
BAB 41
Melihat es krim di tangan putrinya terjatuh, Bunda Nayra segera mengambil goodie bag dari Dayana. “Ada apa? Kamu kelelahan?”.
“Oh, k-kita pulang bunda sebentar lagi sore”, tapi sesaat kemudian Dayana merasa kram pada perutnya. “Akh kenapa ini?”.
Tanpa basa basi Bunda Nayra membawa Dayana pulang, khawatir terjadi sesuatu pada kandungan putrinya, dalam perjalanan menuju rumah tatapan Dayana terarah pada videotron yang masih menampilkan iklan film terbaru Kevin.
“Apa kabarnya dia? Mudah baginya melupakanku. Sudahlah Dayana apa-apaan kamu ini, sebaiknya lupakan dia”, tapi semakin Dayana bersikeras melupakan Kevin, semakin terasa nyeri perut bagian bawahnya.
Hingga Bunda Nayra tidak membawa Dayana pulang ke rumah melainkan ke rumah sakit.
Wanita paruh baya di sisinya akhirnya menyadari arah tatapan Dayana, layar itu terlalu besar untuk tidak terlihat dari jarak jauh. “Mungkin melihat itu”, gumamnya dalam hati.
“Tolong lebih cepat, Pak”, pinta Bunda Nayra pada driver taksi.
Tiba di rumah sakit, ibu hamil muda ini mendapat perawatan dari dokter kandungan yang menanganinya tempo hari. Kandungan Dayana yang lemah, perlu penanganan lebih lanjut. Sementara dokter hanya memberi obat penguat kandungan, dan mengawasi perkembangan dari pemberian obat ini.
“Sebaiknya Dokter Dayana menginap di rumah sakit”, saran dokter kandungan.
“Iya dokter”, senyum Dayana.
Wanita ini pun dipindah ke ruang rawat, Dayana menatap sekelilingnya dan keluar jendela. Gedung pencakar langit yang menampilkan iklan Kevin pun telah berganti. Dayana tidak lagi fokus melihat mantan suaminya, ia memperhatikan lekat-lekat selang infus.
“Pergi sejauh ini masih bisa memikirkannya. Lupakan Dayana lupakan, Kevin akan mulai hidup baru dengan Selena”, teguhnya dalam hati.nya.
SREK
“Jangan dilihat, sebaiknya kamu tidur. Dua hari ini kamu dalam pengawasan dokter, bunda tidak mau terjadi sesuatu”, lantang Bunda Nayra, mengerti apa yang dirasakan oleh putri sematawayangnya.
“Iya bunda”, lemas Dayana terpaksa memejamkan kedua mata.
__ADS_1
**
Jakarta
Nyonya Marta Nugraha selalu mengundang Selena datang ke rumah, sekadar makan malam atau menikmati teh sore hari. Ibunda Kevin ini mencari muka pada calon menantunya yang kini telah menggenggam kesuksesan.
“Jadi kamu ingin konsep apa untuk acara pertunangan kalian? Mama sendiri yang akan mempersiapkannya”, ujar Martha begitu bangga.
“Tentu mewah dan elegan tante, aku tidak mau semua orang menganggap remeh pertunanganku dengan Kevin, ya walaupun sekarang Kevin tidak setenar dulu”, sindir Selena melirik pada kekasihnya.
Perempuan muda itu memiliki alasan tersendiri mengapa masih ingin menjadi istri dari Kevin Nugraha, hanya Selena yang tahu.
“BATALKAN”, sanggah Kevin, ia jengah pada dua orang yang selalu membahas pertunangan, mewah, uang, dan popularitas.
Tidak terima penolakan Kevin, Nyonya Martha lantas berdiri dan memarahi putranya. “Kamu beruntung Kevin, lihat Selena masih bersedia menikah denganmu, jangan pikirkan wanita lain, mama tidak suka”, tegas Nyonya Martha.
“Selena, aku tidak bisa memenuhi semua kebutuhanmu, aku tidak bisa membeli tas mewah, aku tidak bisa memberi uang jajan yang banyak seperti keinginanmu, aku Kevin Nugraha adalah pria miskin. Sebaiknya sebelum terlambat kamu pergi dan cari pria yang bisa memberi segalanya untukmu”, usir Kevin merentangkan tangan menunjuk pada pintu keluar.
“KEVIN........”, pekik Nyonya Marta usai menampar keras pipi putra
“Kamu harus sadar, hanya Selena yang pantas dan layak mendampingimu. Buka mata kamu Kevin !!!!! Bukankah kalian dulu saling mencintai, hah? Mama sendiri yang akan memastikan kalian berdua menikah”, tegas wanita paruh baya ini meninggalkan Kevin dan Selena dalam keadaan marah.
“Pergilah Selena sebelum mamaku menguras habis uangmu”, peringatan Kevin tanpa menutupi, lagipula Selena juga bukan satu atau bulan mengenal ibunya.
“Tapi Kevin, apa engga ada sedikit rasa cinta di hati kamu untukku? Kamu masih berharap tante itu kembali? Tidak. Aku yang akan menjadi pendamping kamu bukan tante murahan itu”, oceh Selena memancing emosi Kevin keluar.
“JAGA MULUTMU SELENA, DAYANA LEBIH BAIK DIBANDING KAMU”
“Sekarang keluar dari rumah ini”
Selena yang takut menjadi pelampiasan kekasihnya, mengambil tas dan segera keluar dari rumah yang ingin ia kuasai.
“Awas saja kamu Kevin, miskin tapi belagu, cih”, maki Selena sembari membuka pintu mobil.
__ADS_1
Rumah yang dahulu menjadi tempat hangat dan sejuk bernaung dari teriknya sinar matahari dan derasnya hujan serta angin. Kini menjadi tempat paling menyeramkan, tidak nyaman dan tidak layak di sebut rumah.
Martha Nugraha selalu haus akan uang dan uang, Kevin yang sedang berada di bawah tidak mendapat dukungan mental dari sang ibu. Hanya cemoohan dan kata-kata kasar kerap kali dilontarkan oleh wanita paruh baya itu.
“Lebih baik aku mencari Dayana”, Kevin memasukan beberapa pakaiannya dalam tas besar, ia akan menebalkan kulit wajah, Kevin menumpang tidur dan makan di rumah Mario.
Sahabat yang selalu mengerti, dan keluarga Mario lebih menerima Kevin dibanding ibu kandungnya sendiri.
Kevin pergi hanya menggunakan motor sport, ia meninggalkan kedua mobilnya yang terparkir di garasi rumah. Ibu dan adiknya lebih membutuhkan dibanding dirinya, toh Kevin seorang pria dewasa, harus kuat menghadapi tantangan dan rintangan hidup. Kerasnya perjuangan meniti karir juga pernah ia rasakan.
Jadi ini belum sebanding dengan perjuangannya di masa lalu.
“Dayana, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan ketika kita bertemu nanti. Maaf aku bersalah padamu”, lirih Kevin sebelum benar-benar meninggalkan rumah yang memiliki banyak kenangan ini.
“Bro, Lo ada di rumah? Gue mau ikut tidur di sana”
Motor sport biru itu melaju cepat menuju rumah Mario di Jakarta, tanpa pamit Kevin pada Nyonya Marta, ia pikir ibunya akan baik-baik saja. Lagi pula rumah hanya simbol saja, Martha lebih senang menghabiskan waktu di luar bersama teman-teman sosialitanya.
Sebelum sampai di rumah Mario, Kevin nekat mengamati rumah paman Dayana, tidak ada aktifitas apapun dari rumah yang memiliki pagar tinggi itu.
“Semoga kamu baik-baik saja di dalam sana”, doa Kevin untuk mantan istrinya.
Rupanya rasa sayang dan cinta untuk Dayana baru muncul setelah kehilangan wanita itu dalam genggaman, apa mungkin ia harus memanjat pagar hanya untuk melihat Dayana dari jauh.
Kevin putus asa tidak bisa menemukan apapun tentang istrinya, baik di sini rumah paman Dayana, rumah neneknya yang hanya dijaga oleh beberapa pria kekar berjas hitam, serta rumah sakit. tidak ada satu pun tanda keberadaan Dayana, sosial media wanita itu pun menghilang.
Nomor teleponnya tidak dapat dihubungi, pesan chat yang Kevin kirim pun tidak pernah menerima balasan dan pastinya tidak sampai pada wanita pujaannya itu.
“Dayana”, lirih Kevin terus melihat rumah mewah yang pernah menjadi saksi ia menandatangani surat perjanjian pernikahan, akan menjaga Dayana serta kandungannya dengan sangat baik dan bersikap layaknya suami.
...TBC...
__ADS_1