Teman Tapi Manja

Teman Tapi Manja
Ch. 30 - Drama Rajaya


__ADS_3

“Sya, aku lagi sakit.” Rajaya sedikit kesal karena saat sudah sampai dibangku dirinya diacuhkan Tasya.


Tasya yang sedang mengerjakan soal matematika menoleh, “Lo sakit apa?”


“Di sini, sakit banget Sya, tapi gak berdarah,” Rajaya menuntun lengan Tasya untuk meyentuh dada bidangnya.


“G*blok, g*blok!” Dimas tertawa sampai mengeluarkan air mata, termasuk Rian dan juga Farel.


Rajaya menjitak kepala Dimas sekeras mungkin dirinya tidak terima ditertawakan.


“Sya...” Rajaya juga tidak suka jika Tasya ikut menertawakannya.


“Ya terus gue harus apa, Rajaya?” Tasya mencubit dada bidang Rajaya.


“Ah,” Rajaya merintih lebay. “Jangan dicubit, diusapin dong, Sya.”


Tasya memutar bola matanya malas, satu lengan ia gunakan untuk menulis dan satunya lagi digunakan untuk mengusap dada Rajaya.


“Geli gue liat King cobra lagi bucin,” Mita duduk di samping Ilhan di tempat Keano yang kosong lalu mulai mengerjakan soal matematika.


“Lo enak Ta liat bucinnya doang, tadi sebelum lo datang kita kena sumpah serapah, cacian, makian dan racun toxic si King cobra.” Rian menunjuk Rajaya menggunakan sorot matanya.


“Ah, lebay lo.” Teresa memukul dahi Rajaya menggunakan pulpen, lalu duduk satu kursi dengan Tasya.


“Gue maafin lo Re karena lo sahabatnya Tasya,”


“Terus kalau gue bukan sahabatnya Tasya, lo mau bunuh gue begitu,” ucap Teresa sambil mencatat jawaban matematika dari Tasya.


“Yaialah,” jawab Rajaya santai.


Tasya yang sudah selesai mengerjakan semua soal matematika langsung menyentil dahi Rajaya, “Lo mau macam-macam sama sahabat gue?”


“Becanda, Sya,” Rajaya tersenyum semanis mungkin.


“Ngapain sih lo pada ke sini? Mau nyontek, tolol lo semua.” Rajaya menoyor kepala sahabatnya yaitu Dimas, Farel dan Rian.


“RAJA-ya,” Dimas menekankan kata Raja.


“Kalau lagi sakit itu gak boleh galak-galak nanti mati, iya kan, Sya?”


“Hm,” Tasya setuju.


“Gue sekalian,” Rajaya meletakkan pulpennya di atas lembar soal lalu di geser tepat di dekat Dimas yang sedang mencontek.


“Lo punya tangan, kerjain sendiri,” Tasya kembali memukul Rajaya.


“Galak banget sih,” Rajaya mengusap lembut kepala Tasya sebelum mengerjakan soal matematika.


“Udahlah, tangan gue pegal.” Tasya berhenti mengusap dada Rajaya.


“Kea, gue males pindah, lo aja yang cari tempat duduk yang lain ya,” ucap Mita kepada Keano yang baru datang.


Rajaya menoleh lalu memberi Keano senyum ejekkan. Sementara Keano terlihat acuh lalu duduk di kursi Ilham karena Ilham pindah ke belakang lebih tepatnya menghampiri Fadil.


“Kea, proposal yang baru lo kirim maksudnya gimana ini, gue gak ngerti,” Mita menunjukkan layar ponselnya kepada Keano.


“Tanya Ilham,” jawab Keano datar dirinya juga masih sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


Tasya yang sedang bermain ponsel terkekeh, “Tanya Ilham aja sih Ta kalau gak ngerti, jangan dipaksain.”


Mita menggelengkan kepala sambil terus melototi ponselnya.


“Selesai,” Dimas meletakkan pulpen.


“Sekalian, kumpulin punya gue juga,” Teresa memberikan lembar jawaban matematika kepada Dimas.


“Gue, juga.” Mita terkekeh lalu diikuti Rian dan Farel.


“Sekalian,” Rajaya memberi lembar soal milik dirinya dan juga Tasya.


“Kapan ya kelas gue gak ada anak pecicilan, sok ganteng sok cantik, munafik, tukang caper. Risi gue liatnya!” Rara mengomel saat menyimpan lembar jawabannya ke meja guru.


“Petasan imlek akhirnya meledak juga,” Teresa bangkit dari duduknya lalu pergi menuju bangkunya.


“Iri tanda tak mampu,” Mita juga bangkit dari duduknya lalu menghampiri Ilham yang duduk di belakang bersama Fadil.


“Rara mau gabung sama kita?” Dimas yang sudah mengumpulkan lembar soal akhirnya duduk di bangku Mita di samping Teresa yang mengacuhkannya. Sementara Rian dan Farel pergi keluar kelas.


“Naji* gabung sama lo semua yang gak tahu diri, pecicilan dan kurang didikkan.” Rara mengeluarkan semua unek-uneknya.


“Lo kok ngomongin diri sendiri. Ya.” Teresa menyahut dari bangkunya.


Tasya yang sedang memainkan ponselnya menoleh Rara sekilas.


“Cih, tololnya sampe ke tulang,” Rara tersenyum mengejek.


“Berisik, tepos.” Sedari tadi mata Rajaya terus mengekori kemana perginya Rara sampai Rara duduk kembali di bangkunya.


Rajaya menyentuh dadanya yang dipukul Tasya, “Kok kamu marah, kan kamu gak tepos, sayang.”


“Sya, pindah. Mesumnya kumat.”


Rajaya melempari Dimas dengan pulpen, “Lo kalau lagi sama Teresa, gak usah ganggu gue.”


Tasya kembali memukul Rajaya kali ini sangat keras.


“Sakit, Sya.” Rajaya menangkap lengan Tasya.


“Sya, tangannya gara-gara Manda?” Rajaya menatap tangan Tasya yang sedikit membengkak.


“Apaan sih lo, ah. Sakit tahu.” Tasya menjauhkan lengannya yang bengkak dari Rajaya.


“Sini lengannya kalau sakit aku yang pijat,” Rajaya mencoba meraih lengan Tasya.


“Rajaya, gue gak bercanda ya. Tadinya lengan gue udah gak sakit, gara-gara lo salah pijat tangan gue sakit lagikan.” Tasya mulai kesal.


“Gue minta maaf, Sya. Aku benerin urat yang salahnya.”


Tasya bangkit dari duduknya, “Gak, lo gak tahu ini sakit beneran, gue yang ngerasain. Lepasin,”


“Tasya...”


Tasya mengacuhkan Rajaya. “Kea, tolong dong,” Tasya mengulurkan tangannya yang bengkak lalu duduk di samping Keano.


“Sya, pindah yuk-“ Rajaya tidak terima Tasya duduk bersama Keano.

__ADS_1


“Gak, minggir.” Tasya benar-benar dibuat kesal oleh Rajaya. Bahkan dirinya enggan menatap Rajaya.


Rajaya duduk kembali di kursinya sambil menatap tangan Tasya yang sedang diurut Keano. Sesekali mata Keano dan Rajaya bertemu dan saat itulah perang mata terjadi.


Tasya menggerakkan jari-jari tangannya setelah selesai diurut.


“Sya, tadi sakit banget ya?” Tanya Rajaya.


“Pakai tanya, ya sakitlah, kalau kagak sakit buat apa gue nyuruh orang benerin tangan gue,” wajah Tasya saat ini begitu kesal.


“Maafin gue ya, dimaafin kan gue, Sya?” Rajaya memohon.


“Maafin lo? Lo kan teman Manda buat apa maafin lo, lo musuh gue sakarang.” Tasya menatap Rajaya dengan malas.


Rajaya berdecak kesal lalu meraih tangan Tasya, “Kata siapa aku temennya Manda?”


“Emang temennya kan, lebih tepatnya lo itu satu kelompok dengan Manda, Alda dan Leo. Lo lagi sekongkol dengan mereka buat jebak gue kan?”


“Sya...” Wajah Rajaya terlihat serius.


“Dulu gue memang satu tongkrongan dengan mereka, tapi sekarang nggak, gue gak ada niat jahat sama lo, Sya.” Sambung Rajaya.


“Kenapa gue harus percaya sama omongan lo?” Tasya menaikkan salah satu alisnya.


Rajaya mengacak rambutnya frustasi, “Oke, gue buktiin sama lo kalau gue bukan lagi teman mereka, gue bakal buktiin, Sya.”


Tasya mendengus pelan lalu mendekatkan wajahnya ke Rajaya, “Omong doang.”


“Ehem... RAJAYA!” Bu Eka menjerit melihat Rajaya yang ingin mencium Tasya, tapi untunglah Tasya sangat lincah untuk menghindar.


Sementara di belakang bu Eka, ada dua siswa yang mengendap siapa lagi kalau bukan Rian dan Farel.


Rian dan Farel segera menuju bangkunya sebelum kelakuannya disadari bu Eka.


“Kalian boleh beres-beres pulang. Semuanya sudah mengerjakan tugas ibu kan?” Bu Eka membereskan barang-barang miliknya.


“Sudah, Bu.” Jawab seisi kelas.


“Rajaya sudah?” Bu Eka menaikkan kedua alisnya menunggu jawaban Rajaya.


***


udah 30 chapter...


Like nya...


komen juga...


Jangan lupa favoritkan...


gimana suka gak?


Kasih semangat buat Tasya 💪💪💪


Keano juga 💪💪💪


🔥🔥🔥Rajaya semakin meresahkan 🔥🔥🔥

__ADS_1


__ADS_2