Tante, I Love You

Tante, I Love You
Bab 19 - Insiden


__ADS_3

BAB 19


Kevin tertawa sinis mendengar peringatan Dayana, memang sedari awal harusnya mereka jalani masing-masing tanpa ikatan pernikahan yang menjerat keduanya.


“Aku coba tapi tidak bisa menjaminnya”, bisik Kevin membuat Dayana merinding karena hembusan napas pria itu.


“Aku pulang, jaga dirimu dan jangan ceroboh lagi”, suami brondongnya pun keluar rumah dan sempat menoleh ke belakang memperhatikan wajah Dayana sebelum benar-benar pergi.


“Jangan menampakkan wajahmu di hadapanku, aku muak melihatnya”, sarkas dokter cantik satu ini. Kehidupannya yang semula tenang kini berubah jungkir balik karena Kevin masuk dalam dunianya.


Di luar rumah, lekat-lekat Kevin pandangi rumah bercat putih itu, rasanya ia ingin kembali lagi tapi pilihan sulit dalam hidupnya karena semua dimulai dari sebuah kesalahan yang akhirnya merambat kemana-mana. “Untuk waktu yang lama aku tidak akan kesini”, senyumnya, mengingat akan menghabiskan waktu dengan Nyonya Nugraha dan adiknya.


Bunda Nayra menghampiri Dayana dan tamunya, membawa puding, tapi terkejut tidak menemukan tamu misterius itu di ruang tamu atau halaman depan. “Nak, kemana Kevin? Bunda mau kasih ini untuk kalian. Teman kamu satu ini aneh, apa di menyembunyikan sesuatu?”, tanya Bunda Nayra terus menatap ke arah pagar


“Dayana mau istirahat ya bunda, sebaiknya  bunda juga” potong Dayana, menghindar


**


Sementara Kevin telah tiba di apartemen miliknya, jarak ke rumah Dayana tidak jauh memerlukan waktu tempuh 15 sampai 20 menit saja. Kini ia memandang lurus ke luar kaca, anggaplah memperhatikan rumah yang baru saja dikunjungi.


“Vin, Kevin. Ampun ini anak satu, heh Kevin”, Mario memukul lengan alah satu aktor di bawah manajemennya


“Ya ada apa?”, santai Kevin seolah tidak terjadi apapun.


“Selena, ganggu terus. Terima teleponnya Vin, bener-bener perempuan posesif, panas kuping gue”, sindir Mario, pria gemulai ini memang tidak menyukai Selena sejak Kevin menjalin hubungan dengannya ah bukan sejak pertama mereka berkenalan.


“Bisa bilang kalau gue lagi istirahat?”, ide Kevin, ia pun enggan di ganggu saat ini. Pikiran dan bayangannya teralihkan pada istri yang baru ditemuinya, apalagi pria bernama Daniel itu mengganggu otoritas Kevin sebagai suami.


“Kalian yang pacaran, gue yang pusing”, akhirnya Mario menuruti permintaan Kevin dan menerima telepon itu, dirinya kembali mendapat ocehan panjang dari Selena.


Dayana... Dayana....Dayana


Satu nama mengganggu pikiran dan kegiatannya saat ini, “Argh”, Kevin mencengkram kepalanya yang pusing.

__ADS_1


**


Kediaman Matthew


Daniel langsung menyampaikan niat meminang keponakan Rayden Bradley, ia merasa telah terikat secara hati dengan Dayana. Dirinya pun tak tenang jika belum memiliki kepastian hubungan, khawatir pria lain datang dan mendahului keinginan memiliki dokter cantik itu.


“Kamu serius Daniel?”, Nyonya Matthew begitu bahagia, hasil pertemuan beberapa hari yang lalu ternyata tidak sia-sia dan sesuai harapan kedua keluarga besar.


Segera menyampaikan kabar penting ini pada Tuan Matthew dan Keluarga Bradley. Bak gayung bersambut, jadwal lamaran pun ditetapkan , tapi tidk dalam waktu dekat, karena jadwal sidang klien Daniel sangat padat, menguras tenaga, selain itu Tuan Rayden Bradley berada di luar negeri.


“Baiklah kita harus sabar menjadikan dokter cantik sebagai menantu, ah mama bahagia Daniel. Akhirnya anak itu menikah juga diusia hampir menginjak 30 tahun”, Nyonya Matthew menjodohkan Daniel bukan kali ini tetapi sekarang berhasil bahkan putranya menggebu ingin memiliki ikatan dengan Dayana.


Bukan tanpa alasan Daniel begitu tertarik pada Dayana, pertama tidak bohong dan alasan umum pria sebagai makhluk visual bahwa Dayana cantik, tubuhnya proporsional sebagai wanita. Kedua, sifatnya sangat baik, baru kenal dengannya langsung membuat Daniel jatuh hati, wanita lain pasti akan mendesak kapan diberi kepastian tapi Dayana berbeda, sikapnya acuh dan berjalan seperti air menghadapi apapun, Daniel tidak mau itu terjadi lebih baik ia membendung aliran itu yang hanya tertuju padanya. Ketiga, menurut cerita Tuan Rayden Bradley bahwa Dayana pernah terluka, gagal meraih cinta, tentu Daniel ingin menjadi penawar sakitnya Dayana.


Pria ini tersenyum, menopang dagu dengan kedua tangan, bayangan wajah Dayana yang begitu manis hari ini. “Nenek benar, dia gadis yang baik”, gumam Daniel.


**


Dua minggu berlalu Dayana menjalani hari dengan tenang, Kevin tidak lagi datang menemui atau sekedar telepon juga tidak, ini sangat menyenangkan tidak perlu repot membuang tenaga karena emosi.


“Ok”


Menarik napas sebelum keluar ruangan, tidak lupa juga membawa satu kotak coklat yang baru dibelinya pagi ini. Belakangan Dayana gemar makan makanan dengan kadar gula tinggi, apalagi coklat selain manis juga membuat hati dan pikirannya rileks.


Kedatangan dirinya di IGD mendapat sambutan hangat, Dayana tidak pelit membagi coklatnya meski ia suka. “Penambah mood”, ujarnya pada rekan yang lain.


Berbaur memeriksa banyak pasien beragam keluhan, dan berjalan mondar-mandir dari satu bilik ke bilik lainnya memastikan semua kondisi aman terkendali.


Dayana yang kelelahan duduk di kursi besi, tubuhnya pegal dan sedikit lapar karena waktu telah menunjukan jam makan siang. “Padahal makan coklat tapi tetap lapar”, kekehnya pelan mengusap perut.


“Dokter, ayo kita istirahat dulu”, seru Dokter lain yang bertugas, berdiri tepat di sisi Dayana yang duduk, mengulurkan tangan membantunya bangun.


“Terima kasih”, Dayana tersenyum menyambut uluran tersebut. Ia pun berdiri, merapikan jas dokternya. Memijat sekilas pelipis, lalu berjalan keluar membuka pintu IGD menuju ruang istirahat dokter di lantai 2.

__ADS_1


Pergerakan lift membuat Dayana pusing dan mual mencium bau makanan yang dibawa orang lain.


BRUK


“Eh dokter..... Dokter Dayana”


Kepanikan terjadi dalam lift, tubuh Dayana lemas tanpa tulang.


"Bagaimana ini", paniknya


Tidak berselang lama pintu lift terbuka, segera meminta bantuan siapapun untuk membawa Dayana keluar.


“Dokter, Dokter Dewa tolong”, panggil rekan Dayana.


Dewa menoleh dan sigap menolong kakak sepupu istrinya, menggendong tubuh itu masuk dalam ruang istirahat. Memeriksa Dayana yang pucat dan berkeringat, seketika Dewa merasa ada yang aneh.


Satu jam lamanya Dayana baru tersadar dan di ruangan ini hanya ada Dewa serta Dayana, ia sengaja meminta yang lain kembali lebih cepat, karena ada hal yang perlu di konformasi pada kakak sepupu satu ini.


“Dayana, katakan dengan jujur. Dengan siapa kamu melakukannya? Apa pria itu Daniel?”, tanya Dewa menembak langsung tanpa basa basi.


“Maksudnya?”, Dayana yang baru siuman terheran mendapati pertanyaan seperti itu.


“Tanpa aku jelaskan kamu tahu, apa Tante Nayra tahu?”, Dewa berdiri membelakangi Dayana.


“Kamu hamil, Dayana. Kamu hamil”, kata-kata Dewa sukses membuat Dayana diam mengeras layaknya patung.


“Apa?”, lirihnya pelan berharap salah dengar.


“Aku sudah meminta jadwal kosong pada poli obgyn, sebaiknya kamu periksalah kesana. Hubungi ayah dari anak itu”


Dayana benar-benar bingung, hamil? Anak? Anak siapa? Ia tidak mengerti sampai putaran ingatannya muncul dimana kejadian Kevin mengambil paksa miliknya.


“Ha”, Dayana terkejut langsung menutup mulut.

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2