Teman Tapi Manja

Teman Tapi Manja
Ch. 25 - Senin Gabut


__ADS_3

Begitu bel istirahat berbunyi Tasya segera menyambar dua sahabatnya lalu mengajak ke kantin, sementara Rajaya menulis jadwal pelajaran.


Dimas kena semprot dan makian Rajaya dan hampir dibuat muntah darah saat dirinya kesulitan mengajak Rajaya hanya untuk bangkit dari duduknya untuk pergi ke kantin.


“Nih pesanan lo King Cobra,” Dimas meletakkan dua big bobba di meja Rajaya.


“Rajaya jatuh cinta, berasa mimpi gue,” Rian terkekeh.


“Lo cinta apa cuma main-main doang?”


Rajaya menatap Farel dengan begitu tajam.


“Gue gak pernah mainin cewek!” Rahang Rajaya mengeras kedua tangannya menarik kerah baju Farel lalu menghempas kasar.


“Bagus kalo lo gak main-main, gue capek bantu masalah lo,” Farel membenarkan pakainnya.


“Sya, bantuin gue benerin proposal keuangan ya,” Mita memohon.


Tasya menggembungkan pipinya, sebenarnya dirinya enggan ke kelas apalagi jika harus bertemu dengan Rajaya.


“Sya, please gue udah kena semprot Keano dua kali gara-gara ada yang salah,” Mita kembali memohon.


“Gue sih terserah aja, yang penting perut gue udah kenyang,” Teresa terkekeh.


“Bukannya ulang tahun sekolah masih lama, inikan masih bulan juli, Ta.”


“Keano orangnya ribet, tidak ada penolakkan bagi perintah yang udah keluar dari mulutnya, Sya,” Mita mengeluh.


“Masa sih, kenapa gak minta tolong Ilham, Ta?” Tasya menaikkan sebelah alisnya.


Mita berdecak kesal, “Ilham? Dia orangnya rese, Sya,”


Tasya terkekeh, “Yuk kita ke kelas,”


“Sya, cogan Sya,” Mita menunjuk Dion sang kapten basket.


Teresa terkekeh, “Panggil dong Ta.”


“Lo panggil gue gak mau bantu lo kerjain proposal, Ta,” Tasya berhasil membuat Mita memayunkan bibirnya, sementara Teresa tertawa cekikikkan.


Teresa membuka pintu kelas dan auto jadi pusat perhatian Dimas and the geng yang menghuni kelas sat ini, sementara yang lainnya masih berhamburan di kantin.


“Sya,” Rajaya menepuk kursi sebelahnya yang kosong.


“Gak, gue lagi sibuk jangan ganggu.” Tasya fokus dengan laptop milik Mita.


“Sya, followers lo tambah banyak,” Mita dan Teresa mengotak-atik ponsel Tasya.


“Rendy DM lo, sya,” Teresa tertawa ngakak membaca isi DM dari Rendy.


“Udah ini Ta, lo tinggal print out. Terus tanyain masih ada yang salah kagak.”


“Thank you very much my besty, i love you full,” Mita segera mencetak dokumen yang dibuat Tasya menggunakan printer kelas.


“Mita, di dalam flashdisk ada file semua laporan keuangan bendahara osis tahun lalu, lo bisa jadiin referensi.”


“Makasih,” Mita menerima flashdisk dari Nia dengan ketus. Sementara Teresa dan Tasya yang melihatnya memutar bola mata malas.

__ADS_1


“Nih, bilang kalau masih ada yang salah,” Mita menaruh hasil print out di hadapan Keano lalu melirik Nia yang duduk di samping Keano.


“Sya, mau gak?” Rajaya menjulurkan tangannya yang memegang bobba.


“Bukan bekas lo kan?” Tasya menerimanya.


“Mau yang bekas?” Rajaya bangkit dari duduknya.


“Gak, diem lo!” Tasya menunjuk Rajaya.


“Sya, semalem lo tidur dimana kok gak balik? Papi nanyain,” Tanya Nia yang berada di samping Keano sambil mengerjakan tugas osis.


Tasya berdecak, “Bukan urusan lo.”


“Sya, lo nginep di rumah Kea?” Tanya Fadil yang sedang santai dengan poselnya di bangku belakang.


Mita dan Teresa melotot, sementara Rajaya menatap Fadil dengan tatapan mata tajam. Bahkan Dimas, Rian dan Farel yang sedang terbaring santai di belakang Rajaya langsung bangkit.


“Gue nginep di tempat Salsa,” Tasya masih perang mata dengan Nia.


“Kok lo gak ke rumah gue, Sya?” Mita panik karena Tasya mulai emosi karena Nia.


“Tasya gak enak ke rumah lo Ta, soalnya dia ke tempat gue juga sudah jam 2 pagi,” Salsa membuka mulut.


“Tapi lo bisa balik ke rumah, Sya. Lo masih punya papi juga-,”


“Lo tanya deh bokap lo, niat gak sih cari gue. Kalo niat cari gue pasti ketemu, gue masih di Indonesia belum kabur ke Amerika!”


Tasya memotong ucapan Nia. Lalu meninggalkan kelas atau jika tidak emosinya akan meluap. Bahkan saat berpapasan dengan Rara, Tasya yang lebih dulu menabrak bahu Rara.


"Senin, GABUT!” Teresa menatap Nia sambil tersenyum mengejek.


“Horor banget sih lagunya, Ta,” Rian berkomentar.


“Gue mantan musisi yang tersakiti,” Mita menutup pintu kelas dengan kasar.


“Yang becus jadi ketua kelas,” Dimas menepuk bahu Rajaya.


Rajaya yang sudah selesai membuat jadwal pelajaran bangkit dari duduknya lalu memberi tatapan malas saat melewati Nia.


“CK,” Rajaya berdecak kesal lalu melipatkan kedua tangannya di depan dada.


Tasya sedang mengobrol asyik dengan Rendy teman satu eskul, ditemani Teresa dan Mita.


“Sya, sini.” Panggil Rajaya.


Tasya menoleh dan menemukan Rajaya berdiri di ambang pintu.


“Gak,” Tasya mengacuhkan Rajaya.


“Kalau aku bilang ke sini, ya ke sini,” ucap Rajaya kekeh.


“Sya, gue balik ke kelas, ya.” Rendy pergi begitu saja.


Tasya menatap Rajaya dengan malas, “Kalau gue gak mau, yak gak mau.” Ucap Tasya ketus.


“Kasar banget sih kamu,” Rajaya menghampiri Tasya.

__ADS_1


“RAJAYA!” Mita dan Teresa menjerit bersamaan.


Tasya tertawa ngakak melihat dua sahabatnya dipeluk Rajaya.


Rajaya berdecak kecal, dirinya salah menangkap orang lalu mengejar Tasya yang berlari masuk kelas.


“Dimas, tadi dia nyosor cewek Lo,” Tasya menggunakan jarinya untuk menujuk wajah Rajaya.


“Eh, eh. Gak kena,” Tasya terkekeh sambil berlindung dibalik tubuh Keano.


Keano yang ingin pergi menuju ruang osis tertahan karena Tasya menggunakan dirinya sebagai tameng.


Keano melirik lengan yang melingkari perutnya, lalu menatap datar orang yang berdiri dihadapannya yaitu Rajaya.


Rajaya mendengus kesal sambil berjalan perlahan.


“SHIT!”


Tasya mengumpat kesal, Rajaya berhasil meraih tangannya.


“Lepasin gue,” Tasya meronta sambil berpegangan ke lengan Keano.


“ANJ*NG!” Rajaya memaki Keano yang menghempaskan lengannya kasar.


“Sya, mau kemana?” Teriak Teresa saat Tasya dibawa kabur Keano.


“Mau cari masalah, jangan ikut.” ucap Tasya sebelum benar-benar meninggalkan kelas.


“Lo denger gak bego! Cepet siniin duitnya tolol!”


Saat menuruni tangga, Tasya mendengar seperti ada yang sedang memaki.


“Tasya,” panggil Keano datar lalu menarik Tasya untuk tidak menghampiri sumber umpatan yang didengarnya tadi.


“Apaan si lo, lo gak denger tadi gue mau cari masalah?” Tasya meronta.


“Mendingan lo pergi deh, nanti kena getahnya kalau ikut gue,” Tasya yang sudah lepas dari Keano segera menghampiri sumber makian.


“Hujan bobba enak. Ya.” Tasya menumpahkan bobbanya di atas kepala Manda.


Tasya menarik korban makian Manda lalu menyuruhnya pergi setelah mengembalikkan uang yang dirampas Manda.


“Lo lagi, lo lagi!” Baru saja lengan Manda ingin menjambak rambut Tasya, tapi Tasya lebih dulu mendorongnya.


“Kak Manda bagaimana ini,” teman yang menemani Manda mulai ketakutan dengan apa yang dilakukan Tasya.


“Kita kabur dulu,” bisik Manda.


“Argh, SHIT. Manda! Jangan kabur,” Tasya didorong oleh dua orang sekaligus tapi dirinya segera bangkit untuk mengejar.


“Argh! Kea... lo halangin jalan gue,” Tasya kesal, Manda mendorong Keano untuk menghadang Tasya saat di tikungan.


“Lo berhenti ngajarin adik kelas gak bener, atau lo akan gila karena gue,” Tasya meneriaki Manda.


“Lo yang akan gila, tunggu gue samper lo di kelas!” Ancam Manda sebelum masuk kelasnya.


Tasya berdecak kesal, “Kea, lo tahu gak dia ngajarin anak kelas 10 gak bener.”

__ADS_1


Tasya meninggalkan Keano dengan kesal.


__ADS_2