Teman Tapi Manja

Teman Tapi Manja
Ch. 3 - Keano Algesha


__ADS_3

Dua Minggu Berlalu


“Nia, nama sekolah lo apa?”


“Nia! Polong..., Nia Polong, sumpah ya pol-” Tasya menggedor gedor pintu kamar nia.


“Garuda Internasional School, Sya. Lo belum mandi?” Nia keluar kamar dengan seragam sekolah yang sudah rapih, sementara Tasya yang sudah mendapatkan jawaban yang diinginkannya segera pergi menuju kamarnya.


“Mami gak bangunin Tasya?” Nia menuruni tangga lalu melihat maminya sedang menyiapkan sarapan.


“Mami bangunin kok, sayang. Mungkin dia gak denger, jam 3 baru pulang.”


Nia mengangguk lalu menyantap roti yang sudah dibalut selai kacang oleh maminya.


“Papi udah berangkat, Mi?” Tanya Nia disela makannya.


“Udah, ada meeting pagi ini katanya, kamu gapapa kan berangkatnya sendiri, kalau nungguin Tasya kamu pasti telat deh.”


“Aku berangkat, Mi.” Nia memasukan kotak bekal ke dalam tasnya sebelum pergi.


“Hati-hati, sayang.”


***


Saat ini Tasya sedang bertarung dengan waktu, mulai dari mandi yang biasanya ia habiskan setengah jam dan setengah jamnya lagi dihabiskan untuk merapihkan penampilannya, tapi kali ini Tasya melakukan semua itu tepat 20 menit selesai.


“Tasya gak sarapan dulu?” ucap mami Sandra yang sedang menonton televisi.


“Gak,” Tasya berjalan setengah berlari menuju halaman depan.


Shit! Hari pertama masuk sekolah ancur banget, umpat Tasya sambil nyetir mobil dengan kesetanan.


Perjalanan yang harusnya ditempuh dengan waktu 30 menit dengan keadaan lalu lintas normal tidak berlaku bagi Tasya.


Tasya bahkan hanya perlu setengah dari waktu tersebut untuk sampai di sekolah meskipun keadaan lalu lintas cukup ramai.


“Beneran gerbangnya belum ditutup?” Tasya tertawa cekikikkan, lalu mengikuti rambu lalu lintas yang mengantarnya menuju parkiran.


“Gak salah lagi sekolah ini punya gerbang ganda. Lanjut sekolah gak ya?” Tasya sedikit bimbang.


“Mana benteng sama pagarnya tinggi banget, tunggu upacara selesai dulu deh, gue murid baru ini.” Tasya menyandarkan punggungnya berniat melanjutkan tidur yang terganggu sambil menunggu upacara selesai.


Tasya berdehem beberapa kali lalu melangkah mantap menghampiri gerbang yang baru terbuka beberapa menit yang lalu.


“Pak, ke parkiran bentar, ada yang tertinggal.”


“Lo telat?”


Tasya hampir melompat kaget. ini orang wajahnya nyebelin banget, maki Tasya lalu tidak peduli dengan orang tersebut, Tasya segera menghampiri satpam sekolah.


“Pak, saya murid baru. Tapi sudah daftar dan sudah keterima juga cuma belum punya seragamnya doang. Saya juga gak tahu masuk ke kelas yang mana, kasih tahu dong pak solusinya.”


“Aduh, Dek maaf bapak gak tahu, Adek bisa minta tolong sama dia, dia anggota osis pasti bisa bantu adek banget.”

__ADS_1


Tasya tersenyum miris, “oh, gitu ya pak. Makasih ya pak.”


“Ikut gue.”


Sumpah itu wajah datar amat calon-calon psikopat, Maki Tasya dalam hati.


“Gue tunggu di sini, mobil lo pasti jauh males kaki gue jal-“ Tasya menutup mulutnya rapat rapat tidak melanjutkan protesnya lagi.


Matanya tajam banget, beneran psikopat ini orang. Tasya menatap punggung pria yang berjalan di depannya dengan sinis.


“Lo murid pindahan?”


“Hm.”


“Jangan samain sekolah lo yang dulu dengan sekolah ini.”


Tasya menaikkan alisnya, “Hm.”


“Paling depan gila, rajin amat lo sekolah, anak mami pasti ini.” Tasya menepuk pelan mobil berwarna abu.


“Lo cari ini?” ucap Tasya setelah menemukan kertas yang terjilid rapih tersimpan di kursi belakang.


“Elah nama lo Keano Algesha. Lo mau tahu nama gue gak?” tawar Tasya dengan senyum khasnya.


Keano merebut kertas dari tangan Tasya.


“Ah, gak asyik lo?” Tasya mengejar keano yang sudah jalan meninggalkannya.


“Tunggu di sini.”


“Iya. Cuek amat lo, jomblo akut ya?” Tasya mengatai Keano saat cowok itu berjalan keluar ruangan.


Tasya melihat seorang pria bername tag Sudirman yang tertempel di pakaian dinas, pakaian yang sama dengan pakaian yang umun dipakai oleh guru.


Pak Sudirman memasuki ruangan lalu menyapa Tasya, “Ini siapa, Tasya bukan?”


“Ia pak ini Tasya.” Tasya bangkit dari duduknya lalu tersenyum ramah, bersamaan dengan datangnya Keano.


“Ngapain lo ke sini lagi?” Protes Tasya pelan kepada Keano. Tetapi Keano terlihat tidak peduli.


“Tasya Edellyn,” Pak Sudirman menyebut nama lengkap Tasya sambil memakai kacamata dengan sebuah map yang berisi beberapa kertas di dalamnya.


“Silahkan duduk, ada Kea juga?” Pak Sudirman baru menyadari keberadaan Keano. Keano hanya mengangguk pelan sebagai jawabannya.


“Tasya, sendirian ke sekolah?” Pak Sudirman melirik Tasya, dan sebagai jawabannya Tasya mengangguk.


“Semuanya sudah beres hanya saja kamu belum memiliki seragam sekolah,” Pak Sudirman memeriksa kembali dengan teliti dokumen yang ada di tangannya.


“Ukuran seragam kamu apa, Tasya?”


“S, Pak,” jawab tasya.


“L, Pak.” Keano menyahut.

__ADS_1


Tasya melotot, sementara Pak sudirman bingung harus menulis ukuran apa.


“Aapan si lo.” Tasya tidak terima, lalu menatap Keano dengan kesal.


“Tulis L, Pak.” Keano tidak peduli dengan protes Tasya.


“Pak, saya yang mau pakai. Ukurannya S pak.” Pinta Tasya. Pak sudirman semakin bingung.


“Stop, stop.” Pak sudirman menatap keano dan tasya secara bergantian.


“Bener kata keano dan biar posisi bapak aman juga bapak tulis L, Kebesaran lebih baik daripada kekecilan. Supaya bapak tidak di protes orang tua kamu juga.” Pak Sudirman menulis L.


“Nah, Kea antar Tasya ke koprasi siswa bawa kertas ini. Tasya jangan lupa setelah dari koperasi temuin bu Nina di ruang guru.”


“Siap, Pak.”


Keano mengambil kertas dari pak sudirman lalu berjalan menuju koperasi, sementara Tasya membuntutinya di belakang.


“Buka kacamata lo, ini sekolah bukan pantai.” Protes keano setelah melirik Tasya yang berjalan di belakangnya.


“Kea, gue itu malu diliatin orang orang, seragam gue beda.” Tasya berjalan di samping Keano.


“Eh?” ucap Tasya spontan.


“Kea, sumpah lo orangnya gak asyik banget.” Tasya menyesali tindakannya yang berjalan di samping Keano, karena cowok itu merampas kacamata hitam kesayangannya.


“Tasya, seragamnya mau dipake sekarang?” Tanya petugas koperasi.


“Kayanya ngak deh Bu, soalnya belum dicuci dan kebesaran juga.” Tasya melirik Keano lalu memberikan tatapan mata malas.


“Kalau begitu nanti ibu simpan di pos satpam pertama ya, kamu tinggal ambil saja saat pulang sekolah nanti.”


“Oke, Bu.”


“Kea, lo mau kemana, balikin kacamata gue dulu.” Tasya mengejar keano yang sepertinya ingin masuk kelas.


“Nih.” Keano menyodorkan buku kecil yang berjudul tata tertib sekolah.


“Apaan si lo, gue minta kacamata bukan ini?” Tasya melempar buku itu ke dada Keano.


“Baca makanya,” Keano menyimpan buku tata tertib sekolah ke tangan Tasya.


Tasya menatap punggung Keano yang semakin menjauh diiringi sumpah serapah yang keluar dari mulutnya dengan suara yang sangat pelan.


“Permisi, Ibu mau tanya, kok mejanya ibu Nina kosong ya?”


“Ibu Nina jarang ke sini, biasanya beliau langsung ke ruang Bk.”


“Oh, begitu ya bu. Makasih Bu.” Tasya keluar dari ruang guru yang luasnya bisa menampung sekitar 50 guru.


“Pasti ruangan ini jadi langganan gue nanti,” Tasya mendorong pintu yang tertulis Bimbingan Konseling.


Saat Tasya masuk dirinya sudah ditodong dengan sepasang mata yang langsung menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki.

__ADS_1


__ADS_2