Teman Tapi Manja

Teman Tapi Manja
Ch. 42 - Mading Sekolah


__ADS_3

Mita tersedak oksigen yang sedang dihirupnya, “Beruntung sekali manusia bernama Keano.”


Ekhem!


Teresa berdehem agar tidak tertawa, “Ya udah, ayo.”


Mita menghampiri Tasya setelah mobilnya terparkir rapi, “Lo pacaran sama Keano?”


Tasya menggeleng, “Gak, Ta.”


“Rajaya muntah berak kalau tahu liat lo jemput Keano,” Teresa senyum-senyum membayangkan jika itu terjadi.


“Muntah berak?” Mita terkekeh.


“Eh Sya, tunggu.” Mita menahan lengan Tasya yang ingin menekan bel apartemen milik Keano.


“Lo sama Teresa sembunyi biar gue yang tekan belnya,”


“Jail bener lo Ta,” Teresa terkekeh lalu menuruti apa yang direncanakan Mita.


Mita terkekeh setelah menekan bel lalu memberi jempol kepada Tasya dan Teresa yang bersembunyi tidak jauh darinya.


“Mita?”


“Yaelah, gitu banget muka lo liat gue yang jemput.” Mita ikut menatap Keano dengan datar.


“Meaong,” Fluffys keluar dari apartemen Keano lalu berlari menghampiri Tasya yang sedang bersembunyi dengan Teresa.


“Lukanya udah sembuh, Sya?”


Tasya menghampiri Keano dan Mita sambil menggendong Fluffys, “udah.” Tasya menunjukkan lukannya yang sudah kering dan luka itu langsung dijilati Fluffys.


Teresa berdehem. “Kayaknya gue terlalu percaya sama karangan cerita Tasya waktu malam, pinter banget lo nyimpen rahasia, Sya.” Ucap Teresa saat Keano kembali masuk ke apartemennya.


“Jangan rahasia-rahasiaan ya Sya, please. Apapun bakal kita dukung kok.” Tambah Mita.


“Lo sudah jadian ya sama Keano?” Kali ini Teresa yang penasaran.


Tasya menatap kedua sahabatnya datar, “Tadi gue sudah bilang, Gak ada jadian-jadian pacar-pacaran Re.”


Teresa dan Mita terkekeh, “Sayang banget gue sama Tasya, cantik-cantik jomblo padahal banyak yang ngejar.”


Ekhem! Ekhem!


Mita berdehem saat Keano kembali.


“Kea!” Mita menepuk pundak Keano keras. “ Yaelah muka lo kaku banget kayak kayu jati, Seneng gak dijemput Tasya?”


“Ya senenglah, yang gak seneng itu kita berdua ikut jemput,” Teresa yang menimpali.


Tasya tidak peduli dengan apa yang dilakukan sahabatnya bersama Keano, yang pasti dirinya senang Fluffys kembali manja padanya.


“Gue yakin kaku dan datarnya lo itu cuma topeng doang, kalau kita berdua gak ada pasti bucinnya kambuh ini orang apalagi kalau ditinggal berdua sama Tasya.” Mita memberi senyum ejekkan kepada Keano.


“Mobil lo kenapa sih Kea, sampai lo harus dijemput teman gue,” Teresa mendengus kesal.


“Di sekolah.” Jawab Keano datar tanpa ekspresi.

__ADS_1


“Kemarin sore lo abis jalan sama Tasya?” Mita mengeluarkan mata detektifnya.


Keano melirik Tasya.


“Malah lirik Tasya. Lo sudah jadian ya sama Tasya?”


Keano menggelengkan pertanyaan Mita.


Teresa terkekeh, “Mau gak jadian sama Tasya, gue bantu.”


Keano mengacuhkan Teresa.


“Sombong banget muka lo, ramah dikit kek senyum begitu. Males gue ngomong sama Kea, berasa ngomong sama tembok.” Mita menatap wajah Keano yang datar lalu mendengus kesal.


“Sekalinya ngomong sama lo langsung dimarahin ya, Ta.” Teresa menertawai.


“Enaknya dikutuk memang si Keano, untung ganteng masih gue maafin,” Mita mendapat toyoran jidat dari Teresa.


“Orang ganteng juga masih banyak tapinya, Re,” Mita merangkul Teresa dan berjalan mendahului Tasya dan Keano.


“Maksudnya?”


“Maksudnya Re, Keano ganteng tapi pengen gue kutuk, Rajaya ganteng tapi ingin gue santet, Dino juga gan......”


Tasya melihat dua sahabatnya semakin jauh.


“Lo apain Fluffys? Kok jadi nurut lagi sama gue,”


Keano melirik, “Coba tebak?”


“Uhuy satu mobil, gue tunggu satu pelaminannya,” Teriak Mita sebelum memasuki mobilnya. Mobil Mita terletak di samping kiri mobil Tasya, sementara mobil Teresa terletak di samping kanan mobil Tasya.


Tasya menurunkan kaca mobil, “Kursi mobil gue lebih enak dari kursi pelaminan.”


“Masasih,” Mita juga menurunkan kaca mobilnya.


“Buruan Kea lo mau telat, lo jalan duluan, mobil penganten harus dikawal,” Teresa terkekeh melihat Tasya yang sepertinya tidak suka dengan kata penganten.


***


“Kea bentar, nih laporannya udah selesai. Gue langsung ke kelas gak mau ke Ro,” Mita menyerahkan laporan keuangan osis yang semalam dikerjakan Tasya.


“Lo yang ngerjain?”


“Laporan serapi itu gue yang ngerjain? Ya kagaklah, Tasya yang ngerjain, hebatkan sahabat gue,” Mita terkekeh lalu mengejar dua sahabatnya yang sudah berjalan jauh di depan.


“Kok berhenti?” Mita menepuk pundak dua sahabatnya yang berdiri di hadapan mading sekolah.


“Acara ultah sekolah sudah dipajang aja ini, Ta.” Teresa menatap poster yang tertempel di mading.


“Oh, itu.” Mita mengangguk, sebagai pengurus osis dia lebih tahu segala tentang acara tersebut jadi dirinya tidak terlihat penasaran.


Bruk!


“Kucing gue mati,” latah Tasya saat seseorang memeluknya erat dari belakang.


Tasya berdecak kesal saat tahu orang yang memeluknya Rajaya, “Awas! Kucing gue bisa mati.”

__ADS_1


“Meaong,” Fluffys mengeong sambil memunculkan kepalanya saat Tasya membuka Tas.


“Fush, untung gak mati,” Tasya mengusap kepala Fluffys dengan sayang. Sementara Fluffys melototi Rajaya, dan Rajaya pun sama melototi Fluffys.


“Re, lo juga main?” Tanya Dimas yang sedang duduk di kursi dekat mading bersama kawan-kawan kecuali Rajaya.


“Main dong,”


“Mainlah, kapten... iya gak Re?” Mita mendapat anggukkan dari Teresa.


“Keano juga main Sya... basket,” Teresa terkekeh.


“Kalau Nia gak ikutan cheerleaders, lo mau ikutan cheerleaders gak Sya?“ Tanya Mita.


“Gak,” Rajaya yang menjawab. Sontak Tasya memukul Rajaya kesal.


“Kapan Re lo tanding futsalnya?” Tanya Tasya yang juga ikut melihat daftar lomba untuk meramaikan ulang tahun sekolah.


Teresa menaikkan kedua bahunya, “Belum tahu gue, noh tanya Mita panitianya.”


“Hehe... sebenarnya jadwalnya udah tapi ya gitu gue gak ngapalin sedatail itu,” Mita tersenyum.


“Gak peduli sama jadwalnya, yang pasti kita bakal tonton dan dukung lo Re. Jangan lupa tonton kita juga ya?” ucap Dimas yang menyandarkan punggungnya ke punggung Rian.


“Lo main? Lo semua kan udah keluar dari tim. Jangan bilang gara-gara Rajaya,”


“Tahu saja lo Re.” Dimas terkekeh.


“Jangan lupa nonton ya, Sya,” Rajaya mengusap lembut kepala Tasya.


Tasya berdecak lalu mendorong Rajaya.


“Sya, tunggu.” Rajaya mengejar Tasya yang sepertinya ingin menuju kelas.


“Ish, Dimas! Pagi-pagi udah bikin masalah, lo mau gue tendang nyampe pluto,” Teresa membersihkan kedua telapak tangannya yang baru saja digunakan untuk menahan tubuh agar tidak tersungkur ke lantai.


“Tahu lu, gue juga kan yang kena getahnya.” Mita membantu Teresa bangkit begitu juga dengan Dimas.


Tadinya Tasya ingin membantu tapi karena Dimas mendahului, Tasya mengurungkan niatnya lagi.


“Ngantuk Re, efek Rajaya datang ke rumah gue pagi-pagi buta. Dia yang bucin gue yang repot, parah emang,”


“Ah gak tahu gue pusing,”


“jangan marah. Baru saja kemarin kita romantis,” Dimas tersenyum.


“Kemarin gue gabut,” Teresa menyanggah.


Mita terkekeh, “Lo gak tahu ya, Teresa kalau lagi gabut suka baperin anak orang,”


“Gak papa yang penting gue yang dibaperinnya. Ayo Re, ikut gue bentar.”


“Ah, gue males. Kemana? Sya, Ta nanti gue menyusul ke kelas.” Teresa setengah teriak karena lengannya ditarik Dimas.


Tasya terkekeh lalu legannya yang sedang menggentong Fluffys digunakan untuk menyenggol lengan Farel, “Kenapa lo, galau?”


Farel menoleh, "Gak, Sya."

__ADS_1


__ADS_2