
“Sya, jangan lupa nanti malem ke rumah gue, alamatnya nanti selesai eskul gue sharelok,”
“Sip,” Tasya memberikan jempol.
“Lo gak mau anterin Tasya ke ruang musik, Re?” Mita menahan diri untuk tidak mengeluarkan tawanya.
“Lo aja yang anterin gue lapangan, mau gak?” Teresa merangkul Mita erat.
“Gak, gak. Gue mau ke RO, orang sibuk mau rapat, bye.”
Teresa, Mita dan Tasya berpisah dipersimpangan koridor. Tasya pergi menuju arah ruang musik, sementara Teresa menuju arah lapangan futsal dan terakhir Mita menuju ruang osis.
***
“Mbak Luna, kenapa ada di sini?” Tasya menaikkan kedua alisnya saat menemukan Luna berada di dekat mobilnya yang masih terparkir di area parkiran sekolah.
“Nona, ini yang Anda minta. Apakah nona ingin pergi ke sana?”
Tasya menganggukkan kepala sambil membuka berkas yang diberi oleh Luna.
“Rumah itu sangat luas dan banyak penjaga, apa nona akan pergi ke sana sendirian?”
“Ini sangat lengkap, kerjamu bagus Mbak, sekarang kamu boleh pulang.”
Luna panik, “Nona, saya mohon jangan pergi sendiri ke tempat itu.”
“Mbak mau saya tabrak,” Tasya memberi tatapan datar kepada Luna karena wanita itu berdiri di hadapan mobil Tasya.
“Ada apa?”
“Hah, kamu. Kamu datang di waktu yang tepat.” Luna bernafas lega saat Keano yang berseragam tim basket tiba-tiba muncul.
“Lihat Nona saya, dia mau pergi ke rumah berbahaya.” Luna menunjuk Tasya yang sudah duduk di kemudi mobil. Sementara Tasya menepuk jidatnya sebelum membenamkan wajahnya ke stir mobil.
Keano menyimak perkataan Luna sambil mencuci kedua tangannya yang kotor karena sudah memainkan bola basket.
“... Jadi begitulah, tolong saya untuk jaga nona saya, please.”
Keano mengangguk.
Tok! Tok! Tok!
Tasya menghela nafas panjang saat kaca mobilnya diketuk Keano.
“Mbak Luna berlebihan lo gak usah dengerin dia,” ucap Tasya setelah menurunkan kaca mobil.
Keano duduk di kursi penumpang samping Tasya.
“Tolong jaga nona saya ya, hm...” Luna menatap Keano bingung karena belum tahu siapa nama remaja tampan yang diajak bicaranya.
“Keano,” ucap Keano sebelum Tasya melajukan mobil meninggalkan area sekolah.
Luna menganggukkan kepala, “Keano.”
***
“Mansion?” Keano menaikkan kedua alisnya.
“Santai, ini bukan sarang mafia,” Tasya menurunkan kaca mobil setelah berhenti di depan gerbang mansion tersebut.
“Nono, lo turun jabatan ya sampai jadi penjaga gerbang,” Teresa terkekeh melihat pria berpakain serba hitam lengkap dengan kacamatanya sambil duduk di atas motor sport hitam.
__ADS_1
“Buru bukain gerbang, gue mau ketemu grandpa,”
Pria yang dipanggil Nono oleh Tasya berjalan menghampiri mobil Tasya.
Nono menaikkan alis saat melihat Keano.
“Siapa, Fush?” ucap Nono sambil membuka kacamatanya, dan mata biru dan wajah yang masih remajanya pun terlihat jelas.
“Kepo lo, makannya sekolah bareng gue. Berasa udah pinter lo gak sekolah,” Tasya mendorong kepala Nono yang ingin masuk ke dalam mobil.
Keano hanya menyimak interaksi Tasya dan Nono yang terlihat begitu akrab. Dan Keano juga yakin bahwa orang yang bernama Nono ini sebaya dengan dirinya dan juga Tasya.
“Your boy?” Tanya Nono lagi.
Tasya berdecak kesal, “Teman doang, buruan gue udah laper mau numpang makan.”
“Bagus,”
“Apaan sih lo,” Tasya memukul lengan Nono yang mengacak rambutnya.
Nono menggunakan sepeda motornya menuntun Tasya sampai ke depan pintu utama.
“Ribet banget hidupnya grandpa, dari gerbang ke pintu utama saja jauhnya kayak langit dan bumi,” gumam Tasya saat keluar dari mobil.
“Meong...”
“Eh Fys, hampir aja gue lupa sama lo,” Tasya berjongkok menyambut kedatangan kucing putih ras persia.
“Amnesia lo ya, lupa sama majikan sendiri,” Tasya menatap tajam kucingnya yang menghampiri kaki Keano dan saat ini kucing itu ada di dalam gendongan Keano.
“Kea..., balikkin dong. Itu kucing gue,”
“Kea, Sya.” Nono mendengus kesal.
“Lo kenapa?” Tasya lupa dengan keberadaan Nono yang masih bersamanya.
“Nono, makannya nanti aja gue mau mandi dulu, terus pinjemin baju lo buat teman gue juga ya,”
Sebenarnya Tasya bisa saja langsung makan, tetapi melihat Keano yang tidak nyaman dengan baju basketnya yang basah dengan keringat, Tasya memutuskan untuk membersihkan diri lebih dulu.
Nono mengangguk lalu mengantar Tasya menuju kamar yang sudah disiapkan jika Tasya menginap di mansion, dan terakhir membawa Keano menuju kamar Nono sendiri.
***
“Fys,” Tasya yang sudah duduk di kursi makan sambil memainkan kamera dan juga tabnya bahagia saat kucing kesayangannya berlari menuruni tangga menghampiri Tasya sendiri.
“Meong,” kucing itu terus mengeong sambil melihat Keano menuruni tangga.
“Yaelah, tahu juga yang cakep, lo Fys.” Tasya mengelus kucingnya dengan sayang.
“Cepet banget Sya bersih-bersihnya,” Keano sudah duduk di kursi makan.
“Gak mandi dia,” Nono berjalan menuju arah dapur, mengontrol para pelayan yang sedang memasak.
“Gue udah mandi ya tadi di sekolah,“ Tasya membela diri.
“Mandi di toilet sekolah?” Keano menaikkan kedua alisnya.
“Bukan, di rumah saudaranya Mita di depan sekolah.” Tasya mengambil beberapa gambar dirinya dan juga kucing kesayangannya menggunakan tab.
“Nono, grandpa kemana sih?”
__ADS_1
“Main golf, sore pulangnya,” Nono masih stand by di dapur.
“Kea, lo punya tugas osis gak, pulang saja sih kalau lo banyak tugas,”
“Gue diusir, Sya?”
Tasya yang sedang memainkan tabnya terkejut, “Eh, bukan gitu. Terserah lo saja dah, gue sih seneng aja ada yang nemenin.”
“Lo kalau mau balik silahkan, ada gue yang nemenin Tasya, iya gak Fush.” Nono mengedipkan satu matanya kepada Tasya.
“Apaan sih lo No usir teman gue, nyesel gue ngajarin lo bahasa Indonesia,” Tasya menatap Nono dengan malas.
"Nama kucingnya apa, Sya?" Keano mengusap lembut kucing Tasya yang baru saja menghampirinya.
“Namanya Fushing, sama kaya yang punyanya suka bikin orang lain pusing,” Nono mengawasi para pelayan yang mengantarkan makanan menuju meja makan.
“Ngadi-ngadi, Nono mendingan lo sekolah deh, gue juga punya teman yang pinter banget ngomong sama kayak lo.”
“Gak, nanti banyak cewek yang naksir gue, kasian kan saingan lo jadi banyak.”
“Cih, lo sakit kepala ya,” Tasya menatap malas Nono yang berjalan menghampirinya.
“Kalau ada apa-apa tinggal tekan, udah disetting. Selamat makan,” Nono meletakan HT di atas meja makan sebelum meninggalkan Tasya dan Keano.
“Thanks,” Tasya mengirim pesan teriak melalui HT kepada Nono yang sudah ada di luar mansion.
“Fluffys.” Panggil Tasya lembut sambil mengambil piring.
“Meaong,” kucing itu menyahut karena namanya dipanggil.
“Turun dari meja, yang sopan sama tamu,” Tasya berbicara baik-baik, tapi sorot matanya sangat tidak baik.
“Meaong...” Kucing itu menurut, turun dari meja dan pergi entah ke ruangan mana.
“Ini piringnya, makanannya ambil sendiri ya.” Tasya meletakkan satu piring di hadapan Keano.
***
“Meaong...”
“Ngapain lo balik lagi... Teman gue belum selesai makan udah lo samperin aja,” Tasya melakukan protes kepada kucingnya yang menjilati kaki Keano.
Keano yang sedang makan salad buah terkekeh lalu bangkit dari duduknya, “Gue duluan, Sya.”
Tasya menatap miris Kucingnya yang membawa Keano yang sepertinya menuju ruang TV.
“Huh,” Tasya menghela nafas pendek dan segera menghabiskan hidangan penutupnya.
Tasya duduk di samping Keano lalu meletakkan tab dan juga kamera SLR yang dipinjamnya dan terakhir menatap kucing kesayangannya yang yang berada di pangkuan Keano.
“Fys... lo gak kangen sama gue?”
“Meaong.” Fluffys memejamkan matanya.
Tasya mendengus kesal melihat tingkah kucingnya.
Tasya tidak tertarik menonton televisi jadi dirinya memainkan tab, “Kea, handphone lo mana?”
“Ketinggalan di mobil kalau gak salah, kenapa?” Keano mengelus lembut Fluffys.
“Gakpapa, gue kira handphone lo disilent, di grup ramai.”
__ADS_1