Teman Tapi Manja

Teman Tapi Manja
Ch. 23 - Bobba spesial


__ADS_3

Tasya melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul setengan dua dini hari, “Kea, gue balik ya. Kapan kapan gue minta semua file avarelic.”


“Lo balik ke rumah, Sya?” Keano mengantar Tasya sampai ke pintu.


“Kepo lo.” Tasya memakai kacamata dan penutup kepala.


“Kea, kalo besok gue telat masuk sekolah jangan hukum gue ya,” Tasya menepuk pundak Keano sebelum meninggalkan apartemen.


***


“Mampus, mau balik ke mana gue jam segini?” Tasya sudah memegang stir mobil tapi otaknya berpikir tempat tujuan mana yang harus ditempuh.


“Ke rumah Nia? Gak, gak. Telinga gue sakit denger omelan sesepuh,” Tasya meraba daun telinganya.


Sudah dua hari, rumah Nia kedatangan tamu yang sengaja diundang mami Sandra. Tamu tersebut nenek Nia.


Sudah dua hari pula Tasya selalu kena semprot dari sesepuh itu alias nenek Nia. Semua yang dilakukan Tasya selalu terlihat salah di mata Nenek Nia.


Bahkan, saat ingin pergi menuju tempat Kea Tasya harus menerima semprotan dulu.


“Kamu itu harus berterima kasih kepada kami dengan cara patuh tidak membangkang. Pulang lupa waktu, mau jadi apa kamu? Mempermalukan keluarga? Jika ada yag menasihati itu dengerin, contoh Nia dia......” Itulah kira-kira sebagian isi semprotan yang di terima Tasya dari sesepuh.


Tasya menghembuskan nafas panjang, ”Rumah Teresa? Mita?”


“Gue gak enak sama orang tua mereka,” Tasya menyatukan keningnya dengan stir mobil.


“Salsa,” Tasya mulai menyalakan mobil.


***


Ini langit sama sekali gak ada awan? Tasya berdecak kesal sambil kepalanya menengadah ke langit yang biru.


Pak, amanatnya lama banget sih, Tasya membatin.


Bukan hanya Tasya, tetapi semua siswa dan siswi SMA Garuda Internasional sedang melakukan upacara bendera yang rutin dilaksanakan setiap hari senin.


Dirinya selamat dari kata terlambat berkat pertolongan salsa yang membangunkan tidurnya agar tidak bablas.


“Tasya, ada yang cariin lo,” ucap seorang siswi yang berdiri dibelakang Tasya.


Tasya menoleh ke belakang. Manda, Alda dan seorang siswi yang pernah dicakar Tasya saat di parkiran sedang berdiri di barisan paling belakang.


“Sya...” Mita dan Teresa yang berada di sisi kanan dan kiri Tasya menggelengkan kepala.


“Mereka gak bakal berani macam-macam,” Tasya mulai berpindah ke belakang.


“Eh, eh. Santai dong kakak-kakak,” Tasya menepis tangan Manda yang menariknya.


“Lo kemanain mobil gue?” Manda mengatakannya pelan tapi sambil melotot dan mendorong bahu Tasya.


Tasya tersenyum mengejek, “Ya gue jual lah.”


“Eh, Tasya! Dengerin gue,” Alda menarik rambut Tasya.


“Kalau mau ngomong, ngomong aja gak usah jambak-jambak, norak lo.” Tasya menjauhkan rambutnya dari Alda lalu membalas lebih.

__ADS_1


“Kurang ngajar lo!”


Tasya terjatuh setelah di dorong oleh 3 orang secara bersamaan.


“Mati saja lo gak usah bangkit lagi,” ucap Manda dengan senyum ledekan karena Tasya tidak mau bangkit setelah di dorong.


“Pengenya gue juga kayak begitu, tapi Tuhan tidak mengijinkan. Lo semua aja yang mati gimana?”


Tasya menggunakan kakinya untuk menendang setiap tulang kering dari 3 siswi yang sudah mendorongnya Tadi.


“Lo mau mati? Sini gue cekik biar lo mati,”


Alda dibantu dua temannya untuk memegangi Tasya sementara dirinya yang akan mencekik Tasya.


“Woi, baris yang bener.” Ucap Juan yang melihat barisan area putri yang begitu berandakan.


Pasukan upacara terbagi atas dua wilayah yaitu wilayah putra dan wilayah putri. Juan dan Keano akan berpatroli pada saat pembina upacara menyampaikan amanat.


“Alda, lo mau cekik anak orang,” Juan menghampiri Alda yang ingin mencekik Tasya, lalu Kea menyusul Juan.


“Dia anak setan!” Alda menunjuk Tasya menggunakan jari telunjuk.


Tasya berdiri dibantu Keano, “Ia yang lebih setan,” Tasya tersenyum meledek.


“Udah lo baris,” Juan menengahi Alda yang ingin mencakar Tasya, sementara Tasya ditarik Keano untuk menjauh.


“Lo jalan duluan,” Tasya enggan berdampingan degan Keano.


Ehem... ehem... ehem... cogan lewat.


“Kak Kea... kepala aku sakit,” seorang siswi merintih pelan sambil memegang kepalanya saat Kea dan Tasya lewat. Sementara Kea mengacuhkan siswi yang sedang berpura-pura sakit itu.


“Dari tadi dong lo bawa gue ke sini,” Tasya rebahan di ranjang uks lalu memejamkan mata.


“Sya, semalam lo balik ke rumah?”


Tasya membuka sebelah matanya, berdecak kesal melihat keano yang datang kembali menghampirinya. Tasya mengira Keano tidak akan kembali lagi, tapi ternyata salah.


Keano meninggalkan Tasya sebentar hanya untuk mengambil sebotol air mineral dan beberapa lembar roti.


“Kagak,” Tasya kembali memejamkan matanya.


“Terus lo-“


“Salsa,” potong Tasya.


“udah sarapan? Makan.” Keano meletakan nampan berisi botol mineral dan beberapa lembar roti tawar di ranjang, lalu meninggalkan Tasya.


“Kea,” panggilan Tasya berhasil menghentikan langkah Keano.


“Beliin gue bobba dong,” Tasya terkekeh melihat wajah datar Keano.


Keano baru berjalan dua langkah tapi Tasya sudah memanggilnya lagi, “Tapi, bobbanya yanng spesial jangan yang murah.”


“Kea,” Panggil Tasya lagi.

__ADS_1


Keano melirik Tasya sambil menghembuskan nafas pendek


“Gak jadi, udah lo pergi sana,” Tasya mengibaskan tangannya, kode agar Keano pergi.


“mampus gue kerjain, keselkan,” Tasya memaki Keano yang sudah pergi entah kemana.


***


“Tasya, lo janji katanya gak akan kenapa-kenapa,” Mita dan Teresa menyambar lalu memeluk Tasya yang sedang berbaring di atas ranjang uks.


Tasya membuka matanya, “Gue gakpapa, Cuma ngantuk doang,”


“Anabel and the geng gak ngapa-ngapain lo kan, Sya,” Mita membolak-balikkan tubuh tasya, sementara Teresa memeriksa lengan dan kaki tasya.


“Gue gakpapa,” Tasya pasrah dengan apa yang dilakukan oleh dua sahabatnya.


“Ini, ada roti sama air. Dimakan dong, Sya,” Teresa mengambil nampan lalu membuka segel minuman.


“Gue kenyang, Re.” Tolak Tasya.


“Kita temenin makannya deh, lo harus makan,” Mita meletakkan roti di tangan Tasya.


“Maih laper gue, ke kantin yuk beli bobba,” Teresa lebih dulu menghabiskan roti.


“Let’s go,” Tasya turun dari Ranjang lalu diikuti Mita sementara Teresa sudah lebih dulu membuka pintu.


“Kea? Mau apa lo ke sini?” Teresa ikut menetap Keano yang datar.


Keano mengulurkan tangannya ke arah Tasya, “Bobba lo,”


Tasya meraihnya sambil terkekeh, “Lo beneran beliin gue bobba, padahal gue Cuma bercanda. Perlu gue ganti gak duitnya?”


“Gak,” jawab Keano datar lalu pergi.


“Guys gak usah beli boba ya, antri juga males. Yang ini juga gak bakal abis bertiga,” Tasya lebih dulu menyeruput bobba lalu disambung dua sahabatnya.


“Tasya, pagi-pagi sudah dapat big bobba aja,” ucap Rian yang berpas-pasan di pintu kelas.


“Ya ialah, gratis lagi dari Kea,” Mita memutar bola mata malas, lalu melirik Nia yang duduk di bangku dan terakhir melirik Keano yang selalu acuh.


Tasya tersedak air bobba, “Itu kode, lo beliin buat Mita dong. Lo juga,” Tasya menunjuk wajah Dimas.


“Yang peka dong jadi cowok,” Tasya kembali terkekeh.


“Apa? Lo mau bobba juga?” Tasya bertanya kepada Rajaya yang sedari tadi menatapnya.


***


🔥🔥🔥🔥


Like, like, like....


Semangat💪💪💪


Tasya...

__ADS_1


Kea....


Rajaya gimana?


__ADS_2