
“Sya, mau beli lagi gak teh angetnya?” Mita melirik gelas kosong milik Tasya.
“Gak, gue udah kenyang Ta. Abis istirahat pelajaran apa sih?” Tanya Tasya yang sedang memainkan tab barunya.
“Olahraga, lebih tepatnya futsal,” Teresa yang sedang memijat bahu Tasya terlihat begitu semangat dengan pelajaran olahraga yang akan datang.
“Oh, iya Re. Tadi katanya lo mau ngomong kalau personil kita lengkap, mau ngomong apa sih?” Tasya masih sibuk dengan tab sambil membaca email dari Luna.
Teresa terkekeh, “Abang gue datang,”
Mita melotot, “Astaga... yang bener?”
“Ada apa sih?” Tasya bingung.
Tawa Mita pecah, “Malam ini nginep yuk di rumah lo, Re.”
“Harus, sekalian gue mau kenalin Tasya sama abang gue,” Teresa ikut tertawa.
“Mau ya lo semua nginep di rumah gue?” Teresa memijat Tasya dengan begitu bersemangat.
“Gue juga mau, Re.” Dimas menyahut sambil meyeruput bobba yang dibelinya di kantin.
“Gue gak tanya sama lo,” Teresa memutar bola matanya malas.
“Buat lo, Re. Jangan marah-marah dong sama gue, nanti gue makin sayang,” Dimas meletakkan bobba di meja yang di duduki Teresa. Bukan kebetulan tapi Dimas sengaja membeli 2 cup bobba.
“Basi,” Rian memberi senyuman ejekkan kepada Dimas lalu dirinya juga meletakkan bobba di hadapan Mita.
“Makasihnya mana, Re?” Dimas mengedipkan sebelah matanya.
Tasya melirik Teresa yang sedang menyeruput boba lalu menoleh ke belakang, “Minggir Rajaya, lo gak ada bakat buat mijit.”
“Boong, enak kan?” Rajaya masih memijat bahu Tasya.
“Lo mau bikin sahabat gue mati? Minggir,” Mita melototi Rajaya.
Dimas terkekeh, “Efek terlalu bersemangat.”
“Ajarin gue caranya mijit,” Rajaya menepis salah satu tangan Mita yang mengambil alih tugasnya.
“Gini,” Mita menunjukkan cara memijat yang benar.
“Udah, Mita duduk. Lo minggir, gue bukan kelinci percobaan,” Tasya melototi Rajaya.
Rajaya pindah duduk ke samping Tasya sambil membuka permen lolipop lalu mengulumnya.
“Sya, tab lo enak buat nonton drakor,” usul Teresa.
“Nonton apaan? Gue download.”
“Nonton suami gue,” Pinta Mita.
“Nonton gue aja,” Rian mendekatkan wajahnya ke wajah Mita.
Teresa terkekeh, “ngarep lu, saingan lo banyak.”
“Mita... mau ya jadi pacar aku?”
“Kiti timinin iji yi,” ucap Mita dengan senyum paksa sambil mendorong wajah Rian.
Dimas tersedak bobba yang sedang diminumya, “Sya, cariin cewek dong buat Farel.”
“Gak usah, Sya.” Farel yang sedang anteng main ponsel menolak.
“Sama gue aja mau,” tawar Tasya.
“Sya... jangan ngomong gitu. Argh, mati gue.” Tatapan tajam Rajaya berhasil membuat Farel menelan ludah.
“Sombong baget lo nolak Tasya,” Teresa menoyor dahi Farel.
__ADS_1
“Sakit hati gue ditolak lo,” celetuk Tasya.
“Langka banget gue nonton muka ngenesnya Rajaya,” Mita terkekeh. Dan kekehan itu menular ke Dimas dan Rian, sementara Farel mengangkat kedua tangannya seperti enggan ikut campur dengan semua ini.
“Eh, balikin tab gue,” Tasya melototi Rajaya yang tiba-tiba mengambil tabnya.
“Gue balikin kalo lo mau jadi pacar gue,”
“Mendingan gue beli tab yang baru,” Tasya terlihat tidak butuh dengan tab yang ada di tangan Rajaya.
“Sudah dong Rajaya, gue mau nonton,” Mita protes.
Rajaya meletakkan tab di tengah-tengah meja, dan drakor pun mulai tayang.
“Kalau punya makanan itu bagi-bagi, lo orang kaya tapi pelit.” Dimas mengambil permen lolipop dari kantung kemeja Rajaya.
“ANJ*NG, Lo main ambil-ambil aja,” Rajaya kesal dengan kelakuan absurd temannya.
“Ah, lo pelit,” Mita ikut nimbrung.
“Lo mau tahu caranya biar bisa jadian sama Tasya?” Tanya Teresa.
Rajaya melempar dua lolipop untuk Teresa dan Mita, dan di kantungnya saat ini tersisa satu lolipop.
“Buat Kamu,” Rajaya memberi Tasya permen lolipop yang bungkusnya sudah dibuka.
“Mau tukeran gak?” Rajaya mengeluarkan permen lolipop yang sudah diulumnya sedari tadi.
“Gak, ludah lo pahit,” tolak Tasya.
Rajaya terkekeh, “Kata siapa? Ludah aku manis, mau coba?”
“Gak,” Tasya mendorong wajah Rajaya.
“Drakor in real life,” Dimas membelai rambut Rajaya.
“Balikin permen gue, Re.”
Teresa melirik Rajaya, “Nih, sewotan lo.”
“Nih, tukeran sama gue,” Dimas menjulurkan lolipopnya.
“Heleh,” Teresa mengulum kembali lolipopnya.
“Sya, yang ini mah gue udah nonton. Judulnya yang pernah gue bilang beberapa hari yang lalu, lo inget kan?”
“Oh, yang itu. Gak, itu bukan drakor itu bok*p,” Tasya menatap Mita dengan datar.
Mita dan Teresa terkekeh bersama, “Lo udah nonton, Sya? Kapan, kok gak ajak-ajak?”
“Gue mau nonton, judulnya apa?” Rajaya sudah siap mengetik di tab milik Tasya.
“List gue banyak, lo mau yang-“
“Gue gak tanya lo,” Rajaya memotong ucapan Dimas.
“Gak, gak ada nonton-nonton. Bentar lagi bel masuk bunyi, balikin tab gue,” Tasya mengambil Tabnya dari Rajaya.
“Kita nonton di rumah gue nanti malam,” Teresa mencetuskan perkara.
“Mita, kumpul di Ro,” Keano berdiri di ambang pintu dengan wajah datar.
“Hah, sekarang?” Sebelum menghampiri Keano, Mita mengambil sebuah buku dari dalam tasnya.
“Mita, berhenti dong jadi pengurus osis,” Rian menatap Mita yang sedang berjalan menuju keluar kelas.
Mita menoleh sambil terkekeh, “Lo siapa larang gue?”
Selagi Rajaya dan antek-anteknya menatap Keano dengan tajam, Tasya menyenggol Teresa.
__ADS_1
“Tasya.” Rajaya melototi Tasya yang ikut kabur bersama Teresa menghampiri Keano.
Mita dan Teresa lari terbirit-birit ke RO mendahului Tasya yang sedang menarik Keano karena pria itu enggan berlari.
“Kea lari dong, Gue gak mau disusul Rajaya.” Satu tangan Tasya memegang tab dan satunya lagu digunakan untuk menarik lengan Keano.
“Sya, balik ke kelas.”
Tasya kesal, Rajaya berhasil menyusulnya. “Gak, gue mau menyusul teman gue, lepasin Rajaya.”
“ANJ*NG, dua kali lo berani sama gue,” Rajaya memberi senyuman miring kepada Keano.
Adegan Keano menghempas lengan Rajaya kasar terulang kembali, dan saat ini kedua remaja itu sedang perang mata.
Rajaya mendengus pelan melihat kepergian Tasya yang dibawa oleh Keano.
“Gue juga bilang apa, lari Kea, lari...” Kali ini ekspresi datar menempati wajah Tasya.
“Iya...” Keano meletakkan telapak tangannya di puncak kepala Tasya.
“Iya, iya telat.” Tasya menepis lengan Keano.
“Anterin gue ke ruangan CCTV,” pinta Tasya.
“Gak,” jawab Keano datar.
Tasya berdecak kesal lalu berbalik.
“Iya gue anterin,” Keano menarik lengan Tasya yang sepertinya ingin kembali ke kelas.
“Bagus,”
“Ya ayo,” Keano heran karena Tasya enggan berbalik badan lagi.
“Ya bentar, itu pensil tab gue jatoh,” Tasya menunjuk benda berbentuk pensil yang tergeletak di lantai.
Keano melepaskan genggamannya sambil menahan senyum.
“Kalau mau senyum, senyum aja kali,” setelah mengambil pensil tab, Tasya kembali menghampiri Keano sambil menyipitkan matanya.
“Ada penjaganya gak?” Tasya sudah berada di hadapan pintu yang memiliki identitas bernama ruang CCTV.
“Gak ada,” Keano membuka pintu tersebut.
“Tempat ini dikontrol saat pagi hari sebelum bel masuk dan sore setelah bel pulang,” jelas Keano
Tasya menganggukkan kepala sambil memasuki ruangan tersebut.
“Ya udah, lo pergi. Makasih bantuannya,” Tasya tersenyum dengan paksa.
“Gak ikhlas banget makasihnya, Sya,” protes Keano.
Tasya mengerutkan alisnya lalu menghembuskan nafas pelan.
“Terima kasih banyak Keano ganteng calon ketua osis sudah baik banget anterin gue ke sini,” ucap Tasya dengan senyuman setulus mungkin.
“sama-sama,” Keano memegang kenop pintu bersiap untuk keluar.
“Satu lagi,”
“Jaga sahabat gue Teresa apalagi Mita, lo gak boleh bentak-bantak dia. Mita ngadu sama gue kalau lo suka marahi dia,” sambung Tasya.
“Itu aja?” Tanya Keano.
“Kea...” Tasya menatap Keano serius. “Lo gak boleh suka sama gue,” sambung Tasya.
Keano tersenyum tipis, “Dilarang melarang,” Keano menutup pintu CCTV lalu berjalan cepat menuju RO.
Tasya membenamkan wajahnya ke meja, Ya Tuhan gini amat punya perasaan peka tapi gak tahu cara balasnya.
__ADS_1