Teman Tapi Manja

Teman Tapi Manja
Ch. 50 - "Duit Rajaya belum abis." (Tasya)


__ADS_3

“Rara, ngapain si lo di sini. Pindah ini tempat kita,” Mita kesal kursi bar sekarang di duduki Rara and the geng.


Rara menoleh lalu melirik Tasya, “Ciut bener muka lo, padahal kita belum war, kalahnya sudah keliatan.”


“Maksud lo apa?” Teresa tidak terima.


Rara tertawa sambil bangkit dari duduknya, “Bagus deh kalau sudah bisa ngaca,”


Ucapan Rara tidak membuat Tasya bereaksi apapaun, wajah Tasya terlihat sayu sesuai dengan apa yang dikatakan Rara tadi.


“Ra... jangan begitu,” ucapan Nia berhasil membuat Rara menghentikan langkahnya.


Nia meraih tangan Tasya, “Sya... jangan dengerin Rara ya, gue mi-“


BRAK!


Belum selesai Nia berbicara, Tasya sudah mendorong Nia sampai terjatuh ke lantai sampai menabrak Keano yang kebetulan lewat setelah mengambil minum.


Rara melotot lalu kembali menghampiri Tasya dengan amarah.


"Apa? Munafik!" Tasya melihat Rara dan Nia bergantian.


“Siapa yang berani rusak acara gue!” Rajaya menatap tajam semua teman sekelasnya.


Tasya yang berada dibalik punggung Rajaya menghela nafas panjang, gue salah langkah, Nia jago manfaatin emosi gue.


“Mas, meja sudah rapi,” lapor pelayan wanita.


Rajaya melirik meja yang sudah rapi dengan makanannya lengkap.


“Lo gakpapa?” Tanya Rajaya kepada Nia yang sedang dibantu berdiri oleh Keano dan Rara.


“Sya, ayo duduk.” Teresa menarik lengan Tasya tapi tertahan.


“Gue mau balik,”


“Hah, kok balik? Duit Rajaya belum abis Sya...” ucap Mita.


“Mita parah, jangan pacaran sama Mita nanti jatuh miskin sa-“ Dimas tidak melanjutkan perkataannya karena sudah dipelototi Rajaya.


“Tinggilin gue sama Tasya,”


“Bubar-bubar, waktu Indonesia bukan bercanda.” Rian mendorong Dimas sampai menabrak Teresa.


“Rusuh mulu lo,”


“Sorry ya Re, sengaja.” Rian tersenyum seiklahsnya.


“Tasya yang minta tata letak meja kayak gini?” Farel menggelengkan kepala.


“Gue baru nyadar, sebenarnya kita mau makan-makan atau mau konferensi meja bundar?”


“Meja kotak kayak gini Bundar dari mananya Dimas,”


“Istilah Mita KMB lo belajar sejarah kan,”


“Gue anak IPA bukan IPS,”


“Re duduknya deket gue dong, gue di sini ya,”


“Gak, ini tempat Tasya,” Teresa menghalangi kursi di sampingnya agar tidak ditempati Dimas.


“Kalau Tasya di sini otomatis Raja gue di samping Tasya, terus masa gue harus di kursi itu, kita jauh dong Re,”


“Ya bodo amat,”


“Ah, ribet banget hidup lo.” Mita mengejek Dimas.


“Terima Takdir,” Rian dan Farel duduk lalu diikuti Dimas.


“Manda bilang apa lagi?” Rajaya menutup jalan agar Tasya tidak bisa melangkah.

__ADS_1


“Bukan Manda,”


“Terus jangan pulang dong, kalau pulang, aku gak mau bayar makanan mereka,”


“Gue yang bayar, gue mau pulang.”


“Sya... lo udah janji gak pulang. Ikut kita makan,”


“Raja gue datang, geser para budak,”


“hidup lo ribet,” Rian pindah tempat dengan buru-buru begitu juga Farel.


“Sya, ad-“


Tasya menggelengkan kepala cepat, “Nanti.”


“Oh, oke.”


“Hm? Tasya kenapa Re?” Tanya Mita.


“Nanti ceritanya,” jawab Teresa dan Mita menganggukkan kepala.


“Salsa mana?”


“Gue di sini Sya,” ucap Salsa sendiri yang duduk di samping Mita.


“Coba yang dicari Tasya si Farel, Rajaya murka pasti,”


“Eh Mita... kalau ngomong suka bener. Kok gue kenyang ya, lo ikhlas tlaktir gak bos?” Dimas menyenggol lengan Rajaya.


“Gimana gak kenyang, lo sudah makan duluan bego,” ucap Rian yang memang dirinya juga tidak ikut makan hanya minum saja.


“Itu Tasya juga gak makan, sticknya ditusuk tusuk mulu pakai pisau, kurang ikhlas ya bos tlaktirnya,”


“Mindset lo rusak,”


“Apa sih Re, benerin dong kalau rusak,” Dimas terkekeh.


“Dimakan Sya, kalau gak enak aku ganti,”


“Uhuk! Uhuk!” Dimas tersedak air yang sedang diminumnya.


“Bikin gemes aja ini cewek, gue kurung juga lo Sya di kamar, Argh anjay,” Dimas merintih sakit, lengannya disikut Rajaya cukup keras.


“Terus maunya gimana?”


“Mau pulang,”


“Gak nyambung anjay.”


“Berisik lo Dimas.” Protes Mita.


Dimas terkekeh, “Lo tahu gak sih Mita, kalau kita bisa jadi salah satu dari Tasya atau mami Riri, Rajaya akan jadi hamba sahaya. Minum guys sudah kenyang gue,” Dimas segera mengajak Rian dan Farel menuju bar sebelum Rajaya murka karena kata-kata yang diucapkannya.


“Tasya punya masalah sama siapa aja?”


“Tanya gue?” Teresa menunjuk dirinya sendiri.


“Mana gue tahu,” ucap Teresa setelah mendapat kode dari Tasya.


“Mau kemana? Duduk, makan. Kalau gak, semua makan di sini gak jadi aku tlaktir.”


“Eh, parah lo Rajaya. Sya, makan Sya... kalau bisa yang banyak.” Mita tidak terima kalau Rajaya tidak jadi tlaktir.


“Bisa manis juga lo Rajaya. Daging gue sekalian potongin dong,” Goda Mita dari jauh.


“Sini gue potongin sekalian sama jari tangan lo juga,” ucap Rajaya yang sedang memotong stick milik Tasya.


“Parah lo psikopat. Ih, Re... itu kan basah kena rok gue,”


“Ya maaf, gue juga kena kok,,, gak sengaja,” Teresa membenarkan minuman yang tumpah di meja.

__ADS_1


“Sya, kita ke toilet dulu ya.” Ucap Teresa setelah memanggil pelayan untuk membersihkan meja.


Tasya yang sedang memainkan ponsel hanya menganggukkan kepala.


“Udah dipotongin semua tinggal dimakan, apa perlu aku suapin?”


Tasya melototi Rajaya, “Rajaya, minumnya juga,”


“Jangan wine,”


“Cih, lo gak niat tlaktir. Jus jambu merah deh,”


“Itunya dimakan.” Rajaya menunjuk stick yang sudah dipotongnya sebelum pergi mengambil minuman yang dipinta Tasya.


+62853....


Bukan ancaman hanya peringatan


Lo bisa berubah pikiran


Buka link ini khdd765jbfn


^^^Lo siapa?^^^


Gue Manda


Gimana sudah dibuka link nya?


Lo gak mau kan karir lo jatuh terus jadi miskin


Gue tahu lo hidup sendiri


^^^Kenapa gue harus takut sama artikel ngaco yang lo bikin^^^


Terserah apa kata lo


Batasnya sampai malam ini


Jam 00.01 gue bakal upload kalo lo ngeyel mulu


Upload detik ini juga gue gak peduli


+62853...


5 pesan belum terbaca


“Ehem, duduk sebentar di sini boleh ya,” Nia duduk di tempat Teresa lebih tepatnya di samping kiri Tasya.


“Citra lo semakin rusak, jadi jangan ditambah dengan merusak citra orang lain. Sadar diri.” Ucap Nia pelan.


“Gue lagi makan, jangan rusak selera makan gue.”


“Lo masih punya selera makan setelah baca artikel dari manda?” Nia masih mengecilkan suaranya.


Tasya meletakkan garpu dengan kasar, “ular kepala dua.”


“Terima kasih, terima kasih. Gue pergi dulu, ingat jangan deketin Keano gue, Merusak Citra tahu gak.” Nia tertawa kecil.


Tasya menahan diri untuk tidak memaki Nia.


“Ini minumnya,” Rajaya meletakkan minuman yang dipinta Tasya di depan pemiliknya.


“Pelan-pelan, Sya... nanti keselek.”


“Sadis banget Sya minumnya, kasian gue sama jusnya,” ucap Teresa yang sudah datang kembali bersama Mita.


“Gue juga mau jus dong Rajaya,”


“Sini kepala lo gue jus,”


Mita bergidik ngeri, “Punya salah apa sih gue sama lo?”

__ADS_1


“Sya gak jadi balik?” Teresa ikut melanjutkan makan.


“Kagak, duit Rajaya belum abis.”


__ADS_2