
“Mi, Nia... papi pulang. Lihat siapa yang datang.”
Tasya menarik dua kopernya kesusahan, lalu menatap papinya tajam yang lebih dulu masuk ke dalam rumah sambil berteriak menyapa penghuni rumah.
“Tasya kenalin, ini Mami Sandra dan ini Nia saudara kamu,” ucap papi Tasya ramah sambil menunjuk dua wanita di depan Tasya secara bergantian.
Tasya menanggapinya dengan senyuman seadanya, sementara kacamata hitamnya belum ia lepaskan.
“Pasti Tasya kelelahan deh, Nia... anterin saudara kamu ke kamar, ya.” Mami Sandra mencoba bersahabat untuk Tasya.
“Ayo Sya, kamar kamu sebelah aku kok.” Nia berjalan lebih dulu menaiki anak tangga, tidak mempedulikan Tasya yang kebingungan dengan dua kopernya.
Mami tiri dan papi kandungnya sudah menghilang bersamaan dengan Nia yang menaiki anak tangga satu persatu.
Tasya jadi teringat dengan bodyguard grandpa yang jumlahnya entah berapa lusin. Jika saja Nia adalah bodyguard Grandpa, Tasya sudah mengajaknya salto dan memberi dua jurus karate andalannya.
Itulah yang dilakukan Tasya selama di Amerika jika Grandpanya tidak mau menuruti keinginannya.
“Ini kamar lo, Sya. Dan ini kuncinya.”
“Pergi lo,” ucap Tasya setelah menerima kunci dari tangan Nia.
Nia tersenyum ramah kepada Tasya yang sedang membuka kunci kamarnya.
“Eh, gue pernah jadi asisten psikolog dan tahu wajah-wajah kayak lo tuh palsu, Lo sama nyokap lo sama-sama buaya betina tahu gak.”
“Welcome to my country.” Nia meninggalkan Tasya yang acuh padanya.
“Ini kamar? Ah elah, kamar mandi gue di Amerika juga segede kamar ini.”
Tasya membuka kacamatanya kasar lalu menjatuhkan badannya di atas ranjang, “Buset, gak enak banget ini kasur. Grandpa... jemput aku.”
“Duit gue cukup ga ya untuk menampung beban hidup selama tinggal di sini?”
Tasya menghitung uang cash yang ada di dalam dompetnya sejumlah lima juta rupiah, “Bisa abis dua hari kalau duit gue cuma segini.”
“Kartu ini harapan gue satu-satunya,” Tasya memainkan kartu kredit class platinumnya.
“Tapi bisa aja kartu ini dinonaktifkan sama Grandpa, ngak, ngak. Gue pinter gue harus putar otak, gue gak boleh ngegantung hidup gue sama siapapun termasuk Grandpa.”
“Tasya gak jadi istirahat?” sapa Mami Sandra yang sedang duduk di kursi makan.
Tasya tidak mempedulikan sapaan Mami Sandra yang menurutnya palsu, dirinya tetap berjalan menghampiri lemari es untuk mengambil sekaleng minuman dingin.
“Tasya boleh kok ngambil minum atau makanan apa saja di rumah ini, kan sekarang Tasya juga anaknya papi. Sama kayak Nia bebas melakukan apa saja di rumah ini.”
__ADS_1
Tasya menutup kembali lemari es yang sudah dibukanya, setelah mendengar ucapan Mami Sandra, dirinya enggan menggambil minuman kaleng dari dalam kulkas, atau mungkin sekedar menyentuh barang barang di rumah ini.
“Sya mau kemana, lo gak istirahat. Emangnya gak cape abis penerbangan, bentar lagi sore loh.” Nia mengejar Tasya yang berjalan cepat keluar rumah.
“Gak ada sore, siang ataupun malam bagi gue,” ucap Tasya sebelum menancapkan gas mobilnya.
“Mami!” Nia meneriaki maminya.
Mami Sandra segera menghampiri Nia, “Nia... kenapa?”
“Jaga ucapan mami, jangan kaya begitu lagi sama Tasya. Mami mau dimarahi papi. Dan juga sikap Tasya itu gak sama yang selama ini kita bayangkan.”
Mami Sandra mengusap puncak kepala Nia, “Mami tahu. Emangnya kamu gak takut kalau sayang papi berpindah ke Tasya?”
“Gak mungkin papi melakukan itu.” Nia meninggalkan maminya dengan kesal.
***
Tasya keluar dari sebuah alfamart dengan sekaleng minuman di tangan kanannya, sementara tangan kirinya sibuk memainkan ponsel dengan sekantung keresek berisi makanan ringan yang digantungkannya di lengan.
Tasya kembali menjalankan mobil, kali ini ia ingin melihat suasana metropolitan Jakarta.
Setiap Billboard yang menampilkan iklan terutama produk di bidang fashion, Tasya sedikit tertarik lalu mengusap perutnya.
“Argh, cari makan dulu deh.”
Tasya kembali memarkirkan mobilnya di depan alfamart, tapi bukan untuk berbelanja ke alfamart lagi.
“Tadi gue inget abang ketoprak ada di daerah ini, tapi kok gak ada ya?”
Tasya terus menelusuri jalanan komplek sampai menemukan sebuah gerobak dorong bertulis ketoprak.
Sebenarnya Tasya orang yang fleksibel, apa adanya dan tidak ribet. Membeli ketoprak untuk mengirit uang bukan gayanya.
Jiwa sosial dalam dirinya cukup diacungi jempol, Selama di Amerika Tasya rela menyimpan mobilnya jauh jauh demi bisa bermain dengan teman yang status sosialnya jauh dibawah dari dirinya.
Tasya lebih suka bergaul dengan orang seperti itu daripada bergaul dengan orang yang yang suka memamerkan kekayaan orang tuannya dengan rangkaian kata munafik yang membuat Tasya ingin muntah jika mendengarnya.
“Bang Ketoprak 1 porsi, makan di sini ya.”
Tasya duduk di salah satu kursi plastik yang berjajar rapi.
“Bang saya dulu ketoprak satu porsi, cepet bang sudah laper banget ini.”
Mata Tasya melotot walaupun tertutup kacamata hitam andalannya, Buset... mbak kira saya beli ketoprak karena iseng, Tasya mengumpat di dalam hati.
__ADS_1
“Komplek apa ini bang, rame banget.” Tanya Tasya kepada abang ketoprak yang sedang menyiapkan pesanan 2 pelanggannya.
“Mbak Pindahan, ya? Sudah enam bulan terakhir di sini itu rame banget apalagi kalau malam, biasalah karena komplek ini itu pintu masuk teraman menuju jalan baru yang biasa dipake buat balapan liar.” Jelas abang ketoprak.
Mulut tasya membentuk hurup O sambil ngangguk-ngangguk.
“Enak banget bang ketopraknya, kembaliannya ambil aja.”
“Duitnya gede banget, Makasih mbak,” teriak abang ketoprak karena Tasya sudah berjalan cukup jauh.
“Mari jalankan rencana kedua,” Tasya tersenyum manis sambil memakai sabuk pengaman yang ada di dalam mobilnya.
***
“Jam segini baru pulang, darimana aja?”
Kalimat yang didengar Tasya setelah membuka pintu rumah.
“Selama di Amerika kamu juga selalu pulang jam segini? Kebiasaan buruk kamu jangan bawa ke Indonesia.”
“Pulang malam bukan berarti buruk, tergantung apa yang dilakukannya.” Jawab Tasya.
“Kamu sadar gak, sekarang jam berapa.” Suara papi Tasya agak meninggi sedikit.
“Jam 2 kenapa?” Tasya sudah menaiki anak tangga satu persatu.
Terdengar helaan nafas dari orang yang ada di bawah tangga, “Istirahatlah”
“Cih, aneh banget.”
Tasya merebahkan tubuhnya lalu meraih sebuah dokumen kontrak perjanjian yang sedari tadi dipegangnya.
“Akhirnya selama liburan sekolah gue punya kegiatan positif yang bisa menghasilkan duit.”
Tasya membuka akun instagramnya, tapi tidak lama sebuah notifikasi dari email masuk.
“Dari grandpa?” Tasya membuka pesan email tersebut.
“Dokumen apa ini, yang bener aja gue harus ngerjain, emangnya orang kantor. Tapi, tapi ada duitnya. Grandpa memang keren deh.”
“Emang rezeki itu gak bisa jauh jauh dari anak solehah.”
Tasya mulai membuka alat sekolah yang ada di dalam koper lalu menatanya di meja kosong yang sudah tersedia.
Tasya menghabiskan malam pertama di Indonesia dengan membereskan barang-barang lalu bergelut dengan laptopnya sampai matahari hampir muncul.
__ADS_1