
Keano menghela nafas sambil menatap Tasya yang begitu keras kepala.
“Sya, mereka berkelompok sedangkan lo sendiri.”
Tasya melirik Keano dengan tatapan yang berbeda lalu tersenyum miris, “Tumben lo bener. Kea... kan ada lo, lo maukan bantuin gue. Lo udah tahu masalah gue, masa gak mau bantuin sih.”
Tasya terkekeh lalu menepuk pundak Keano, “Bantuin tangan gue yang terkilir.” Tasya mengulurkaan tangannya yang sedikit membengkak.
Keano menerima tangan Tasya lalu mulai mengurutnya lembut.
“Kea...” Panggil Tasya sambil menatap Keano yang sedang mengurut lengan Tasya.
“Hm...” Keano menjawabnya datar tanpa melirik Tasya.
“Lo mau bantuin gue?” Tasya menaikkan kedua alisnya.
Keano menganggukkan kepala sekali.
Kedua mata Tasya melotot, “Really?”
Keano menganggukkan kepalanya sekali lagi.
Tawa Tasya pecah, “Gue bacanda. Mereka hanya sekumpulan anak-anak nakal yang perlu diberi pelajaran biar tobat, gue bisa sendiri.”
Keano melirik Tasya dengan datar, “Gue gak yakin lo bakal berhasil tanpa bantuan gue, Sya.”
Tasya mengerutkan dahinya, “SePD itukan diri lo, Keano Algesha?”
Keano menganggukkan kepala lalu kembali fokus mengurut lengan Tasya.
“Sya, lo gak mau gue bantu?”
Tasya terkekeh, “Mendingan lo fokus jadi ketua osis dulu deh, kalau berhasil boleh bantuin gue. Bantuin gue, jangan kasih gue poin mulu, bisa-bisa gue di DO sebelum avarelic bubar kalau lo kasih gue poin mulu.”
Keano melirik Tasya lalu menganggukkan kepala.
“Hukum sekolah murah, Sya.”
Tasya berdecak, “Ogah duit gue buat sekolah matre. Kalau gue tahu siapa pemilik yayasan ini, gue bunuh dia.”
Tasya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, “Matematika ngapain aja di kelas?”
“Ngerjain soal doang,” jawab Keano datar.
“Pantesan lo gak balik lagi,” gumam Tasya pelan dengan sedikit kesal, entah kenapa Tasya memang selalu kesal kepada Keano walaupun cowok datar itu tidak melakukan sesuatu yang salah.
“Kenapa, Sya?” Keano tidak mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Tasya.
“SHIT! Sakit be-“ Tasya menutup mulutnya.
“Lo apain sih tangan gue, sakit tahu.” Tasya memprotes cara memijat Keano.
“Tahan dikit, bentar lagi sembuh,” Keano menarik lengan Tasya yang ingin kabur.
__ADS_1
Tasya meringis tanpa suara lalu mengalihkan pandangan dari Keano.
Nia? Ngapain dia ke sini. Raut wajah Tasya menjadi semakin kesal.
“Kenapa?” Keano heran dengan Tasya yang tiba-tiba memeluknya.
“Gue kangen kakak gue, lo jangan ba-“
“Baper,” Keano memotong perkataan Tasya.
“Lo gak boleh naksir gue,” sambung Keano sambil menatap wajah Tasya yang menyandar di dada bidangnya.
“Lo kali yang naksir gue,” Tasya menepis lengan Keano yang mengusap lembut kepalanya.
“Lo lah,” Keano tidak menyerah dirinya tetap membelai lembut rambut Tasya.
“Algesha, Makin hari lo makin nyebelin,” Tasya meniup wajah Keano dengan kesal.
Tadinya gue mau buat dia kesal, tapi kenapa malah gue yang kesal, Tasya membatin.
Keano melirik Tasya sekilas, pipinya menaik walaupun sangat sedikit menampilkan senyuman yang begitu tipis.
“Kea, proposalnya udah gue benerin, langsung anterin ke kak Juan atau lo mau cek ulang takut ada yang salah.” Nia sudah berdiri di depan Keano.
Keano melirik Nia, “Simpan di meja gue aja.”
Sekilas Tasya manatap Nia dengan kesal. Si Nia beneran suka apa kagak sih sama Keano, kok mukannya gak kesel liat Keano gue peluk.
“Sya...” Panggil Nia lembut.
Nia tersenyum semanis mungkin melihat tingkah Tasya lalu pergi menuju ruang osis.
“Nia baik sama lo, Sya.”
Tasya membuka wajahnya, “Baik mata lo ketutup dosa.”
Tasya menatap kesal ke arah Nia yang baru saja keluar dari ruang osis.
Tasya kembali membenamkan wajahnya ke dada bidang Keano saat Nia lewat.
“Rajaya?” Saat mata Tasya mengekori langkah Mita, pandangannya tak sengaja menemukan Rajaya yang berdiri di ujung koridor dengan kedua lengan yang terlipat di depan dada.
“Mana?” Keano mencari keberadaan Rajaya.
“Lo mau samperin Rajaya, Sya?” Keano menarik Tasya yang ingin bangkit dari duduknya.
“Aduh.” Tasya mengaduh kesakitan karena dipaksa duduk kembali.
“Rajaya? Bukan. Kea... lepasin dong, ribet urusannya kalau ada Ilham. Gue bukan mau samperin Rajaya, itu teman gue Mita sama Teresa di belakang Rajaya tadi, tapi Rajayanya sudah kagak ada.” Tasya menunjuk sahabatnya yang berdiri di tempat Rajaya tadi.
“Oh,” jawab Keano datar lalu melepaskan Tasya.
“Dari tadi dong, ah.” Tasya memukul keras paha Keano sebelum pergi.
__ADS_1
“Sakit, Sya.” Protes Keano.
“Bodo amat,” Tasya terlihat tidak peduli.
“Tasya, gila... pelukan sama Kea.” Teresa terkekeh bersama Mita.
“Nia.” Ucap mereka bertiga bersamaan.
“Lo berhasil, muka Nia keliatan jealous banget,” Mita memberi jempol sambil berjalan menuju kelas.
“Masa sih? Tapi gue liat nggak deh,” Tasya berjalan diantara Teresa dan Mita.
“Nia kan jago akting di depan Keano, Sya.” Jelas Teresa.
“Tapi kayaknya bukan Nia doang yang jealous Rajaya juga, Sya,” ucap Mita serius.
“Rajaya?” Tasya terlihat bingung.
“Bahkan Dimas kena getah amukkan Rajaya, serem deh kalau Rajaya udah ngamuk.” Tambah Teresa.
Tasya dan Mita terkekeh geli. “Cie... udah mulai perhatian ke Dimas nih,” Tasya menyenggol lengan Teresa.
“Padahal bukan Dimas doang tapi yang lainnya juga kena amuk Rajaya,” Mita mencubit pipi Terasa gemas.
“Tunggu-tunggu, kok kalian bisa ke luar kelas sih? Bu Eka ada kan?” Tasya kembali bingung.
Mita dan Teresa terkekeh bersama, “Bu Eka disamper Bu Nina, jadi kelas gak ada guru deh.”
“Tapi Bu Eka ngasih tugas sih. Lo mau ngerjain juga, Sya? Jam pulang masih satu setengah jam lagi kok,” Teresa tersenyum penuh makna.
“Lo pada belum ngerjain, ya?” Tasya terkekeh.
“Belum, Sya. Kita kepikiran lo terus, takut lo dicakar Manda dan dua jongosnya.” Mita akhirnya mengeluarkan keluhannya.
“Gue gakpapa, kok. Cuma ini terkilir doang,” Tasya menunjukkan tangannya yang sedikit membengkak.
“Balik sekolah kita ke tukang urut langganan mami gue, ya Sya lo harus mau,” Teresa dan Mita memeriksa lengan Tasya.
Tasya kembali terkekeh, “Gue sudah diurut kok, gratis lagi sama Keano Algesha.”
Mita membuka mulutnya, “Kea? Setahu gue Kea Cuma bisa marah-marah, melotot, lempar-lempar proposal, sejak kapan dia berhati nurani?”
Di sini Teresa yang terkekeh, “Kok gue bayanginnya males begitu ya kalau sampe satu organisasi atau satu eskul sama Keano.”
Mita memberi jempol, “Lo saja yang bayanginnya males, apalagi gue yang beneran satu organisasi.”
Tasya mengusap dua kepala sahabatnya, “Udah, gitu-gitu juga Keano banyak fansnya.”
“Benerlah fansnya banyak,” Mita setuju.
“Ganteng sih, tapi... ah sudahlah.” Ucap mereka bersamaan dengan tawa yang sudah pecah.
“Sya, gue sakit.” Rajaya menghadang pintu kelas saat Tasya masuk. Sementara Dimas, Farel dan Rian sudah tertawa bengek jauh dibangku sana.
__ADS_1
“Hah, sakit?” Tasya bingung karena Rajaya langung berlaga seperti orang kesakitan sambil merangkulkan lengan di bahu Tasya,
“Ketawa lo sampe mati,” Teresa dan Mita menyingkirkan Dimas dan Rian yang duduk dibangkunya termasuk juga Farel yang di duduk di atas meja.