Teman Tapi Manja

Teman Tapi Manja
Ch. 54 - Pagi Yang Konyol part 2


__ADS_3

“Sudah gak muntah-muntah lagi Ta?” Tanya Tasya yang sudah kembali lagi setelah mandi.


Mita menoleh, “Sudah, lo kurang kerjaan memang bikin gue muntah. Eh, by the way bajunya pas ya?”


“Paslah, ukuran baju Tasya sama kayak ukuran baju kita Cuma beda dikit,” ucap Teresa.


“Beda dikit ya gak sama lah.” Celetuk Ilham yang kembali mengerjakan mengerjakan tugas osisnya lagi di laptop.


“Masih sama, Tasya itunya subur dikit jadi beda dikit sama kita.”


“Subur apanya Mita, bantu keringin rambut.” Tasya duduk di lantai di depan Mita dan Teresa yang duduk di sofa.


“Keringin pakai apa Sya?”


“Ini hairdryernya,” Keano mengulurkan benda yang saat ini dibutuhkan rambut Tasya.


“Colokkin Re.” Mita yang sudah mendapatkan hairdryer mulai melakukan tugasnya.


“Kenapa dibasihin sih Sya rambutnya, abis mandi wajib ya? Perasaan tadi Keano juga rambutnya dibasahin deh. Ngaku, lo berdua abis ngapain semalam?” cerocos Mita.


“Mandi wajib buat apa sih Ta, gue gak ngapa-ngapain, semalam gue abis muntah.”


“Sya, Rajaya tahu gak semalam lo ada di sini? Soalnya gue sama Mita di spam chat sama Rajaya sampai males gue buka chatnya.”


“Rajaya?” Tasya berpikir keras mengingat kejadian semalam.


“Samar gue inget kejadian semalam, Kea, Rajaya tahu gak?”


“Tahu.” Jawab Keano yang baru saja datang dari arah dapur sambil membawa minuman kaleng.


“Hah, yang bener? Sya bagaimana ceritanya sih, kan lo waktu itu sudah sama Salsa, carita dong sampai lo bisa ada di tempatnya Kea,”


“Nanti gue cerita, lo muntah lagi kayak tadi. Setiap cerita gue pasti lo muntahin, jadi serba salah kan gue.”


“Bilang saja kalau lo gak mau cerita,”


“abisnya lo suka muntahin cerita gue,”


“Ya lo cerita yag jorok jadinya gue muntah kan,”


“Sudah, gue yang ngalah lo semua diem.”


“Apa sih Re?” Tanya Mita.


“Ilham, Mita itu orangnya gak suka yang jorok-jorok samuanya harus bersih sama masuk akal. Harus banyak sabarnya memang, Gelas yang waktu pagi dia minum saja gak mau diminum lagi pas nanti sore, tapi anehnya minum bekas gue atau Teresa Dia mau minum, Kebalik memang idung si Mita.”


“Napa Ilham dibawa-bawa, Inget ya Sya  itu kelebihan gue bukan kekurangan gue.” Mita membela diri.


“Berbicara soal jorok, Mita itu gak mau diajak tukeran ludah sama pacarnya sendiri. 80% sebab Mita putus karena masalah ini.”


“Apa sih Re, yaiyalah jijik. Emangnya lo gak jijik?”


“Perasaan lo suka nonton drakor deh Ta, yang lo tonton kan adegan kayak begitu terus lo bilang tukeran ludah jijik, idung lo bener-bener kebalik.”


“Ya terus kenapa, Tere? Memang gaya pacaran gak ada yang lain apa selain tukeran ludah.”


“Tukeran upil saja sudah selesai.”


“Gaya pacaran gue sih beda, gak dewasa kayak lo Sya bobo bareng.”


“Eh, maksudnya apa ini?”


“Apa coba? Kaih gue tips biar tukeran ludah gak jijik bagaimana?”


“Ada-ada saja lo,” sahut Teresa.


“Gue gak tahu, tanya Fadil.” Tasya terkekeh.


“Lah kok gue Sya, dari tadi gue diem loh, gak tahu apa-apa.”


“Gak tahu? Mita nanya, tips tukeran ludah biar gak jijik.”


“Ngomongnya tanpa dosa banget Sya, gue gak tahulah."


“Lah itu bibir lo bengkak, dicium tawon?”


“Lo parah Sya. Fadil lo masih pacaran sama kakak kelas? Siapa sih namanya gue lupa?” Tanya Mita.


“Hah, gue gak tahu gue gak ikutan.”


“Fadil malu-malu.”


“Lo tanya Rajaya, kelar masalah.” Teresa memberi saran.


Tasya terkekeh, “Nah.”


“Tapi Tasya yang tanya.” Pinta Mita.


Teresa Tertawa, “Kalau Tasya yang tanya, bukannya ngejelasin malah langsung disosor itu bibir.”


“Nanti abis ciuman, Rajaya bilang gini gak jijikkan, kalau mau lagi bilang aja.” Tambah Mita.


“Ngayal lo semua.” Protes Tasya.


“Kea, kok lo diem saja sih?”


“Ya terus Keano harus apa Mita, Harus kayak Rajaya tukang marah-marah kalau lagi dipanas-panasin?”


“Ia juga sih, tapi seru juga sih kalau Rajaya kelabakkan tapi gak enaknya kuping gue sakit kalau sudah ngomel.”

__ADS_1


“Apalagi gue korbannya.”


“Sya sekolah di Amerika enak gak sih?” Tanya Ilham.


“Jawab jujur ini?” Tasya memastikan, “Kata gue gak enak.”


“Eh bener-bener, selama gue sahabatan sama Tasya. Pertanyaan ini yang belum pernah gue tanyain.”


“Lah gak enaknya kenapa? Bukannya seru ya Sya, negara bebas.”


“Bebas pacaran tanpa batas, buat lo Fadil cocok banget.”


“Teman lo banyak ya Sya di sana?”


“Lebih banyak ke musuh Sih? Di sana gue dibilang so suci, mind set eror dan lebih parahnya lagi gue dikatain menyimpang.”


“Berarti 16 tahun di sana lo nyiksa sendiri.”


“Gak, gue lahir di Indonesia, baru pindah ke amerika itu pas mau masuk smp dan balik lagi ke negara ini sekarang.”


“Siapa yang bilang maindset lo eror Sya? Parah banget ini orang.”


“Ada banyak, karena otak sama pikiran gue itu Indonesia banget mulai dari norma adat istiadat gue ikut orang-orang Indonesia. Bedakan sama orang amerika.”


“Jadikan gue ke amerika ini lanjutin pendidikan SMP Gue di sana dengan sistem home schoolling begitu sampai tamat kan beres. Jadi selama smp pokoknya gue dikurung di rumah. Nah, pas SMA baru gue ikut masuk pendidikkan di sana secara umum masuk sekolah bareng-bareng sama orang-orang amerika.”


“Gue punya pengalaman yang sedikit menjengkelkan, dan sekaligus pengalaman pertama gue saat masuk sekolah di negara bebas.”


“Gini saja sudah judulnya, pengalaman pertama masuk sekolah yang menjengkelkan. Waktu smp Sya?”


“Bukan, smp di amerika gue home schoolling.”


“Jadi lo masuk sekolah normal pas di amerika Cuma pas SMA Doang? Cuma satu tahun dong?”


“Nah bener, tapi satu tahunnya itu kayak seribu tahu bagi gue. Jadi gini waktu pertama gue masuk sekolah di Amerika gue bener-bener shock.”


“Gue gak punya satu teman pun di kelas, karena dua faktor muka gue judes kata anak cewek dan gue itu kasar kata anak cowok.”


“Jadi mereka itu mau kenalan sama gue, merekanya itu anak cowok ya. Kan kalau di Indonesia kenalan itu kayak ulurin tangan terus ngomongkan kayak halo gue Tasya gue dari Jakarta gue kelas ipa berapa begitu. Di sana beda bukan ulurin tangan, tapi kayak ke rangkul pinggang, cium pipi begitu dan gue refleks dorong dan langsung tampar kanan kiri, bela diri kan gue ceritanya. Yang nakal kayak begitu itu gak semua sih, tapi karena gue yang nunjukkin sikap kasar, mereka semua menilai gue orang aneh begitu. Jadinya fiks di kelas gue gak punya teman.”


“Kalau gue jadi lo gue kayaknya gak mau masuk sekolah deh.”


“Lanjut gak ini?”


“Lanjut, lanjut.”


“Gak ada teman sekelas, tetangga kelas pun jadi. Dia teman pertama gue di amerika sekaligus musuh pertama gue.”


“Lah kok bisa.”


“Bisalah, gue nemu dia di koridor pas jam istirahat. Dia cewek panggil aja Jen seangkatan sama gue. Awalnya gue dulu yang minta kenalan, kita akrab dalam hitungan detik dan langsung satu frenkuensi. Dia ajak gue ke kantin, Dan di kantinnya ternyata cowoknya sudah nungguin. Gue dikenain Jen sama cowoknya.”


“Sembarangan kagaklah,”


“bukan ya? Terus kenapa?”


“Makannya jangan dipotong dulu, lanjut Sya,”


“Pas makanan pesanan datang, bukannya makan, Jen sama cowoknya kayak berselisih pendapat. Di sana gue pura-pura gak denger dan mendingan gue makan saja begitu. Baru juga gue mau makan, Jen sama cowoknya malah ciumman dan itu di depan mata gue. Di sana gue kayak jadi manusia paling bego sedunia, gue malah melototin Jen sama cowoknya, gila gue masih inget pokoknya Jen yang paling agresif dan rakus. Dan parahnya lagi mereka ciumannya lama banget, otomatis durasi begonya gue panjang juga.”


“Gila sih di kantin sekolah ya kan?”


“Ini lebih lebih gila, sekian lama gue bego akhirnya cowoknya Jen kayak nyadar gue liatin terus. Mereka berdua berhenti ciuman, Bukannya lega gue malah makin panik. Cowoknyanya Jen deketin gue, parah gue mau dicium cowoknya Jen. Tangan gue reflek dorong cowoknya Jen, dan entah keberanian dari mana gue siram itu cowok pakai air minum gue dan pipinya gue tampar kanan kiri. Lo mau tahu gak reaksinya Jen kayak bagaimana? Jen tampar gue, keras banget sampai pipi gue kebas, dan gue diusir sama Jen, Jen juga bilang kalau detik itu juga dia sama gue musuh.”


“Besoknya gue samperin Jen, karna gue masih bingung letak salah gue dimana? Jen bilang gue penyeban Dia putus sama pacarnya, kata Jen coba kalau gue gak nolak dicium cowoknya, hubungan Jen sama cowoknya pasti langgeng, really crazy kan?”


“Satu bulan gue sekolah, 60% jumlah siswa siswi di sana musuh gue. Diteror mulu gue di sana mana gak punya temen, bahkan sampai kebal gue minum alkhohol, tapi seru juga sih gue jadi banyak kegiatan.”


“Kan lo musuhnya banyak di sana, terus lo lolos saja begitu dari kejahatan mereka, gak adil banget kalau lo menang mulu mana sendiri lagi.”


“Eh, orang baik harus menang. Gue dibantuin kok di sana sama Nono, lo semua gak tahu Nono ya, kasian banget Keano saja tahu. Di sana gue selalu dijagain Nono, mau Nono keliatan atau gak keliatan yang pasti kalau darurat dia muncul. Ibarat gue punya teko ajaib isinya jin.”


“Waw, lo punya bodyguard pribadi Sya, Nono namanya? Kayak bagaimana orangnya?”


“Nama aslinya Reviano Reagan, orangnya lumayan baiklah suka nolong gue.”


“Ya jelaslah suka nolong kan tugasnya, maksud gue itu orangnya good looking gak?”


“Wajahnya lumayanlah, matanya sih yang paling mengesankan warna biru soalnya. Lo tanya saja Keano, dia juga tahu.”


“Eh, dari tadi yang paling serius dengerin cerita lo Sya itu Keano, tapi semenjak lo sebutin nama Nono mukanya Keano langsung berubah kayak males banget begitu.”


“Kerjaan lo sudah selesai?”


“Gak nyambung memang ngomong sama si Kea,”


“Lo lama banget Ilham kerjanya, sudah jam berapa ini kesiangan mampus lo.”


“Komandannya saja masih di sini, lo lupa kita bareng sama siapa?”


“Oh iya gue suka lupa kalau ada si Kea, diem mulu sih orangnya.”


“Kea, ini hairdyer lo. Rambut Tasya sudah kering, by the way, hairdyer lo bagus, buat gue saja.”


“Gak,”


“Cih,”


“Ta, lo bawa make up kan? Gue mau dandannin Tasya.”

__ADS_1


“Ada-ada lo ambil saja, Sya lo lagi chatingan sama siapa sih?” Tanya Mita yang sedang menguncir rambut Tasya.


“Mbak Luna. Re, awas ya kalau sampai tebel kayak tante-tante.”


“Iya, iya bawel lu.”


“Gini rasanya jadi seorang ibu,”


Pemirsa, dua perusahaan


“Sya liat berita Sya.”


“Waw, gila sih. Berita gue langsung gak ada ya.”


“Lo anak siapa sih Sya?”


“Gue? Gue juga bingung,”


“Baca judul berita,”


“Mampu membalikkan badai, siapakah Tasya sang model muda ini? 3 perusahaan besar bangkrut akibat menyebarkan berita negatif tentang model Muda yang diduga blasteran Asia Amerika...”


“Mampu membalikan badai katanya, keringin rambut saja dibantuin gue,”


“Bisa saja lo Ta.”


“Tasya bukan dari keluarga biasa deh.”


“Ngomong mulu, masih lama gak sih Ilham. Kapan kita ke sekolahnya.”


“Lima menit lagi selesai.”


“Mita sekolah, lo ikut juga Re?”


“Gue ikut lo, Tasya sayang.”


“Ah bagus. Temenin gue ke kantor mami ya.”


“Kecil,”


“Enaknya jadi Tasya, baru masalah muncul dikit saja sudah ada yang basmi. Kelar masalah, hidup tenang.”


“Mana ada, ini itu masalah gue baru dimulai, 3 perusahaan hancur boy, tidak ada yang gratis di dunia ini. Kalau ada tukar nasib gue mau banget jadi Salsa.”


“Jadi gue gak mau?”


“Gue?”


Tasya menggelengkan pertanyaan dua sahabatnya. “rumah Salsa simple gue suka.”


“Jadi istrinya Kea saja Sya.”


“Ho hoo, tipe cewek Kea bukan bentukkan kayak gue.”


“Merendah lo Sya, udah bobo bareng juga.”


“Heh,”


“Selesai, langsung ke sekolah ini,”


“Yups, Bubar,” Tasya berjalan menuju pintu keluar sambil memainkan ponsel.


“Kea lo bawa laptop dong, gue males pakai pc sekolah apalagi kalau berbarengan sama si Nia.”


“Ini lo bawa sendiri.”


“Bawain dong lo kan baik.”


“Kea...”


"Hm,” Keano menyahuti panggilan dari Tasya.


Tasya berhenti main ponsel dan langsung membalikkan badan, “E, gak jadi gue lupa banyak nyamuk di sini.”


“Anjir, padahal gue nungguin lo ngomong,”


“mau ngomong apa sih Sya?”


“Mau minta bobo bareng lagi ya Sya?” 


“Kea, jangan temenan sama Fadil.” Tasya melirik Fadil dengan mata sinis lalu beralih membuka pintu keluar.


“Rajaya,”


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2