Tante, I Love You

Tante, I Love You
Bab 29 - Pisah Ranjang


__ADS_3

BAB 29


Kevin menghimpit tubuh istrinya tak berjarak sedikit pun, sangat menempel satu sama lain.


“Sial, kenapa tante ini wangi sekali”, gerutu Kevin dalam hati.


Menyadari suaminya yang sedang bengong, Dayana mengambil kesempatan, mendorong cukup keras kedua bahu Kevin. Usahanya kali ini membuahkan hasil, pria itu mundur dua langkah.


Kevin terus menatap dalam istrinya. Ia bisa melihat Dayana yang begitu cantik dan manis, pipinya kini bersemu merah, apa mungkin karena malu?.


Tangan Kevin terulur seolah ingin menyentuh tengkuk istrinya dan menarik masuk dalam pelukan, Dayana dibuat mematung. Otaknya memaksa kaki untuk melangkah tapi begitu berat menggerakkan sedikit saja kakinya. Seperti ada rantai yang menahan sepasang anggota tubuh itu.


“K-kamu mau apa, hah?”, gugup wanita ini.


“Ah, jangan terlalu percaya diri. Aku ingin mengganti pakaian”, bisik Kevin, menggeser Dayana kesamping karena menghalangi pintu lemari.


Mengambil pakaian tidur dan  keluar ruangan tapi ia berhenti diambang pintu, “Tidurlah di ranjang, aku akan tidur di kamar Mario”, pergi dari kamar yang berubah menjadi panas menyiksa diri.


“Huh, keadaan macam apa ini? Dia bukan wanita pertama yang diam di kamar tapi sangat berbeda”, gumamnya menetralkan irama jantung yang berlebihan.


Lantas masuk ke dalam kamar Mario, dilihat pria gemulai itu tampak lelap dalam tidur. Kamar yang mengenaskan, hanya ada 1 kasur berukuran kecil, sengaja Mario lakukan tak ingin berbagi dengan yang lain. Tidak ada sofa atau apapun yang mampu dijadikan alas tidur, padahal ruangan ini cukup luas sama seperti kamar Kevin.


Mario sendiri yang memilih furniture untuk kamarnya termasuk beberapa ruangan lain di unit apartemen ini, semua pilihannya.


Kevin menyerahkan dekorasi apartemen pada sahabatnya ini, ia tak mau bertambah pusing, cukup sudah mencari uang hingga pagi dan untuk hal lain biar orang yang mengatur.


“Ck, benar-benar pria pelit”, gumam Kevin memandang nanar ranjang kecil milik Mario.


Dari pada pria Kevin menggerutu di kamar Mario, lebih baik ia istirahat. Ruang tengah lah menjadi pilihannya. Selain ada sofa bed, dari sini bisa mengamati istrinya bila keluar kamar.


“Hidup sebagai suami memang sulit, apalagi menikah dadakan. Rasanya lebih melelahkan dibanding menghafal naskah”, gumam Kevin mulai  memejamkan kedua mata sipitnya.


.


.


Seperti biasa Mario terjaga lebih dulu, karena memang tugasnya menyiapkan semua kebutuhan Kevin dari mulai makanan sampai benda apa saja yang harus dibawa.

__ADS_1


Manik hitam Mario melebar kala menemukan aktornya tidur di sofa, bukan kamar. “Vin, Kevin. Heh bangun. Kenapa Lo tidur disini, Vin?”.


“Berisik Mario”, sergah Kevin.


“Iya emang kenapa kamar Lo, AC rusak lagi? Masa sih?”, kesal Mario karena ia tak mau Kevin sakit bagaimana pun kondisi aktornya ini harus selalu dalam keadaan sehat.


“Di kamar ada Dayana, gue ngalah tidur disini. Biar dia di kasur. Semalam gue masuk kamar Lo dan ya mau tidur dimana, kasur kecil begitu”, Kevin menutupi wajah dengan selimut. “Gue masih mau tidur Mario, jangan ganggu”.


Mario melengos mengambil segelas air minum, menyimpannya di atas meja agar ketika bangun nanti Kevin langsung minum.


“Dasar aneh, punya istri tuh di peluk bukan pisah ranjang kaya Lo”, gumam pria gemulai ini.


Mario masak sarapan lebih banyak dari biasanya karena Dayana sedang hamil jadi sengaja ia lebihkan. Untung ia sempat belanja lebih dulu kemarin sebelum masuk apartemen.


“Eh Dayana, kamu mau kerja? Sarapan dulu, aku masak banyak”.


“Ehm, makasih Mario. Jadi merepotkan, aku hanya menumpang di sini ya. Lain waktu bagi pekerjaan saja, aku bisa membersihkan ruangan”, ujar wanita cantik bermanik coklat ini.


Suara keduanya mengusik tidur Kevin Nugraha, segera membuka selimut yang menutupi wajah. Mengerjapkan kedua mata dan betapa terkejutnya ia disajikan penampilan cantik istrinya pagi ini.


Kevin terpaku melihat betapa anggun  penampilan Dayana, kelopak matanya saja enggan berkedip. Sangat berbeda dari penampilan Selena selalu menggunakan pakaian minim bahan dan mempertontonkan kulit putih bersihnya.


“Heh, hapus itu air liur. Segitunya banget lihat istri sendiri”, ledek Mario mendekati Kevin.


“Apaan sih Lo”, bentak Kevin langsung berdiri dan mencuci muka, turut bergabung sarapan.


“Kamu mau kemana? Praktik?”, tanya Kevin tanpa mengalihkan perhatian dari istrinya yang lahap makan.


“Ya”, singkat Dayana.


“Apa dia tidak bisa menjawab lebih panjang? Irit sekali”, batin Kevin mendengus kesal.


Perubahan riak wajah aktor tampan ini tidak luput dari penglihatan tajam Mario yang memang selalu mengamati gerak-gerik Kevin. Pria gemulai itu menahan tawa, terus melahap sarapan agar tawa kerasnya tidak keluar dan merusak suasana dari drama percintaan pagi ini.


“Selena nasib Lo di ujung tanduk”, kata hati Mario.


Dayana yang selesai sarapan lebih dulu, segera pamit pada suaminya dan Mario. Praktik pagi tidak boleh terlambat baginya.

__ADS_1


“Ehem", Kevin meneguk air minum hingga tandas, bibirnya begitu terkunci ingin mengatakan sesuatu.


Mario pun sengaja memanasi aktor tampan ini dengan suatu hal yang akan membuat Kevin semakin menjaga Dayana, ya setidaknya belajar mencintai istrinya itu.


Bibir Mario yang seperti wanita, menyampaikan pada Kevin bahwa Dayana memiliki seseorang yang disukai, profesinya sebagai dokter dan bekerja di GB Hospital.


Sontak Kevin yang belum menelan air langsung menyembur semua keluar.


“Apa kata Lo? Siapa?”, dadanya begitu panas, apalagi ia ingat penampilan sang istri begitu manis pagi ini.


“Jorok banget Lo, ditelan dulu kan bisa airnya Vin, untung engga kena gue”, Mario sempat memundurkan tubuh, nyaris saja ia mandi di meja makan.


“Wah, itu gue lupa namanya”, Mario meninggalkan Kevin yang penasaran.


“Apa pria itu Daniel? Ah tapi mana mungkin, bukankah Daniel pengacara?”, Kevin berperang antara batin dan pikirannya memikirkan kata demi kata Mario.


Ting Tong


Mario yang baru saja mandi, tidak akan mungkin keluar kamar. Terpaksa Kevin membuka pintu, ia berpikir istrinya kembali karena ada barang yang tertinggal.


Sebelum membuka pintu, Kevin merapikan penampilan. Menampakkan wajah dingin dan angkuh ciri khasnya. Ia tidak ingin Dayana melambung di atas awan karena dibukakan pintu, dan lagi kenapa harus menekan bel, bukankah Mario mengirim pesan chat sandi pintu apartemen.


“Kenapa tidak langsung masuk saja sih?”, menghela nafas.


Klek


Dada Kevin berdebar sangat cepat, apa tidak berlebihan hanya membuka pintu untuk istri tapi jantungnya tidak tahu malu seperti ini.


‘‘Kenapa kamu tidak membu.........bu-bukanya sendiri”, lanjut Kevin dalam hati.


Sontak ia meneguk saliva, mungkin ini rasa gugup dan debaran jantung yang begitu cepat, tidak disangka ini artinya.


...TBC...


 


 

__ADS_1


__ADS_2