Teman Tapi Manja

Teman Tapi Manja
Ch. 10 - Yang sopan sama kakak kelas!


__ADS_3

“Jadi gini, Sya.” Mita menarik nafas dalam-dalam.


“Dari kelas 10 kayaknya, Nia suka sama Keano, Tapi Keano nya saja yang gak peka plus kagak normal mungkin. Tadi juga di RO, Nia nempel-nempel banget sama Keano, memang kayak kagak ada cowok lain aja.”


Mita masih ingat saat semua pengurus osis berkumpul di RO selama 2 jam di pelajaran pertama, sebenarnya kegiatan kumpul organisasi sangat dilarang di jam pelajaran, tapi karena minggu ini masih belum efektif dalam kegiatan belajar, pengurus osis harus berkumpul untuk mempersiapkan party birtday school.


“Jijik gue sama si Nia, mukanya munafik banget.” Teresa nyeletuk.


“Dan bodohnya si Rara tertipu sampai mau jadi jongosnya,” tambah Mita.


Tasya tertawa cekikikkan, “Lo berdua benci banget sama si Nia.”


Mita dan Teresa mengangguk bersama, “Gue benci manusia penuh drama.”


“Nia sodara tiri gue,” Tasya membuat dua sahabatnya syok.


“Yang bener.” Teresa nyahut lebih dulu.


“Tapi, gue juga gak suka dia. Anak sama nyokap sama-sama suka cari muka.”


Mita mengangguk setuju, “Si Nia tuh suka banget merendah untuk meroket. Waktu kelas sepuluh gue pernah satu kelompok sama dia. Lo masih inget gak, Re? Harusnya gue yang marah karena dia gak ikut bikin kerajinan apa itu gue lupa lagi, tapi si Nia pinter banget dramanya sampai Bu Lia kalau gak salah marahin kita karena gak ngajakin si Nia katanya.”


“Pokoknya Si Nia salah banyak sama gue. Gue paling kesel saat Si Nia adu domba gue sama cabe kakak kelas.” Teresa bergidik geli.


“Udahlah, enek ngomongin dia mulu.” Mita melihat Nia, Rara dan temannya masuk lapangan basket, tidak lama anak laki-laki datang.


“Ternyata Tasya sudah ada di sini.” Dimas and the gang menghampiri Tasya dan dua sahabatnya.


“Ya ialah, emangnya lo, dandan dulu.” Teresa memutar bola matanya malas.


“Kan biar ganteng lah, Re.” Dimas duduk di depan Tasya dan dua sahabatnya.


“Sebagus apapun lampu taman tidak akan bisa masuk istana.” Rian menjitak kepala Dimas yang tertutup topi.


“Anji*ng lo, syirik banget sama gue.” Dimas mendorong Rian sampai menubruk Rajaya yang sedang berbaring santai.


“Jangan ganggu gue, bab*. Gue hajar baru diem.” Rajaya melototi Rian, lalu kembali tidur santai.


“Tolo* lo berdua.” Farel menjitak kepala Dimas dan Rian.


“Ini itu, jadi olahraga kagak si. males gue deket-deket sama ambyar and the gang.” Teresa protes.


“Ambyar and the gang, siapa Re?” Tanya Dimas.


“Lo lah,” Teresa terlihat malas saat mengatakannya.


“Lo semua ambyar,” Dimas menunjuk semua temannya termasuk Rajaya yang tertidur santai.


“Eh, lo semua sadar gak si, kelas kita itu terdiri dari beberapa gang?” Tanya Mita.


“Gak boleh gang-gangan ya, Ta. Kita itu harus kompak. Bersatu kita teguh bercerai kita balikkan, iyakan, Sya.” Dimas tertawa kencang.


“Tolo* dipiara.” Farel menoyor kepala Dimas.

__ADS_1


“Lo belajar peribahasa dimana si, Dimas. Ancur banget deh.” Tasya nyahut.


“Dimas, mending lo cari guru olahraga, biar ada gunanya lo hidup.” Mita mendorong Dimas sampai Tersungkur.


“Lo kasar banget, Ta. Lo kalau sudah berumah tangga pasti kasus kdrt tak terhitung. Terus kerjaan Lo kawin cerai, kawin cerai.” Dimas tertawa cekikikkan.


“mbah Dimas, si peramal masa depan,” julukan Dimas dari Rian.


“Peramal sesat,” Mita mengatai Dimas.


“Ayo, Sya kita cari guru olahraga.” Dimas mengulurkan Tangan.


“Apaan si lo, lo bisa cari sendiri di ruang guru. Pakai ngulurin tangan segala, lebay lo.” Teresa menepis tangan Dimas.


“Teresa, gak usah cemburu-cemburuan,” Dimas mengedipkan salah satu matanya kepada Teresa.


“Oke-oke, gue ikut lo cari guru olahraga.” Tasya bangkit dari duduknya lalu menghampiri Dimas dan menggandeng tangannya.


Dimas menjerit histeris, “Mimpi apa gue semalam bisa digandeng sama bidadari tak bersayap.”


“Lebay lo,” Teresa memutar bola matanya malas.


“Baru digandeng udah lemah lo,” Farel tersenyum mengejek, sementara Rian tertawa bengek.


“Tolo*.” Rajaya memberikan fu*k kepada Dimas.


“Iri bilang bos,” kepala Dimas masih menegok kebelakang sambil melambaikan tangan kepada temannya juga Teresa dan Mita.


“Apa kabar bro, sendiri saja.” Dimas menepuk dada bidang Keano saat berpapasan di lorong.


***


“Woi, rakyatku tercinta. Kumpul sini.” Dimas sudah berdiri di tengah lapangan sambil memainkan dua buah bola basket, sementara Tasya berdiri tidak jauh dari Dimas dengan kertas kosong dan pulpen di tangannya.


Semua sudah berkumpul kecuali Farel dan Rajaya yang masih anteng ditempatnya.


“Jadi, pelajaran olahraga hari ini, lo semua di kasih kesempatan 5 kali buat masukin bola ke dalam ring. Tesnya diakhir jam pelajaran, untuk sekarang latihan dulu. Paham semua?”


“Kalau gak paham berarti bego.” Dimas tersenyum mengejek.


“Silahkan latihan. Satu lagi jangan ada yang keluar dari lapangan atau mau gue tulis alpa, kalau mau ke toilet izin ke Tasya.” Dimas meninggalkan satu bolanya di lapangan lalu menghampiri Farel dan Rajaya.


“Lo bawa kertas buat apa, Sya?” Teresa dan Mita membuntuti Tasya yang sedang mencari tempat yang nyaman untuk diduduki.


“Buat absen, tapi gue gak kenal semua teman sekelas, lo aja yang absen deh.” Tasya menyerahkan kertas berserta pulpennya kepada Mita.


“Sya, Rajaya minta izin ke UKS.” Dimas and the gang kembali menghampiri Tasya.


“UKS? Ngapain?” Tanya Teresa.


“Mau istirahat dong Re masa mau balapan.“


“Kagak, gue gak izinin. Lo sehat gini mau ke UKS.” Tasya menolak.

__ADS_1


“Ah, lo gak guna.” Rajaya menyentil dahi Dimas lalu kembali berbaring di tempat yang nyaman tepat di belakang Tasya, sementara Rian dan Farel duduk di dekat Rajaya.


“Sya, lo bisa main basket?” Dimas memainkan bola basket di tangannya.


“main doang? Bisalah.”


"Eh, guys. Ada anak kelas 12 Ipa 1, yang bener aja mau olahraga di sini kayak kagak ada lapangan lain saja.” Teresa melihat sekelompok murid berjumlah kira kira 30 orang masuk lapangan basket.


“Kelas caper.” Farel nyeletuk.


“Kayak lagi cari orang ia gak sih?” Mita memperhatikan murid kelas 12 itu.


“Sya, lo juga bisa balapan ya.”


“Balapan apaan?” Tasya bingung dengan pernyataan Rajaya.


“Ini mobil lo kan?” Rajaya menunjukkan foto mobil dari ponselnya.


Teresa merebut ponsel Rajaya, “Bener Sya ini mobil lo. Lo pernah ke basecamp nya Rajaya?”


“Bugatti veyron punya lo, Sya.” Ucap Dimas setelah merebut ponsel Rajaya dari tangan Teresa.


“Mana gue liat. Sya, cerita-cerita dong sama gue. Kalo seru-seruan itu bagi-bagi.”


“Oke,nanti malem gue nginep di rumah lo, Ta.”


“Gue diajak kan?”


“Pasti.” Mita menyetujui permintaan Teresa.


“Gue?” Tanya Dimas.


“Boleh, lo gantiin satpam di rumah gue.” Mita terkekeh.


“Lo! Sini.” 3 orang siswi menghapiri Tasya dan kawan-kawan.


“Gue?” Tasya menunjuk dirinya sendiri, sedikit terkejut karena yang dicari oleh kelas 12 ternyata dirinya.


“Iya, bangun lo.”


“Apaan si, gue bisa bangun sendiri.” Tasya menepis tangan yang ingin memaksanya bangun, dia paling tidak suka jika disered sered.


“Woi, lo yang sopan sama kakak kelas!” ucap salah satu siswi sambil mendorong bahu Tasya.


***-----***


Udah chapter 10 nih, ayo dong klik tombol favorit. jangan lupa tinggalin jejak ya dengan cara like atau komen atau dua-duanya boleh hehe...


Suka gak sama Tasya atau Kea atau teman-temannya yang lain, temen-temen boleh komen dibawah siapa tokoh terfavorit kalian.


Pintu pujian, saran dan Kritik terbuka lebar, temen-temen bebas mau komen apa aja asalkan jangan makian, umpatan atau hinaan.


Happy reading...

__ADS_1


__ADS_2