
“Jadi nih berangkat pagi lagi?” Teresa tidak percaya.
“Jadi Re, gue mau kerjain tugas osis dulu di kelas.” Mita berjalan lebih dulu menuju garasi.
“Guys, guys. Aduh bagaimana ya ngomongnya,” Tasya menjadi bingung setelah menerima telpon dari grandpanya lewat video call via telegram.
“Ada apa Sya, ngomong aja.” Mita dan Teresa berhenti berjalan.
“Lo berdua ke sekolah duluan aja soalnya gue mau ke kantor mami dulu disuruh grandpa. Gakpapa kan,” jelas Tasya.
“Yakin Sya, gak mau kita temenin. Berapa lama dikantornya?”
“Jangan ditemenin deh takutnya lama,” Tasya tersenyum miris.
“Oke, deh. Hati-hati aja ya dijalannya.” Mita memasuki mobilnya begitu juga dengan Tasya dan Teresa.
***
“Kalau tahu gak bakal lama gue ajak Tasya sama Teresa ke kantor,” gumam Tasya lalu membuka segel air minum.
Parkiran sekolah masih kosong hanya jajaran pertama yang hampir penuh.
“Eh, kalau nyapu itu yang bersih dong, ini sampah gue belom lo ambil. Kerja kayak yang gak digajih aja, dasar lo rakyat jelata.”
Tasya memperhatikan dua orang siswi sedang mendiskriminasi petugas kebersihan. Tangan Tasya mengepal, penghinaan dan cacian untuk orang berkasta rendah sangat dibenci oleh Tasya.
“Yang sopan sama orang tua,” Tasya menyiram dua siswi yang menghina petugas kebersihan menggunakan air botol yang ada di tangannya.
“Ibu cari tempat yang lain, jangan di sini.” Tasya membantu petugas kebersihan itu untuk bangun.
“Dia nyokap lo?” dua siswi itu tertawa.
“Apapun yang gue lakuin itu hak gue, gak ada urusannya sama lo. Jangan sok jadi pahlawan deh lo,” salah satu dari mereka manarik maju Tasya.
“Gue ingetin lo, sekali lagi lo campuri urusan gue kelar hidup lo. Lo tahu Alda?”
Tasya menepis lengan yang mencengkram bajunya, “Manda, Alda ataupun lo, gue gak takut.”
“Ck, lo anak baru ya. Udah lama gue gak nemu orang kayak lo, biasanya sih orang kayak lo berakhir bunuh diri setelah mengusik hidup Alda.”
Baju Tasya kembali dicengkram sisiwi itu, “Kayaknya gue mau berhenti bully petugas miskin, soalnya gue punya yang lebih menarik.”
Suasana parkiran menjadi ramai, bahkan saat ini Tasya sudah tidak terlihat karena tertutup oleh para penonton yang bersurak melihat aksinya.
“Woi, minggir!” Keano menyingkirkan satu persatu siswa yang berkumpul melingkar.
“Sya.” Keano menarik Tasya, sementara Tasya berdecak kesal.
__ADS_1
“Woi, urusan kita belum selesai ya. Awas lo!” siswi itu menunjuk Tasya yang saat ini dibawa Keano.
“Bubar! Bubar! Argh, sial. Gue kalah sama bocah!” Siswi itu membubarkan masa, lalu memhentakkan kakinya.
“Lo berantakkan banget, Mel." Ucap teman siswi itu sambil melihat kondisi temannya dengan keadaan pakaian dan rambut yang berantakkan.
“Kea, lepasin dong, gue gak suka ditarik-tarik,” Tasya berjalan setengah berlari mengikuti irama langkah Keano karena tangan kanannya ditarik oleh cowok datar bernama Keano sementara tangan kirinya memegang dasi.
Keano menghentikan langkahnya di lorong sebelum naik tangga menuju kelas, “Sya, berhenti dong cari masalah.” Keano menatap Tasya dengan datar.
“Apaan si, lo gak tahu asal mulanya lebih baik diem.” Tasya membersihkan dasinya dari potongan rambut siswi yang berkelahi dengannya tadi.
“Lo cari masalah sama orang ya salah. Lo gak tahu sekolah ini,”
Tasya menghentikan aktivitasnya lalu menatap Keano dengan alis berkerut, “Apa sih yang belum gue tahu dari sekolah ini, kasih tahu gue dong, Kea.”
Tasya hanya mendapat tatapan datar dari Keano. “Lo gak mau kasih tahu,” Tasya memutar bola matanya malas lalu mengalungkan dasinya di leher.
Si Nia datang, ucap Tasya dalam hati setelah melihat Nia dari Kejauhan.
“Kea... pasangin dasi gue dong, please,” Tasya tiba-tiba manja.
“Ayo dong, kali ini saja.” Tasya menuntun tangan Keano untuk memegang dasinya.
“Sya, hidup lo seriusin dikit. Jangan cari masalah.” Ucap Keano datar sambil memasangkan dasi Tasya.
“Kea... hidup itu jangan terlalu serius nanti baper,” Tasya terkekeh, sementara Keano menghentikan aktivitasnya sejenak hanya untuk menaikkan salah satu alisnya.
“Dikit banget sih jumlah ekspresi lo,” Tasya menyentil dahi Keano.
“Kea... lo ganteng baget sih hari ini,” ucap Tasya sambil melingkarkan dua tangannya di leher Keano saat Nia lewat.
Keano melihat datar dual lengan Tasya yang meingkari lehernya, “gak penting.”
“Emang,” Tasya mendorong keano sampai mundur dua langkah.
“hidup itu jarang diseriusin nanti baper. Kea... tadi gue cuma bercanda ya harusnya lo tertawa bukan jatuh cinta.” Ucap Tasya sebelum manaiki tangga meninggalkan Keano.
***
“Aduh kenyang banget gue,” Teresa mengaduk-aduk bobbanya.
“Guys... mau nginep lagi gak di rumah gue? Semalem lagi deh, please nginep.” Pinta Mita sebelum menyedot minuman bobba nya.
“Boleh deh, boleh,” jawab Tasya lalu ketiganya tossan tangan.
“Kelas kita ramai guys, ada apa ya?” Teresa menyipitkan matanya.
__ADS_1
“Masa sih?” Mita ikut menyipitkan matanya.
“Ini mah anak-anak 11 ipa 4, tumben nih istirahat ke kelas kita,” ucap Mita spontan.
“Mendingan cek langsung ke kelas,” Tasya berjalan lebih dulu.
“Excume, everybody,” ucap Teresa malas kepada anak 11 ipa 4 yang berkumpul di depan kelas.
Selain anak-anak dari 11 ipa 4 yang ramai di luar kelas, kelas hanya berisi Dimas end the geng yang tertidur pulas; Keano, Fadi dan ilham yang sibuk dengan laptop; Nia and the geng yang sedang menyantap bekal. Dan terakhir seorang siswi ipa 1 yang sedang mengerjakan tugas di temani siswi ipa 4 yang sibuk dengan ponselnya.
Mita berbisik sesuatu kepada Tasya, lalu Tasya menganggukkan kepala.
“Eh, tumpah.” Tasya menyiramkan bobbanya ke alat tulis yang sedang dikerjakan teman sekelasnya.
“Sya, kok bisa tumpah si?” Mita dan Teresa terkekeh.
“Lo apa-apaan sih? Ini buku gue lo tahu gak,” siswi si pemilik buku protes keras.
“Buku lo? Kok bisa dikerjain teman gue sih?” Tasya tersenyum miris. Tasya menarik Salsa teman sekelasnya yang sudah mengerjakan tugas dari anak 11 ipa 4.
“Yaelah, kalo otak lo gak mampu ngerjain tugas, jangan sekolah di sini,” Teresa dan Mita cekikikkan.
“Lo ngabisin duit orang tua aja tahu gak,” Tambah Teresa.
“Lebay banget lo mau cakar teman gue,” Tasya mengamankan Salsa dengan memberikannya kepada dua sahabatnya.
“Gue sudah bayar dia buat ngerjain tugas gue,” siswi itu melototi Tasya.
“Gue balikin, sebutin nomor rekening lo dan berapa jumlahnya,” Tasya sudah siap dengan handphonenya.
“Argh, Aldi!”
“Tukang ngadu lo,” cibir Mita.
“Woi, siap yang teriak, ganggu gue saja.” Farel menggebrak meja, sementara Dimas bangkit dari tidurnya.
“Ada apa sih? Gak bisa yak kelas gue adem ayem?” Mata Dimas sedikit merah seperti kekurangan jam tidur.
“Lena, ada apa?” orang bernama aldi memasuki kelas lalu menghambiri sumber suara.
“Dia gak mau ngerjain tugas gue.” Lena menunjuk Salsa, “Dan teman-temennya rese.”
Tasya terkekeh, “Lo pacarnya? Gue kasih tahu, cewek lo ngurus tugasnya saja gak becus apalagi ngurus lo. Lo gak sadar jadi pacarnya untuk ngisi statusnya doang.”
“Sadar dong, boy.” Mita menimpali, sementara Teresa terkekeh.
“Ih... Aldi.” Lena kesal ditinggalkan aldi begitu saja.
__ADS_1
“urusan kita belum selesai ya,” Lena menunjuk Tasya sebelum meninggalkan kelas.