
TL Corporation, perusahaan yang mengatur tata manajemen dari dua bidang usaha yaitu Butik dan cafe. Bangunan 15 lantai yang terletak di wilayah yang begitu strategis.
“Selamat sore, nona.” Pegawai resepsionis membungkuk hormat kepada Tasya yang masih memakai seragam sekolah.
“Iya, selamat sore juga,” Tasya membalas ramah. Lalu segera berlari menuju lift karena semakin banyak yang menyapanya.
“Selamat sore nona cantik, boleh saya bergabung masuk lift,” ucap Keano formal.
“Oh, silahkan mas ganteng,” Tasya membuka jalan sambil terkekeh geli.
“Mau lamar pekerjaan ya mas?” tanya Tasya seperti tidak mengenali Keano.
Keano menoleh dan bibirnya sedikit terangkat, “Bukan, saya mau lamar anak orang,”
Tawa Tasya pecah, “Gak nyangka gue, seorang Keano Algesha bisa seperti ini.”
“Kenapa tidak bisa?” Keano tidak mengalihkan perhatiannya dari Tasya.
Ting!
Seorang wanita berkacamata dengan rok abu selutut dipadu dengan blues putih dengan rambut diikat satu membungkuk hormat setelah pintu lift terbuka menampakkan Tasya dan Keano yang masih bercanda tawa.
“Selamat datang kembali, nona.”
“Saya bukan orang yang terhormat,” Tasya segera merangkul wanita yang terlihat beberapa tahun labih tua darinya.
“Anda Luna, benar? Sekretaris setia mami saya,” Tasya masih merangkul wanita itu seperti merangkul sahabatnya Teresa dan Mita.
“Benar, Nona. Saya sekretaris mami Nona,” Luna terasa kikuk dengan perlakuan Tasya. Tapi dirinya mencoba memahami dan tetap berjalan membawa bos mudanya itu menuju ruang CEO.
Keano membuntuti Luna yang membawa Tasya menuju ke suatu ruangan.
“Ini ruangan Nona, saya mau ambil sebuah dokumen yang sudah saya bicarakan di telpon. Permisi,” Luna memberikan hormat lagi sebelum meninggalkan ruangan.
Tasya mengamati seisi ruangan. Sudah dua kali diri mendatangi kantor ini. Tapi, ruangan ini baru didatanginya.
Saat pertama kali Tasya datang ke kantor ini, dirinya hanya menemui meja resepsionis dan menandatangi sebuah dokumen yang diperintah grandpanya.
“CEO cilik,”
Tasya yang sedang menduduki sambil memainkan kursi kebesarannya yang diputar putar mendadak berhenti setelah mendengar ucapan Keano.
“Eh, mas ada di sini, ada yang bisa saya bantu?” tanya Tasya dengan gaya formal.
“Saya butuh pekerjaan,”
Tasya menaikkan kedua alisnya, “Pekerjaan?”
“Sebentar,” Tasya membuka salah satu buku yang tersusun rapi di atas meja.
“Sayang sekali, perusahaan ini sedang tidak membuka lowongan pekerjaan.” Tasya mengucapkannya dengan kecewa.
“Benarkah? Tidak ada satupun pekerjaan yang tersisa untuk saya?”
Tasya terkekeh sebentar, “Staff administrasi penuh, staff keuangan dan yang lainnya juga sudah penuh.” Tasya menggelengkan kepalanya.
“Maaf, sepertinya Nona melewatkan satu staff. Staff bagian suami bukankah belum terisi?”
__ADS_1
“Suami?” Tasya membulatkan kedua matanya. Sementara Keano mengangguk mantap.
“Suami,” gumam Tasya tidak percaya.
“Staff macam apa itu?"
Keano terkekeh, “Sya...” Keano tidak melanjutkan perkataannya.
“Nona, maaf ini dokumennya dan si pengirimnya juga menitipkan surat,” Luna datang kembali lalu meletakkan sebuah map merah dan amplop putih di hadapan Tasya.
“Nona apa dia kekasihmu?” bisik Luna sambil memperhatikan Keano yang sedang menunduk fokus dengan ponselnya.
“Apakah ada pertanyaan lain yang lebih penting?” Tasya membuka amplop putih yang berisi surat.
“Sebenarnya ada,” Luna terkekeh malu.
“Apakah nona akan mengambil alih perusahaan ini, dan akan bertanggung jawab penuh tentang kelangsungan perusahaan ini?”
Tasya melirik Luna, “Ya, saya akan bertanggung jawab, kenapa?”
Luna terlihat begitu antusias sampai salah tingkah, “Benarkah. Ah, tunggu sebentar,” Luna berjalan setengah berlari ke luar ruangan.
Kedua bola mata Tasya membulat karena Luna kembali dengan membawa setumpuk dokumen.
“Ini pekerjaan seorang CEO,” Luna meletakkan dokumen yang dibawanya lalu diletakkan di atas meja.
Keano menaikkan kedua alisnya, sementara Tasya menelan ludah.
“Sebanyak itu?” Tasya menatap Luna tidak percaya.
“Oh, ini belum seberapa,” Luna nyengir kuda.
“Apa?” Tasya yang selesai membaca surat kini sedang membaca sebuah dokumen.
Luna berdehem, “Saya masih punya satu pertanyaan lagi, boleh?”
“Silahkan,”
Luna membenarkan kacamatanya lalu meremas jari jemarinya, “Saya belum menikah.”
Tasya menoleh, “Dimana letak pertanyaannya?”
Keano yang sedang memainkan ponsel terkekeh pelan.
“Maksud saya... Bolehkah saya menikah?” Tanya Luna kaku.
“Tentu, silahkan jika Mbak Luna punya calon suaminya. Sebenarnya Mbak Luna tidak perlu bertanya seperti itu kepada saya,” Tasya tersenyum sambil menggaruk pipinya.
“Ah, benarkah. Saya ingin menunjukkan sesuatu kepada Nona,” Luna ke luar ruangan dan kembali lagi sambil membawa sesuatu di tangannya.
“Apa ini? Kontrak perjanjian kerja,” Tasya membaca judul dokumen yang diberi oleh Luna.
“Siapa yang membuat kontrak gila seperti ini,” ucap Tasya sambil membaca satu persatu aturan yang ada di dalam dokumen tersebut.
“Benarkah, syukurlah anaknya tidak segila ibunya,” Luna bernafas lega.
“Oh, ternyata ibu saya yang buat, maafkan ibu saya. Saya akan mengubah kontrak perjanjian ini,” Tasya menutup dokumen kontrak perjanjian itu.
__ADS_1
“Nona, bolehkah saya pulang cepat untuk hari ini saja?” Wajah Luna terlihat memohon.
“Hah? Pulang cepat,” Tasya melirik dokumen yang menumpuk di hadapannya.
“Kenapa buru-buru? Kalau Mbak Luna gak ada, siapa yang membantu saya membereskan semua dokumen ini.”
Luna menggaruk kepalanya, kenapa bosnya yang memohon kepadanya.
“Dokumen ini tidak perlu selesai hari ini semua, kita bisa membereskannya di lain hari. Boleh ya nona, izinkan saya pulang cepat, hari ini hari anniversary saya dan kekasih saya yang ke satu bulan.”
“Anniversary? Satu bulan?” Tasya teersenyum miris. Sementara Keano kembali terkekeh.
Sebenarnya yang masih remaja di sini itu siapa? Kok bisa mami bertemu dengan Luna, Tasya membatin.
Tasya menghela nafas, “Mbak Luna boleh pulang cepat untuk hari ini saja dan semoga hubungan kalian berakhir di pelaminan.”
Luna menjerit bahagia lalu mencium pipi Tasya. “Semoga hubungan kalian juga berakhir di pelaminan.”
Mata Tasya membulat lalu menghapus jejak ciuman Luna di pipinya, “Hubungan siapa?”
“Hubungan kalian,” Luna menggunakan jari telunjuk kanan untuk menunjuk Tasya dan telunjuk kirinya untuk menunjuk Keano, lalu kedua jari telunjuk itu menyatu.
“Permisi,” Luna lebih dulu keluar ruangan sebelum Tasya mengatakan kata ancaman yaitu pecat.
Tasya memeriksa satu per satu laci meja dan akhirnya menemukan sesuatu yang dicarinya yaitu CV milik Luna.
“Luna Paramitha, lahir di Jakarta, umur dia sekarang 27 tahun, ya dia 27 tahun,” Tasya menghitung tahun kelahiran Luna.
“Hobi baca novel dan-“
Hihihi hihihi
Hihihi hihihi
Tasya mencari ponselnya yang berdering di dalam tas.
“Ringtonenya horor, Sya,” celetuk Keano datar.
“Teresa kayaknya yang ganti, nomor siapa?” Tasya mengerutkan alis menetap nomor tanpa nama yang menelponnya.
“Hallo... siapa?”
“Lo ternyata, ngapain telpon gue, hah?”
“Gak, gue sibuk.”
“Gue gak di rumah.”
“Di rumah ada Nia kok, lo ajak jalan aja dia,” Tasya terkekeh lalu menutup telpon.
“Kea, ke tempat lo yuk,” Tasya bangkit dari duduknya.
“Mau apa, Sya.” Keano masih sibuk dengan ponselnya.
“Ya mau minta file avarelic lah, masa mau pacaran. Buruan Kea, time is money.” ucap Tasya yang sudah ada di ambang pintu.
Yang barusan menelepon Tasya adalah Rajaya, dengan nama Rajaya saja Tasya langsung ingat dengan avarelic.
__ADS_1
“Tapi sebelum ke tempat lo temenin gue cari tab ya,” Tasya berjalan lebih dulu menuju lift.