
“Pagi Tasya, yang bukan Tasya terserah.” Rajaya memberikan senyum terbaikknya untuk Tasya, tapi tidak untuk yang lainnya apalagi Keano, Rajaya seperti menaruh dendam yang siap meledak kapan saja.
“Maksudnya apa itu muka, gak ada adil-adilnya emang.”
“Lo ngapain sih ke sini?”
Rajaya yang tadinya memberi tatapan sinis kepada Mita, seketika berubah manis saat melihat Tasya, “Aku antar kamu pulang.”
“Pulang? Gak, Gak. Gue mau sekolah.”
“Sekarang weekend mau apa ke sekolah, kamu bukan anggota osis Sya.”
“Ini kunci mobilnya, hati-hati di jalan kalau mau pulang.” Keano memberi Tasya kunci mobil.
“Di bawah banyak wartawan, Gue sendiri yang akan nganterin Tasya.”
“Yang bener?” Mata Tasya membulat, sementara Rajaya langsung memberikan ponselnya kepada Tasya.
“Liat apaan Sya gue liat.” Mita dan Teresa langsung mendekati Tasya yang sedang menonton rekaman video dari ponsel Rajaya.
“Kasian banget mobil lo dipotoin gak henti-henti, kayak barang bukti dari tersangka kasus-“
“Shut! Minggir.”
“Biasa aja kali,” Mita tidak terima dirinya disingkirkan Rajaya dengan mudah.
“Gak ada baik-baiknya memang,” Teresa memutar matanya malas.
“Lo kasar banget sama teman-teman gue,” Tasya menggembalikkan ponsel Rajaya.
Rajaya membuka hoodie yang dipakainya dan menyisakan kaos hitam polos, lalu hoodie tersebut diberikan kepada Tasya, “Pakai.”
“Apa liat-liat?!” Rajaya memberikan senyum ejekkan kepada Ilham, Fadil dan tentu saja Keano.
“Nah, gitu dong nurut. Kita pulang,” Rajaya terkekeh melihat hoodienya kebesaran di tubuh Tasya, lalu memasangkan kacamata sunrise untuk menutupi kedua manik mata Tasya.
“Eh, tunggu-tunggu, Re katanya lo janji mau nemenin gue,” Tasya melepaskan kacamata lalu memasang tampang wajah yang begitu menyedihkan.
Teresa menghembuskan nafas panjang lalu berjalan menghampiri Tasya yang bisa disered Rajaya kapan saja.
“Aku sendiri yang nemenin gak cukup.” Rajaya terlihat sangat tidak suka, lalu kembali meraih lengan Tasya untuk terus berjalan.
“Apa lagi Sya? Ayo pulang.” Rajaya melirik Tasya yang sulit diajak jalan.
Tasya berjalan dengan malas dan tatapannya masih setia melihat mita yang semakin lama semakin jauh apalagi Keano.
Tasya menghembuskan nafas panjang, Keano semakin jauh dengan dirinya.
“Nanti aku menyusul.”
“Gak nanya sumpah,” Rajaya mendengus kesal mendengar kalimat yang diucapkan Keano.
Tasya menatap Rajaya dengan datar lalu mengempaskan lengannya dari genggaman Rajaya kemudian membawa Teresa untuk berjalan mendahului Rajaya.
Mita tertawa keras setelah dua sahabatnya hilang dari pandangan termasuk juga Rajaya.
“Ya ampun Kea... Gue kira lo sukanya sama Ilham doang,”
“Yang telat kumpul gue sanksi.” Keano melototi teman-temannya yang tersisa sebelum pergi.
“Sialan lo Kea,”
“Argh, lo rese kalau lagi cemburu.”
***
__ADS_1
“Masih lama Sya? Sudah sore loh gak cape?”
Rajaya sangat bosan, sedari pagi dirinya hanya duduk di samping Tasya yang sangat fokus dengan laptop. Dan lebih menyebalkan lagi, saat Rajaya berbicara fluffys juga ikut mengeong.
“Masih lama banget, mendingan lo pulang sana.” Sebenarnya Tasya begitu kesal dengan Rajaya, karena Rajaya mengusir Teresa saat Tasya pergi ke ruangan Luna.
“Ngerjainnya yang cepet dong biar selesainya juga cepet. Nanti kita jalan.”
Tasya menekan tombol enter dengan keras, “Rajaya, lo tahu capek gak sih. Tangan gue rontok badan gue pegel dan lo mau ajak gue jalan?” Tasya menggelengkan kepala tidak percaya.
“Ya kenapa juga kamu ngerjain kayak gini, kamu punya sekertariskan tadi namanya siapa Luna? Kamu suruh saja dia atau pegawai yang lain. Lagian yang kayak gini itu bukan kerjaan kamu.”
“Meaong,” Fluffys turun dari pangkuan Tasya.
“Rajaya, lo itu gak tahu apa-apa tentang gue. Mendingan pulang sana,” Tasya mendorong kursi Rajaya, tapi kursi dirinya lah yang terdorong.
Masalah dengan kantor menumpuk, apalagi dengan dunia entertainment ditambah kekacauan Rajaya rasanya Tasya ingin menangis keras.
“Sya... Aku minta maaf, maafin aku ya.”
“Diem jangan ganggu.” Tasya kembali mengetik dan menganggap Rajaya tidak ada.
CEKLEK
“CK,” Rajaya berdecak kesal melihat Keano memasuki ruangan.
“Sudah makan Sya?”
“Sudah,” jawab Rajaya cuek.
Tasya menganggap Rajaya dan Keano tidak ada.
“Obatnya diminum lagi,” Keano meletakkan botol obat dan juga botol air mineral di dekat Tasya. Setelah itu Keano duduk di kursi tepat di sebrang Tasya.
“Balikkin,” Tasya merebut botol obat dari Rajaya.
“Lo kasih Tasya obat apa?”
“Diam, lo gak tahu apa-apa.”
Rajaya mengerutkan alis, “Maksud lo apa?!”
“Lo berdua ribut gue panggil security.” Ucapan Tasya berhasil membuat Rajaya duduk kembali.
“Mau ngetik damai aja susah,” Tasya meletakkan botol mineral lalu kembali lagi dengan keyboard laptop.
Ceklek!
“Long time no see, brother.” Nono tersenyum setengah malas kepada Keano.
“Minggir,” Nono melihat Rajaya dengan malas.
“Lo pegawai di sinikan? Cukup simpan berkas yang lo bawa di atas meja.”
Nono terkekeh, “Lo gak tahu minggir?”
“Heh, jarang ribut di tempat gue. Rajaya minggir dulu.”
“Susah nyambut tamu dengan baik,” Nono membenarkan jasnya sebelum duduk di samping Tasya.
“Ini jadwal lo besok,” Nono meletakkan sebuah map di hadapan Tasya dan tersisa satu map lagi di tangannya.
“Dan yang ini...,” Nono meletakkan map terakhir yang dibawanya.
“Hutang lo,” Bisik Nono agar Rajaya dan Keano tidak mendengar.
__ADS_1
Duit dari mana buat bayar hutang, mana uang tabungan raib buat bayar pesangon karyawan, Tasya menatap nanar jumlah hutang yang dimilikinya.
“Ini proposal buat investor? Lumayan bagus. Belum selesai? Kerja lo lelet.” Nono menghembuskan nafas lelah.
“Lo yang bener dong buat jadwal, besok jam 2 gue masih di sekolah.”
“Gue gak peduli lo mau datang atau gak,”
Tasya menghela nafas pendek, “Lo ke sini cuma ngasih tahu ginian doang.”
“Ngusir? Baru juga datang. Iya, gue ke sini cuma mau kasih dua map tadi. Gue balik,” Nono mendengus kesal.
“Satu lagi,” Nono membatalkan niatnya membuka pintu.
“Kalu besok lo mau jumpa pers, ikuti prosedur yang ada di map, kalau sampai salah ngomong lo gue bunuh,” Nono tersenyum miring sebelum pergi.
“Aku mau bantu kamu Sya,” ucap Keano dan Rajaya bersamaan.
Tasya menaikkan kedua alisnya, “Oh, mau bantu.” Tasya bangkit dari duduknya, “Silahkan.”
“Eh, yang ini jangan,” Tasya melototi Rajaya yang ingin mengambil map pemberian Nono.
“Gue yang ngerjain lu diem,” Rajaya mengambil alih laptop dari Keano.
“Dari tadi dong, sampe keriting tangan gue ngetik mulu, kerjainnya yang bener ya, beruntung banget gue punya teman kayak lo berdua, haha.” Tasya berada di sebrang Rajaya dan Keano, merilekskan tubuh dengan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
“Rajaya hp lo berisik,” Protes Tasya karena Rajaya mengabaikan ponselnya yang terus berdering.
“Ck,” Rajaya berdecak kesal sebelum mengangkat telponnya.
“Hallo, kenapa Mi?”
“Gak,”
“Oke, aku pulang.”
“Mau balik ya... bye hati-hati di jalan.” Tasya melambaikan tangan sambil menahan diri untuk tidak tertawa keras.
Sambil membereskan barangnya Rajaya menatap Keano dengan tatapan penuh dendam.
“Aku pulang Sya,”
“Oke.”
“Kea, kalau lo mau balik juga balik saja.”
“Kalau sudah selesai nanti aku pulang.”
“Selesai? Kapan selesainya itu banyaak. Mendingan pulang.”
“Banyak bukan berarti lama, kamu saja yang kerjanya terlalau santai.”
“Eh,” Tasya melotot.
“Terserah masnya saja deh.” Tasya tidak ingin mengganggu Keano yang sedang fokus, lebih baik Tasya menenggelamkan kepalanya di atas meja.
__ADS_1