Teman Tapi Manja

Teman Tapi Manja
Ch. 1 - See you kucing garong


__ADS_3

“Bali... I’m cooming.” Tasya mengambil koper dari petugas bandara dengan penuh semangat dan senyuman yang masih terlihat manis walaupun terlalu lebar.


“Kucing Garong, bawa koper Grandpa.”


Tasya langsung menuruti apa yang dikatakan grandpanya.


“Untuk hari Aku tidak akan membantah perintah Grandpa karena aku sangat bahagia,” ucap Tasya dengan senyum manis yang belum menghilang dari bibir tipisnya.


“Hanya hari ini saja?” Grandpa  masih sibuk dengan ponselnya.


“Betul, hanya hari ini saja,” balas Tasya lalu memakai kacamata hitam yang diambil dari tas slempang yang dipakainya.


“Kucing garong, sebenarnya grandpa...”


Grandpa sudah menyimpan ponsel di saku jasnya, dan saat ini dia sedang menatap cucu semata wayangnya dengan sendu.


Tasya membalikkan badan lalu menghampiri grandpa yang tertinggal.


“Kenapa wajah grandpa jelek sekali, Kita jadikan ke Bali?”


“Tasya, kamu boleh ke Bali hari ini juga bisa, tapi tidak sama Grandpa ya. Grandpa harus pulang.”


“Aku punya Grandpa kok jahat banget sih. Grandpa mau ninggalin aku di negara ini sendirian, hah? Kalau aku kenapa-kenapa bagaimana!” Tasya protes keras menggunakan nada bicara andalannya berisik dan menyengat gendang telinga.


“Tasya, sebenarnya ayah kandung kamu ingin tahu kamu seperti apa sekarang, jadi Grandpa mengantarmu ke Indonesia.”


Tasya tersentak kaget, “Grandpa kok gitu sih. Aku gak tahu ayahku seperti apa dan kayak gimana, Grandpa sama aja kayak nyerahin aku ke penjahat. Grandpa udah gak sayang aku lagi, Grandpa orang paling jahat di dunia.”


Grandpa menghela nafas panjang lalu mengusap puncak kepala Tasya, “Anggap saja, kamu lagi menebus kenakalan yang kamu buat selama tinggal dengan Grandpa. Jadi, hiduplah dengan baik di Indonesia.”


Seketika sebuah ide terlintas di dalam otak Tasya.


“Grandpa keliru, Kesalahanku sangat kecil dan bisa dimaafkan dengan permintaan maaf gak harus menebusnya dengan tinggal sama orang yang aku gak kenal. Gak papa aku gak jadi ke Bali yang penting aku pulang lagi ke Amerika. Aku maafin Grandpa kali ini.”


Grandpa menepuk jidadnya frustasi, “Kesalahan sangat kecil? Kamu pikir Grandpa gak tahu kamu suka bolos sekolah, jangan ditanya soal bolos les, Itu kesalahan kecil? Grandpa juga tahu kamu sama teman-teman kamu itu-“


“Iya iya Grandpa. Aku tahu aku suka bolos sekolah juga les, Grandpa puas.”


“ialah kamu tahu, kamu yang melakukannya. Grandpa juga tahu kamu sama teman-“


“iya aku suka balapan liar sama teman aku, aku juga tahu, aku minta maaf. Sekarang kita pulang ya Grandpa.”

__ADS_1


“Oh... jadi selama ini kamu bener suka balapan liar, pantas ban mobil cepat tipis, anak nakal kamu, ya. Kesalahan kamu ini gak bisa dimaafkan dengan kata-kata. Grandpa mau pulang sendiri, kamu cari ayahmu di sini. Dan satu lagi, mobil kamu Grandpa bawa lagi ke Amerika, biar tahu rasa.”


“Grandpa jangan gitu dong... Jangan tarik mobil Tasya, Tasya udah gak punya apa-apa lagi, Grandpa?” Kedua mata Tasya berbinar setelah melihat Grandpanya mengangguk setuju untuk tidak menarik mobilnya.


Grandpa melempar Kunci mobil yang diambilnya dari saku jas, sementara orang yang menerimanya yaitu Tasya menatap kepergian Granpa dengan mulut terbuka lalu membuka kaca mata hitamnya, Tasya segera memutar otaknya lalu menghampiri Grandpa untuk menggagalkan rencana yang akan meninggalkannya di negara ini sendiri.


“Grandpa tunggu, grandpa.... grandpa.”


Tasya menarik tangan Grangpa untuk berhenti melangkah.


“Tasya gak mau ditinggal di sini sendiri. Tasya kan perempuan, kalau kenapa-kenapa gimana?”


“Kamu punya ilmu bela diri. Preman  Indonesia akan mati dengan 2 jurus karatemu. Oh tunggu sebentar.”


Grandpa mengeluarkan handphone dari saku jasnya dan juga kertas hvs yang dilipat lipat.


“ini chat ayah kamu yang ingin bersamamu sudah grandpa print out dan ini foto ayah kamu.”


Baru 5 detik tasya melihat foto ayahnya, Grandpa sudah menyimpan kembali ponselnya ke saku jas lalu kembali berjalan meninggalkan Tasya yang sedang kebingungan.


“Grandpa jahat, aku gak mau ke Indonesia lagi.” Tasya menendang dua koper yang ada di sisinya.


Berharap grandpa menghampiri Tasya, menengok pun tidak.


“Grandpa yakin mau ninggalin aku di sini? Grandpa juga yakin gak takut tinggal sendiri di rumah nanti?” Tasya membujuk grandpa.


“Grandpa tidak akan mempan dengan bujukkan kucing garong.”


“Beneran Grandpa gak takut tinggal sendiri? Rumah Grandpa sangat besar loh, kalau Grandpa tinggal sendiri orang orang gak bakal tahu kalau misalkan Grandpa meninggal.”


“Anak durhaka, nyumpahin grandpanya sendiri meninggal!” grandpa menjewer telinga Tasya.


“Misalkan Grandpa, misalkan. Au... sakit!”


“Sudahlah, kamu cari ayah kamu. Isi koper Grandpa sebenarnya perlengkapan sekolah kamu. Jangan buntuti Grandpa lagi.”


“Oke, aku bisa hidup tanpa mami juga Grandpa atau siapapun itu aku bisa hidup dengan caraku sendiri.” Tasya sedikit berteriak agar grandpanya mendengar.


“Bagus, kamu harus bisa hidup dengan caramu sendiri jangan bergantung pada orang lain.”


Tasya menghampiri grandpanya lalu memeluknya.

__ADS_1


“Hiduplah dengan baik di sini, jangan kecewakan Grandpa dan juga mami kamu sudah ada di alam sana.”


Tasya hanya mengangguk angguk mendengar nasihat grandpa sebelum benar-benar ditinggalkan.


“See You Kucing Garong,” Grandpa melambaikan tangannya sebelum pergi, sementara Tasya hanya mengangkat satu tangannya sebagai salam perpisahan karena sesak di dadanya membuat mulutnya sulit mengeluarkan sapatah kata untuk Grandpanya.


Tasya memakai kembali kacamata hitam untuk menutupi sembab di matanya.


Pindah duduk dari satu tempat ke tempat lain dan melirik jam tangan merek rolex di tangannya adalah kegiatan yang sering dilakukannya selama lima belas menit sekali dari 3 jam yang lalu.


Orang yang di sebut ayah kandungnya tidak muncul juga.


Jangan ragukan IQ Tasya, melihat foto ayah kandungnya selama  5 detik seratus kali jauh lebih mudah dibanding melihat guru karatenya mempraktekkan jurus baru.


“Permisi, pernah lihat orang ini?”


Tasya melirik foto yang bergambar wajahnya dari handphone milik pria berjas hitam.


Tasya memutar bola matanya malas lalu membuka kacamata hitamnya sambil berdehem keras, seperti deheman grandpa yang memergoki Tasya saat pulang larut malam.


“Tasya? Ini Tasya anak papi?” Pria yang rambutnya sudah tumbuh beberapa uban segera memeluk Tasya dengan haru.


“Palsu,” gumam Tasya pelan.


“Ayo kita pulang,” ajak papi Tasya.


Okeh, tidak ada kata maaf karena terlambat jemput anak sendiri dan sebagai ayah yang 16 tahun baru ketemu dia tidak menawarkan jasa menarik 2 koper gue yang segede ini, Tasya menatap tajam pria yang berjalan di depannya.


“Grandpa bilang kamu mau liburan ke Bali? Tapi kayanya hari ini gak bisa karena papi masih punya kerjaan di kantor, maaf ya.”


Tasya memutar bola matanya malas, “It’s okay.”


Ke Bali sendiri gue juga bisa, gerutu Tasya dalam hati.


“Kamu juga punya sodara sebaya, dia perempuan juga, Nia namanya, kalian bisa mengobrol dan menjadi teman curhat.”


“Yeah, I’m looking forward to it.”


#Note


Jika menemukan typo mohon beritahu dikolom komentar

__ADS_1


favorite... like juga...


See you again


__ADS_2