Teman Tapi Manja

Teman Tapi Manja
Ch - 11 Battle


__ADS_3

Mita dan Teresa segera bangkit dari duduknya termasuk Dimas and the geng kecuali Rajaya.


“Yang gak sopan duluan siapa sih, lo semuakan? Lagipula gue gak kenal lo semua, jadi jangan ganggu gue.”


“Lo gak tahu diri banget, ngaca dong Tasya lo pakai kaos kaki siapa?”


Tasya terkekeh, “Lo sampe tahu nama gue terus cari-cari gue karena ini?” Tasya menunjuk kaos kaki yang sedang dipakainya sambil cekikikkan.


Mita dan Teresa beserta Dimas and the gang menahan diri sekuat tenaga untuk tidak tertawa bengek.


“Kak Manda sebenarnya ada apa sih? Kok bisa ya Tasya pakai kaos kaki yang katanya punya kakak.” Mita bertanya sesopan mungkin.


“Lo tanyain aja sama orangnya,”


“Oke, gue minta maaf ya Kak...- Manda. Saya gak tahu Kalau kaos kaki dari Kak Juan ini ternyata punya kakak. Jadi, apa yang sebaiknya saya lakukan, mengembalikan kaos kaki ini atau bagaimana?” Tanya Tasya.


“Lo, ya. Ngeselin tahu gak!” Manda mendorong bahu Tasya lagi.


Tasya menahan diri untuk tidak berkata kasar atau sekedar mengumpat kesal, dirinya segera menghela napas pendek.


“Sabar, Kak. Masalah seperti ini bisa dibicarakan baik-baik.” Teresa menengahi Manda dan Tasya.


“Lo suka sama Juan?” Manda menatap Tasya dengan sorot mata yang tajam.


Tasya terkekeh, “Gosip darimana nih. Masuk tipe cowok gue juga kagak, kakak salah paham deh.”


“Kita battle basket.” Kalimat terakhir yang diucapkan Manda sebelum pergi ke tengah lapangan.


“Sya, lo gak papa kan. Sejak kapan lo kenal sama ketos yang mau pensiun?” Mita terlihat begitu penasaran sampai menggoyang-goyangkan lengan Tasya.


“Sya, lo yakin mau nerima battle manda?” Teresa tak kalah heboh dari Mita.


“E...” Tasya dibuat bingung oleh dua sahabatnya.


“Lo ati-ati, bukan sama Manda tapi sama orang yang ada dibelakangnya. Kalo lo kalah battle gue bakar mobil lo.” Rajaya tersenyum miring.


“Kalau gue menang?” Tasya menaikkan kedua alisnya.


“Mobil gue buat lo.” Rajaya terlihat malas.


Tasya tersenyum lebar lalu menepuk pundak dua sahabatnya, “Nanti gue cerita, gue mau battle dulu.”


“Aturan mainnya cetak goal sebanyak mungkin, jika sudah mencapai selisih 10, pencetak gol terbanyak pemenangnya.” Ucap teman manda sambil memainkan bola basket yang berada di antara Tasya dan Manda.


“Kalo gue menang, mobil lo buat gue.” Pinta manda tanpa ekspresi.


Tasya terkekeh, “Lo mau banget ya mobil gue. Tapi, mobil gue udah jadi taruhan gue sama Rajaya, mobil gue mau dibakar kalau gue kalah battle.” Tasya mendapat senyum ejekkan dari Manda.


“Alesan lo, pokonya kalo lo kalah mobil lo buat gue.”


Tasya menaikkan kedua allisnya, “Bagaimana ya oke saja deh. Tapi, kalo lo yang kalah mobil lo buat gue ya.”

__ADS_1


“Mulai.” Teman Manda mengapungkan bola ke atas sebelum meninggalkan lapangan.


“Eh, Re. Kok gue gemes ya sama Tasya, dari tadi dia gak niat banget ambil bola dari Manda. Sebenarnya dia bisa maen basket gak sih.” Mita cemas.


“Mana udah kalah tiga lagi, mukanya santai banget pula. Apa sih yang ada di dalam pikiran Tasya.” Teresa menambahkan bahkan dia terlihat lebih cemas dari Mita.


“5 : 0”


“Lo itu bego atau bagaimana sih, gak bisa maen basket tapi nerima battle gue.” Manda tersenyum mengejek.


“Ya ampun Ka Manda baru unggul 5 udah besar kepala, gak baik nanti kepala lo meledak. By the way, lo bawa pasukan untuk mempermalukan gue yang kalah begitu.” Tasya mulai merebut bola basket dari Manda.


“Gendang telinga gue mau pecah denger supporter lo yang norak teriak-teriak gak jelas.”


“Jadi lo pura-pura bego,” Manda kesulitan mengambil bola dari Tasya.


Tasya tersenyum manis, “Kak lo masih inget gak pribahasa Senjata makan tuan sama udah jatuh terus ketiban tangga?”


“Apa maksud lo ngomong kayak gitu ke gue!” Manda mendorong bahu Tasya menggunakan kedua tangannya.


“Ini masih battle basket kan bukan battle fisik?” Tasya bangkit setelah terjatuh didorong Manda. Lalu permainan kembali berlanjut.


“Aduh, Tasya bagaimana sih kok jatuh. Dia gak sakit hatikan karena anak-anak kelas gak nyemangatin dia.” Mita semakin panik.


“Sya... ayo dong semangat.” Teriak Teresa.


“Kak, lo belum jawab pertanyaan gue. Masih inget gak pribahasa yang gue sebutin tadi?” Tasya memancing emosi Manda.


“Yaudah, gue anggap lo tahu karena kalo lo gak tahu mana mungkin lo bisa sekolah di sini, Tapi lo belum ngerasaikan? Gue kasih kesempatan buat lo rasain.” Tasya tersenyum miring sambil menggiring bola menuju ring dan-


“Kita akhiri permainan membosankan ini,” Tasya tidak memberi Manda kesempatan mengambil bola atau sekedar menyentuh.


“5 : 3”


Supporter Manda semakin panik, sementara Teresa dan Mita lega mereka berhasil kena prank Tasya.


“Tasya belum tahu sekolah ini. Apa gue kasih tahu aja ya?” Dimas mengamati permainan Tasya dan Manda.


“Telat lo, besok juga si cabe ke kelas labrak Tasya. Liat aja nanti.” Farel menyunggingkan bibirnya sambil melihat Manda yang kesulitan mengambil bola dari Tasya.


“5 : 8”


“Anjin* mobil gue!” Rajaya kembali merebahkan tubuhnya.


“Jay, nanti lo pilih Tasya teman sekelas lo atau pilih pentolan lo yang bajing*an itu?” Pertanyaan Dimas diacuhkan Rajaya.


“Tapi serem juga sih kalau geng alam bawah sekolah lawan Tasya yang sendirian.” Rian ngeri sendiri.


“Tasya gak sendirian kan ada gue,” Dimas terlihat bangga.


“Tai lo. Ke basecamp saja lo kayak ayam sayur.” Farel mendengus pelan.

__ADS_1


“Gue harap alam bawah sekolah ada yang yang hancurin.”


“Itu sih mau nya lo,” Farel berbicara tepat di telinga Rajaya.


“5 : 12”


“Ya ampun Tasya lo kayak pemain basket profesional.” Mita tersenyum lebar.


“Gila... Tasya bakal dapet 2 mobil sekaligus.” Teresa masih mengamati battle Tasya dan Manda dengan serius.


“5 : 15”


Manda meninggalkan lapangan basket dengan amarah, sementara Tasya melambaikan tangan memberi salam perpisahan kepada Manda.


“Kak... kapan-kapan kita main lagi ya.” Teriak Tasya.


“Sya, keterlaluan lo ngeprank gue. Lo jago banget basketnya.” Mita dan Teresa memeluk Tasya.


“Lo bisa futsal juga gak? Ikut gue yuk, eskul futsal.” Rayu Teresa.


“Jangan Sya, nanti lo bau ketek. Ikut gue saja jadi pengurus osis.” Rayuan Mita tak kalah dari Teresa.


“Kok lo berdua mendadak jadi sales promosi eskul, gue gak mau ikut eskul.” Tasya berjalan mencari tempat duduk.


“Wajib Sya, kecuali kalau lo kelas 12 boleh gak ikut eskul.” Mita memberitahu.


“Ada eskul musik gak?”


“Lo bisa nyanyi, Sya?” pertanyaan Teresa diangguki Tasya.


“Gila lo terlahir sempurna banget sih.” Mita memeluk Tasya.


“Berlebihan deh, gue biasa saja kali.”


“Lo lupa tanggung jawab lo sendiri?” Keano tiba-tiba muncul di hadapan Tasya. Sementara Tasya memiringkan sedikit kepalanya kebingungan.


“Mana kertas tes? Bentar lagi pelajaran olahraga selesai, anak kelas belum ada yang tes satupun.”


“Oh, kasihin Ta kertasnya.” Pinta Tasya dan Mita langsung memberikan kertas beserta pulpen yang ada di tangannya kepada Keano.


“Gak bisa ya lo sehari gak buat masalah.” Ucap Keano sebelum meninggalkan Tasya.


“Eh...” Tasya terkejut bukan main lalu segera mengejar Keano.


“Keano Algesha! Lo sadar gak sih semua masalah gue itu bersumber dari lo. Coba aja kalo lo gak bawa gue ke ruang osis semua ini gak akan terjadi Kea, lo itu- ARGH. Lo jangan deket-deket gue deh.”


“Lo yang deketin gue.” Keano menggunakan matanya untuk menunjuk tangan Tasya yang menempel di bahunya.


Mulut Tasya menganga lalu menjauhkan tangannya dari keano secara perlahan.


“Sya, lo gakpapa?” Mita menepuk pundak Tasya.

__ADS_1


“Hah? Lo berdua hati-hati sama Keano, dia mulai gak waras.”


“Gue sih udah tahu, gak waras plus gak normal.” Timpal Teresa. Lalu mereka bertiga tosan tangan.


__ADS_2