Teman Tapi Manja

Teman Tapi Manja
Ch. 57 - Masakan


__ADS_3

“Ugh.” Tasya terbangun dan reflek meregangkan tubuhnya.


“Eh masih pukul empat, gue kira kesiangan.”


“Tunggu, daripada pesen makanan mendingan masak sendiri.”


Tasya memeriksa bahan makanan di dapur dan ternyata tidak lengkap, alhasil Tasya pergi menuju supermarket untuk berbelanja kebutuhan makan.


“Astaga, ini kulkasnya yang kekecilan apa belanjaan gue yang kebanyakan. Udahlah gue simpan di meja sebagian.”


“Berasa bangga jadi cewek gue bisa masak,” Tasya terkekeh sambil berperang dengan alat masak.


“Masak selesai, cuci perabotan juga selesai, saatnya mandi.” Tasya bertepuk tangan mengapresiasi dirinya sendiri.


Setelah rapih dengan seragamnya Tasya kembali menghampiri dapur untuk sarapan.


“Belum pernah pagi gue sedamai ini, gue hutang banyak sama Keano, semoga gue bisa membalas kebaikkannya. Selamat makan dunia,”


 


***


“Kea mau kemana?” Tasya yang baru saja keluar dari mobil langsung menghampiri Keano.


“Aku mau keluar cari makan, kenapa?”


“Gausah, ini buat kamu.”


“Apa ini?”


“Bom,” Tasya melototi Keano. “Ya makananlah.”


Keano tersenyum tipis lalu mengusap puncak kepala Tasya, “Temenin aku ya.”


“Kemana? Gak ah teman kamu rese.”


“Ilham sama Fadil sudah keluar duluan cari makan, ayo.” Keano langsung membawa Tasya menuju ruang osis.


“Kea ini meja Mita iya gak sih?”


“Iya.” Jawab Keano disela makannya. “Sya, beli makanan dimana?”


Tasya menutup buku yang didapatkannya dari laci meja Mita, “Beli? Aku sendiri yang bikin.”


“Bikin sendiri?”


“Kenapa sih kayak gak percaya kalau aku bisa masak yang enak, huh?”


“Percaya, Aku percaya.” Keano menepis lengan Tasya yang ingin mengambil makannya.


“Kea maaf ya aku kesiangan, sebelum upacara ada briefing dulu kan?” Ucap Nia yang baru saja memasuki ruang osis.


Tasya memutar bola matanya malas, beruntung setiap meja memiliki komputer, jadi Nia tidak menyadari kalau ada Tasya di sini, mungkin yang dikira Nia yang duduk di samping Keano saat ini adalah Mita.


Karena sedang makan Keano menanggapinya dengan anggukan kepala.


“Di depan Ilham lagi bagiin HT, kamu sudah dapat belum kalau belum kebetulan aku ambil dua tadi se-“


“Tasya?”


“Kenapa? Kaget gitu.”


“Sya lo kan bukan osis kok bisa ada di sini.”


“Kenapa sih? Haram ya gue ada di sini? Gue lagi nungguin Mita, kelas masih sepi.” Tasya beralasan.


Keano melirik Tasya takjub dengan akting yang baru saja terjadi, ekpresi Tasya yang tidak suka dengan Nia terlihat begitu jelas di mata Keano.


“Well, well, well... siapa yang lagi nungguin gue?” Mita yang baru datang melototi Tasya.


“Apa susahnya sih Sya bales chat gue? Lo tahu gak sih sebenarnya siapa yang nunggu? Minggir!” Mita yang melihat Nia tidak kunjung duduk juga akhirnya menyuruh Nia untuk menyingkir.


“Tasya.” Sahut Mita yang sudah duduk.


“Iya ini gue lagi bales chat lo, Ta...”

__ADS_1


“Telat, sayang.” Mita menatap Tasya dengan wajah datar.


“Kea! Gue baru sadar lo lagi makan. Lo bawa bekel dari rumah? Tapikan lo nginep di sini, nyokap lo juga gak ada. Gak mungkin juga kan lo dimasakin tetangga apartemen lo, gue coba dong kayaknya enak.”


“Nyerocos mulu, kalau mau tinggal makan.”


“Diem lo Sya, gue curiga lo yang masakkin," Ucap Mita kemudian mencicipi masakan di rantang yang terpisah.


“Kea jawab jujur yang masak ini Tasyakan? kalau boong besok pantat lo bisulan tiga.” Mita menyumpahi walaupun mulutnya sedang mengunyah.


“Iya, Tasya yang masak.”


“Mita pindah dong, inikan tempat gue, tempat lo di sana di tempatin Tasya.” Protes Nia.


“Ah, rese lu. Suruh siapa tadi gak duduk.” Mita pindah menuju kursi yang ada di depan Tasya.


“Mita sudah dapet HT belum?” Tanya Ilham yang baru masuk ruang osis.


“Belum.” Teriak Mita.


“Malah makan, eh ada Tasya juga.” Ilham menghampiri Mita sambil membawakan HT.


“Masakan siapa ini? Gue bantuin abisin ya 15 menit lagi briefing.”


“Pinter lo kalau ngomong.” Mita mengetuk dahi Ilham menggunakan sumpit yang dipegangnya.


“Kotor Ta,”


“Boda amat gue gak peduli,” Mita kembali menyomot makanan menggunakan sumpit.


“Ini gak ada lagi sumpit, garpu, sendok atau apa? Bodolah gue pakai tangan.”


“Repot lo tinggal makan juga, jangan lupa bayar itu makanan gue.”


“Oh Tasya yang masak, bayarnya pakai mahar mau gak?” Ilham menaik turunkan kedua alisnya.


“Halu lo ketinggian.” Sindir Mita.


“Kalau cemburu bilang.”


“Gue ke depan ya mau samper Teresa.”


“Gue ikut. Kea, gue males briefing beneran. Gue ikut Tasya ya."


“Mau dianter gak Sya?” Tawar ilham.


“Gak usah gue mau nyamper Teresa bukan mau samper setan.”


“Yang bener? Sya lo masih inget gak sih cerita gue yang koridor-“


“Bodo amat, siang-siang gak ada setan.” Tasya segera bangkit lalu meninggalkan ruang osis di susul Mita.


 


***


 


“Wow kapten.” Ucap Tasya saat Teresa keluar dari kamar pas yang biasa digunakan oleh anak-anak olahraga khusus perempuan.


“Butuh cheersleaders gak Re?” Tanya Mita.


“Gue bukan laki dan gue bukan anak basket.” Jawab Teresa sambil memakai sepatu.


“Jutek amat lo Re.”


‘Ilham masuk, Mita dicari Keano. Ganti...’


Mita berdecak saat HT nya berbunyi


“Mita masuk, Kenapa kapten ah lu rese. Ganti...’


‘Keano masuk,  Mita Lo belum masuk stan lapangan kemana aja? Ganti...’


‘Sabar kapten gue mau otw ini.’

__ADS_1


“Guys, gue cabut ya mau membabu dulu, bye.”


“Babunya Keano lemah,”


“Eh Re, lo belum tahu ya kalau tadi pagi Keano makan masakan Tasya?”


“Yang bener, gimana ceritannya?”


“Bye, gue pergii dulu.” Mita berlari meninggalkan Tasya dan Teresa.


Tasya terkekeh lalu menaikkan kedua bahu sebelum Teresa bertanya.


Teresa berdecak, “Kayaknya gue ketinggalan info. Semalam Rajaya temenin lo sampai kapan Sya?”


“Lumayan malam sih, sampai maminya telpon baru dia balik.”


“Lo tidur dimana?”


“Ya di kasur.” Tasya


“Lo tidur di tempatnya Keano lagi ya?”


“Gak, kata siapa?” Tasya menaikkan kedua alisnya.


“Ya soalnya lo gak bareng salsa, mita atau gue dan gak mungkin juga lo ke balik ke rumahnya si Nia. Terus Mita bilang lo masakin Keano, apalagi kalau lo gak nginep di tempatnya Kea, lo mau masak dimana, pakai apa, sama dapur siapa?”


“Oke, gue gak bisa boong.”


“Sya, sekali gak sengaja, dua kali ketagihan, terus ketiga kali hilap bagaimana?”


“Hilap apanya sih Re? Semalam Keano nginep di sekolah kok. Di tempatnya dia juga ada dua kamar.”


Teresa terkekeh, “Lo sudah jadian ya Sya?”


“Gak,” Tasya beralih main ponsel.


“Keano suka sama lo Sya, lo gak suka sama dia?”


“Ga.....-a”


“Keano baik Sya, kalau keburu diambil orang bagaimana?”


“Ya ambil saja kecuali kalau orangnya si Nia gue gak terima. Atau jangan-jangan lo yang suka sama Keano?”


“Gaklah, tipe gue lebih dewasa.”


“Lo suka om-om Re?” Tasya menangkupkan kedua telapak tangannya di kedua pipi Teresa.


“kurang kenceng Sya ngomongnya, Ya gak om-om juga kali.”


“Re briefing dulu,” ucap teman satu ekskul Teresa yang baru saja datang.


“It’s okay, gue tonton lo di tribun penonton.”


“Padahal mainnya masih lama, tapi briefing itu penting. Gue duluan ya Sya.”  Teresa pergi meninggalkan Tasya.


“Tahu kayak gini gue bawa fluffys.” Tasya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.


‘Lo gak becus kerja, begitu saja gak bisa’


‘Berisik lo Cuma bisa ngomong doang banyak bacot’


“Manda? Melinda?” Tasya berjalan mengendap menuju arah jendela dan mengintip apa yang sedang terjadi.


“Kayaknya anggota avarelic bukan dari sekolah ini saja deh.” Tasya melihat beberapa siswa dan siswi yang berseragam dari almamater sekolah lain mengikuti kemana perginya Manda.


“Kok gue baru tahu sekolah ini punya bangunan terbengkalai? Bukannya dimanfaatkan malah dijadikan ruang mati kayak gini.”


Tasya melipatkan kedua tangannya di depan dada sambil melihat bangunan dua lantai yang bisa dijadikan dua kelas tak terurus bahkan rumputnya pun tumbuh sudah sangat tinggi.


Bangunan ini terletak di belakang kantin, dan bangunan ini juga di kelilingi dinding yang tinggi karena berada di sudut batas wilayah sekolah dan ada satu pagar besi yang harus dilewati jika ingin memasuki area ini.


“kenapa manda yang pegang kunci pagar besi ini?”


“Sya.” Ucap seseorang sambil menepuk bahu Tasya sampai yang si punya bahunya terkejut bukan main.

__ADS_1


__ADS_2