Teman Tapi Manja

Teman Tapi Manja
Ch. 8 - Gue ganggu gak?


__ADS_3

...XI IPA 1...


Teresa Aurellia Added Tasya Edellyn


Dimas Artahendrawan : Selamat datang di dalam rumah tangga kita, wahai istriku sayang


Mita Stevani : Naji*


Rian Bimantara : Bac*t lu unfaedah, Dimas Artahendrawan


Farel Andriyansyah : Seneng banget lo mengtolol di depan umum


Dimas Artahendrawan : Sabar, ya anak-anak. Bentar lagi papi sama mami pulang, kok. Masih ada beberapa shoot yang belum diselesaikan, ya kan @Tasya Edellyin


Teresa Aurellia : Ngayal lo sana, sampe mampus


Tasya Edellyn : Apa si Dimas ngetag segala, gue lagi nyetir mobil


Dimas Artahendrawan : Nyetirnya yang fokus ya, Sya. Biar gak nabrak


Dimas Artahendrawan : Udahlah, Re. Move on dari gue. Tipe gue sudah naik level


Teresa Aurellia : Naji* gue pernah naksir sama lo


Mita Stevani : Sudah dong, para budakku semua. Gue sama Teresa sudah tentuin uangkas, seratus/minggu titik


Dimas Artahendrawan : Buset... pengeretan


Rian Bimantara : Lebay lo, lo gak bakal jatuh miskin cuma buat ngeluarin duit segitu


Dimas Artahendrawan : Santai, dong. Rakyatku semua


Rajaya Fernandes : GAK GUNA LO MASUK GRUP! @Dimas Artahendrawan


Dimas Artahendrawan : Jangan salah, tanpa gue lo semua awur-awuran.


Rian Bimantara : Sya, bales dong japri gue


Dimas Artahendrawan : Sampah lo, mainnya jalan got


Farel Andriyansyah : Berisik ANJI*G!


Rian Bimantara : Sorry, gue gak teriak. Hp lo aja yang mode dering tolol!


Dimas Artahendrawan : Tasya, sudah makan belum?


Teresa Aurellia : Tasya lagi makan bareng gue


Tasya Edellyn : Dimas sudah makan belom?


Dimas Artahendrawan : Hiya hiya, sudah dong ayang, sudah minum juga.


Tasya Edellyn : Padahal gue mau lo keselek dulu baru minum


Farel Andriyansyah : Mampus lo, lampu taman.


Rian Bimantara : Tasya, bisa ambyar juga


Ilham Saputra : Sya, lengan Keano enak digandeng, ya?


Mita Stevani : Wah wah wah

__ADS_1


Teresa Aurellia : Yang bener Ham, kok Tasya gak cerita ya sama gue


Ilham Saputra : Tanyain saja sama orangnya, lo bareng orangnya kan?


Teresa Aurellia : Tasya baru saja mulai photoshoot


Rian Bimantara : Lah, Tasya lagi photoshoot? Terus siapa yang bales chat gue dari Tasya BARUSAN?


Mita Stevani : Sorry, ya. Itu gue. Gue diizinnin kok sama Tasya pinjem hp


Dimas Artahendrawan : Nusuk dari belakang, munafik lo semua ANJI*G!


Mita Stevani : Yaelah, mau banget lampu taman bersanding dengan intan berlian


Dimas Artahendrawan : Oke, buat lo para jantan yang munafik kita bersaing secara sehat.


Teresa Aurellia : Gue mah yakin lo orang pertama yang kesepak


Mita Stevani : Pasti, bersaing sekelas saja sudah kalah, apalagi bersaing sama cowok amerika, tai kukunya doang.


Dimas Arthahendrawan : Harusnya lo dukung gue


Mita Stevani : Ogah


Teresa Aurellia : Ilham, lo liatnya kapan? Tasya ogah cerita.


Ilham Saputra : Mau tahu banget ya


Rian Bimantara : Bro and sis kumpul-kumpul yuk, Dimas yang tlaktir


Dimas Artahendrawan : Jual nama lo. Tapi gak papa, yang penting kumpul semua


Mita Stevani : Beneran lo? Lo gak takut jatuh miskin sampe gak bisa bangkit lagi.


Nia Rosdiana : Ra... jangan gitu


Teresa Aurellia : kurang satu dua gak masalah kan Dimas, yuk kumpul


Dimas Artahendrawan : Harus kumpul semua dong, Teresa sayang


Mita Stevani : Lo sayangnya ke semua cewek, bagaimana Tasya mau naksir sama lo


Tasya Edellyn : Ngomong apa si, Ta?


Rara Sahira : CAPER!


Teresa Aurellia : Dimas lo dikatain caper


Dimas Artahendrawan : Akurlah wahai selirku semua terutama sama permaisuri Tasya


Rajaya Fernandes : GUE SIKAT BACOT LO KALAU BELUM SAMPE JUGA DI BASECAMP


Dimas Artahendrawan : Gue lagi di mobil, sabar dong bro, coba lo cari cewek deh biar gak galak amat.


***


“Sya, hari-hari lo kayak gini?” Teresa menguap lalu merebahkan kembali kepalanya di atas bangku, sementara Mita sudah tepar duluan.


“Iyalah. Lain kali jangan ikutin lagi kegiatan gue. Ginikan jadinya.” Nasihat Tasya tanpa melihat dua temannya yang sudah tepar dengan dengkuran halus


Jari-jari tangan Tasya sedangan sibuk dengan keyboard laptop. Sebenarnya itu tugas Mita, karena Tasya sedang baik, jadi tugas mengolah data pengeluaran untuk persiapan ulang tahun sekolah yang seharusnya dikerjakan oleh mita dikerjakan oleh Tasya dengan senang hati.

__ADS_1


“Ta, sudah selesai, nih.” Tasya menyimpan ulang hasil kerjanya di folder yang sudah ditunjukkan Mita sebelum tepar.


“Hm.” Mita menyahut disela tidurnya.


“Eh, handphone gue mana?” Tasya mengeluarkan semua isi dari tasnya.


“Kalo buru-buru gini nih, pasti di mobil. Ta, Re gue ke parkiran dulu ambil handphone.” Tasya bangkit dari duduknya.


“Jam berapa? Masih lamakan bel masuk, Sya?” Teresa bertanya setengah hidup.


“Baru juga jam 6 masih lama.”


“Oh, oke-oke.” Teresa kembali tidur.


***


Keadaan sekolah masih sepi, hanya orang rajin yang membela datang ke sekolah sepagi ini. Termasuk Tasya dan teman-temannya, ajakan Mita untuk datang ke sekolah pagi-pagi tidak bisa diganggu gugat.


Mita tidak ingin dipelototi Keano jika dirinya datang kesiangan, karena sebagai anggota pengurus osis, Mita harus memberikan contoh yang baik.


“Tasya.”


Tasya menghentikan langkahnya, hafal dengan suara panggilan datar itu. Tasya menoleh ke belakang. Pria tampan yang sangat khas dengan wajah datar, tangan kirinya masuk ke dalam saku celana, sementara tangan kirinya memegang tali tas yang tersampai di pundak.


Kok gue gak ngeh ya, dia lewat, Tasya membatin.


“Tasya.” Keano kembali memanggil karena orang yang dipanggilnya berniat kabur.


“Lo kecilin seragam sekolah? Lo juga belum baca buku tata tertib?”


“Ih, apa-apaan si.” Tasya menghempas tangan kiri keano yang menggenggam lengannya dan hal itulah yang membuatnya kesulitan berjalan seperti ditimpa beban hidup.


“Ikut gue.” Keano berjalan lebih dulu.


“Tasya.”


“Iya-iya, Keano Algesha, gue ikut lo.” Tasya paling tidak suka dipaksa-paksa apalagi di tarik begitu saja kayak anak kucing.


“Ginikan lebih enak.” Tasya menggandeng lengan kiri Keano, Sementara pria yang digandengnya masih saja datar.


“Lo mau bawa gue kemana, pagi buta kayak gini?” Pertanyaan Tasya diacuhkan Keano.


“Ruang osis? Sorry, gue gak minat jadi pengurus osis.” Tasya mendorong Keano begitu saja, baru dua langka mau pergi Tasya sudah ditarik kembali seperti anak kucing.


“Baca yang keras, simpan di dalam otak.” Keano memberi Tasya buku tata tertib sekolah.


Tasya mengambil buku itu sambil berdecak kesal, “Kea... lo gak bisa buat hidup gue tenang ”


Tasya membuka buku tata tertib itu, sementara Keano duduk di bangkunya sambil menyalakan laptop.


“Satu, taat kepada Tuhan Yang Maha Esa...” Tasya mengambil kursi di sebelah kanan Keano untuk di dudukinya.


“Dua,” Mendadak Tasya merapatkan kursinya sampai menempel dengan kursi Keano, lengan kiri tasya melingkar di leher Keano, lalu menghalangi pandangan Keano Yang sedang Fokus ke layar laptop menggunakan buku Tata Tertib sekolah


“Senyum, sapa, salam, sopan dan santun. Denger gak lo?” Tasya menyentil pipi Keano.


Entah karena terlalu terkejut dengan perlakuan Tasya, Keano bingung harus melakukan apa lagi selain melirik wajah Tasya.


“Hm.” Keano tersenyum seadanya.


“Setan lari terbirit birit melihat senyum lo ini.” Tasya memutar bola matanya malas.

__ADS_1


“Gue ganggu gak?” Ilham bertedem dua kali dari ambang pintu.


__ADS_2