
BAB 9
Tok...tok
“Dayana, kamu sudah pulang nak? Ayo kita makan malam, bunda dan oma tunggu di bawah ya”, suara Bunda Nayra terdengar lembut dari balik pintu.
Dayana masih menggunakan jubah mandinya duduk di tepi ranjang, kepalan tangan sangat kuat hingga kuku panjangnya menusuk pada telapak tangan, rambut basahnya meneteskan air membasahi kain seprei, gigi putih Dayana gemeretak, tatapan tajam dan membenci pada sosok yang baru ia kenali.
“Aku tidak akan tinggal diam saja”, Dayana menghentak tubuhnya, mengambil pakaian dengan asal dan bergegas keluar kamar, menyambar kunci motor di bagian penyimpanan kunci.
Menuruni tangga tergesa, tersandung karpet sampai keningnya nyaris membentur ujung meja yang runcing. Bunda Nayra yang sedang menyiapkan makan malam melihat putrinya, langsung mencegah Dayana keluar rumah. “Sayang kamu mau kemana? Bukannya baru pulang?”.
“Dayana ada perlu sebentar bunda, tunggu ya, sebentar aja bun”, Dayana keluar melepas tangan bundanya yang menahan pada handle pintu.
“Apa lagi anak itu sekarang?”, Bunda Nayra hanya menggelengkan kepala.
Sedangkan Dayana mulai menyalakan mesin motor matic abu-abu miliknya, ia keluar pagar dan melaju cepat, menyalip beberapa kendaraan yang menghalangi. Dayana memarkirkan kendaraan roda dua itu di depan sebuah apotek, sengaja ia memilik jarak yang sedikit jauh karena tidak ingin orang sekitar mengenalnya.
“Mba, ada pil pencegah kehamilan merk XX”, ucap Dayana ragu-ragu, mungkin jika merekomendasikan pasien suaranya akan lantang tapi ini menyangkut dirinya sendiri, ia tidak percaya membeli pil itu dan mengkonsumsinya.
Selesai bertransaksi Dayana menyimpan rapat dalam tas, ia takut Bunda Nayra menemukannya, masih dengan wajah menunduk dan tak fokus melihat sekitar.
“Akh”, tiba-tiba seorang wanita muda dan cantik menabraknya sampai tubuh Dayana terhuyung ke belakang tapi tidak terjatuh, karena pergelangan tangannya di tarik oleh seorang pria bertopi hitam serta kacamata hitam. Beberapa detik pandangan keduanya beradu, Dayana hanya mengerutkan alisnya saja seperti mengenali sosok yang menolongnya.
Pria itu pun sama, menatap dalam dari balik kacamata hitam pekat. Sampai satu suara menghilangkan fokus keduanya. “Bee, huh kamu kenapa diam disitu sih? Ayo sini bee”, suara manja khas wanita pada kekasihnya.
“Oh terima kasih”, ucap Dayana tersenyum kaku.
__ADS_1
Pria bertubuh tinggi dan hanya terlihat bagian hidung serta bibir itu memperhatikan terus pada Dayana, motor matic melaju pun ia masih tak berpaling darinya.
“Bee, ada apa sih? Katanya kamu mau beli vitamin”, celoteh Selena.
“Ah ya”, Kevin pun penasaran apa yang dibeli istrinya itu sampai harus disembunyikan dalam dompet dan tas.
Lantas Kevin bertanya pada pramuniaga, tentu sedikit berbisik sebab tak mau sampai kekasihnya mendengar apa yang ia tanyakan. Bisa berbuntut panjang nantinya, untung saja Selena fokus memilah beberapa vitamin yang direkomendasikan petugas.
Kevin tersentak mendengar jawaban yang diberikan petugas, ia pun mendengus sebal karena hanya jawaban angin yang didapatkan. “Apa yang dibelinya?”, batin Kevin bertanya-tanya.
**
Dayana yang telah sampai di rumah, langsung menyimpan rapi tas yang berisi pil itu, ia pun turun turut bergabung bersama Oma dan Bunda Nayra. Perubahan sikap Dayana menjadi perhatian Bunda Nayra, biasanya wanita ini akan ceria dan banyak senyum tapi malam ini tak ada binar bahagia dari kedua bola mata Dayana.
“Sayang kamu sakit? Bunda lihat agak berbeda”, celetuk Bunda Nayra.
“Hah, b-beda apanya bun? Aku baik-baik aja, sehat bun”, Dayana tersenyum kaku, Oma Nilla menyadari jika Dayana sedang terluka dan menyimpan kebencian dalam dadanya.
“Iya oma”
Dayana yang biasanya membantu merapikan meja makan, kini langsung ke kamar. Benar-benar ia berharap tak akan pernah bertemu dengan Kevin lagi, pria yang membawa hidupnya bernasib sial.
“Tapi, tidak mungkin kalau selamanya seperti ini, aku harus bertemu dengannya dan memutus tali pernikahan yang tidak jelas ini”, gumam Dayana.
Dayana mulai berbaring di atas ranjang empuk, tak ada sedikitpun rasa kantuk hingga berguling ke kiri dan kanan sambil memeluk guling. Apa langkahnya pergi meninggalkan ibu kota salah besar, andai saja dirinya tidak larut dalam sakit hati mungkin akan tetap di Kota ini, dan lihatlah ia bagai bunga yang gagal mekar, hidup dalam tanah yang salah. Apa Dayana harus menyalahkan Kevin sepenuhnya? Ya hatinya menjawab ya, tapi otaknya tidak.
“Hah, seharusnya aku tidak ke Semarang”, gumam Dayana, duduk dan menggelengkan kepala. “Ok, ok mungkin ini hanya mimpi ah tapi bukan”, geramnya. Ia pun gelisah semalaman tidak bisa lelap dalam tidur.
__ADS_1
.
.
Pagi yang tidak bersahabat hari ini, hujan mengguyur cukup deras disertai angin, Dayana yang memang selalu bersemangat entah kenapa hari ini kakinya begitu berat melangkah. Apa mungkin karena kejadian kemarin? Tidak ada yang tahu jawabannya kecuali Dayana sendiri. Ia duduk di teras rumah, menyesap teh melati arab hangat yang diberi Mama Nayla beberapa hari lalu.
Walaupun ada mobil tapi Dayana memilih menunggu hujan sedikit reda, pandangannya lurus ke depan, memperhatikan setiap bulir air yang jatuh membasahi rumput di taman depan rumah.
“Hujan, apa hari ini akan menyenangkan seperti sebelumnya?”, sungguh Dayana berharap waktu bisa terulang meski hanya sekejap saja akan ia perbaiki semuanya.
“Sayang, kamu belum berangkat? Ini hujannya cukup reda”, suara Bunda Nayra di sisi Dayana.
“Iya bunda, sebentar lagi. Ummm Bunda apa Dayana boleh bolos ya hari ini? Tidak seperti biasanya, malas bun”, keluh Dayana suara manja khasnya keluar.
“Eh masa dokter malas, tidak boleh. Pasienmu pasti menunggu sayang, ayo cepat berangkat”, Bunda Nayra menarik tangan putrinya menuju mobil.
“Ok Bunda, aku berangkat”
Dalam perjalanan cukup padat merayap, mungkin semua orang menggunakan kendaraan roda empat untuk berangkat kerja. Dayana ditemani alunan musik kesukaan untuk menghilangkan rasa jenuh, dan parahnya kenapa lagu itu sesuai sekali dengan keadaannya saat ini. Serba salah sudah hidupnya, apalagi bayangan Kevin berlalu-lalang dalam benaknya. Bolehkah ia sekali ini berharap hilang ingatan?.
Dayana menggelengkan kepala, bisa-bisanya ia berpikir seperti itu, benar-benar keterlaluan rasanya. “Tidak Dayana jangan, huh. Apa kamu juga mau melupakan bunda dan keluargamu yang lain”, gumamnya. Perlahan pergerakan mobil maju, sampai akhirnya Dayana tiba di pelataran GB Hospital. “Semoga hari ini semua akan baik-baik saja”, harapan dokter cantik bermata sipit ini sebelum membuka pintu mobil.
“Dokter Dayana, ditunggu direktur di ruangannya”, ucap perawat yang melintas.
“Iya terima kasih”.
Tak membuang waktu Dayana melangkah mantap menuju ruangan direktur rumah sakit, ternyata dirinya siang ini harus mendampingi seseorang untuk medical check up. Tentu Dayana terima toh memang tugasnya. Hal itu juga bukan pertama kali baginya mendampingi seseorang tes kesehatan.
__ADS_1
“Baik Pak”, jawab Dayana lantang.
...TBC...