
“Eugh,”
Akhirnya Keano berhasil membangunkan Tasya dari mimpi setelah berbagai cara dilakukan.
“Ah, badan gue... pegel!” keluh Tasya sambil membuka matanya perlahan.
“Kea? Lo ada di sini,” Tasya memicingkan mata melihat orang yang membantunya duduk.
“Minum dulu,” Keano memberikan segelas air putih untuk diminum Tasya.
“Kok pahit,” Tasya meletakkan gelas dimeja lalu meraba bibir atasnya sampai ke hidung.
“Minyak angin?” mencium bau yang menempel dijari-jarinya.
“Aku pakai minyak angin mbak Luna buat bangunin kamu, Sya.”
“Kea... gue tidur bukan pingsan,” Tasya mengelapkan jarinya yang bau minyak angin ke baju seragam Keano.
“Nono,” Tasya menghampiri komputernya dan langsung duduk di kursi CEO.
“Shit,” Tasya mengumpat kesal melihat akun game milik Nono yang sudah tidak aktif beberapa jam yang lalu.
“Kenapa?”
Tasya menggelengkan kepala lalu menghembuskan nafas panjang dan tiba-tiba melotot saat melihat jam yang ada di layar komputer.
“Hah, ja-jam 6,” Tasya segera mencari koper ke pojok ruangan.
“Meaong,” dress yang dikenakan Tasya digigit dan ditarik oleh Fluffys.
“Fys, nanti ya.” Tasya berjalan tergesa-gesa menuju ke kamar mandi sambil membawa baju seragam.
“Astaga, berasa gak mandi gue,” Tasya keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut.
“Meaong.”
“Fys, gue mecahin rekor mandi selama 5 menit, hebatkan gue.” Tasya terkekeh lalu ikut duduk di sofa bersama Fluffys.
“Kotak makan siapa nih,” Tasya girang sampai handuknya dilempar sembarangan lalu membuka kotak makan yang berisi nasi goreng dan satu potong paha ayam.
Ceklek.
“Kea?” Tasya menutup kembali kotak makan yang sudah dibukanya.
“Hm... makan.” Keano meletakkan segelas susu di atas meja yang baru saja dibuatnya di pantry kantor.
“Thanks. lo belum berangkat, nungguin gue?” Tasya kembali membuka kotak makan sambil menjilat bibir.
“Hm,” Keano ikut duduk di samping Tasya.
“Hm. Hm. Hm... begitu dong inisiatif lo bagus,” Tadinya Tasya ingin mengomel tapi karena Keano menyalakan hair dryer dan membantu mengeringkan rambut Tasya yang masih basah, Tasya tidak jadi mengomel.
“Lo dah makan belum?”
“Dah,” Keano terlihat sangat serius mengeringkan rambut Tasya.
“Sya, semalam beneran abis photoshoot apa dari klub malam?”
“Sembarangan lo,” Tasya memukul kaki Keano kesal lalu kembali melanjutkan makan.
“Make up lo berlebihan, badan lo bau alkohol, baju lo ju-“
“Sut,” Tasya memotong perkataan Keano.
“Gue abis pemotretan buat katalog make up tema make up nya bold, baju? Ya, bajunya harus disesuaikan dong sama tema make upnya harus seksi, gak mungkin kan Kea... make upnya bold terus bajunya pakai mukena, au panas.” Tasya menjauhkan kepalanya, Keano sengaja mendekatkan hairdryer ke telinga Tasya.
“Terus minuman gimana ceritanya,” Keano kembali mengeringkan rambut Tasya dengan benar.
“Hm... itu. Itu gue stress, Grandpa nolak kerjasama sama gue. Maunya gue sih setelah berhasil kerjasama sama Grandpa perusahaan mami dapat suntikkan dana biar perusahaan naik level, tapi gue ditolak mentah-mentah. Gue minta tolong sama Nono, dia mau bantu tapi gue harus taruhan dulu sama dia main game dan semalam gue kalah. Lo punya solusi gak? Bantuin gue dong, lo kan pinter.” Tasya memasang tampang menyedihkan dengan mulut yang terisi nasi.
“Makannya abisin dulu,”
Tasya mengangguk dan menurut.
“Sya... lo tahu WM Grup perusahaan asing di Australia?”
“Tahu, lo gak bermaksud buat nyuruh gue kerjasama sama perusahaan itu kan?”
__ADS_1
“Kenapa?”
Tasya berdecak, “Gue minderlah, perusahaan sebesar dan sebergengsi itu diajak kerjasama sama perusahaan remahan punya mami gue ini, apalagi kalau mereka tahu yang megang perusahaan ini bocah kecil yang masih sekolah SMA, bisa diketawain gue.”
“Aku bantu bilang ke papa supaya mau kerjasama sama perusahaan kamu, Sya.”
Tasya menoleh alhasil Keano pun berhenti mengeringkan rambut Tasya.
“Cih, gila lo anak orang tajir... santai banget pula ngomongnya. Balikkin hairdryer gue, sungkan gue nyuruh-nyuruh lo.” Tasya merebut sisir dan hairdryer dari tangan Keano, tapi usahanya gagal.
“sudah selesai? Rapih juga kerjaan lo. Berangkat yuk, 20 menit lagi gerbang ditutup.” Tasya menggendong Fluffys.
“Ada apa mbak?” ucap Tasya sambil mengunci pintu ruang CEO.
“Mbak mau bantu bersihin ruangan ini, mbak dah bawa petugasnya," Luna menunjuk ob yang dibawanya.
“Jangan mbak, biar nanti pulang sekolah aku sendiri yang bersihin. Mbak bantuin aku bikinin proposal kerjasama sama cari tender-tender yang bagus juga ya, aku berangkat sekolah dulu,”
“Siap, mbak pasti bantu, di sekolahnya jangan pacaran mulu,”
“Hih siapa yang pacaran, udah ah. aku berangkat mbak, cup.” Tasya mencium salah satu pipi Luna setelah mencium tangan.
“Bye, mbak.” Tasya melambaikan salah satu tangannya karena satunya lagi digunakan untuk menggendong Fluffys.
“Bye, dek.” Luna melambaikan dua tangannya.
“Nah, aku suka panggilan itu.” Tasya berbalik lalu mengedipkan salah satu matanya.
***
“Sya... come here.” Teriak Mita saat Tasya masuk kelas.
Oho! Ohok!
Teresa terbatuk saat Keano juga ikut muncul di belakang Tasya. “Sya, berangkat sekolah bareng Keano?”
“Kebetulan doang itu Re,” Dimas menyahut agar Rajaya tidak terpancing, karena Dimas juga yang akan dijadikan pelampiasan jika Rajaya sudah kesal.
“Kalau saja Fluffys bisa ngomong, tapi kalau Fluffys bisa ngomong seru juga ya,”
Tasya yang sudah duduk di bangku depan sahabatnya lalu membelai Fluffys dengan sayang.
“Tasya sini,” Protes Rajaya karena Tasya tidak duduk di sampingnya.
“Nanti.”
“Lo ikutan les apaan sih, Rajaya? Sampai berubah segitunya demi Tasya.”
“Lo gak tahu Ta? Rajaya mau jadi profesor, otaknya fisika banget. Akhirnya otak cerdas lo dipake juga,”
“Minggir!” Rajaya mendorong Dimas yang ingin duduk di sampingnya.
“Pelit lu,” Dimas mendengus kesal.
“Rajaya lo mau tahu caranya agar bisa disayang Tasya?” Tanya Teresa setengah terkekeh.
“Apa, Re. Kasih tahu cepet kasian teman gue,” Dimas yang tidak sabaran.
“Jadi kucing sana, biar bisa disayang sama dibelai Tasya,”
“Nah,” Mita menyetujui ucapan Teresa.
“Meaong,” Fluffys menatap Rajaya setengah mengantuk.
“Gila sih... kita itu anak sma apa anak TK sih, peliharaan kok dibawa ke sekolah! Caper banget.” Sindir Rara dari bangkkunya sambil menemani Nia yang entah sedang menulis apa.
“Daripada lo pansos! Hater Tasya yang numpang tenar,” Mita nyolot.
“Yang penting gak jadi *njing penjilat kayak lo,” Rara tak mau kalah.
“Maksud lo apa *njing,” Mita bengkit lalu menantang Rara sambil bertolak pinggang.
“Sini lo kalau mau war sama gue,”
__ADS_1
“Warnya sama gue saja,” ucap Alda sambil memasuki kelas XI IPA 1.
Tasya memutar matanya malas melihat Manda dengan tampang menyebalkan berjalan di belakang Alda.
“Minta maaf, urusan kita beres.” Alda yang sudah berada di hadapan Tasya memasang wajah datar.
Tasya melirik Keano secara diam-diam, dan pandangan mereka bertemu karena Keano juga berniat ingin melihat Tasya.
Jangan gegabah adalah dua kata dari Keano yang diingat Tasya saat ini.
“Bukannya kebalik,” Tasya menaikkan kedua alis.
“Nah,” Teresa dan Mita pun ikut memasang badan.
“Lo semua yakin mau berurusan sama kita?” Tanya Alda setengah tertawa.
Tasya bangkit dari duduknya lalu berdiri bersama dua sahabatnya, “Kenapa gak yakin.”
“inget ya... kita itu cuma beda umur sama tingkat kelas bukan nyali,” Teresa melipatkan kedua tangannya di depan dada.
Di ujung sana Dimas memberikan dua jempol kepada Teresa atas nyalinya. Hanya Dimas and the gang yang berani menyimak antara perseteruan panas Alda dan Tasya, sementara yang lainnya pura-pura fokus dengan kegiatan masing-masing.
“Denger gak kak?” Tanya Mita baik-baik.
“Dengerlah, ladies avarelic gak mungkin tuli,” Tasya terkekeh.
“Oke, besok pagi gue kasih hadiah buat lo, cabut!” Alda meninggalkan Kelas Tasya dengan kesal.
“Siap-siap jatuh miskin dan gak punya muka,” Manda mendorong Tasya sampai terduduk sebelum pergi menyusul Alda.
“Kasar lo,” Mita meneriaki Manda.
Tasya menghela nafas sambil berjalan menuju bangkunya yang ada di samping Rajaya.
“Kita cuma beda umur sama tingkat kelas bukan nyali, keren lo Re,” Dimas membanggakan Teresa.
Tasya melirik dua sahabatnya, “Lain kali kalian jangan ikutan lagi.”
“Kita bukan beban lo kan Sya? Pokoknya kita bakal kawal lo terus, titik gak pake koma,” ucap Mita.
“Kalau gue masuk jurang, lo berdua mau ikut? Gak takut emang?” Tasya menakuti.
“Mau ke jurang mau kemana kita harus ikut, apanya yang harus ditakutkan Dimas sama Rajaya kan ada, atau Kea juga pasti ikut nolongin.” Teresa terkekeh.
“Kea! Cie... Kea... gak nyangka gue si Kea bisa uwu juga, bangunin tidur, kasih sarapan beh idaman,” Mita terkekeh sambil melihat Keano.
“Sama siapa? Tasya?” Rajaya melototi Mita.
“Yaiyalah, emangnya sama siapa lagi, lo dah kesalip jauh,”
“Ngada-ngada, kata siapa?” Tasya menyanggah.
“Wah, Sya lo jahat gak ngakuin kebaikkan Kea. ” Teresa tersenyum menang.
“Kita dapat fakta dari mbak Luna, Cie... Tasya, Kea,” Mita melirik Nia malas.
“Sejak kapan lo berdua dapat nomor mbak gue?” Tasya menatap dua sahabatnya datar.
“Mbak lo mbak gue juga,” Mita tersenyum menang.
“Besok aku jemput kamu ya,”
Tasya berdecak melihat lengan Rajaya yang melingkari bahunya. “gak," tolak Tasya sambil menjauhkan lengan Rajaya.
“Luar biasa bangetkan gue bisa buat Rajaya galau,” Mita terkekeh sendiri melihat tingkah Rajaya.
“Centil, genit, caper!” Rara naik pitam.
“Lo kok ngomongin diri sendiri,” Mita tersenyum mengejek.
“Susah nyuruh m*nyet ngaca,”
“Iya ratu m*nyet,” Teresa mengangguk lalu tos tangan dengan Mita.
“Makin hari makin bego!” Rara
“Sut, ada guru,” Tasya menghentikan dua sahabatnya yang senang sekali memancing emosi Rara.
__ADS_1
“Guru? Ah sial, padahal bentar lagi gue menang,” Dimas mematikan ponsel, begitu juga dengan Rian dan Farel.