
“Tumen lo gak lawan, takut ya?” Manda tertawa mengejek.
Tasya tertawa cekikikkan, “Udah deh, lo mau apa cepet? Kasian teman gue udah pada takut liat lo bertiga.”
Tasya menatap satu per satu temannya keluar kelas dengan ketakutan menyisakan Rajaya, Rian dan Teresa yang dipegang oleh Dimas dan juga Farel karena Teresa meronta sekuat tenaga.
Alda menarik Tasya sampai ke sebuah meja, “Naik.”
Masing-masing lengan Tasya dipegang oleh Manda dan Melinda, sementara Alda duduk menyamping di pangkuan Tasya.
“Minggir, lo bawa dosa berat!” Tasya melototi Alda yang duduk dipangkuannya.
Alda terkekeh lalu meniup permen karet, “Kemarin lo apain Manda?”
“Lo sebenarnya sudah tahu, kenapa pakai tanya lagi.” Tasya mulai malas.
Karena semalam lembur photoshoot, tubuh Tasya sedikit tidak fit. Jika bisa memilih, Tasya hanya ingin duduk dengan damai memperhatikan penjelasan guru dan pulang kembali dengan rasa bahagia.
“Lo tahu avarelic?” Alda mengeluarkan gunting dari balik bajunya.
“Alda!” Rajaya bangkit dari duduknya lalu menunjuk wajah Alda.
“Selow bro, gue bukan psikopat kayak lo,” Alda menggunting rompi seragam yang sedang dikenakan Tasya lalu merobek dan membuang rompi itu ke sembarang arah.
“Wah... wah, lihat saudara-saudara ini handphone,” Manda mengambil ponsel milik Tasya yeng tersimpan di saku kemeja.
“Bagus, tidak di password.” Raut wajah Manda semakin kesal saat mengotak-atik ponsel milik Tasya.
“Sok cantik!” Manda membanting ponsel Tasya sampai hancur.
“Alda cepet, gue udah gak sabar kasih dia pelajaran!”
Alda membuka dua kancing kemeja Tasya.
“Lo mau perkosa gue?” Tasya terkekeh.
Alda juga ikut terkekeh, “Kita seukuran,” Alda membusungkan dadanya.
“Tapi gue iri, punya lo masih kenceng,” Alda merem*s buah dada milik Tasya sambil menjilat bibir.
Tasya menatap datar kelakuan Alda, “Singkirkan tangan kotor lo dari gue.”
“Kok lo malah nyolot sih? Gue pengennya lo mendesah.” Manda yang terlihat geregetan.
“Gue gak nafsu, lo semua minggir.” Tasya masih berbicara baik-baik.
“Tadi lo bilang tangan gue kotor? Hello... kayak lo yang suci aja.” Alda tersenyum mengejek.
“Shit! Sakit beg*,” Alda mengusap kepalanya yang terkena lemparan pulpen dari Rajaya.
__ADS_1
“Lo semua pergi,” Rajaya sudah muak dengan semua yang dilakukan Alda.
Alda tertawa cekikikkan, “Bentar lagi juga gue pergi, gini amat lo nyambut teman. Mau bantuin gue gak? Lo gak lupa kan kita satu tongkrongan.”
“Sini lo kalau berani. Masih ada 3 kancing yang belum dibuka, Lo doyan yang kayak beginian kan?” Manda menertawain Rajaya.
“Kalau lo gak berani ke sini, mendingan lo duduk ganteng di sana.” Alda memberikan senyuman miring kepada Rajaya.
“Alda lo gak usah ladenin dia. Pokoknya gue mau Tasya mendesah.” Pinta Manda.
“Lo waras kagak?” Tasya melirik Manda tidak percaya.
“Ini peringatan buat lo, karena lo ngelunjak.” Alda membuka satu kancing lagi lalu jarinya mulai nakal kesana kesini meyentuh setiap inci kulit Tasya dengan lembut.
Tasya terkekeh, “Jeruk makan jeruk.”
Alda menghentikan aktivitasnya, “Lo terkekeh supaya desahan lo gak keluar kan?”
Tasya berdecak, “Gue sudah bilang gue gak nafsu. Oke, gue diem.”
Manda berdecak kesal karena Tasya tidak kunjung mendesah, “Alda lo kalau kerja yang bener.”
“Berisik lo.” Alda juga ikut kesal.
“Kalau ini gak berhasil, kita panggil Leo,” Alda mendekatkan wajahnya ke area dada Tasya. Sementara Tasya sendiri memutar matanya malas.
Tasya melotot lalu memasang badan untuk melindungi Teresa yang ingin dicakar Manda.
Treet treet treet
Alda bangkit dibantu Manda dan Melinda.
“Pergi, lo gak denger bel?” Tasya mendorong Alda yang belum siap berdiri sampai Alda pun tersungkur ke luar kelas.
Alda menarik tangan Tasya, Alhasil mereka berdua jatuh bersama. Sementara Manda dan Melinda sudah lebih dulu berlari menuju kelas meninggalkan Alda.
“Argh,” Alda kesal, saat dirinya ingin meraih tong sampah Teresa malah manjauhkannya bahkan Teresa mendorong Alda sampai tersungkur ke lantai lagi.
“Sya,” Mita yang sedang berjalan menuju kelas bersama Keano, Ilham dan juga Nia, menjerit khawatir melihat dua sahabatnya yang pagi-pagi sudah bergulat dengan Alda.
“Siala*,” Alda menjerit saat dirinya dihujani sampah yang ditumpahkan Tasya.
“Urusan kita belum selesai,” Alda mengancam lalu mendorong Tasya sebelum pergi.
“Sya, lo gakpapa,” Mita dan Teresa membantu Tasya bangkit.
“Sya... dada lo?” Nia pura-pura berwajah polos.
“Astaga, mata gue,” Ilham memalingkan wajahnya setelah melihat tanda kissmark yang dimaksud Nia.
__ADS_1
Keano memperhatikan wajah Tasya dengan teliti, “Lo gakpapa?” Keano mendapat gelengan kepala dari Tasya.
“Sya, baju seragam lo udah gue cuci, lo bisa pakai,” Mita menunjuk paper bag di tangannya.
Tasya menatap Ilham dengan datar sebelum masuk kelas.
“Yang mengintip, matanya gue congkel,” Mita menunjuk wajah Rajaya yang terus memperhatikan Tasya yang sedang berganti baju seragam.
Sementara tugas Teresa menutupi Tasya menggunakan taplak meja guru.
“Tanda ini dibuat siapa, Sya?” Mita menyentuh tanda merah yang ada di tubuh Tasya.
“Tanda dari si jal*ng yang udah bosen dengan lawan jenis,” Teresa menjadi kesal mengingat kejadiannya.
“Lo lagi sakit, Sya?” Mita menatap lekat wajah Tasya.
“Dari pagi-“
“Gue gakpapa,” Tasya memeluk Teresa tanpa aba-aba, lalu Mita pun ditarik oleh Tasya.
“Udah, yuk duduk.” Tasya sebenarnya lelah, yang diinginkannya hanya satu yaitu berbaring mengistirahatkan badannya yang sudah lembur photoshoot semalam.
“Sya, hp lo rusak,” Dimas meletakkan ponsel milik Tasya di atas meja.
Tasya terkekeh sambil melihat nasib ponselnya lalu membuka tasnya, “Pantesan kemarin gue ngebet beli tab, ternyata hp gue mau rusak. Ta, Re tolong ya.”
Teresa menerima tab, sementara Mita mengeluarkan kartu SD dari handphone Tasya yang rusak.
“Siniin seragam gue,” Tasya protes saat Rian ingin membuang seragam Tasya.
“Ini udah rusak Sya, mau diapain?” Rian menyerahkan barang tersebut kepada pemiliknya.
Tasya menggulung kemaja putih beserta rompinya yang rusak lalu disimpan ke dalam paper bag milik Mita, “Sebelum dibuang, benda ini harus disucikan dengan air yang mensucikan,”
“Udah Sya, ini. Gak mau istirahat di UKS?” Teresa mengembalikkan tab milik Tasya dari bangkunya.
“Oke, thanks. Gak perlu,” Tasya meraih tabnya lalu mengambil tissu basah dari dalam tas.
“Biar gue aja,” Rajaya mengambil tissu basah dari tangan Tasya lalu mengelapkannya ke leher jenjang Tasya.
Tasya menyangga kepalanya menggunakan salah satu lengan sambil melihat seisi kelas yang sudah tertib kembali menunggu kedatangan guru pengajar.
“Lo sakit, Sya?” Rajaya meletakkan punggung tangannya di kening Tasya. Namun Tasya segera menepisnya.
“Lo mau gue bunuh?” Tasya bersiap mencekik leher Rajaya.
“Tadi gue liat bukan leher doang yang dijilat Alda,” ucap Rajaya dengan wajah tanpa dosa.
“Gue bisa sendiri,” Tasya menjauhkan lengan Rajaya.
__ADS_1