
Bu Nina selaku guru BK dan juga wali kelas XI IPA 1 menghela nafas panjang setelah mendengar penjelasan Keano.
“Keano boleh ke kelas, Tapi kalau pelajaran Bu Eka sudah beres balik lagi ke Ibu, ya.”
Keano menganggukkan kepala sebelum meninggalkan ruang BK.
“Tasya, kamu baru masuk sekolah harusnya perbanyak teman bukan musuh. Kamu juga Manda, sebentar lagi lulus harusnya belajar yang benar jangan main mulu.” Bu Eka menghela nafas melihat Tasya dan Manda yang sedang perang mata.
“Ikut Ibu.” Bu Eka keluar dari ruangan BK lalu di susul Tasya, Manda dan juga dua temannya.
“Ini untuk anak-anak ibu yang cantik,” Bu Eka membagikan sapu injuk.
“Auditorium kita berdebu, jadi ibu minta kalian sapu yang bersih. Dan ingat jika kalian mengulangi kesalahan lagi hukumannya akan lebih berat dari ini.” Bu Eka duduk di kursi yang tersedia di auditorium.
“Semua gara-gara lo,” Manda menyalahkan Tasya sambil menyapu walaupun asal-asalan.
Tasya berdecak kesal, “Gue? Ya, gara-gara lo lah, coba kalo lo gak ke kelas gue pasti gue sekarang lagi belajar.”
Manda mengumpat tapi tidak bersuara, bibirnya tidak berhenti bergerak seperti sedang mengejek Tasya.
***
Keano masuk kelas, semua pasang mata langsung tertuju padanya, bahkan Bu Eka pun sampai menjeda ucapannya.
“Ehem,” Bu Eka berdehem agar anak-anak kembali fokus kepadanya.
“Kita mulai saja belajarnya, karena Tasya juga tidak mungkin datang cepat. Sebelum ibu membahas bab pertama, ibu akan memberi beberapa soal terlebih dahulu sebagai pemanasan.”
“Ini bukan beberapa soal Bu, tapi setumpuk soal,” Teresa bergumam sambi menatap 25 soal matematika yang tercetak pada selembar kertas hvs.
“Re, gimana dong? Kita gak bisa nyamperin Tasya.” Mita yang sudah mengganti seragamnya terlihat tidak semangat belajar.
Teresa berpikir sejenak lalu menghembuskan nafas pelan dan menggelengkan kepala ke arah Mita.
“Bu, saya izin ke toilet,” ucap Rajaya dari tempat duduknya.
Bu Eka menoleh, “Gak.”
“Saya kebelet, Bu.” Rajaya memohon.
Bu Eka menahan tawanya, belum pernah melihat Rajaya sememohon ini bahkan duduk satu bangku dengan Tasya saja Bu Eka sangat terkejut.
“Kamu bukan mau ke toilet, tapi mau samperin Tasya kan? Ibu gak izinin kamu keluar kelas.”
Rajaya meletakkan pulpen dengan kasar, “Saya gak mau kerjain tugas dari ibu.”
Bu eka menanggapinya dengan senyuman tipis, memang sejak kapan Rajaya mau mengerjakan tugas, mungkin itulah isi hati Bu Eka.
“Rajaya! Jika sampai kamu keluar dari kelas ini, ibu panggil mami kamu ke sekolah,” ancam bu Eka saat Rajaya bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Rajaya berdecak kesal lalu membenamkan wajahnya ke meja.
Lima belas menit berlalu, Rajaya kembali membuka wajahnya sambil menatap Keano yang telah selesai mengerjakan soal matematika.
“Bu, saya izin ke ruangan Bu Nina, boleh?” Tanya Keano.
“Silahkan, lagipula ibu juga akan membahas materinya minggu depan.”
“Cih,” Rajaya tersenyum mengejek saat Keano keluar kelas.
***
“Ibu mau ke ruanng BK dulu, kalian lanjutkan nyapunya,” Bu Eka bangkit dari duduknya.
Manda menghempaskan sapu dengan kasar setelah Bu Eka pergi, “Heh, Tasya! Lo nyapu yang bersih.”
“Ogah!” Tasya ikut menghempaskan sapunya kasar lalu melipatkan duaa tangannya di depan dada sambil berjalan menuju kursi yang tadi diduduki oleh Bu Nina.
“Lo kurang ngajar banget sama gue,” Manda menghampiri Tasya dengan emosi yang sudah memuncak.
“Lo harus menderita kayak gue,” Manda menunjuk dirinya sendiri yang berantakan.
Tasya tersenyum mengejek sambil menatap Manda yang menghampirinya.
“Lo yakin mau lawan gue pakai tangan kosong?” Tanya Tasya sambil duduk santai.
Manda mengepalkan tangannya lalu mengambil sapu yang tergeletak di lantai, “Jangan salahin gue, lo yang minta.”
Manda dan Tasya menjauh setelah dipelototi Bu Nina.
“Kalian berdua sini,” Bu Nina menggelengkan kepala melihat Tasya dan Manda secara bergantian.
“Keano,” Bu Nina melirik Keano yang sedari tadi ada di sampingnya.
Keano mengangguk karena paham apa yang dimaksud Bu Nina.
“Ambil,” Keano mengulurkan tangan yang memegang dua buku kecil.
Manda menerimanya sambil berdecak kesal.
“Apa ini?” Tasya menaikkan kedua alisnya sambil mengambil buku kecil dari tangan Keano.
“Poin Beg*!” Manda meninggalkan Tasya lalu mengambil sapu kembali.
“Tasya lanjutkan kembali hukumannya. Keano, awasi mereka soalnya ibu ada rapat sebentar.” Bu Nina kembali meninggalkan auditorium.
Tasya menatap Keano dengan mata malas lalu menghampiri Manda yang sedang duduk di kursi, “Lo nyapu atau lo yang gue sapu.”
Manda berdecak kesal sambil memegang betisnya yang sakit. Saat berkelahi tadi, walaupun Manda memegang sapu tapi hal itu tidak membuat dirinya unggul.
__ADS_1
Bukan hanya berhasil menghindari pukulan Manda, Tasya juga berhasil membuat badan Manda remuk.
“Aduh sakit, ya. Balik sekolah jangan lupa diurut, bawa dua teman lo juga,” Tasya menunjuk dua teman Manda yang sedang menyapu serius.
“Kita liat besok. Riwayat lo mati di tangan Alda,” Manda meraih sapu sambil menatap Tasya dengan senyuman miring.
“Ngomong sama kaki gue,” Tasya duduk di kursi sambil bertumpang kaki.
Manda tersenyum mengejek lalu melirik Keano yang sedang berjalan menghampiri Tasya, “Hey, boy...” Manda mengedipkan sebelah matanya kepada Keano sebelum menyapu.
“Lo juga nyapu,” Keano mengulurkan sapu kepada Tasya.
Tasya melirik Keano sekilas lalu mengacukannya.
“Lo juga lagi dihukum,” ucap Keano memaksa.
Tasya mengambil sapu dari tangan Keano sambil berdecak.
Juan? Mau kemana dia, oh auditorium deket ruang osis. Tasya membantin sambil matanya mengekori kemana Juan pergi.
“Apa maksud lo tarik-tarik gue, mau war lagi?” Manda terlihat jengkel.
“Ada cogan nyariin lo, noh.” Tasya menunjuk Juan yang baru saja keluar dari ruang osis.
“Samperin gih, lo kan udah cantik,” Tasya terkekeh.
“Sialan lo, lepasin gue Tasya,” Manda kesulitan kabur karena tangannya dicengkram Tasya erat.
“Kak Juan, lo cari Manda kan? Manda sama gue,” Tasya berteriak sambil memegang lengan Manda.
“Manda? Iya, itu anak ilang dari jam istirahat,” Juan menghampiri Tasya.
Manda panik, dirinya tidak mau bertemu Juan dengan penampilan seperti setan.
“Argh!” Tasya memegang jari-jari tangannya, entah apa yang dilakukan manda sampai membuat tangannya keseleo.
“Guys, cabut.” Manda dan dua temannya kabur dari auditorium.
“Lo gakpapa, Sya?” Juan melihat Tasya yang mengibaskan tangannya.
“Gue gakpapa, Manda kabur lewat pintu itu,” Tasya menunjuk pintu yang dipakai Manda kabur.
“Thanks,” Juan mengejar Manda.
Tasya meraba tangannya yang keseleo kemudian berjalan keluar dari auditorium lalu mencari kursi untuk di duduki.
“Ngapain ikut gue, mendingan lo ke kelas. Matematika kan sekarang?’ Tasya melirik Keano yang duduk di sampingnya.
“Ini baru Manda, belum Alda, Leo dan lainnya apalagi Ra-“
__ADS_1
“Rajaya,” Potong Tasya.
“Gak nyambung ngomong sama lo,” Tasya menatap Keano dengan malas.