Teman Tapi Manja

Teman Tapi Manja
Ch. 41 - "Gue mau jemput Keano," (Tasya)


__ADS_3

“Grandpa memang pemilik sekolah itu, lalu apa mau kamu?”


“Aku mau grandpa keluarin nama-nama yang udah aku sebutkan tadi,”


Grandpa terkekeh, “Kenapa grandpa harus melakukannya?”


“Mereka jahat grandpa, kalau tidak percaya aku punya semua buktinya,” Tasya memberikan tabnya kepada Grandpa.


“Mereka masih remaja, wajar nakal dan kamu tidak boleh bermain apalagi bergabung dengan mereka.” Grandpa melihat bukti-bukti yang ada di dalam tab cucunya.


“Kalau begitu grandpa keluarin mereka, bereskan,”


“Tasya, kekuasaan jangan digunakan untuk berbuat seenaknya. Grandpa memang pemilik sekolah itu, tetapi bukan berarti grandpa bisa berbuat seenaknya. Dan bukan berarti juga karena kamu cucu Grandpa kamu bisa memerintah sesukamu lalu berlindung di ketiak grandpa,” Grandpa tertawa diakhir kalimatnya.


“Kamu sudah besar dan kamu juga pintar, selesaikan masalahmu satu-satu.” Grandpa mengembalikkan tab cucunya.


“Grandpa tidak mau bantu aku?” Tasya menaikkan kedua alisnya.


“Ibu mu sudah tidak ada, jangan sampai membuat ibumu semakin tidak ada,”


Pembicaraan macam apa ini benar-benar tidak nyambung, Tasya menundukkan kepala agar ekspresi malasnya tidak terlihat.


“Lalu apa yang harus Tasya lakukan?” Tanya Tasya baik-baik.


“Kamu sendiri yang lebih tahu apa yang harus dilakukan,”


Tasya menghela nafas panjang, sementara Keano menyimak pembicaraan yang sangat serius dan mungkin penuh emosi bagi Tasya. Dan terakhir Nono yang berdiri tegap di belakang kursi yang di duduki Grandpa.


“Wait, ini belum selasai. Grandpa mau kemana?” Tasya panik saat Grandpa bangkit dari duduk dan mengiraukannya begitu saja.


“Menurut Grandpa ini sudah selesai dengan sangat jelas. Kamu mempunyai Luna untuk belajar dari awal. Kalian bisa pergi.”


“Lo diusir Fush,” Nono terkekeh sebelum pergi membuntuti Grandpa.


“Gak nyerahkan, Sya?” Tanya Keano yang sudah duduk di kursi mobil di samping Tasya.


“Meaong,” Flufyys yang ada dipangkuan Keano ikut menyahut.


Kucing itu selalu menempel pada Keano, dan Tasya pun memutuskan untuk membawa kucing kesayangannya.


“Gue buntu, berasa ditampar kenyataan kalau gue memang gak bisa apa-apa tanpa kekuasaan Grandpa,” Tasya berkonsentrasi mengemudi.


“Lo gak sadar Sya kalau Grandpa kasih Klu?”


“Maksud lo Luna? Belajar ngatur duit, manaje waktu, saham. Ah males gue, itu kerjaan ibu-ibu sama bapak-bapak gue masih SMA.”


“Kalau seluruh saham sekolah kita bisa lo beli, lo bisa buat aturan sekolah yang lebih baik. Lo mau kan Sya di sekolah kita gak ada orang-orang avarelic atau semacamnya yang kayak mereka?”


Tasya melirik Keano sekilas, “Kea... beli saham tak semurah beli bobba. Duit dari mana?”


“Lo punya perusahaan jangan dibuat pasif, bangun relasi dengan perusahaan lain.”


Bener juga, kok otak gue lola banget ya hari ini. Gara-gara kepentok meja pasti ini, Tasya meringis meratapi kelemotan otaknya.


“Makasih sarannya, gila sih otak lo udah sekelas CEO,”


Keano tersenyum tipis, “Jadi gimana? udah serius sama hidup, lo harus serius biar gak lemot.”

__ADS_1


“Jangan terlalu serius, apalagi berharap-“ Tasya terkekeh melihat ekspresi Keano yang tersinggung dengan kata-katanya.


“Membangun perusahaan tak semudah membangun rumah tangga,” sambung Tasya.


“Butuh bantuan?”


“lo udah banyak bantuin gue.”


Keano menaikkan kedua alisnya lalu melihat handphone yang tergeletak di dashboard.


“Ilham cariin lo,” Tasya melirik Keano yang sedang memainkan poselnya dan direspon anggukkan oleh keano.


“Grup kelas sering ramai semenjak lo datang, Sya.” Keano tersenyum tipis melihat isi chat di grup kelasnya.


“Gitu ya, makanya kalau lagi ramai lo ikut nimbrung,”


“Meaong,” Flufyys menatap Tasya dengan kedua mata yang setengah terbuka.


“Fys... gue masih jadi majikan lo kagak sih?”


“Meaong” Fluffys menutup rapat kedua matanya.


“Gue anterin lo ke sini aja ya, males kalau ke sekolah jauh soalnya.”


Keano melirik bangunan bertingkat yang dimana salah satu apartemennya ada di sana, “Besok paginya gue dijemput lo kan, Sya?”


“Gak,”


“Meaong,” Fluffys mencakar lengan Tasya karena majikannya ingin memisahkan dirinya dari Keano.


“Argh, jahat banget lo sama gue Fys.” Tasya melepaskan Fluffys dari gendongannya lalu meraba lengannya yang tersayat kuku Fluffys.


Tasya berjalan di belakang Keano sambil melihat lengannya yang terus mengeluarkan darah.


“Makasih ya Kea...”


Keano yang sedang membalut lengan Tasya dengan perban terkekeh, “Sudah berapa kali lo bilang makasih sama gue hari ini, Sya.”


“sama-sama, cantik.” Keano mengacak puncak kepala Tasya.


“ISH!” Tasya menepis lengan Keano lalu membetulkan kembali rambutnya yang berantakan.


“Gue balik, titip kucing gue ya, kalau dia bikin ulah sembelih aja,” Tasya memberikan senyuman miring kepada Fluffys yang sedang anteng di sofa.


“Meaong,” Fluffys mengeong saat Tasya mengatakan kata sembelih.


“Besok gue jemput lo deh, sekalian ambil dia,” Tasya menunjuk Fluffys yang sudah memejamkan mata.


Keano mengangguk dan kemudian mengantar Tasya sampai pintu, “hati-hati.”


Tasya terkekeh, “Ok, bye.”


***


“Kok bisa sampai kayak gini, Sya?” Teresa melototi luka di lengan Tasya yang sudah mengering.


“Ini udah gak perih banget sih,” Tasya menyender di sandaran ranjang.

__ADS_1


Tasya bercerita kepada dua sahabatnya kalau dirinya bertemu kucing liar di jalan, walaupun saat menceritakannya belepotan tapi kedua sahabatnya ini percaya.


“Kucing jalanan memang gitu, kita harus hati-hati. Udah makan belum, Sya?” Mita juga ikut melototi apa yang dipelototi Teresa.


“Dah.”


“Sya, coba lo datang sepuluh menit lebih awal, pasti lo ketemu abang gue. Lo agak telat Sya, abang gue sudah pergi ke acara reunian.”


“Gue ke sini bukan mau ketemu sama abang lo, Re.”


“Iya dah iya,” Teresa terkekeh.


“Guys, gue punya tugas osis, bantuin ya,” Mita berjalan mengambil laptopnya yang ada di atas meja belajar Teresa.


“Sini, gue yang ngerjain,” Tawar Teresa.


“Gak, kalau lo Re yang ngerjain bisa dikutuk gue sama Keano,” Tolak Mita sementara Teresa terkekeh.


“Sini gue bantu,” Tawar Tasya dan dengan senang hati Mita menyerahkan laptopnya kepada Tasya.


“Eh Ta, kok gue ngerasa kalau Juan percuma jadi ketua osis.”


“Emang, dia ketua osis mager, ngandelin Keano mulu,” Mita terkekeh.


“sama dong kayak lo, Ta.” Teresa menertawai Mita.


“Gue masih mendingan, minta bantuan dari Tasya juga jarang. Lah, si ketos hampir 95% tugasnya dikerjain Keano. Si Juan kerja serius pas di depan pembina aja.”


“Terus mentang-mentang mereka yang kelas 3 mau pensiun, limpahin kerjaan ke kelas 2 seenaknya kayak minggu-minggu sekarang.”


“Kenapa lo gak keluar saja, Ta?” Tanya Tasya yang sedang serius mengerjakan tugas Mita.


“Sayang Sya kalau keluar, bentar lagi gue jadi senior dan yang paling seru jadi pengurus osis itu saat mos.”


“Dah, Ta.” Tasya menyelesaikan tugas Mita cepat dan tepat.


“Makasih, Sya... gila cepet banget,” Mita bahagia bukan main.


“Astaga jarang banget gue bisa tidur di bawah jam 10,” Tasya merebahkan badannya di kasur Teresa.


“Langsung tidur Sya? Gak mau main dulu ke mall gitu nonton? Gue udah dandan, Sya...” ucap Teresa yang sedang duduk di depan meja Rias


“Kapan-kapan aja ya,” Tasya menutup seluruh tubuhnya dengan bedcover.


Mita yang sedang print out tugas osisnya terkekeh, “untung gue belum siap-siap.”


***


“Sya, lo gak mau satu mobil sama gue atau Mita? Tangan lo masih sakit gak?”


“Gue udah gakpapa, yuk berangkat. Oh ya, kalian duluan aja ya ke sekolahnya,”


“Lah, emangnya lo mau kemana dulu, Sya?”


“Gue mau...” Tasya tersenyum tidak berniat melanjutkan kata-katanya.


“Kita ikut,” Mita mencetuskan.

__ADS_1


“Kenapa? Sya, kita sahabatkan jangan ada rahasia-rahasia, apapun yang lo lakuin semuanya kita dukung. Lo mau kemana atau ada urusan sama siapa?”


Tasya menghembuskan nafas panjang, “Gue mau jemput Keano.”


__ADS_2