
Mobil Tasya lebih dulu memasuki halaman rumah lalu di susul mobil Keano.
Ceklek
“Bagus ya, baru pulang. Tidak tahu diri, dikasih hati minta jantung.....”
Begitulah semprotan Nenek Nia setelah tahu yang datang adalah Tasya.
Tasya menghiraukan semprotan Nenek Nia dan juga tatapan dingin mami Sandra yang sedang membuka lembaran majalah.
“Permisi,” Keano dan Nia memasuki rumah.
Tasya berdelik karena Nenek Nia berhenti mengoceh setelah tahu yang datang tak hanya Tasya saja tetapi cucu kesayangannya juga datang.
“Eh, iya. Silahkan duduk, ini siapa?” Mami Sandra mempersilahkan Keano untuk duduk.
“Keano, tante. Temennya Tasya sama Nia,” Keano tersenyum ramah. Senyum yang jarang sekali dilihat oleh teman sebayanya.
“Teman gue?” Tasya melirik Keano sambil terkekeh lalu menaiki tangga.
“Kalau ada tamu berkunjung disambut dengan baik, cepet bikin minuman,” Nenek Nia menasihati dari ruang tv.
Anak, nyokap, nenek sama-sama munafik. Kemunafikan adalah warisan turun temurun mereka, Tasya memutar bola malas lalu berjalan menuju dapur.
“Nia, kok pulangnya dianter nak Keano, ada apa?” Mami Sandra khawatir melihat tatapan anaknya yang begitu kosong.
“Nia dicegat preman saat pulang sekolah, mungkin masih trauma.Tapi, Nia belum diapa-apain sama preman itu, Tante.” Jelas Keano karena Nia tidak mau membuka mulutnya.
“Preman? Kok bisa. Tapi, untunglah ada nak Keano. Makasih ya udah jagain anak tante.” Mami sandra mengelus rambut Nia.
“Sebenarnya Tasya juga yang-“
Ehem, ehem!
Tasya berdehem untuk menghentikan ucapan Keano.
“Silahkan nak Keano, diminum,” ucap mami Sandra setelah Tasya meletakkan gelas berisi jus jeruk.
“Terima kasih, Tante.” Keano mengambil minuman yang telah dibuat Tasya.
“Kea, sorry ya tadi pas bikin minuman gue gak sengaja bersin terus ingus sama ludah gue kecampur sama jus yang lagi lo minum,” bisik Tasya yang duduk di samping Keano.
Ohok! Ohok!
Keano tersedak jus yang sedang diminumnya, sementara Tasya terkekeh geli.
“Tasya, kalau ada orang lagi minum jangan diganggu,” Mama Sandra menasihati. Sementara raut wajah Nia semakin memburuk, seperti muak dengan semua yang dilakukan Tasya.
Keano ragu untuk menghabiskan minumannya lalu melirik Tasya yang tertawa tanpa suara.
“Gue bercanda. Minum, hargai gue yang udah bikin.” Ucap Tasya setelah tawanya reda.
Keano meletakkan gelas kosong di atas meja lalu melirik Tasya, “Manis.”
“Yaialah, kalau gue kasih makian itu jus jadi pait. Aneh lo.” Tasya menepuk paha Keano.
Keano tersenyum tipis sambil mengusap pahanya yang sedikit kebas.
Ehem!
“Papi?” ucap Mami Sandra dan Nia bersamaan dan mereka berdua langsung berdiri.
“Sore, Om.” Keano juga ikut berdiri.
Hanya Tasya yang masih duduk di kursi bahkan gadis itu tidak melirik ayahnya sama sekali.
__ADS_1
“Nia, bawa tas papi ke atas.”
Nia menerima tas kantor dari tangan kanan ayahnya, sementara tangan kiri ayahnya memegang sebuah map.
“Tasya, papi mau bicara sama kamu,”
Tasya bangkit dari duduknya lalu membuntuti ayahnya menuju halaman belakang.
“Tante, saya juga pamit pulang. Terima kasih sudah disambut dengan baik.”
“Iya, sering-sering ya main ke sini. Kegiatan Nia juga gak terlalu sibuk.” Mami Sandra mengantar Keano sampai teras depan.
“Anda pikir saya bodoh sampai tidak tahu isi dari surat perjanjian ini,” Tasya melempar map dari ayahnya dengan kasar.
“Perusahaan mami kamu akan hancur jika tidak ada yang bertanggung jawab,”
“Cukup. Pak Hendrawan Anda pikir Anda siapanya mami saya, Hah! Beraninya ingin mengambil alih perusahaan mami, Anda adalah orang yang tidak tahu malu dan gila harta.” Tasya menunjuk wajah papinya.
“Tasya, saya hanya ingin melindungi perusahaan mami kamu.”
“Persetan. Perusahaan Anda sedang diambang kehancuran kan, Anda tidak ingin jatuh miskin jadi Anda ingin mengambil alih perusahaan mami saya, benarkan? Anda licik,”
Plak!
“Anak tidak tahu diri!”
Tasya terkekeh lalu meraba pipinya yang terasa kebas lalu pergi meninggalkan papinya.
“Kamu pergi dari rumah anak saya, memalukan.” Nenek Nia melemparkan dua koper milik Tasya dari tangga.
“Dan bawa ini juga, orang yang selalu kamu junjung tinggi,” Nenek Nia melemparkan sebuah figura yang tergambar wanita dewasa yang begitu cantik.
“Mami,” Tasya mengambil foto maminya dari pecahan kaca.
“Baguslah, Anda tidak perlu tahu siapa mami saya,” Tasya tertawa mengejek lalu meraih kopernya.
“Ibu dan anak sama-sama memalukan. Lihat saja, tanpa kami kamu akan jadi gembel jalan,” Nenek Nia bertolak pinggang.
Tasya tersenyum miring lalu menatap dingin wanita paruh baya yang akhir-akhir ini selalu perang mulut dengannya, lalu beralih ke arah anak tangga, Nia dan maminya yang sedang berdiri menatap sinis Tasya.
“Tasya,” panggil Hendrawan dari arah halaman belakang.
Tasya mendengus sebelum berjalan setengah berlari menuju ke luar rumah.
***
“Mami kok bisa ketemu sama orang seperti mereka? Mereka jahat mi... aku bisa merasakan apa yang mami rasain,” Tasya menunduk sambil mengusap lembut foto gambar maminya.
“Maafin Tasya, mi,” ucap Tasya lirih.
“Sya...”
Tasya mendongkak, dirinya hafal suara itu. Ya, Keano.
“Sorry, gue ikutin lo,” Keano duduk di samping Tasya.
Tasya meraih kacamata hitam dari tasnya lalu digunakan untuk menutupi matanya yang sembab.
Mereka berdua sedang berada di taman komplek
“Kenapa dibakar?”
Tasya melirik Keano sekilas, lalu kembali membakar foto maminya sampai menjadi abu.
“Sya...” Keano sempat bingung dengan Tasya. Gadis itu menangis bahkan air matanya mengucur deras membasahi pipi tapi tidak terdengar isak tangis.
__ADS_1
Tasya menyimpan korek gas lalu menatap Keano sambil berdecak, “Apa?”
“Pipi lo, Sya. Sakit?”
“Apaan sih, gue sudah biasa.” Tasya menepis tangan Keano yang meraba pipinya yang meninggalkan jejak tamparan.
“Lo udah buntutin gue, lo harus tanggung jawab.” Tasya memeluk Keano.
“Lo gak boleh balik sebelum gue izinin,” sambung Tasya.
Keano membalas pelukan Tasya, satu tangannya ia gunakan untuk mengusap lembut kepala Tasya.
“Sya, lo boleh cerita, gak baik dipendam sendiri.” Keano merasakan bajunya dibasahi air mata Tasya.
Tasya mendongkak tapi masih menyandar di tubuh Keano, “Lo kepo ya,” diiringi kekehan.
Keano membuak kacamata hitam yang menutupi mata Tasya, “Ini sisi lain dari lo, Sya. Lo lagi nangis tapi masih bisa bercanda.”
Tasya kembali membenamkan wajahnya di dada bidang Keano sambil terkekeh, “Ya terus gue arus terpuruk gitu meratapi nasib gue yang menyedihkan ini? Ngenes banget hidup gue.”
“Terserah lo, Sya.” Keano kembali mengusap kepala Tasya.
“Keano Algesha,” Panggil Tasya kesal.
“Kenapa sih, Sya?” Keano sedikit terkekeh.
“Balikin kacamata gue,” Tasya frustasi, Keano terus menjauhkan lengannya yang memegang kacamata.
“Au, sakit Sya,” Keano mengusap pinggangnya yang baru saja dicubit Tasya.
“Jangan nangis lagi ya.”
Tasya mendengus kesal setelah Keano memakaikan kacamata dan mengusap air mata yang membasahi pipi. “So romantis lo, gue bukan pacar lo ya.”
“Lo gak mau jadi pacar gue?”
Tasya terkekeh mendengar pertanyaan Keano.
“Gak mau,” Tasya menggelengkan kepalanya, “Maunya jadi istri kamu,” sambungnya lagi.
Tasya tersenyum lebar lalu jari telunjuknya menunjuk wajah Keano yang ikut tersenyum.
“Sya...” Keano meraba pipi Tasya yang terdapat jejak bekas tamparan.
Hihihi hihihi.
Hihihi hihihi.
Ringtone ponsel Tasya berhasil menghentikan ucapan serta tindakan Keano.
“Hallo,”
“Luna?”
“Kantor?”
“Oke, saya segera ke sana.”
“Ada apa?” Keano menaikkan kedua alisnya.
“Lo lebih berekspresi sekarang, mau ikut?” Tasya terkekeh.
“Kemana?”
“Ikut saja sih kalau penasaran,” Tasya berjalan menuju mobilnya.
__ADS_1