung jawab, menyebalkan, hah kenapa hari ku sial sekali”, keluh Dayana dibalik punggung pria yang mengendarai motor.


“Terima kasih pak, ini ongkosnya”, memberi satu lembar uang berwarna biru. Tergesa berlari memasuki gedung GB Hospital, waktu praktiknya dimulai 5 menit lagi. Tidak ada waktu bagi Dayana untuk bersantai, ia tidak suka membuat semua pasiennya menunggu lama.


BRUK


“Akh”, pekik Dayana , tubuhnya menabrak punggung seorang pria bertubuh tinggi, tegap, dan kekar. Masalah baru baginya, mungkin pria ini akan meminta pertanggung jawaban atau melaporkan oada komite pelayanan rumah sakit. “Maaf tuan, maaf sekali lagi, saya sedang ......”


“Dokter, dari mana saja? Pasien anda menunggu”, panggil perawat  seolah menyelamatkan Dayana dari situasi yang membelitnya saat ini.

__ADS_1


“Ada berapa pasien hari ini?”, tanya Dayana sesaat memasuki ruangan.


“25 orang dokter, dan salah satunya fans dokter, beliau menunggu sejak tadi dan mendapat nomor antrian ke 1”, tutur perawat.


Paras cantik, tutur kata lembut serta sopan menjadikannya idola baru di GB Hospital. Dayana memiliki penggemar seorang ibu lanjut usia yang gemar mendaftarkan diri sebagai pasiennya, dengan beragam keluhan seperti pusing, insomnia, darah tinggi, asam lambung, dan masih banyak lagi.


“Pagi Nyonya Matthew”, sapa Dayana begitu manis.


“Dokter dari mana saja? Kenapa lama”, keluhnya.


“Maaf. Apa keluhan ibu hari ini?”, tanya Dayana tanpa menghapus senyum yang terukir di bibir tipisnya.


Hampir 10 menit memeriksa, lebih tepatnya mendengar isi hati nenek ini. Dayana cukup kebingungan karena tidak bisa juga mengabaikan pasien yang mengantri di luar. Hingga ia bisa bernapas lega saat seorang pria berhidung mancung, dan gagah masuk ruangannya, membawa nenek ini keluar ruangan.


“Terima kasih “, ucapnya datar namun Dayana bisa melihat kedua sudut bibir pria ini berkedut tipis.


“Sama-sama tuan....”, sejenak Dayana berpikir, menggerakkan kedua bola matanya ke atas.


.


.


Waktu berjalan sangat cepat, sore ini Dayana menyelesaikan tugasnya dengan baik. Ia memiliki janji penting malam ini, tak membuang waktu bergegas pulang ke rumah. Beruntunglah ia tidak terjebak kemacetan jalan yang biasa dilaluinya. Sesuai pesan Papa Ray, Dayana harus tampil sebaik mungkin malam ini.


Bersama Bunda Nayra dan Oma Nilla, Dayana mengunjungi rumah keluarga Bradley untuk memenuhi undangan makan malam. Dayana memiliki selera fashion yang sangat baik, hanya menggunakan dress sederhana saja dan riasan natural sudah membuatnya anggun, apalagi menata rambut sedemikian rupa semakin menambah aura cantik Dayana.


Dayana tersentak menatap tamu yang datang malam ini, kedua bola mata indah nan jernihnya tidak berkedip beberapa saat. Memang benar apa kata pepatah, dunia itu sempit. Susah payah menelan saliva saat pandangannya terkunci pada pria yang berjalan mendekat, mempesona satu kata yang bisa mengungkapkan penampilan pria itu.


“Daniel, kenalkan ini keponakan om namanya Aileen Dayana Kei”, pria yang Papa Ray ceritakan malam sebelumnya, ialah pengacara muda yang banyak mencetak prestasi dan membela kaum membutuhkan tanpa meminta imbalan lebih.


Daniel mengulurkan tangannya pada wanita yang akan dijodohkan dengannya, namun untuk beberapa detik Dayana hanya diam menatap sosok pria yang sempurna di matanya. “Ehem”, Daniel berdeham.

__ADS_1


“Ah maaf”, Dayana menerima uluran tangan Daniel, keduanya berjabat tangan dan berkenalan, saling melempar senyum satu sama lain.


“Daniel Matthew”


“Dayana, ya panggil saja Dayana”


Daniel datang bersama kedua orang tuanya yang juga langsung menyukai calon menantu mereka, namun tetap tidak bisa memaksakan kehendak keduanya. Para orang tua hanya bisa menjembatani untuk saling mengenal dan kedepannya pilihan ada pada Dayana serta Daniel.


Selesai makan malam, para orang tua terlibat pembicaraan serius di ruang keluarga, berharap putra dan putri mereka menemukan kecocokan untuk melangkah lebih serius.


Daniel dan Dayana pun berjalan-jalan di taman belakang rumah, entahlah Dayana tidak merasa bergetar sedikit pun hatinya. Merasa kagum, ya tapi tidak lebih dari itu, lagipula statusnya saat ini sangat mengganggu. Dayana tidak ingin memberi Daniel harapan lebih, dan sepertinya pria ini pun sama.


“Dayana?”


“Daniel?”


Panggil keduanya hingga mengundang tawa kecil.


“Kamu lebih dulu”, ucapnya bersamaan.


“Wanita lebih dulu”, Daniel mengulas senyum tipis pada bibir seksinya.


“Ummm... Daniel apa alasanmu menerima perjodohan ini? Boleh aku mengetahuinya?”


“Tentu, ada beberapa alasan. Pertama karena aku tidak sedang menjalin hubungan dengan wanita manapun, kedua usia ku semakin bertambah dan ya kedua orang tua itu ingin aku segera menikah, ketiga karena bisnis, kamu tahu Dayana, Tuan Rayden adalah teman papaku? Pernikahan bagi orang seperti kita itu tidak lain memperkuat bisnis”, penjabaran Daniel bukan hal yang ingin Dayana dengar.


“Bisnis?”, lirih Dayana, apa boleh ia mendengar jawaban lain? Meski tidak tertarik pada pria tampan di depannya tapi wanita mana yang tidak menyukai kata-kata manis seorang pria. Dayana hanyalah wanita biasa yang juga membutuhkan kasih sayang bukan alasan-alasan seperti penuturan Daniel.


“Lalu apa alasanmu menerimaku?”, tanya Daniel.


“Apa? Aku.... aku tidak tahu.....aku hanya ingin melupakan masa lalu dengan pria yang tepat”, sambung Dayana dalam hati.

__ADS_1


...TBC ...


__ADS_2