Teman Tapi Manja

Teman Tapi Manja
Ch. 59 - Hana & Yuna


__ADS_3

“Ngapain di sini?”


“Apalagi kalau bukan cari kejahatan?”


“Ikut aku, di sini bahaya.” Rajaya membawa Tasya menuju keluar lab dan menghampiri dinding kantin yang menjulang tinggi.


“Naik,” Rajaya sudah siap dengan tangga.


“Lewat depan kan bisa.” Protes Tasya.


“Di depan banyakkan cepet naik, keburu mereka balik lagi.”


“Kea ayo naik.” Titah Tasya.


“Ayo naik Sya,” ucap Rajaya setelah Keano sampai atas.


“Gue terakhir.”


“Nanti jatuh.”


Tasya berdecak, “Jangan ngintip.”


“Iya,” Rajaya menundukkan kepalanya. Dan setelah Tasya sampai di atas Rajaya juga ikut naik.


“Lo kan yang bawa Tasya ke sana, kalau mereka apa-apain dia gimana?” Rajaya mencengkram kerah baju Keano dengan penuh emosi.


“Lo juga mereka kan?” Keano mencoba tenang dengan serangan dadakan Rajaya.


“Gue dorong lo berdua ke bawah kalau masih mau ribut, mau lo berdua mati?”


Rajaya berdecak lalu menjauhi Keano. Beruntung saat ini kantin lantai atas yang sedang diinjak oleh kedua kaki Tasya sedang sepi.


“Temenin aku main futsal.”


“Iya, iya gue temenin. Kasar banget sih lo. Gue bisa jalan sendiri gak usah ditarik.” Tasya berdecak kesal lalu menoleh ke belakang melihat Keano yang semakin menjauh.


“Tadi di sana abis ngapain?”


“Jawab.”


“Sakit RAJAYA!” Tasya menjauhkan lengan Rajaya dari bahunya.


“Kalau mereka nemuin kamu gimana?” Rajaya melembut bahkan bahu Tasya saat ini sedang diusapnya, sadar kalau dirinya ternyata kasar.


“Mereka bahaya Sya, jauh-jauh ya.”


“Lo juga mereka kan? Yaudah gue pergi, lo bilang gue harus jauhin mereka.”


“Tasya.” Rajaya menarik lengan Tasya yang ingin kabur. “Bisa gak? nurut sama aku.”


“Sakit badan gue deket sama lo terus.” Protes Tasya.


“Makanya nurut,”


“Ini tempat cowok, lo mau bawa gue masuk ke dalam? Gila ya lo.”


“Mereka gak bakal berani ngapa-ngapain kamu.”


“Rajaya lo dari mana aja dari tadi dicariin juga, bentar lagi main ngilang mulu lo. Sya, bilangin cowok lo jangan suka ngilang, gue kan yang dimarahi coach.”


Tasya memutarkan kedua matanya lalu mengacuhkan omongan Dimas.


“Tunggu di sini nanti aku balik lagi.”


“Iya aku nungguin kamu kok di sini,” ucap Dimas sambil memakai sepatu futsalnya.


“Kalau Rajaya sampai denger dia ngomong gini, bacot setan.” Ucap Rian lalu tertawa.


“Itu bacot lo,” timpal Farel.


“Kenapa Lo gak pakai seragam futsal?” Tanya Tasya kepada Farel.


“Gak Sya.”


“Sya lo mau tahu? Farel gak ikut Futsal ya karena gak diajakin Rajaya lah, kata Rajaya Farel gak ada bakat nendang bola.” Jawab Dimas.


“Yang bener, lo gak bisa main bola?”

__ADS_1


“Bukan gak bisa Sya, emang matanya Rajaya aja yang harus dicongkel dulu biar sadar.”


“Siapa yang mau congkel mata gue sini maju!” ucap Rajaya yang tiba-tiba datang.


“Tasya.” Tunjuk Dimas.


“Iya gue yang ngomong, Kenapa? Gak terima?” ucap Tasya menantang Rajaya.


“Coach bilang masuk lapangan lima menit lagi main.”


“Oke, siap kapten.” Teriak Dimas.


Satu persatu anak-anak futsal keluar sambil menyalami Rajaya saling menyemangati satu sama lain.


“Jangan lupa cetak gol yang banyak ya kapten,” ucap Rian sambil menyalami Rajaya.


“Sok lo.” Dimas memukul kepala Rian.


Kini gilaran Tasya yang terakhir keluar, “Lo kapten? Gila kok bisa, lo kan jarang latihan yang bener aja dijadiin kapten.”


“Shut,” Rajaya langsung merangkulkan lengannya di bahu Tasya.


“Gak usah rangkul-rangkul, lo bikin musuh gue makin banyak aja.” Tasya menurunkan lengan Rajaya tapi percuma lengan itu hinggap di bahunya lagi.


“Bilang aku siapa yang cari masalah sama kamu.”


Tasya berdecak sangat mubazir jika dirinya berbicara dengan Rajaya.


Dimas yang sempat mendengar tertawa, “Ya Tuhan, mau ngetawain takut dosa.”


“Tukang nguping, gak sopan lo.”


“Bukan nguping oon tapi kedenger.”


“Ngomong lagi gue hajar lo.”


“Berisik, lo berdua." protes Tasya.


“Siang Pak, Sudah lama gak ketemu, apa kabar Pak?” Tasya berbasa-basi.


“Apaan sih Rajaya, gue mau salaman, yang sopan sama guru.” Tasya melototi Rajya.


“Iya, permisi.” Rajaya membawa Tasya meninggalkan gurunya sendiri.


“Itu coach lo, yang sopan Rajaya.”


“Kurang sopan apa lagi sih, dia aku bayar.”


Tasya menghembuskan nafas pendek, berbicara dengan Rajaya membuatnya lelah dan jengah.


“Siapa yang ngajak lo ke sini?” Rajaya menatap Farel datar.


“Gue yang ngajak.” Tasya duduk di kursi tepat di samping Farel.


Rajaya mendengus lalu meminum air mineral setelah itu memasuki lapangan bersama satu timnya.


“Lo ada masalah sama Rajaya?”


Farel terkekeh, “Sudah biasa, keras kepala susah diomongin. Capek gue sebenarnya Sya.”


“Masalah apa sih, cerita aja sama gue,”


“Gue bukan cewek yang suka curhat Sya.”


“Gue mau dong cari masalah sama Rajaya sampai dia benci atau ilfeel sama gue, gimana caranya?”


“Lo ngaco Sya, tapi gue punya solusinya lo mau tahu?”


“Apa?”


“Lo operasi wajah lo jadi jelek, terus lo gak makan satu tahun biar badan lo kurus kering.”


“Lo yang ngaco.”


“Rajaya yang maksa lo datang ke sini Sya?”


“Iyalah, gue dipaksa-paksa sama dia. Bahu gue yang kiri masih sakit gara-gara di tekan Rajaya, untung aja tangan gue gak copot ditarik dia, gila sih kasar banget Rajaya.”

__ADS_1


“Dia kayak begitu kalau lagi posesif, apalagi kalau yang deket sama lo Keano.”


“Lo juga ngalamin?” Tasya melihat Farel sambil melotot.


“Ya gak sampai ngalamin, gue apal bener sifatnya Rajaya. Nyokap gue sama nyokapnya Rajaya sahabatan, jadi gue kenal Rajaya udah dari kecil.”


“Oh. Gue kira lo berdua pe-“


“Bukan.”


“Gue becanda."


"Astaga percuma sekolah juga,” Tasya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, sementara Farel mengamati pertandingan.


“Haus ga?” seseorang mengulurkan botol mineral ke wajah Tasya.


“Kea, makasih ya.” Tasya menerima botol tersebut lalu langsung meminumnya.


“Rajaya gak ngapa-ngapain kamu kan?” Tanya Keano yang berdiri di belakang kursi Tasya.


Tasya tersedak air yang sedang diminumnya sedangkan Farel melirik Keano dan terjadilah perang mata sesaat.


“Kayaknya tangan Tasya luka ditarik Rajaya.” Ucap Farel datar.


“So tahu lo,” Tasya memukul Farel


“gakpapa beneran... memar dikit gini doang gak masalah.” Ucap Tasya yang lengannya dibolak-balik oleh Keano.


“Mau ke UKS gak?” Tanya Keano sementara Farel mendengus.


“Gak usah, gak usah.”


Keano ikut duduk di samping Tasya sambil mengamati kondisi penonton.


‘Keano masuk, ada keributan di tribun penonton futsal sebelah utara, keamanan siaga.’ Keano berkomunikasi lewat HT.


“Sya, aku pergi dulu.”


“Oke,”


“Tasya, ngapain lo di sini?” Teresa datang dari arah yang berlawanan dengan keributan yang sekarang sedang terjadi dari tribun penonton.


“Gue kira siapa yang teriak-teriak.”


“Lo gak main?” Teresa melihat Farel sambil menaikkan kedua alisnya, sementara Farel hanya menggelengkan kepala.


“Gak, Re.”


“Lagi masalah ya sama Rajaya?”


Farel menanggapinya dengan senyuman.


“Lo ngapain ke sini Re, mau main? Kata lo nanti mainnya agak sore.”


“Gue sama yang lain di suruh coach liat teknik anak cowok main, tapi yang mainnya Rajaya. Ah males gue lihatnya. Mita...”


“Hallo guys,” Mita berlari menghampiri sahabatnya.


“Gue gak nyuruh lo ke sini,” ucap Teresa.


“Sialan lo. Eh, itu bagi minum gue haus,” Mita mengambil botol minuman dari tangan Tasya.


“Kasian banget sih lo jadi babunya Keano minum aja gak dikasih,” Sindir Teresa, Mita yang mendengarnya terbatuk batuk.


“Mita, anterin dia ke PMR terus obatin juga.” Ucap Keano.


Mita mengerutkan dahi sambil melihat seorang siswi ditandu oleh anggota PMR. “Lah kok gue, gue bagian-“


“Fleksibel Mita, UKS penuh. PMR dikit, lo ngalah.”


Mita berdecak kesal, “Sya temenin gue dong.”


“Terus gue ditinggal gitu?” Teresa menaikkan kedua alisnya.


Mita menoleh lalu terkekeh, “Lo buta apa bagaimana sih Re, itu Farel ada. Ayo Sya.”


Tasya bangkit dari duduknya, Hana? Dia bukannya temennya manda yang tadi aku intip di gudang.

__ADS_1


“Tunggu, gue ikut. Gue temennya dia, Dia Hana dan gue Yuna.”


“Yaudah ikut gue, kasian anak PMR sudah keberatan.”


__ADS_2