Teman Tapi Manja

Teman Tapi Manja
Ch. 5 - Kacamata Lagi


__ADS_3

“Wahai hambaku semuanya, dengerin gue. Guru kimia masuknya satu jam setelah istirahat, tapi dia ngasih tugas duluan. Kasih tahu tugasnya, Sya.”


“Tugasnya buat biodata yang formatnya sesuai dengan yang akan gue tulis di whiteboard, nulisnya di kertas yang mau dibagiin Dimas, ya.” Jelas Tasya.


“Ngerti kagak lo semua?” Teriak Dimas sambil membagikan kertas warna warni pada setiap orang di kelasnya, sementara Tasya sedang menulis format biodata di whiteboard.


“Sok-sok an lo lampu taman,” maki Teresa saat Dimas memberinya kertas warna warni.


“Gue minta maaf deh udah nolak cinta lo, tapi lo jangat galak-galak dong.” Pinta Dimas.


“Kapan ya gue ngemis cinta sama lo,” Teresa tidak terima lalu tidak mempedulikan Dimas yang selalu membela diri.


“Gue gak mau warna pink bambang,” Farel memaki Dimas.


Dimas dan Rian tertawa dan tawanya terdengar hampir seperti orang bengek.


“Yaelah, lo kan fisik singa hati barbie harusnya gak masalah,” ucap Rian setelah tawanya reda.


“Ngomong apa lo ANJ*NG?”


“udahlah, jangan buat kesan buruk di hari pertama masuk sekolah deh, malu-maluin saja,” ucap Dimas yang mulai serius dengan tugasnya.


“Woi, lo berdua mau tahu gak tadi gue ngobrol apa aja sama Tasya.”


“Bodo amat,” ucap Rajaya teman sebangku Farel yang nyawanya seperti sudah terkumpul semua karena dari jam pelajaran Bu Nina Rajaya seperti orang setengah hidup, bengong sambil menatap ke luar jendela.


Bu Nina juga tidak mempedulikan Rajaya, terlihat malas karena Rajaya masuk dalam jajaran 5 besar yang sering keluar masuk ruang bk.


“Tadi Tasya bilang gue mirip sama temannya yang ada di Amerika, tapi gue lebih asyik katanya.” Dimas sangat bangga dengan dirinya.


“Lebih tolol maksudnya,” timpal Rian.


“Iri bilang bos.” Dimas mendorong dada Rian menggunakan siku tangannya.


“Lo semua sudah bereskan? Gas kantin.” Dimas memakai topi hitam kesayangannya untuk menutupi kepalanya yang pelontos.


Sebenarnya gak pelontos amat si, rambut dimas berukuran 1 cm. Sebagai anak jendral angkatan darat, Dimas harus menurut kepada papinya, dan itu juga alasan mengapa teman sekelas memanggilnya lampu taman.


“Sya, tahu letak kantin gak?” Tanya Dimas saat di ambang pintu.


“Teresa sama Mita mau kasih tahu gue, kok.” Tasya menunjuk dua temannya.


“Sok-sok an lo lampu taman,” Teresa tidak bisa untuk tidak memaki kebodohan Dimas, sementara Mita tertawa cekikikkan.


“Yuk, Kantin.” Ajak Tasya kepada dua temannya.


“Let’s go.”


Kelas menjadi sepi karena satu persatu murid pindah ke kantin menyisakan seorang siswa yang sedang sibuk dengan kertas di tangannya. Yeah, Keano. Siapa lagi?


***

__ADS_1


“Emang ya si lampu taman matanya minta di congkel,” Teresa menggigit baso dengan sadis.


Sedari tadi Dimas and the geng terus melirik Tasya, tapi jumlah lirikan Dimaslah yang mungkin sudah tidak terhitung.


“Lumayanlah, hiburan penghilang stres.” Tasya menyeruput teh botol.


“Kayanya firasat gue bener deh Re. Tasya ini sebelas dua belas sama kita sebelum tobat.” Mita menatap Tasya dalam dalam sambil memasukkan mie ayam ke dalam mulutnya.


“Sya lo mau tahu gak, waktu kelas sepuluh Teresa paling jago tebar pesona. Sekali lirikan matanya mampu membuat jantan klepekan.” Ucap Mita dengan bahasa berlebihannya.


"Berlebihan lo," Teresa menambahkan sambal ke mangkuk mie ayam milik mita.


"Tapi, Mita si yang paling parah. Nih Sya, mantan Mita kalau dikumpulin bisa diajak buat demo di depan gedung Dpr, sumpah banyak banget."


"Bad girl lo berdua, tapi gakpapalah kan lo berdua cantik juga."


Teresa dan Mita tertawa malu mendengar pengakuan Tasya.


"Sya, Gue kaya tersanjung banget dibilangan cantik sama orang yang beneran cantik. Gue bukan kepedean ya, tapi emang gue merasa paling cantik seantero gedung sekolah ini, tapi setelah kedatangan lo, cantik gue kayak kesepak gitu aja. Sumpah si lo keren banget, pantes deh jadi model baru yang auto trending." Ucap Teresa panjang kali lebar, lalu di cap setuju oleh Mita.


"Terus apa yang membuat lo berdua tobat?"


"Yang syirik mah ada aja, Sya. Mana yang syiriknya main keroyokan," ucap Mita dengan suara pelan takut orang lain ada yang mendengar.


"Keroyok baliklah, gue bantu." Tasya menawarkan jiwa pahlawannya.


"Gak deh, Sya. Jangan. Gue kapok." Teresa tidak bersemangat seperti biasanya.


"Bukan Sya. Dia main mulut. Gue tau sih gue anak angkat, tapi mulutnya itu loh gila si sampe buat gue tobat. " Jelas Teresa.


"Tapi orang tua angkat lo baik kan sama lo, sayang sama lo, juga biayain hidup lo? " Tanya Tasya.


"Ya, iya si. Malah mereka berasa orang tua kandung gue. "


"Kalau gitu lawan aja sih, yang suka ngatain lo,dia tuh iri sama kehidupan lo termasuk gue juga iri si," Tasya nyengir kuda.


"Iri? " Teresa dan Mita berangan, lalu diangguki Tasya.


"Kalo dibandingkan dengan kehidupan gue, enakan hidup lo, Re. Gue walaupun hidup ama bokap sendiri-"


"Kenapa Sya? " Teresa sedikit geregetan karena Tasya berhenti bicara.


"Aneh aja gue curhat di sini, lain kali deh."


"Mita, kumpul di RO. " ucap siswi yang tiba-tiba muncul di samping Tasya.


"Sorry guys, gue ke RO dulu,” ucap Mita tidak enak.


"Untung ada tasya, demen banget lo ninggalin gue." Teresa sedikit berteriak karena mita semakin jauh.


"Sorry, sorry." Mita melambaikan tangannya.

__ADS_1


"Ke kelas yuk, Re." ajak Tasya.


"Yuk, kasian juga lo diliatin karena seragam beda."


"Re, kumpul bentar di lapangan." seorang siswi yang terlihat tomboy menghampiri Teresa.


"Sya, aduh gue jadi gak enak." Teresa merasa bersalah karena harus meninggalkan Tasya, sama kayak Mita yang ninggalin mereka berdua saat di kantin.


"Its okay, kayak gak akan ketemu lagi aja, Re. Gue juga sudah di depan kelas, kok." Tasya mendorong Teresa agar mau pergi dan agar tidak merasa bersalah karena harus meninggalkannya.


"Kea, lo gak ke kantin. Eh, balikin kacamata gue dong," ucap Tasya yang sudah berdiri di depan bangku Keano.


"Kea, lo baca apaan sih, serius amat sampe gue gak dianggap ada."


"Balikin." Nada bicara keano tidak tinggi juga tidak membentak, tetapi datar sama kayak wajahnya yang tanpa ekspresi.


"Kea, lo jomblo akut ya? Wajah lo datar banget, gak enak diliat tau gak?" Tasya mengembalikan apa yang sudah direbutnya dari tangan keano.


"Ini tas lo kan, gue buka ya, mau cari kacamata."


"Kea, lo gak buang kacamata gue kan? Lo tau gak itu kacamata grandpa, walaupun gue jual satu ginjal, itu kacamata belum bisa gue tebus." Wajah Tasya frustrasi, dirinya sudah mengeluarkan semua barang milik Keano dari dalam tas, tapi benda yang dicarinya tidak ketemu.


"Kea, jawab dong. Lo ngintip gue?" Tasya memergoki Keano yang mengintip dari balik kertas yang di pegang laki-laki itu saat tasya mengomel.


"Awas ya lo naksir gue, gue maki-maki lo." ancam tasya, dan hal itu membuat Keano bangkit dari duduknya.


"eh, Tunggu -tunggu," Tasya menghadang jalan keano. Lalu menatap pria itu dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Lo, sembunyiin dimana si kacamata gue, Kea? " Tasya menarik lengan keano menampakkan tangannya yang kosong keluar dari dalam saku celana.


"Eh, mau apa lo? " nada keano agak panik saat jari tangan Tasya ingin menggapai dua saku celananya, untung lengannya berhasil menghadang.


Tasya tertawa cekikikan, "gue kira lo buta nada bicara. Gue cuma mau cari kacamata, kea. Gue bukan gadis nakal."


"Kacamata lo-" ucap Kea terpotong, sementara tasya mengurungkan niatnya menepis lengan Keano yang sedang di cengkram kedua tangannya.


"Di RO. " lanjut Keano datar.


"Kea..." sahut seseorang dari ambang pintu kelas, sontak Tasya dan keano melihat sumber suara.


“Kumpul, Kea. Lo malah asyik di sini,” ucap Iham orang yang meneriaki Keano dari ambang pintu.


Tasya melepas lengan Keano dari cengkramannya, lalu berdehem dua kali.


“Maaf ya, Sya. Keanonya gue pinjem dulu,” ucap Ilham setelah Keano pergi.


“Gak papa, ambil saja. sampe jamuran juga gue gak peduli,” Tasya duduk di bangkunya.


“Tasya bisa saja.” Ilham pergi meninggalkan Tasya.


“Kea lo hutang penjelasan sama gue,” Ilham tertawa cekikikkan sambil mengejar Keano.

__ADS_1


__ADS_2