Teman Tapi Manja

Teman Tapi Manja
Ch. 38 - Just Friends


__ADS_3

“Thanks infonya,” Tasya mematikan kembali tabnya.


Keano bercerita bahwa dari pagi Alda sudah dua kali menggagalkan kejahatan Manda saudara kembarnya sendiri, Keano juga tidak tahu apa penyebabnya.


“Bentar lagi sekolah ngadain party, lo gak boleh gegabah lagi, Sya,” Keano memberi nasihat.


“Orang kayak mereka harusnya dikeluarin dari sekolah ini iya gak sih?” Tasya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.


“Mereka juga berpikir orang kayak lo juga harus dikeluarin dari sekolah, Sya.”


Tasya menatap Keano tidak percaya, “Lo dipihak mana sih, heran gue?”


“Yang pasti bukan dipihak yang jahat,”


“Serah lo, gue gak peduli,” Tasya kembali menyandar sambil memejamkan mata merilekan badan yang begitu lelah.


“Semalam lo balik ke rumah kan, Sya?”


“Balik ke rumah? Rumah siapa, gue gak punya rumah,” Tasya setia menutup matanya.


“Nia, cariin lo sampai nelpon gue,”


“Nia?” Tawa Tasya pecah.


“Mau maki takut dapat karma,” Tasya mengusap air mata yang keluar akibat tertawa berlebihan.


“Lo balik ke lapangan sana, gue mau sendiri.”


“Gue mau kasih tahu lo siapa pemilik sekolah ini tapi-“


“Tapi apa?” Tasya kembali segar.


“Gue hampir lupa soal ini, siapa orangnya?” sambung Tasya.


Keano menghembuskan nafas berat, “Gue gak tau ngomongnya gimana, soalnya lo pernah bilang mau bunuh pemilik sekolah ini.”


“Emangnya kenapa? Jangan-jangan sekolah ini punya bokap-nyokap lo?”


Keano menggeleng, “punya Grandpa lo, Sya.”


Tasya melotot, “Yang bener? Ini buruk,”


“Kenapa?” Keano bingung dengan sikap Tasya yang begitu panik, harusnya kan Tasya senang mendengar berita ini.


“Lo tahu gak sih, Kea. Kalau kehidupan gue itu bukan direncanakan Tuhan, tapi direncanakan grandpa,” Tasya mengotak-atik tabnya.


“Gue gak ngerti, Sya.”


Tasya menoleh, “sama gue juga.”


Keano bingung, “Lah terus?”


Tasya terkekeh, “lo bisa bingung juga. Udah lo diem, jangan buat gue bingung.”


“Mbak, Luna. Saya sudah mengirim pesan chat, pulang sekolah apa yang saya minta harus ada.”


“Siap, laksanakan.” Luna memberi hormat kepada bosnya yang tertampak di frame video call.


“Oke, saya tunggu.” Tasya mematikan Video Call.


“Kea, lo balik dong sana.”


“Lo juga,” Keano tidak terpengaruh dengan dorongan Tasya.


“Lo duluan, nanti gue menyusul.”


Keano menggeleng, “Gue gak percaya, kita bareng.”


“Gak, nanti lo dipelototin Rajaya,” tolak Tasya.


“Gue gak takut,”


“Ayo dong Kea, lo balik sana. Gue masih ada urusan,” Tasya menarik lengan Keano agar pergi.


“Kalau lo gak mau pergi gue yang pergi,” Baru saja Tasya menghempaskan lengan Keano dan ingin melangkah pergi tapi Keano lebih dulu menarik lengan Tasya sampai gadis itu terduduk kembali di samping Keano.


“Kea... lo kasar," Tasya mengusap lengannya yang memerah.


“Sorry, mana yang sakit?" Keano mengusap lengan Tasya lembut lalu memberi kecupan dibagian yang memerah.


Tasya berdecak, “Udah dong, Kea... lo gak boleh suka sama gue, dibilangin ngeyel mulu.”


Keano menghempuskan nafas panjang lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil memejamkan mata dan kedua tangannya digunakan sebagai bantal dadakan.


Gue salah ngomong gak sih?, Tasya menggaruk pipinya lalu mengalihkan pandangan ke arah lain.


“Sya, katanya ke toilet.”


Tasya dan Keano kompak menoleh ke sumber suara.

__ADS_1


Rajaya? Sejak kapan dia ada di sini?, Tasya menaikkan kedua alisnya


Keano membuang muka malas mungkin jika sikapnya itu diterjemahkan ke dalam kata-kata akan menjadi, Ganggu saja.


“Ya... gue mau ke toilet, kenapa sih?”


“Kok ada di sini, sama dia lagi.” Sikap Rajaya menunjukkan seperti seorang laki-laki yang memergoki kekasihnya selingkuh.


“Wait, wait... ada apa ini,” Teresa dan Mita menghampiri Tasya lalu memberi Tas kepada sahabatnya karena pelajaran olahraga sudah berakhir.


“Astaga, drama in real life. Gimana ceritanya kok bisa ja-“


“Udah ah, ganti baju yuk,” Tasya yang sudah memakai tasnya berniat meninggalkan situasi yang sangat menyebalkan baginya.


“Sya,” Keano menahan tangan Tasya.


“Gila, gila...” Teresa melotot.


Tasya menghembuskan nafas pelan lalu melepaskan lengan Keano,


“Please dengerin gue. kita maksudnya gue, lo sama lo,” Tasya menunjuk Rajaya sama Keano bergantian.


“We just friends, okeh,” Tasya tersenyum paksa.


“Hidup gue penuh ujian, jangan ganggu gue... please.” Kedua telapak tangan Tasya menyatu.


“Bye,” Tasya menyeret dua sahabatnya menuju toilet.


***


“Sya, lo belum acc mau nginep di rumah gue,”


“Masa sih? Iya deh gue nginep, tapi agak malam ya gue datangnya,”


“yang penting datang,” Mita membuka pintu kelas.


“Annyeong haseyo , everybody,” Pandangan Mita jatuh ke Nia yang ada dihadapannya.


“Wah, Sya. Lepas topeng dia,” Mita tidak percaya Nia memberi tatapan jijik kepada Tasya dan kawan kawan sebelum keluar kelas bersama Rara.


“Emang,” Tasya tidak terlalu ambil pusing.


“Wah, ada yang galau nih,” Teresa terkekeh melihat Rajaya merebahkan kepalanya di atas meja.


“Tadi ada acara baku hantam gak?” Mita mengompori.


Tasya dan kawan-kawan duduk di meja guru.


“Re, ada yang nyariin,” ucap Salsa dari ambang pintu.


“Siapa?” Teresa sedikit malas.


“Hai,” Rendy memunculkan dirinya hanya untuk Teresa dan kawan-kawan.


“Gak salah ini gue yang dicari bukan Tasya,” wajah Teresa datar.


“Lah kok gue, udah sana.” Tasya mendorong Teresa agar bangkit dari duduk.


“Siapa sih?” Dimas berjalan menghampiri Teresa yang sedang berada di pintu kelas.


Dimas terlambat datang dan Rendy pun sudah berjalan meninggalkan Teresa.


“Heh, lebay.” Dimas memberi senyum mengejek kepada sebucket bunga lengkap dengan coklatnya yang ada di tangan Teresa.


Teresa menatap Dimas dengan datar, “Nih buat lo deh, gue takut ada peletnya.”


“Makasih,” Bukannya mengambil bunga, Dimas malah memegang tangan Teresa.


“Ehem... momen sejarah, perlu diabadikan.” goda Mita yang sudah mengambil beberapa gambar menggunakan ponselnya.


“Asyik makan-makan,” Tasya menikmati tontonan drama gratis di hadapannya.


“Lo salah ambil,” Teresa melototi Dimas yang memegang lengannya erat.


“Ta, fotonya yang bener dong,” Protes Dimas lalu membawa Teresa ke depan papan tulis.


“Gila, lo Re.” Mita terkejut saat Teresa dan Dimas berpose saling merangkulkan tangan di pinggang.


“Eh, topi gue dong,” Dimas menunjuk Rian yang sedang main game di bangkunya.


“Gue, ikut,” Tasya berdiri di samping Dimas.


“Senangnya dalam hati punya istri dua,” Dimas terkekeh geli.


“Bacot,” Rajaya ikut masuk frame.


“Guys, semua harus ikut masuk frame. Lo juga Ta,” Tasya menggeser Mita agar berdiri di samping Teresa.


“Pas gue balik lo semua udah siap di foto." sebelum keluar kelas Tasya melototi semua teman-temannya.

__ADS_1


“Ada apa, kok ngumpul di depan semua?” Tanya Nia polos saat memasuki kelas bersama Rara.


“Apa lagi kalau bukan ulah si geng caper,” Rara mencibir.


“Cepet banget lo balik,” Mita memutar bola matanya malas.


“Nah, gini dong satu kelas itu harus kompak,” saat kembali ke kelas, Tasya senang teman-temannya sudah siap berfoto kecuali Nia dan Rara.


“Apa gue bilang, ulah si ratu caper,” Rara berjalan menuju bangkunya.


“Lo sini, nanti nangis gak diajakkin foto,” cibir Teresa tapi diacuhkan Rara.


“Sya, masih lama gak? Gue takut keburu masuk,” Lia gelisah.


Lia adalah anak IPA 2 yang dibawa Tasya untuk membantu mengambil gambar.


“Nih,” Tasya menyerahkan kamera slr yang sudah di setting kepada Lia.


“Lo juga ikut, gausah bikin ribet.” Tasya melirik Rara dengan tajam.


Rara bangkit dari duduknya lalu mendahului Tasya yang juga ingin bergabung bersama teman-teman yang lain.


“Siap?” Tanya Lia yang sudah siap dengan kameranya.


Tasya lesahan dibarisan paling depan.


“Apaan sih lo berdua?” Mood Tasya diambang kehancuran karena kedua lengannya ditarik sana-sini oleh Rajaya dan Keano.


“Mau foto doang ribet banget, damai kenapa.” Masing-masing lengan Tasya menggandeng Rajaya dan Keano agar tidak berulah.


“Go, Lia.” Pinta Tasya dan jepretan kamera terus berulang.


Cekrek! Cekrek! Cekrek! Cekrek! Cekrek!


“Sya, sudah banyak nih,”


“Oke, Thanks. Bilangin teman lo kameranya gue balikkin besok,” ucap Tasya kepada Lia sebelum keluar kelas.


“Bubar lo semua mantan rakyatku yang bodoh,” usir Dimas karena sesi foto selesai, hanya Teresa yang tidak bergeming di tempat karena tangannya dicengkram Dimas.


“Sya, fotoin dong yang bagus,” Dimas memasang tampang memohon.


“Wuih, Re...” Mita memberi dua jempol kepada sahabatnya yang sedang berpose bersama Dimas.


“Tere... pajak makan-makan,” ucap Tasya sebelum mengambil gambar.


“Lagi dong, gak kerasa,” pinta Teresa.


“Re, sumpah lo gak kena pelet kan?” Mita menggelengkan kepala tidak percaya.


Tasya terkekeh.


“Kasian gue sama lo, lo telat jauh,” bisik Tasya sambil mengusap pundak Farel.


Mungkin Tasya yang paling mengerti tentang semua yang berhubungan dengan sahabatnya seperti, mengetahui Farel yang sering curi pandang kepada Teresa. Bisa dibilang nasib Farel dan Ilham sama.


“Sya, gue gak mau mati kena racun kobra,” Farel pergi ke bangkunya karena Rajaya si Raja bucin mulai salah paham.


“Siap, ya.” Tasya setengah berdiri dengan kedua lutut sabagai pijakkan ke lantai.


Ceklek!


“Ehem! Ehem!”


“Eh, Eh... mau kemana Dimas, Teresa. Sini.” Pak Redy menatap Dimas dan Teresa bergantian sambil menggelengkan kepala.


Sementara Tasya sudah mengamankan kamera dan dirinya juga sudah duduk rapi di bangkunya.


“Itu apa?”


“ini?” Dimas mengangkat bucket bunga dan coklat yang dipegangnya.


“Masa bapak gak tahu sih,” Dimas terkekeh.


“Kalian pacaran?”


“Kepo banget sih pak, mau nikung ya?”


Teresa menginjak kaki Dimas keras.


“Au, Re. Sakit,” Dimas tersenyum miris.


“Awas kalian berdua kalau hasil ulangan nanti Remedial! Sekarang duduk.”


Pandangan Pak Redy menyapu seisi kelas dan kedua alisnya menaik saat melihat Rajaya duduk bersama Tasya.


“Ada-ada saja,” gumam Pak Redy sambil menggelengkan kepala.


“Hari ini kita presentasi perkelompok.”

__ADS_1


__ADS_2