
Tasya menatap Keano dengan datar, “Gak usah dikasih tahu juga kali, gue sudah tahu perusahaan bokap lo. Tukang pamer.”
“Grandpa saja nolak gue apalagi bokap lo,” Tasya mengembalikan map kepada pemiliknya lagi.
“Pesimis,”
Tasya mengerutkan dahi, “Bukan pesimis tapi realistis.”
“Belum juga dicoba realnya kan gak tahu,”
“Kea...” Tasya menghela nafas panjang. Kenapa berakhir jadi perdebatan yang alot.
“Aku bantu bilang ke papa,” Keano memberi solusi.
Tasya menggelengkan kepala, “Jangan. Oke, gue akan coba sendiri.”
“Format dokumen kerjasamanya aku kirim ke email ya,”
“Hm,” Tasya mengangguk pasrah.
“Gak bisa dibuka,” Tasya kesulitan membuka pesan email yang terpassword.
“Masa,” Keano segera menghampiri Tasya lalu mengambil alih mouse komputer.
“Lagian dipassword segala, kayak rahasia negara,” Tasya terkekeh melihat Keano yang bingung, sepertinya Keano juga lupa password untuk membuka pesan email tersebut.
“Demi keamanan Sya,”
Tasya menggosok-gosok telinga kanannya, geli mendengar Keano berbicara sangat dekat dengan telingannya.
“Modus lo pura-pura lupa, biar bisa deket sama gue kan?” Tasya memiringkan sedikit tubuhnya kekiri menjauhi Keano.
“Aku beneran lupa Sya,”
“Awas kalau boong,” Tasya memicingkan mata.
“Capek gak, mau duduk?” Tasya tidak tega melihat Keano yang mengotak-atik komputernya sambil membungkuk.
Keano melirik Tasya sekilas, “gak,”
“Kea...” Tasya menatap takjub wajah Keano yang terlihat dari samping.
“Hm,” Mata Keano fokus ke layar komputer.
“Masih lama?”
“Bentar lagi,”
"Lama juga gakpapa,"
Astaga kenapa gue keringetan gini, AC ruangan gak matikan, Tasya menelan ludahnya pelan-pelan.
“Sya... lo sakit? Kalau sakit jangan kerjain tugas kantor,”
“Hah, sakit?” Tasya terkejut dahinya dihinggapi telapak tangan Keano.
“Ini dahi kamu panas, Sya...”
“Sakit nggak pusing iya,” Tasya mengambil lengan Keano yang menempel di dahinya.
“Pusing?”
“Lo yang bikin gue pusing,”
“Aku?” Keano menunjuk dirinya sendiri menggunakan tangannya yang masih dipegang Tasya.
“Iyalah,” Tasya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan santai.
“Mau ngetik Sya...” ucap Keano polos yang satu tangannya masih dipegang Tasya.
__ADS_1
“Lo kan punya dua tangan,” ucap Tasya dengan wajah tanpa dosanya yang enggan melepaskan tangan Keano.
Akhirnya Keano mengetik menggunakan satu tangan.
“Udah bisa kebuka Sya, ternyata filenya juga lengkap ada file-“
“Lo boong ya, pura-pura lupa password, boong lo... boong, boong,” Tasya beberapa kali memukul lengan atas Keano.
“Beneran lupa Sya... email ini aja baru aku buka lagi dari 2 tahun lalu semenjak papa kirim.”
“Oh,” Tasya kembali menyandarkan punggungnya dengan memasang wajah curiga. Pintar sekali aktingnya.
Sementara Keano kembali memeriksa file-file takut berisi file korup yang datanya tidak bisa terbaca.
“Kea,” Tasya menarik lengan Keano.
“Apa Sya?”
“Kalo lo sudah jadi ketua osis pasti sibuk ya?”
Keano menoleh, “Sekali lagi? Aku gak denger.”
Tasya menatap Keano dengan malas, “Ah gak tahu gue lupa,”
“Sya, aku gak yakin jadi ketua osis, siapa juga yang mau pilih aku,”
“Merendah, lo populer di kalangan anak cewek. Gue yakin 100% anak cewek di sekolah pilih lo.”
“Kamu pilih aku kan,”
Tasya mengerjapkan matanya beberapa kali, terkejut karena sisi kanan dan kirinya di halangi lengan Keano, “Gak,awas.”
“Gak salah lagikan maksudnya.”
Tasya mengerutkan alis. “Lo sehat,” Tasya mendorong dahi Keano menggunakan punggung tangannya.
“Gak ah, doa gue suka mustajab.”
Keano terkekeh lalu menyentil dahi Tasya.
“Eh, sakit ya. Maaf,” Keano segera mengusap dahi Tasya yang memerah.
Ceklek
“Astaga,” latah Mita saat memasuki ruangan CEO milik Tasya, sementara Teresa melotot lalu berganti terkekeh.
“Anggap kita nyamuk,” Teresa dan Mita berjalan menghampiri sofa.
Tasya menyimpan ulang file-file yang dikirim oleh Keano, sementara Keano sendiri berjalan menghampiri sofa.
“Eh ngapain lo ke sini, lanjutin aja kan gue udah bilang anggap kita nyamuk,”
“Parah lo Ta,” Teresa terkekeh sambil membuka bingkisan makanan yang dibawanya.
“Enak ini, masih anget,” Tasya yang sudah selesai dengan kerjaannya segera mengambil satu potong pizza yang dibawa sahabatnya.
“Abisin, makan Kea... jangan jaga image mulu nanti hidup lo jadi jpg.”
Tasya tersedak mendengar ucapan Mita. “Parah lo, Ta.”
“Sebelum kita datang, lo berdua abis ngapain? cium-ciuman ya?”
“Lo yang parah Re,” Mita hampir mati tersedak.
“Bilang Re kalau mau dicium Kea. Kea... Teresa mau dicium sama lo,” Tasya terkekeh disela makannya.
“Up gak minat,” Teresa mengangkat kedua tangannya.
“Katanya lo pernah naksir Kea, masa dicium orangnya gak mau,” Mita membuka kartu rahasia.
__ADS_1
“Naksir versi gue beda ya terus ada gak sih cewek di sekolah yang belum pernah naksir si Kea, lo juga pernah kan?”
“Kok gue. Lo lupa Re masih ada orang yang gak tertarik sama pesonanya si Kea noh dia. Tasya gak naksir Kea,” Mita menunjuk Tasya.
“Bukan nggak tapi belum,” jawab Teresa.
“Gila lo kalau gibah di depan orangnya langsung,”
“Biar gak munafik Sya... iya gak Kea,” Teresa menyenggol lengan Keano, “Semangat, saingan lo banyak apalagi ada Rajaya.”
“Saingan apanya? Gue yakin lo berdua sudah jadian kan. Kea tlaktir dong jangan pelit kalau udah jadian,”
Keano mengacuhkan ucapan Mita seperti angin yang berlalu.
“Keano Algesha tuli, amin ya Allah,” Mita berdoa.
“Amin, aminkan Sya, doa lo kan suka mustajab,” Pinta Teresa.
Tasya terkekeh, “Doa gak baik itu gak boleh,”
“Cih ngebelain, gue jadi curiga,” Teresa dan Mita menatap Keano dan Tasya bergantian.
“Re, coba lo bilang sama Rajaya kalau lo pernah naksir dia,” Mita tertawa geli.
“Idih, besar kepala nanti dia belum lagi gaya songongnya. Nanti Rajaya balesnya gini, iyalah gue ganteng gue seksi orang buta yang gak naksir sama gue,”
“Tasya gak naksir, berarti buta dong,”
“Heh, gue gak buta. Cuma mata gue punya anti pesonanya Rajaya, hahaha,”
“Oh... pantes. Anti pesonanya buat Rajaya doang Keano si bisa lolos.” Mita menatap wajah Keano penuh selidik siapa tahu salah tingkah tapi hasilnya nihil.
“Kayaknya gue salah ngomong,” Kilah Tasya.
“Kea untung lo gak terbang, Tasya Cuma Salah ngomong,” Mita terkekeh.
“Mita parah memang,” Teresa menggelengkan kepala.
Tok Tok Tok
“Dek, ada paket,”
“Dari siapa, coba aku lihat,” Tasya mengambil paperbag hitam polos dari Luna.
“Mbak, Keano datang dari kapan?” Tanya Mita sebelum mbak Luna meninggalkan ruangan.
Luna terkekeh sambil melihat Keano dan Tasya bergantian, “Dari tadi... Mbak pergi ya masih banyak kerjaan.”
“Kamera sama handphone? Beli online Sya?”
“Gak Re, gue dikasih.” Tasya menyalakan handphone barunya setelah diisi Sim Card.
“Dikasih siapa?”
“Gue menang dari give away,” Tasya terkekeh.
“Boong lo, gue gak percaya Sya,” Mita menatap Tasya dengan datar.
“Terserah,”
“Nanti samper Salsa dulu ya,” ucap Tasya yang masih fokus dengan layar ponsel.
“Beres, samper Salsa doang si kecil, iya gak Ta.”
“Yoi.”
“Meaong,” Fluffys menghampiri Tasya.
“Fys... gue sudah dapet petshop yang bagus banget. Nanti gue titipin lo di sana, pokoknya lo bakal betah. ok."
__ADS_1