
Tasya menceritan semua keinginannya kepada Grandpa mulai dari ingin membeli 3 buah bis untuk digunakan anak-anak pemilik beasiswa beserta alasan kenapa Tasya melakukan itu. Juga menceritakan sikap anak-anak orang kaya yang seenaknya menindas siapapun yang lebih lemah terutama soal materi.
Tidak lupa Tasya juga menceritakan tentang Salsa dan juga petugas kebersihan.
“Tasya... Grandpa ke sini bukan untuk mendengarkan keluhan kamu, coba kita bahas dulu kesalahan kamu. Lihat kamu cakar anak orang.”
Grandpa menampilkan sebuah video dari handphonenya. Video itu menampilkan Tasya yang sedang berkelahi dengan siswi saat di parkiran, kejadian itu terjadi saat tadi pagi ketika Tasya membela petugas kebersihan.
“Grandpa, nonton videonya dari awal biar gak salah paham,” Tasya memundurkan durasi video mulai dari seorang petugas kebersihan yang sedang didiskriminasi.
Grandpa menganggukkan kepalannya sambil terkekeh.
“Lagian Grandpa itu gak ada kerjaan sampai cari-cari aku di cctv.”
“Grandpa punya satu lagi,” Kali ini grandpa menampilkan sebuah video yang durasinya begitu singkat seperti sudah di cut sebelumnya.
Mulut Tasya menganga dan matanya pun berkedip beberapa kali lalu melirik Keano sekilas, sementara Grandpa tertawa terpingkal-pingkal.
Video itu menampilkan adegan antara Tasya dan Keano yang berada di lorong dekat tangga. Video itu dimulai dengan Tasya yang terkekeh lalu menyentil dahi Keano, sementara Keano sendiri sedang memasang dasi Tasya, dan video itu berakhir saat Tasya mengalungkan dua lengannya ke leher Keano.
Tidak hanya Tasya yang diberitahu, tetapi grandpa juga memberi tahu Keano.
“Grandpa, Saya minta maaf,” Keano terlihat begitu bersalah, sementara Tasya mengerutkan dahi belum pernah melihat Keano semenyesal ini.
Tawa Grandpa semakin menjadi, “Sudah, Grandpa mau pulang. Kalau pacaran jangan berlebihan,” Grandpa menepuk pundak Tasya beberapa kali.
“Grandpa... aku mau minta uang, kalau Grandpa gak ngasih aku pinjam deh, nanti Tasya ganti.” Tasya menyamakan langkah kakinya dengan Grandpa, begitu juga Keano, dia ikut berjalan dibelakang.
Grandpa memberikan ponselnya kepada Tasya.
Tasya mengotak-atik posel grandpa, “Pinnya?” Tasya meneriaki Grandpanya yang sudah berjalan lebih dulu.
“Little princess, biar saya bantu,”
“Ada lo ternyata,” Tasya terkekeh lalu memberikan ponsel Grandpa kepada Bodyguard kepercayaan grandpa.
“Ya ampun Grandpa masih saja dikawal selusin bodyguard, kayak presiden aja.” Tasya melihat 12 pria berpakain hitam-hitam dengan kacamata lengkap.
“Lo baru ya? Lo itu ganteng harusnya jadi model kenapa jadi bodyguard Grandpa,” Tasya menahan satu bodyguard grandpanya.
__ADS_1
“Tasya lepasin dia,” Teriak Grandpa yang sudah duduk di mobil mewahnya.
“Gak, Tasya butuh satu bodyguard buat jaga Tasya di Indonesia.” Tasya masih menahan bodyguard yang harusnya jadi model menurut pikiran Tasya.
“Tasya, ayo lepasin. Dia baru aja menikah, gak enak kalau Grandpa pisahkan dia dari istrinya,” Grandpa menunjuk Tasya untuk melepaskan bodyguardnya.
CK, Tasya berdecak lalu menatap kesal bodyguar yang ditahannya sebelum dilepaskan.
“Sir, Pistol saya diambil little princess,”
“Lo bisa bahasa Indonesia? Keren, belajar dari mana?” Tasya mengacungkan satu jempolnya.
“Tasya, balikin. Jangan main-main sama pistol.” Grandpa melototi Tasya.
“Tukang ngadu lo,” ucap Tasya pelan kepada bodyguard yang tadi ditahannya.
“Tasya pinjam deh pistolnya satu minggu. Atau Tasya beli aja bagaimana?” Tasya masih menyembunyikan pistol dibalik punggungnya.
Grandpa menyuruh bodyguard kepercayaannya untuk turun dari mobil.
“Nih, aku balikkin. Pelit banget sih,” Tasya melemparkan pistol itu ke pemiliknya, sambil menatap bodyguard kepercayaan Grandpa dengan tatapan kesal.
“Little Princess, I’m so sorry,” Bodyguard Grandpa menangkap pistol dengan baik lalu memberikan hormatnya kepada Tasya sebelum pergi.
Kok gue jadi malu gini ya, ah bodo amat, Tasya membatin sambil melewati Keano lalu masuk ke ruang kepala sekolah.
“Jadi keuangannya sudah beres ya, Pak. Kapan bis sekolah bisa digunakan?” Tasya membubuhkan tandatangannya di atas materai bersamaan dengan datangnya Keano.
“Besok pagi bis sudah bisa digunakan. Tasya, jika saat peresmian bis sekolah besok ada siswa ataupun siswi yang bertanya siapa yang rela membeli bis untuk sekolah tanpa mengadakan rapat agenda orangtua apakah nama kamu boleh digunakan untuk menjawabnya?”
“Hah, gak Pak, jangan. Memangnya sekolah ini harus memberitahu orang tua murid ketika ingin membeli sesuatu?”
“Biasanya begitu Sya. Karena sekolah ini swasta, jadi sekolah ini membuka donasi dari para orang tua murid untuk menutupi kekurangan materi.” Jelas Keano.
Tasya menganggukkan kepalanya, “Bapak bisa bilang dari Hamba Tuhan saja pak, jangan nama saya.” Tasya memohon samapai dua telapak tangannya menyatu.
“Baik, jika itu mau kamu.”
“Kalau begitu, saya permisi Pak mau melanjutkan belajar,” Tasya tersenyum lalu keluar dari Ruangan kepala sekolah.
__ADS_1
“Sya,”
“Apa ganteng,” Tasya menghentikan langkahnya menunggu Keano yang sedang berjalan menyusulnya.
“Lo tahu Avarelic?”
Tasya terkekeh lalu kembali berjalan dengan tambahan Keano yang berada di sampingnya.
“Sebuah organisasi yang diketuai oleh Leo XII IPS 2, Avarelic. Kenapa?”
Keano menegrutkan alaisnya, “Sya, coba lo serius sedikit.”
Tasya tertawa keras sampai tangan kirinya memegang perut sementara tangan kanannya bertumpu pada pundak keano agar tidak jatuh.
“Sya, gak lucu. Avarelic bukan untuk diketawain lo harus waspada,” Ucap Keano datar, sementara Tasya berhenti tertawa lalu mengusap air mata yang keluar dari ujung matanya sata tertawa tadi.
“Waspada kenapa sih emangnya mereka seperangkat bom rakitan? Kea... mereka itu sama kayak kita, anak-anak SMA ynag masih suka makan nasi dan tidur malam. Bukan sesuatu yang akan meledak.”
“Gue tanya lo tahu Avarelic dari siapa dan sejauh apa lo tahu tentang mereka sampe lo masih bisa sesantai ini.” Keano memegang dua bahu Tasya, saat berbicara matanya tidak berkedip bahkan nafasnya sedikit memburu.
“Kea,” Tasya menelan ludahnya kasar.
“Jawab, Sya.” Keano menghela nafas pendek lalu melanjutkan jalannya.
“Gue tahu avarelic dari Mita dan Teresa tadi malem, Mereka suka balapan dan jika ada temennya yang bermasalah mereka kompak membantu, anggotanya juga banyak. Sebenarnya Teresa dan Mita cerita banyak tapi gue keburu ngantuk jadi gak denger,” jelas Tasya.
“Sya, lo baru tahu cover depannya doang.” Nada Keano masih datar seperti biasanya.
“Kea,” Tasya memegang salah satu lengan Keano dengan kedua tangannya.
“Kok lo lebih serem dari Avarelic ya, lo bukan psikopatkan? Gue janji gak bakal maki-maki lo lagi, jangan dendam ya sama gue apalagi bunuh gue,” Tasya tersenyum miris melihat wajah datar Keano.
Keano menatap Tasya dengan alis yang hampir menyatu, “Kenapa lo berpikir kalau gue psikopat?”
“Ya, Karena... Gue pernah punya teman di Amerika kayak lo dingin dan datar dan ternyata dia psikopat.”
“Gue bukan teman lo yang di Amerika,”
“Bukan ya,” Tasya menggaruk-garuk dahinya.
__ADS_1
“Kenapa Sya?” Keano heran Tasya tidak ikut naik tangga menuju kelas.
“Lo duluan saja, gue males sama Ilham. Dia salah paham mulu sama kita,” Tasya membiarkan Keano jalan lebih dulu.