Teman Tapi Manja

Teman Tapi Manja
Ch. 6 - Rara


__ADS_3

“Dimas!” Bu Firda selaku guru Kimia begitu terkejut saat membaca kertas biodata yang sepertinya milik Dimas.


Sementara di pojok belakang sana, sang pelaku bersama temannya kecuali Rajaya, tertawa seperi orang bengek yang kesurupan.


“Maklum Bu, Dimas waktu kecilnya kurang imunisasi,” ucap Rian yang tawa bengeknya sudah reda.


“Coba, ibu mau tahu, siapa yang namanya Tasya?”


Tasya mengangkat tangannya, lalu tersenyum ramah kepada Ibu Firda.


“Ya ampun, Dimas.” Ibu Firda melototi Dimas setelah tahu siapa muridnya yang bernama Tasya.


Ibu Firda menghela nafas panjang setelah membaca biodata seisi kelas, “Belajar efektifnya minggu depan saja, ya. Hari ini ibu akan menjelaskan bab-bab apa saja yang akan kita pelajari di kelas sebelas ini-“


Sudah berapa puluh kali Tasya menahan keras untuk tidak menguap lebar-lebar. Cara mengajar Bu Firda membuat Tasya boring dan suntuk, terlebih dirinya duduk sendirian, tidak ada teman ngobrol untuk menghilangkan rasa kantuknya.


“Akhirnya pelajaran Ibu habis juga, kita ketemu lagi minggu depan, ya.” Bu Firda menuliskan kegiatan belajarnya hari ini di agenda kelas.


“Siapa pelajaran selanjutnya?”


“Pelajaran Bu Eka,” teriak Dimas yang sudah menjabat sebagai ketua kelas.


“Oh. Dimas belajar dulu yang bener.” Nasihat Bu Firda kepada Dimas sebelum ke luar kelas.


“Anak-anak kalian istirahat dulu, Ibu gak suka kalau pelajaran ibu kepotong sama istirahat,” suara dari ambang pintu terdengar tepat setelah Bu Firda keluar kelas.


“Apa sih yang nggak buat ibu,” sahut dimas.


“Dimas lagi, Dimas lagi,” Kata-kata terakhir yang diucapkan Bu Eka sebelum pergi.


“Sya, mau kemana, Lo gak mau ajak kita?” Mita sedikit berteriak.


“Ke toilet doang, Ta. Ngantuk gue, mau cuci muka.” Tasya menaikkan dua alisnya melihat dua temannya merangkul keluar kelas.


“Emang ya, lampu taman pengen banget gue konsletin sama otak-otaknya, habis itu gue mutilasi dan gue buang ke sungai kaya limbah pabrik.” Maki Teresa sepanjang jalan.


Gadis itu merasa jijik dengan ulah dimas yang ganjen kebangetan saat berpapasan di koridor.


“Re, kalau benci sama orang itu makinya jangan berlebihan, nanti lo naksir mampus lo.” Celetuk Mita.


“Yang bener?” Teresa dan Tasya ucap berbarengan.

__ADS_1


“Elah, ada apa ini?” Mita menahan tawanya, “Bodohnya kalian percaya sama omongan gue,” Tawa Mita pecah.


“Sya, maafin gue yang ninggalin lo berangkat sekolah.” Nia menghampiri Tasya di ambang pintu.


“Apaan si.” Tasya menepis kasar lengannya yang dipegang Nia.


“Woi, lo anak baru minta dikasih pelajaran ya.” Teman sebangku Nia menghampiri Tasya dengan percaya diri, sementara Nia dihampiri oleh dua siswi yang sepertinya teman satu gengnya juga.


“Ra, udah,” Nia gagal menghadang Rara yang sepertinya ingin memberi pelajaran kepada Tasya.


“Lo tahu sopan santun gak?” Rara mendorong bahu kanan Tasya.


“santai, dong lo.” Teresa membalas perlakuan Rara yang kurang ajar pada temannya.


“Woi, ada apa nih?” Dimas and the geng masuk kelas, cukup terkejut melihat teman sekelasnya berkumpul mengelilingi Rara yang dipenuhi amarah menatap tajam Tasya dan dua temannya.


“Drama banget hidup lo.” Tasya mengibaskan bahunya, menghilangkan jejak bekas tangan Rara.


Rara yang sudah dipenuhi emosi mencengkram kerah baju Tasya menggunakan dua tangannya sampai tubuh tasya mentok di papan tulis.


“Woi, ANJIR. STOP!” Dimas tidak habis pikir dengan adegan yang dilakukan Rara.


Tasya menepis lengan yang merusak kerah bajunya, lalu membenarkannya dengan kasar.


Tasya menabrakkan bahunya ke bahu Rara, sampai tubuh Rara berputar.


“Apa lo!” Tasya kembali memancing emosi Rara dengan memberinya tatapan nyolot, sebelum berjalan ke bangkunya.


Setelah keluar dari kerumunan, Tasya melihat Keano yang sedang duduk anteng di bangkunya. Ya, hanya dia, karena teman-teman yang lainnya asyik menonton aksi Tasya dan Rara, tidak seperti Keano yang terlihat tidak peduli.


“Sudah, ya. Sudah. Bubarlah rakyatku yang bodoh.” Dimas seperi sedang membubarkan masa yang yang ingin tawuran.


“Ra, kalau mau pamer ilmu tapak suci jangan ke gue dong.” Dimas mengangkat tangan sambil tersenyum miris melihat Rara mengepalkan tangannya keras.


Semua kelas sudah kondusif, duduk di bangkunya masing-masing, kecuali Tasya yang duduk bertiga bersama dua temannya. Tapi Rara masih melototi Tasya yang sudah tidak peduli dengannya.


“Sya, maaf ya. Atas kesan kelas gue di hari pertama lo masuk di sekolah ini.” Dimas mencairkan suasana kelas.


Tasya yang sedang asyik dengan Mita dan Teresa, menaikkan kedua alisnya lalu menoleh ke tempat Dimas berada, “It’s okay. Santai saja.”


Tasya tersenyum ramah kepada Dimas, lalu mengalihkan pandangannya ke Nia dan Rara sambil memberi senyum mengejek.

__ADS_1


Rara berdiri sambil menggebrak meja keras, “Woi, sini lo kalau mau ribut sama gue, muka lo ancur baru sadar.”


Tasya dan dua temannya tertawa cekikikkan. “Yaelah, maafin deh, muka jujur gue mah memang suka cari ribut sama orang kayak lo,” ucap Tasya dengan kode tangan meminta maaf.


“Lo bisa kurang ngajar diajarin Teresa si anak pungut, ya?” ledek Rara.


“WOI! Masalah lo sama gue, gak usah bawa-bawa yang lain!” Tasya menunjukkan taringnya, sampai membuat Rara terintimidasi dan duduk kembali termasuk teman sekelasnya, apalagi Dimas.


“Sya, duduk Sya.” Mita dan Teresa menarik lengan Tasya agar mau duduk, meskipun Tasya nurut tapi mata tajamnya belum mau lepas ataupun berkedip untuk berhenti mengintimidasi Rara.


“Sudah, dong semuanya, rakyatku tercinta.” Dimas berjalan sampai berhenti di depan kelas.


“Sya... coba liat ke sini,” Pinta Dimas dan langsung dituruti Tasya. Dan dengan mudahnya Tasya langsung berganti ekspresi menjadi ramah.


“ngelose jantung gue, Sya. Lo tahu gak, marahnya lo pengen gue cium, ramahnya lo pengen gue kurung lo di kamar gue.”


“Tai, lo Dimas.” Maki Rian dari bangkunya.


“Mau banget gue nyumpal mulut lo,” Mita nyolot.


“Sudah dong, semuanya. Bro and Sis kita itu satu kelas harus kompak, kalau ada masalah cerita ke gue.” Dimas berbicara seperti sedang berpidato.


“Merdeka!” Teriak Farel dari bangkunya lalu dicopy paste oleh Rian.


“Gak boleh jotos-jotosan, ancam-ancaman, apalagi tikung-tikungan,” Dimas tertawa di akhir ucapannya.


“Kalo ngomong, yang jelas, dong... lampu taman,” Teresa memutar bola matanya malas.


“Re, kalau mau dicium sama gue bilang saja, jangan malu-malu.”


“NAJIS!” Teresa terlihat jijik mendengar kalimat yang diucapkan Dimas.


“Janji, ya. Untuk semua rakyatku yang ada di dalam kelas ini gak boleh macam-macam kayak jotos-jotosan-“


“Dimas, kenapa gak duduk?” Tanya Bu Eka yang sudah ada di pintu.


“E..., ini mau duduk kok, Bu.” Dimas berjalan menuju tempat duduknya.


“Dimas lagi bisulan, bu. Susah duduk lama-lama, jadi caper ke depan kelas.” Celetuk Farel dan Jidatnya langsung ditoyor Dimas.


“Pokoknya, gak ada yang bercanda saat pelajaran ibu. Ibu sudah kasih istirahat duluan, gak boleh ada yang merengek lapar ataupun izin ke toilet, paham semuanya?”

__ADS_1


“Paham, Bu.” Jawab seisi kelas.


__ADS_2